TROWULAN, BEKAS IBUKOTA MAJAPAHIT – SISA-SISA KEBESARAN KERAJAAN MAJAPAHIT

Situs Trowulan, Mojokerto

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan yang berhasil memepersatukan hampir seluruh wilayah Nusantara sekarang. Pengaruhnya bahkan sampai di Negara-negara tetangga di daratan Asia. Kini bekas ibukota kerajaan majapahit masih dapat disaksikan di Trowulan, sebuah daerah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto, letaknya kurang lebih 13 kilometer kea rah Jombang.

Di daerah Trowulan dan sekitarnya terdapat banyak sisa peninggalan Majapahit. Yang tampak dipermukaan tanah antara lain, berupa candi, pintu gerbang, kolam, pondasi-pondasi bangunan, serta benda-benda purbakala lainnya berupa arca, yoni, batu bertulis (Prasasti), umpak-umpak batu, dan sebagainya

Peninggalan-peninggalan yang dapat disaksikan dikawasan tersebut antara lain, Candi Wringin lawang, Candi Brahu, Kolam Segaran, Makam Putri Campa, Komplek Makam Tralaya, candi Minak Djinggo, Sumur Upas, Candi Kedaton, Candi Tikus, Situs Klinterejo, dan benda-benda lainnya yang disimpan dalam sebuah mesuem Purbakala Trowulan yang dibangun pada tahun 1920

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar. Bangunan yang mirip dengan gapura Bali tersebut dikenal dengan nama gapura Jati-pasar atau gapura Gapit. Sedang nama Wringin Lawang diberikan oleh penduduk karena dulu di depan bangunan tersebut tumbuh beringin berjajar dua yang menyerupai pintu (lawang).

Sebuah tradisi tutur rakyat yang dicatat oleh J. Knebel pada tahun 1907, menyebutkan bahwa dulu di keraton Majapahit, terdapat empat gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di desa Sdati, di selatan di Desa Gumitir, di barat di Desa Trowulan dan si utara di desa Jatipasar. Bila cerita tersebut mengandung kebenaran candi Wringin Lawang yang dapat disaksikan saat ini merupakan gerbang di utara. Sedang yang lainnya sudah tidak tampak .

Candi Brahu

Di tengah sawah, agak jauh dari pemukiman, tampak sebuah candi besar yang disebut dengan Candi Brahu. Candi yang mengahadap ke barat dan mempunyai tinggi 21,30 meter ini terbuat dari batu bata diperkirakan berfungsi sebagai tempat pemujaan. Namun dari cerita rakyat ada yang menyebutkan bahwa Candi Brahu dibangun oleh raja Brawijaya, yang berfungsi sebagai tempat pembakaran dan penyimpanan abu raja-raja Majapahit. Tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk mencari kebenarannya.
Berdekaran dengan Candi Brahu pernah pula ditemukan beberapa candi lain dari bahan yang sama. Tetapi semuanya sudah runtuh dan sulit ditemukan sisa-sisanya. Hanya Candi Gentong yang dapat ditemukan pondasinya.

Kolam Segaran

Kolam Segaran, Mojokerto

Agak ke selatan dari Candi Brahu, yaiut di desa Trowulan dapat dijumpai sebuah kolam besar yang oleh penduduk dikenal dengan nama Kolam Segaran. Kolam ini berbentuk segi empat dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter. Ketika dikunjungi Raffles tahun 1815, kolam tersebut sudah tertimbun tanah dan tidak berair. Kini kolam seharan telah selesai difugar, disebelah selatan ditemukan sisa-sisa balai. Dengan adanya sisa-sisa tersebut kolam segaran dapat diperkirakan sebagai tempat rekreasi dan mungkin juga sebagai waduk tempat menampung air. Namun cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa kolam berfungsi sebagai tamansari, tempat para raja, dan istri dan keluarga bercengkrama dan sekalis tempat menjamu para tamu raja.

Kompleks Makam

Kompleks Makam Troloyo, Mojokerto

Di sebelah timur laut dari Kolam Segaran ditemukan kompleks makam. Masyarakat sekitar menyebutnya Makam Putri Sampa (campa/cempo). Bagaimana ceritanya sampai disebut demikian memang belum jelas. Tetapi dalam sejarah dapat diketahui bahwa hubungan dengan Campa sudah berlangsung sebelum jaman Majapahit.

Dua kilometer dari makam Putri Campa dapat dijumpai Makam Tralaya (Troloyo) yang merupakan makam Islam. Dengan demikian menunjukan bahwa pada abad ke-15 agama Islam telah masuk ke ibukota kerajaan Majapahit. Makam Tralaya merupakan kompleks makam yang luas dan dikelilingi tembok, di dalammnya terdapar kelompok malam yang berisi 9 buah makam yang amat panjang. Menurut dongeng makam tersebut hanyalah perilasan paara wali yang datang bersama-sama menyerbu Majapahit, dan di tempat tersebut mengislamkan Raja Brawijaya. Kemudian agak ke barat dapat dijumpai tujuh buah makam yang dipagari tembok keliling. Makam ini dalah makam keluarga raja atau pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam.

Candi Minakdjinggo

Kurang lebih 300 meter dari Kolam Segaran ke arah timur , dapat dijumpai kelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menujukan bekas bangunan candi. Dulu di tempat tersebut ditemukan arca besar berwajah raksasa setinggi 1,48 meter, sehingga tempat tersebut dikenal dengan Candi Minakdjinggo. Arca tersebut kini dapat disaksikan di Museum Purbakala Mojokerto.

Candi Bajangratu

Di Desa Temon ditemukan juga sebuah candi yang agak utuh dengan tinggi 16.5 meter. Candi ini dikenal dengan nama Candi Bajangratu. Diperkirakan dibangun pada abad XIV. Terbuat dari batu-bata dan berbentuk sebuah gerbang dengan atap bertingkat berbentuk kubus. Setiap tingkat atap dihiasi dengan pahatan ornament sehingga tampak indah.

Candi Tikus

Di desa yang sama, tidak jauh dari Candi Bajangratu ditemukan juga sebuah candi. Ketika ditemukan terdapat banyak tikus hingga kini orang menyebutnya dengan Candi Tikus. Candi ini merupakan sebuah candi pemandian berbentuk kolam segi empat. Airnya keluar dari sejumlah pancuran yang terbuat dari batu andesit berbentuk makara atau teratai kuncup.

Pada teras pertama terdapat 8 buah candi menara demikian juga pada teras kedua. Secara keseluruhan teras beserta candi menara seperti menggambarkan puncak gunung (Mahameru) yang dikelilingi oleh 16 anak bukit. Melihat keindahan bentuk candi ini diperkirakan dibuat pada jaman keemasan Majapahit pada abad XIV. Candi serupa serupa Candi Tikus dijumpai di desa Kepungpada kedalaman 8 meter.

Sumur Upas dan Candi Kedaton

 

Tahun 1966, dibangun sebuah Pendopo besar di Trowulan yang disebut Pendopo Agung. Di tempat ini sebelumnya ditemukan umpak (alas tiang) terbuat dari batu besar dan dua buah tiang batu. Tidak jauh dari Pendopo Agung terdapat sebuah situs yang disebut Sumur Upas. Sumur Upas merupakan lubang yang kini sudah ditutupi batu dan dibuatkan sungkup.

Ada beberapa pendapat yang menjadi dasar penamaan sumur tersebut menjadi SUMUR UPAS. Diantaranya yang saya dengar adalah :

  1. Sumur itu mengandung kadar racun yang sangat tinggi (pengaruh geologis lokasi) terutama WARANGAN, yang mampu merusak sistem saraf manusia dengan sangat cepat. Itulah sebabnya air disini bagus untuk merendam pusaka.
  2. Sumur tua ini dihuni banyak mahluk berbisa (yang saya pernah lihat dan sering temukan di sekeliling sumur adalah : Kalajengking, Lipan, Ular Welang dan Kodok Bangkong beracun). Saya nggak tahu logikanya kenapa mahluk-mahluk beracun ini senang mendekat kearah sumur ini, walaupun di lokasi yang sama ada juga sumur lain. Atau bisa juga karena adanya pohon beringin besar yang menaunginya itu (efek lembab) lihat di foto atas. Sekarang pohon itu sudah ditebang dan tidak ada lagi.
  3. SUMUR UPAS dalam pengertian kiasan atau sanepan. Karena tempat ini adalah tempat pendidikan Ksatrya keluarga raja yang kelak mewarisi tahta, juga mendidik senopati utama dan raja-raja bawahan, maka bagi lawan lokasi ini adalah SUMBER RACUN bagi kekuasaan mereka. Karena doktrin pendidikan yang keras (BELA NEGARA), akan melahirkan pemimpin tangguh yang menjadi pesaing lawan-lawan Majapahit.

Di tempat ini juga terdapat pondasi yang diperkirakan kaki candi. Menurut catatan lama kompleks ini disebut dengan Candi Kedaton.

Di luar daerah Trowulan pun masih ditemukan peninggalan sejarah yang masih berkaitan dengan Majapahit. Misalnya di wilayah Kecamatan Soko ditemukan yoni yang memuat pahatan angka tahun 1294 saka (1372 M). angka tersebut bertepatan dengan meninggalnya Bhre kahuripan, sehingga diperkirakan debagai candi pemakaman dari Bhre Kahuripan atau Tribuwana Tunggadewi, ibu dari Raja Hayam Wuruk.
Dapat dibayangkan alangkah luas dan megah ibukota kerajaan Majapahit di masa lampau. Rahasia Trowulan masih banyak yang belum terungkap. Kiranya partisipasi masyarakat untuk senantiasa ikut memelihara situs kepurbakalaan ini sangat diharapkan.

Sumber:

kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1094/trowulan-bekas-ibu-kota-majapahit
/wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/01/29/candi-kedaton-sumur-upas-peninggalan-kerajaan-wilwatikta/

Advertisements

Gubernur Jatim, Soekarwo Pertahankan Trowulan Sebagai Cagar Budaya

Oleh :Dept. Konservasi Nilai Budaya

Surabaya, 4 Maret 2015

Gubernur Jatim, Soekarwo bersikukuh mempertahankan kawasan Trowulan, Mojokerto sebagai cagar budaya, karena merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit.

“Saya bertanggung jawab, sebagai wakil pemerintahan pusat tidak mudah menerima tekanan dari manapun. Untuk menjaga jati diri bangsa, sejarah Majapahit harus dipertahankan”

Hal itu ditegaskan Soekarwo ketika menerima audiensi rombongan Dewan Kesenian Provinsi Jatim dan para penggiat pelestari cagar budaya, di Ruang Kertanagera, Kantor Gubernur, Surabaya, Selasa (3/3).

Menurut Soekarwo, ada tiga hal yang akan dilakukan untuk mempertahankan situs cagar budaya Trowulan. Pertama, dirinyaakan mengirim surat ke Bupati Mojokerto dan akan mengundang pimpinan Dewan, karena DPRD juga harus memahami dan mencarikan solusi jika ada tuntutan dari perusahaan yang akan membangun pabrik.

“Selama ini prosedur yang dilakukan sudah benar hanya karena kesalahan Perda dari sisi Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Mojokerto yang diperuntukan kawasan industri. Tapi saya tidak setuju di kawasan cagar budaya itu dibangun pabrik,” jelasnya,

Selanjutnya, berkaitan dengan surat dari Kemendagri RI no 430/123/PUM perihal : penetapan kawasan cagar budaya di Trowulan Mojokerto, Pakde Karwo memerintahkan Kepala Disbudpar Jatim Djariyantomelakukan pembenahan secara struktural dengan membuat konsep surat ke Dirjen Kebudayaan, untuk menjelaskan bahwa cagar budaya tidak bisa dipindah, dan diharapkan untuk menelaah kembali keputusan mencabut Trowulan sebagai cagar budaya.

“Tidak bisa memindah Majapahit ke tempat lain, Majapahit tempatnya ya di Trowulan. Yang bisa dipindah pabriknya ke tempat lain,” tegas Pakde Karwo.

Kepada komunitas pelestari cagar budaya Trowulan, Pakde mengatakan bahwa menghadapi intrik-intrik itu biasa, tidak perlu terlalu gelisah terhadap intimidasi, justru harus bangga dianggap sebagai orang penting, tapi harus tetap hati-hati menghadapinya.

”Kita tidak ingin melakukan konfrontasitapi menegakkan melaui budaya musyawarah mufakat, namun tetap teguh mempertahankan substansinya bahwa kawasan Trowulan sebagai cagar budaya, tentunya dilengkapi dengan kajian dan hasil penelitian, dan saya tidak setuju jika dibangun pabrik, apalagi izin mendirikan bangunan belum keluar,” tandasnya.

Sumber:
http://dkjatim.com/news/content/gubernur-jatim-pertahankan-trowulan-sebagai-cagar-budaya

PERAN SANGGAR TARI & SEKOLAH SENI

Oleh : Risang Anom Pujayanto

Dalam kisaran angka tahun 1990an, geliat sanggar tari seperti tidak terbendung. Di Surabaya, daerah Genteng saja terdapat sanggar tari Solo, sanggar tari PLT Bagong, sanggar tari Sunda, sanggar tari Modern, sanggar tari Bali, Yayasan Bina Tari Jatim. Saat ini, beberapa sanggar masih bertahan dan yang lain telah kehilangan eksistensi. Kematian beberapa sanggar tari tersebut bukan berarti mengurangi rutinitas sanggar tari di Jatim, khususnya Surabaya. Pasalnya, setiap sanggar tari yang mati diganti sanggar-sanggar tari baru. Raff dance, Gita Marron, Studio Tydif, Candi Ayu merupakan di antaranya. Bahkan saat ini di daerah Simo, Kenjeran, Semolowaru, Kebaron, dan hampir di seluruh wilayah kecamatan Surabaya juga terbit sanggar-sanggar baru. Artinya, kondisi saat ini sanggar tari mulai kembali seperti era 1990an.

Patut disayangkan potensi di titik-titik ini kurang mendapat perhatian dari instansi daerah yang menaungi. Akibatnya, pendapat miring pun terdengar nyaring. Bahwasannya, nasib sanggar diperkirakan tidak bakal bertahan lama.

”Sudah beruntung Surabaya masih memiliki puluhan sanggar. Sepatutnya ini terus dijaga dan dioptimalkan potensinya,” pinta Ketua Yayasan Bina tari Jatim, Tri Broto Wibisono. Wisata seni merupakan salah satu proyek yang bisa dibangun ke depannya. Selain akan menambah devisa negara dari pemasukan turis yang berhasrat pada tarian-tarian etnik, juga dapat menelurkan generasi penari, lanjutnya.

Kepedulian akan seni tari memang masih dalam tataran rendah. Dan, ramalan akan sanggar nyaris meraih kenyataan. Di berbagai sanggar mengakui, minat generasi tari dari waktu ke waktu terus mengalami penurunan. Peminat terbanyak masih diikuti oleh anak-anak. Ironisnya, ketika mulai beranjak dewasa, masing-masing peserta didik seni tari memilih tidak melanjutkan tari.

”Karena apresiasi masyarakat metropolik menurun,” sahut pimpinan tunggal Studio Tydif Surabaya, Dra Diaztiarni Azhar. Sehingga menimbulkan kesan kesia-siaan mempelajari tari dalam diri setiap peserta tari. Implikasinya, dari berbagai sanggar yang tersebar dan yang masih tetap menjaga eksistensinya, dikentarai hanya sebagian kecil yang bisa dikatakan produktif. Lainnya hanya syukur bertahan saja, tambahnya.

Secara materi, untuk mengadakan satu pagelaran tari memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi tidak mungkin menyalahkan sanggar tari, jika geliat seni tari tidak populer di daerah sendiri. Sokongan dana dan ruang dari instansi pemerintah dan perusahaan swasta menjadi harapan yang bisa mengubah keadaan tari di daerah sendiri. Apresiasi dari kedua instansi tersebut pernah menjadi primadona seni tari di era 1990an.

Saat ini, beberapa apresiasi formal tersebut masih kerap ditemui. Hanya saja frekuensi ditentukan seiring momentum-momentum tertentu. Fatalnya untuk saat ini, ketika perhatian itu didapat justru menimbulkan kerancuan-kerancuan baru. Ketika ada even kenegaraan, misalnya, pemilihan partisipan sanggar tidak pernah merata. Hanya sanggar-sanggar tertentu yang menjadi pilihan. Sedangkan apabila apresiasi datang dari pihak swasta, keberadaan tari menjelma budak yang wajib menuruti kemauan tuannya. Dan, seni mengalami perombakan total menjadi komoditi belaka.

Dalam sekolah seni pun tidak berbeda. Di Jatim, seni merupakan pendidikan wajib untuk siswa setara tingkat dasar, kecuali di sekolah pendidikan khusus seni. Ini berbeda dengan daerah Jateng. Sebagai pendorong kesenian untuk tetap bersemi, pemerintah memasukkan seni ke dalam kurikulum jalur prestasi untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Dengan begitu, perihal pembinaan seni diakui jauh lebih baik.

”Seni berkaitan dengan aspek moral. Beberapa orang yang berminat dalam bidang ini saja merupakan intan mutiara yang wajib dijaga. Bukan karena secara kuantitas minim, malah justru tidak mendapat dukungan,” jelas Tri Broto. Tak ayal, pendidikan pun menjadi kering makna moral. Selain itu, di pendidikan tinggi seni, mahasiswa seni ditengarai sekadar memenuhi tuntutan pendidikan. Pasca lulus pendidikan, seni tak ubahnya bak barang yang usang dan siap dibuang. Karena itu, kontribusi tari jatim justru dihasilkan dari sanggar ketimbang perguruan tinggi.

Kepala Sendratasik Unesa jurusan Tari, Drs Djoko Tutoko MSn mengatakan, sejatinya pembinaan tari di sekolah seni masih bagus. Pasalnya, terdapat dukungan finansial dan apresiasi dari instansi yang menaungi di atasnya. Kegiatan lomba, pagelaran, diskusi, workshop dan sebagainya bagian yang tidak terputus dalam sekolah seni.

”Bahkan, Sendratasik Unesa berencana akan memfasilitasi pagelaran antarsanggar tari seJatim bulan Oktober nanti,” katanya. Hanya saja mental berkesenian memang masih terus menjadi pekerjaan rumah tersendiri, mengingat lingkungan masyarakat seni Jatim kurang mendukung.

Etnik dan kontemporer. Dua medium material yang menjadi basis eksplorasi sanggar dan sekolah seni. Komoditi dan seni murni. Dua obyek material yang menjadi orientasi pemilihan sanggar dan sekolah seni. Sejauh ini, menurut pimpinan Raff Dance Arif Rofiq, kecenderungan tari sanggar yang tidak lagi pada tataran seni, melainkan komoditi, sejatinya tidak selalu benar. Sebab, tipikal tari tradisi adalah paket tari etnik yang bisa dipelajari sebagai bahan pencetak generasi penari handal. Tidak dipungkiri, pergeseran tujuan sanggar merupakan keniscayaan yang sukar dihindarkan. Namun meski demikian, seharusnya dalam kepentingan ekspresi seni, orang tari serta-merta harus terjebak harus menampilkan seni kontemporer.

”Kontemporer sering dipahami ke balet-baletan. Asal gerak mulet dalam improvisasu,” tutur Arif Rofiq.

Dengan begitu, tubuh penari sebagai media ekspresi seringkali menyajikan tubuh yang kaya nuansa tetapi kering makna. Ikon-ikon tradisi yang ditayangkan seringkali menjadi nuansa dan kilasan kesan, pesan pintas. Dalam konteks yang lebih mendalam idiom dan medium tradisi dikemas untuk menyatakan nilai-nilai baru, gagasan baru yang secara signifikan tidak terkait dengan nilai dan semangat aslinya.

”Obyek material tradisi etnik dipaksa menjelejahi ruang dan makna yang baru. Seringkali terlepas dari budaya dan keutuhan kosmisnya, menjadi simbol yang sama sekali baru,” ucap pengajar STKW dan penari lulusan STSI Surakarta, R Djoko Prakosa SSn.

Kontemporer harus tumbuh dari tari lokal secara mandiri. Dengan mengamati apa saja yang bisa dieksplor sedemikian rupa. Bahkan, menurut Tri Broto, pengurangan durasi waktu yang paten dalam suatu pementasan tari pun bisa dikatakan sebagai kontemporer. Daripada harus mengacu pada asal percampuran tari lokal dan tari dari luar. Sebab, apabila kontemporer yang dimaksud ialah percampuran serampangan tanpa pijakan tari lokal, maka jati diri tari lokal kontemporer akan ditemukan di setiap daerah-daerah lain. Katakanlah, tari kontemporer Jatim akan sama dengan kontemporer tari Solo, karena adanya kesengajaan persinggungan antarkeduanya.

Sanggar tari dan sekolah seni merupakan pusat dari kegemilangan seni dan moral di Jatim, maka seyogyanya diperhatikan dan dimanfaatkan kesempatan segala potensi. Membiarkan perkembangan secara mandiri sama halnya melakukan perjudian. Antara kematian dan perbaikan. Sementara apabila area ini dioptimalkan, dapat dipastikan penari hiburan, penari profesional, dan seniman tari hadir mewarnai dan bakal semakin mengangkat nama besar Jatim. Sebab tanpa diperhatikan saja, tari Jatim sudah disegani di level nasional maupun mancanegara.

Sumber

Warisan Budaya Jatim Diakui Nasional

JAKARTA: Sebanyak 8 (delapan) warisan budaya takbenda (intangible heritage) dari Jawa Timur diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional. Hal ini diputuskan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2014 yang dilaksanakan di Hotel Millenium Jakarta (17-19/9). Acara tersebut digelar oleh Direktorat Internalisasi dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Keputusan Sidang yang dibacakan oleh Ketua Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Nasional, Mukhlis PaEni, Jumat malam (19/9), menyebutkan bahwa 8 (delapan) warisan budaya takbenda asal Jawa Timur tersebut adalah:

1.Tari Seblang (Banyuwangi),

2. Wayang Topeng (Malang),

3. Ritual Tumpeng Sewu (Banyuwangi),

4. Syiir Madura,

5. Upacara Kasada (Tengger),

6. Ludruk,

7. Jaran Bodhag (Probolinggo),

8. Topeng Dongkrek (Madiun).

Sedangkan permainan anak Egrang, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Bersama karena permainan ini juga ada di banyak daerah meski dengan nama-nama yang berbeda. Sebetulnya masih ada satu usulan lagi dari Jatim, yaitu Jaranan, namun dalam klasifikasi pendaftaran terlanjur dimasukkan usulan dari Yogyakarta, padahal kesenian tersebut di Yogya lebih dikenal dengan nama Jathilan.

Selama berlangsungnya Sidang Penetapan tersebut, provinsi Jawa Timur diwakili oleh Henri Nurcahyo, pengurus Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jatim selaku stakeholder Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur. Disamping itu juga didukung oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, dimana Jatim memang berada dalam wilayah kerjanya. Pada tanggal 17 Oktober mendatang, kedelapan warisan budaya takbenda tersebut akan ditetapkan secara formal oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dalam kesempatan tersebut Kemendikbud akan langsung mengundang Gubernur Jatim untuk menerimanya.

Penetapan 8 warisan budaya asal Jatim ini melengkapi daftar warisan budaya takbenda asal Jatim yang sudah diakui secara nasional pada tahun lalu. Lima dari 77 warisan budaya tersebut adalah Reog Ponorogo, ‘Keraben Sape’ (Karapan Sapi), Sapi Sonok, Gandrung dan Kentrung.
Sedangkan warisan budaya takbenda Indonesia yang sudah diakui secara internasional oleh UNESCO adalah Wayang, Keris, Batik, Angklung, Saman dan Noken. (hn)

Sumber: http://brangwetan.wordpress.com

SENI PERTUNJUKAN SANDUR, KABUPATEN TUBAN

Pertunjukan Sandur atau Sandur merupakan sebuah pertunjukan (baca: seni pertunjukan) yang cukup populer dan khas di daerah Kabupaten Tuban. Sandur diakui sebagai icon daerah Tuban karena sifatnya yang unik dan khas. Dalam tulisan ini mengambil paguyuban Sandur Ronggo Budoyo yang dipimpin Sakru (45 tahun) desa Bektihajo, Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban sebagai Studi kasus. Pemilihan tersebut dengan alasan bahwa Sandur tersebut merupakan satu-satunya paguyuban Sandur yang anggotanya masih ada dan aktif melakukan pementasan.

pertunjukan Sandur merupakan pertunjukan rakyat yang digelar di tanah lapang atau di halaman yang bersifat komunal. Penonton duduk di sekeliling pementasan. Tempat pertunjukan, untuk membatasai dengan penonton dipasang tali berbentuk bujur sangkar dengan sisi-sisi sekitar 4 meter, tinggi sekitar 1,5 meter. Masing-masing sisi diberi janur kuning sehingga batas itu lebih jelas. Di tengah-tengah sisi sebelah timur dan barat dipancangkan sebatang bambu menjulang ke atas dengan ketinggian sekitar 15 meter. Dari ujung kedua bambu dihubungkan dengan tali yang cukup besar dan kuat. Di tengah-tengah tali diikatkan tali yang menjulur samapi ke tanah tepat ditengah arena. Pada tali baik yang di sisi maupun di atas bambu diikatkan beberapa kupat dan lepet bagian dari sesaji. Di tengah-tengah atau titik pusat arena ditancapkan gagar mayang (rontek) dengan bendera kertas meliputi emat warna hijau (pengganti warna hitam), kuning, merah dan putih.

Waktu pertunjukan biasanya dilakukan pada malam hari dimulai sekitar jam 20.00 berakhir pada 04.00 pagi hari. Ada dua fungsi pementasan Sandur, pertama dipentaskan di tempat-tempat keramat di mana tempat para tokoh Sadur nyetri dan kedua dipentaskan di tempat umum. Pementasan di tempat keramat dengan tujuan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan mencoba apakah tokoh Sandur sudah mendapat kekuatan tertentu. Pementasan ini dianggap wajib dilakukan pada awal musim pementasan. Sejak dahulu memang selalu begitu tidak berani meninggalkan, karena ada perasan takut bila tidak dilakukan akan mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Pementasan untuk umum melayani permintaan orang punya nadhar (duwe ujar, atau duwe uni). Bagi orang yang mengundang tidak dipungut biaya, cukup menyediakan makan minum serta menyiapkan ubarampe sesaji dan bambu. Kalau yang mengundang tempatnya jauh perlu menyediakan transpotasi. Akhir-akhir ini Sandur diundang (ditanggap) dipentaskan di lembaga-lembaga pemerintah dan pada acara-acara tertentu dengan menerima imbalan sebagai jasa. Bila sepi tidak ada yang mengundang biasanya ada saja anggota Sandur sendiri berkeinginan untuk ditempati. Semua keperluan pementasan ditanggung bersama secara kolektif. Sudah menjadi kebiasaan bila ada pementasan Sandur tetangga sekitar tempat pementasan membawa berbagai makanan dan minuman hasil bumi mereka secara suka rela.

4 Tokoh Penari Sandur (Balong, Pethak, Tangsli dan Cawik)

Penari Sandur terdiri dari empat anak gembala laki-laki yang belum akil balik atau belum dikitan. Empat anak tersebut menjadi tokoh Balong, Pethak, Tangsli dan Cawik sebagai tokoh perempuan. Untuk menjadi penari Sandur mereka harus mengikuti proses yang disebut daden yaitu selama satu minggu mereka disatukan di rumah salah satu sesepuh, tidak boleh ke luar rumah dan berpuasa. Pada saat itu disuruh menghafalkan nyanyian-nyanyian dan dialog-dialog sesuai dengan ceritan dalam Sandur. Pada hari ke tuju mereka diajak keliling nyetri ke tempat-tempat keramat untuk mendapatkan kekuatan tertentu. Setelah mereka selesai mengikuti proses daden baru dapat disebut penari Sandur. Dalam nyetri juga membawa semua peralatan yang bisa dibawa seperti pakaian penari, rontek, tali, jaranan, kendang, gong bumbung agar mendapatkan kekuatan tertentu.

Perlengkapan pentas pokok yang dimiliki meliputi, busana penari, gagar mayang atau rontek, gong bumbung, kendang, tali {blabar atau kentheng), dan jaran kepang. Dikatakan pokok karena tidak bisa didapatkan secara mendadak di tempat pertunjukan seperti peralatan lainnya bambu, meja tempat sesaji dan kursi yang bisa meminjam penduduk di tempat pementasan. Untuk uba rampe sesaji dan nasi tumpeng untuk selamatan bisa dipersiapkan dari rumah pimpinan sandur, semua harus baru tidak boleh barang yang sudah dipakai atau barang sisa. Kurang sempurnanya sesaji maupun uba rampe dianggap akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Cerita yang disajikan tetap saja yaitu tentang perjalanan seorang anak yang bernama Pethak mencari ngengeran kepada seorang juragan Germo. Jalannya cerita menggambarkan bagai mana proses menggarap ladang mulai dari buka ladang (babad alas), membajak (ngrakal), menanam (icir), menyemai (besik), memberi rujak (ngrujaki) hingga menuai (undoh-undoh). Di tengah jalannya cerita terdapat seling cerita fragmen adegan yang bersifat humor dan edukatif, seperti Jaranan, Cina dingklang, Kaki-nini, Polisi Hutan. Adegan selingan yang bersifat simbolik adalah sindhiran yaitu bancik endog, bancik kendi, bancik dengkul, bancik pundak dan kalongking sebagai adegan penutup.

Musik Sandur oleh masyarakat setempat disebut panjak hore, terdiri dari 25 hingga 30 orang semua laki-laki. Kalau dulu sekiatr tahun 70-an jumlah panjak hore bisa mencapai 50 orang. Mereka melantun lagu-lagu vokal dari awal hingga akhir pementasan. Peralatannya atau instrumennya hanya sebuah kendang dan satu bumbung yang berfungsi sebagai kempol dan gong. Karena suara yang dominan adalah vokal ada yang menyebutnya musik mulut dan karena suaranya terrdengar hore-hore maka disebut panjak hore. Musik mulut dari 30 orang yang menggema sepanjang malam dengan karakteristik yang khas. Dari segi musikal pertunjukan sandur mempunyai kesan yang unik dan menarik. Syairnya merupakan deskripsi (nyandra) masing-masing adegan serta apa yang dilakukan oleh penari.

Penonton merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan. Keterlibatan penonton dalam pertunjukan mulai dari menyediakan makan dan minum bagi para pemain juga komunikasi pada dengan pemain saat pertunjukan serta ikut menyanyi bersama panjak hore. Selain itu tentang keterlibatan penonton dalam pertunjukan juga disebut di dalam resitasi tandhuk sebagai berikut:

.. derek-derek jajar pinarak wonten ngriki sedaya, derek kula sak lebeting kentheng, sakjawining kentheng mboten wonten kula wastani. Sedaya ugi kula wastani. Gending suling, kenthung liwung kembange sukun, sintena kemawon ingkang ningali Sandur kula sageta rukun pirukun. Gending suling kenthung liwung kembange klerak, sintena kemawon ingkang ningali Sandur kula kedhah mbeta gelar piyambak-piyambak…

(“”…saudara-saudara yang duduk berjajar di sini semuanya, saudaraku yang di dalam kentheng maupun di luar kentheng, tidak ada yang saya sebut, semua juga saya sebut. Gending suling kenthung liwung bunganya sukun, semua yang menonton Sandur saya sermua bisa rukun. Gending suling kenthung liwung bunganya klerak, semua yang menonton Sandur saya harus membawa tikar sendiri-sendiri…”).

Yang dimaksud saudaraku di dalam kentheng adalah pemain Sandur dan di luar kentheng adalah penonton. Pada kalimat “semuanya disebut” berarti tidak dibeda-bedakan. Semua penonton supaya rukun dan membawa “gelar” sendiri-sendiri. Kata “gelar” selain berarti tikar juga keperluan atau keyakinan, meskipun keperluan dan keyakinannya berbeda-beda semua dihormati.

 

Jalannya Pertunjukan

Pertunjukan Sandur yang dilakukan semalam suntuk dari pukul 20.00 hingga pukul 04.00 tetap menarik penonton dari awal hingga akhir. Ada penonton yang datang

justru menjelang pagi hari, karena ingin menonton adegan kalongan yang bersifat akrobatik magis. Sekitar pukul 20.00 panjak hore sekitar 20 orang masuk kalangan, mereka duduk melingkar menghadap rontek di pusat arena membelakangi penonton. Pra pertunjukan diawali dengan penyajian lagu-lagu panjak hore yang melantunkan lagu-lagu gambuh kalangan dilanjutkan gambuh pedanyangan.. Lagu gambuh kalangan syairnya berisi deskripsi (nyandra) tentang pembuatan kalangan atau arena dari awal hingga selesai. Lagu gambuh pedanyangan syirnya berisi permohonan ijin ke pada pedanyangan tempat pertunjukan dilaksanakan. Pada saat ini penonton sudah mulai berdatangan duduk di sekiling kalangan.

Pada akhir dilantunkannya lagu gambuh pedanyangan, muncul prosesi yang terdiri dari yang terdepan tukang obor, diikuti berturut-turut tukang upet (pembawa perapian untuk dupa), tukang kandhut (pembawa pakaian penari), empat penari Sandur, dan paling belakang tukang obor. Prosesi masuk kalangan berjalan sambil menari mengelilingi panjak hore dan rontek tiga kali terus keluar lagi untuk paes (rias busana). Adegan ini disebut Bendrong lugasan karena para penari masih lugasan belum rias busana penari. Pada saat menunggu penari sedang rias busana ditempat yang lain, panjak hore melantunkan lagu gambuh paras yang syairnya nyandra baagai mana penari sedang rias busana.

Setelah penari selasai rias busana keluar seperti pada prosesi pertama, meskipun penari sudah rias busana namun masih menggunakan kerudung sehingga wajahnya tidak tampak. Prosesi masuk kalangan dan berjalan sambil menari keliling tiga kali terus penari duduk bersila disebelah sesaji yang telah disiapkan, yang lain bergabung dengan panjak hore. Adegan ini disebut Bendrongan dan terus diiringi oleh lagu-lagu panjak hore. Setelah penari duduk panjak hore menghentikan lagu-lagunya, dilaksanakan selamatan dibacakannya do’a dan tandhuk oleh juru kunci Sandur. Pada saat dibacakan tandhuk dan do’a Islam semua termasuk penonton menyahut dengan kata-kata “enggih” dan “amin”.

Bacaan doa berisi permohonan keselamatan dan resitasi bacaan tandhuk yang cukup panjang menceritakan jalannya asap (kukus) menyan madhu membubung tinggi hingga langit sap ke tujuh tempat bersemayam para bidadari. Setelah mencium harumnya menyan madhu 44 bidadari turun ke tempat pertunjukan, 4 bidadari masuk kepada penari dan 40 lainnya masuk ke panjak hore. Pada saat-saat tertentu diselingi lagu-lagu panjak hore yang syairnya juga menceritakan perjalanan turunnya bidadari tersebut.

Pertunjukan utama dimulai setelah selamatan dan pembacaan tandhuk selesai. Adegan pertama yaitu adegan simbolik bancik endog yang disebut sindhiran. Selanjutnya berturut-turut adegan babad alas (buka ladang), ngrakal (membajak), /c/r (bertanam), besik (menyemai), sambang tegai (menjenguk ladang) atau ngrujaki (memberi rujak), dan undoh-undoh (menuai). Di sela-sela tiap adegan diselingi adegan sindhiran bancik kendi, bancik dengkul dan bancik pundak. Adegan terakhir sebagai penutup yaitu bandhan diterus bandhulan atau kalongan yang bersifat magis akrobatik.

Menjelang adegan terakhir salah seorang penari laki-laki jatuh pingsan. Pada saat itu pula para penonton seolah tersentak langsung berdiri dan mendekat kalangan. Penari yang pingsan busana tarinya ditanggalkan dan diikat dengan tali, dimasukkan ke dalam kotak. Setelah beberapa saat dibuka, sudah terlepas dari ikatan, adegan ini disebut bandhan. Masih dalam keadaan tak sadar penari dibawa ke tempat tali yang menjulur di tengah arena. Penari naik ke atas dengan memanjat tali. Sampai di atas menari-nari sambil tiduran diatas tali, kadang menggelantong dengan kepala menjulur ke bawah.

Kerasukan Kalong

Panjak hore dan para penonton dengan serentak dan semangat melantunkan lagu kalongking seolah memberi semangat. Teriakan penonton terutama anak-anak dari berbagai arah “…mudun cung – mudun cung…” (turun cung) berulang-ulang, yang lain tetap melantunkan lagu kalongking.Penari kalongking mengambil ketupat dan lepet yang banyak bergelantong di tali atas dan dilemparkan ke pada penonton. Penonton berebut kupat dan lepet, bagi mereka yang mendapatkan dipercaya mendapat keberuntungan. Setelah beberapa saat penari turun dan disambut oleh juru kunci dibawa berputar-putar kalangan hingga sadarkan diri. Penari sadar memakai pakaian sehari-hari, panjak hore melantunkan lagu gambuh uleh-uleh sebagai pertanda dan pengantar para bidadari pulang ke asalnya dan pertunjukan selesai.

Penari yang pingsan kerasukan

Pertunjukan Sandur Dalam Konteks Sistem Religi Masyarakat Desa Bektiharjo. Secara umum orang menyebut pertunjukan Sandur Ronggo Budoyo desa Bektiharjo merupakan seni pertunjukan. Anggapan tersebut tidaklah salah, karena penonton bisa mendapatkan apresiasi estetik dari dari pertunjukan tersebut. Tidak hanya apresiasi estetik, tetapi juga hiburan karena banyak adegan, dialog, tingkah laku pemain yang bersifat humor dalam pertunjukan tersebut. Namun setelah dikaji dari sudut pandang religi, menunjukan bahwa pertunjukan Sandur tersebut dapat dikategorikan sebagai pertunjukan ritual. Hal tersebut tampak dari semua unsur pertunjukan, peralatan, tempat dan waktu mangalami proses sakralisasi. Struktur jalannya pertunjukan identik dengan proses ritual. Pemain dan penonton merupakan pelaku ritual. Pertunjukan ritual atau ritual pertunjukan dapat digolongkan sebagai ostensión ritual. Kegiatan ritual yang demikian, para pelaku ritus tidak saja mendapatkan pengalaman spiritual transendental tetapi juga mendapatkan kekayaan emajinasi sentuhan estetik.

Pertunjukan Sandur merupakan kegiatan ritus masyarakat desa Bektiharjo atau ungkapan emosional religius mereka yang bersifat sinkretik. Dalam proses sakralisasi peralatan Sandur, mereka menuju ke tempat-tempat keramat, pedanyangan dan cikal bakal desa. Dalam pertunjukan menggunakan sesaji yang ditujukan kepada roh-roh halus dan para leluhur. Para pelaku pertunjukan penari sandur dan panjak hore melakukan pementasan setelah mendapat kekuatan dari bidadari. Dalam selamatan Sandur dibacakan tandhuk memetri dan mohon keselamatan kepada pedanyangan, cikal-bakal, para wali, para nabi, dan dilanjutkan do’a Islam (bahasa Arab). Di sini roh halus, pedanyangan, cikal-bakal, wali, nabi, bidadari semuanya mendapatkan penghormatan dan tempat yang layak. Hal tersebut sesuai dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat desa Bektiharjo, meskipun malakukan syari’at Islam tetapi tidak meninggalkan adat-istiadat warisan leluhurnya yang dirasakan masih relevan dengan kondisi sekarang.

Adegan menari di atas paha

Adegan menari di atas pundak

 

 

 

Sumber:

http://jawatimuran.wordpress.com/2013/03/14/sandur-ronggo-budoyo-kabupaten-tuban/#comment-4820

http://tugassuparman.blogspot.com/2014/01/sandur-kesenian-tradisional-yang.html

http://jelajah-nesia2.blogspot.com/2013/09/nuansa-mistis-dan-magis-dalam-sandur.html

 

 

TARI EBLAS

Versi pertama Eblas

Versi pertama tari Eblas

Tari Eblas Versi kini

 

Tari EBLAS adalah tari kreasi tradisional yang menceritakan tentang gadis-gadis madura yang cantik, feminin, luwes, lincah dan ceria.

Tari Eblas awal diciptakan berangkat dari ide keberadaan Topeng sebagai sebuah karya seni unik di Jawa Timur. Tari ini mengangkat seni Jawa-Madura yang dilahirkan dalam iklim budaya Surabaya.

Arif Rofiq menciptakan tari Eblas sekitar tahun 1990-an dengan konsep koreografi menggunakan topeng. Namun seiring perkembangan jaman, banyak penari yang sangat jarang mengenakan topengnya sehingga menonjolkan wajahnya.

Jadi tari Eblas dengan topeng -red: Topeng Eblas- bukanlah suatu inovasi baru dari tari Eblas tetapi justru adalah asal mula tari Eblas diciptakan.

Kostum tari Eblas sangat bervariasi, namun intinya adalah pakaian khas bernuansa madura. Seperti: kebaya madura, sewek/rok dengan batik madura, cemol madura, dan gelang kaki.