6 Hal yang sebaiknya tidak kamu ucapkan kepada guru tarimu.

Advertisements

Memperkenalkan tarian anak-anak yang sesuai

Mengapa tarian anak itu mayoritas tari dengan judul hewan-hewan, tari permainan-permainan, tari lucu-lucu?
Perlu dipahami oleh anda semua, bahwa menciptakan tarian anak itu ada pendidikannya khusus. Koregrafer yang menciptakan tari anak itu tidak asal menciptakan tari. Semua tarian untuk anak itu memiliki maksud dan tujuan yang tidak sekedar goyang asik atau berjoged ramai.

Seringkali saya temui orangtua yang inginnya anak menari goyang-goyang egol egol, terlihat bahenol ya? tapi maaf pak/buk, itu sangatlah tidak untuk usianya. Meskipun Jaipong anda pikir tariannya seksi, goyangan lenggok menggoda, tapi yang anda lihat itu anak usia belasan atau dewasa yang memang sangat menarik dilihat menggoda, tetapi apakah sesuai untuk anak-anak?

Mengutip dari “Materi Seni Budaya.blogspot” bahwa Mempelajari gerak tari bukan merupakan prioritas utama. Namun yang lebih penting adalah aspek di balik pelajaran tari kaitannya dengan masalah budi pekeri dan perilaku anak.
Untuk itulah anak jangan dipaksakan menerima materi yang tidak sesuai dengan tingkat usia yang dimiliki. Hal ini akan sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis anak dalam menapak masa depan. tari dalam tataran ini harus mampu merangsang dan mengembangkan imajinasi serta memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk menemukan sesuatu (Murgiyanto, 1993: 22).

Materi tari untuk anak dapat kita klasifikasikan sebagai berikut:

1. Tari yang disusun berdasarkan permainan anak keseharian (dolanan)
2. Tari yang disusun atas dasar teks lagu
3. Tari yang disusun atas dasar lagu
4. Imitasi gerak dalam kehidupan sehari-hari
(Empat tahapan tersebut untuk kelas I s/d III SD)

5. Imitasi tari tradisional
6. Tari tradisional yang disesuaikan dengan jiwa anak
7. Tari tradisional yang disesuaikan dengan kemampuan anak
(Kategori ini lebih tepat untuk kelas IV s/d VI SD).

Bagaimana mengajarkan tari untuk anak yang efektif ? Kita perlu memahami pembatasan kelas dan usia anak. Ini sangat perlu diketahui. Untuk memberikan materi kelas I s/d III kita dapat menerapkan sistem pelajaran imitasi (menirukan) gerak bebas dengan mengutamakan ketepatan irama. Baru kemudian menirukan gerak dengan ketepatan gerak. Dan terakhir adalah improvisasi secara bebas.

Untuk kelas IV s/d VI, secara umum metode di atas dapat diterapkan, namun dengan penekanan pada unsur kualitas gerak.

Menari juga memerlukan kematangan psikologis. Karena itu tarian tradisional untuk anak usia dini- anak sekolah SD dan Remaja sampai dewasa itu berbeda dan memang diciptakan sudah sesuai dengan karakter usianya.

Spectra Dance Studio telah mengklasifikan materi-materi tarian berdasarkan tingkatan level anak – Remaja/dewasa. Semua bertujuan untuk melatih, memperkenalkan, melestarikan kesenian tradisional tetapi sekaligus mendidik.

Memaksakan jenis tarian yang tidak sesuai dengan karakter psikologis usianya akan membebani anak dikemudian hari dan tentunya tidak baik bagi perkembangan emosional anak.

Menurut I Gusti Komang Aryaprastya dalam PENDIDIKAN SENI TARI ANAK USIA DINI

MELALUI STIMULUS BERKREASI TARI NUSANTARA, Anak Usia Dini merupakan sosok insan yang masih memiliki sifat bermain yang sangat tinggi, oleh karena itu kebebasan berimajinasi menjadikan dirinya memiliki keunikan tersendiri dibandingkan orang dewasa. Kegemarannya bermain seringkali menghadirkan suara-suara maupun gerak-gerik tubuh yang indah atau ekspresif dengan gaya yang spesifik. Perilaku seperti ini bisa menjadi sumber kreatifitas dan acuan dalam memotivasi keberanian untuk berkreasi.

Seperti misalnya dalam menari tarian hewan seperti semut, bebek, kancil, dan sebagainya, anak akan menari sambil dilatih berimajinasi menirukan binatang, dengan arahan, ia belajar menirukan gerak bebek terbang, kancil melopat, semut berlari dan seterusnya, itulah orisinalitas anak-anak dalam berekspresi.

Kecenderungan anak-anak menyukai musik-musik yang populer seperti dangdut, india, korea dan sebagainya serta dengan goyangan-goyangan yang meniru orang dewasa. Karena secara psikologis memang anak-anak adalah peniru yang ulung. Oleh karena itu, sebagai orangtua, orang dewasa yang ingin generasi penerus yang terdidik mental dan emosionalnya sesuai dengan usianya, perlu membimbing dan mengarahkan lebih baik. Memperkenalkan pada dunia seni tradisional juga sebaiknya sesuai dengan tingkatan usianya, akan sangat berbahaya jika memperkenalkan materi seni kepada anak, namun tidak mempertimbangkan faktor psikologis dan tingkat perkembangan emosional anak.

Cara memakai kain jarik jawa

Mungkin bagi sebagian besar orang jawa saat ini tidak banyak yang tahu bagaimana memakai jarik. Tidak seperti jaman dulu ketika orang-orang baik perempuan maupun laki-laki terbiasa memakai kain jarik baik di acara resmi maupun di keseharian mereka. Ketika browsing mencari materi tentang memakai kain jarik tuh sangat sulit atau bahkan tidak ada penjelasan yang signifikan. 

Untuk itu saya akan sedikit berbagi ilmu meski tidak bisa menjelaskan secara detail namun setidaknya dapat menambah pengetahuan tentang kebudayaan khususnya jawa dalam memakai kain jarik.

1. untuk wanita

kaki kanan di posisikan di depan kaki kiri (seperti orang melangkah), dimaksudkan agar setelah dililit kain jarik masih bisa jalan dengan nyaman

☑ kain jarik dililitkan dari arah kiri

pertama kali di lilitkan, kain jarik yang disematkan harus ditarik agak banyak atau dilipat membentuk segitiga. Ini dimaksudkan agar ketika dililitkan kain jarik bagian dalam tidak terlihat atau nglewer (bhs. Jawanya) dan tujuan lain agar nanti bentuk lilitan jarik bisa membentuk lekuk tubuh bagian bawah

☑ wiru jatuh di tengah2 kaki

☑ menutupi mata kaki

☑ setelah selesai melilitkan kain jarik baru diikat dengan tali kemudian lengkapi dengan stagen dll.

Lihat vidionya https://youtu.be/3jztLHEROYc

2. untuk laki-laki

berdiri dengan kaki direnggangkan senyamanya

☑ kain jarik dililitkan dari arah kanan. pertama kali di lilitkan, kain jarik yang disematkan harus ditarik sedikit, agar bagian dalam nantinya tidak kelihatan nglewer (bhs. Jawa)

☑ wiru jatuh di tengah-tengah kaki

☑ kain jarik tidak menutupi mata kaki atau sekitar 5cm di atas mata kaki

☑ untuk laki-laki hasil akhirnya tidak membentuk lekuk tubuh bagian bawah seperti pada wanita melainkan jatuh lurus kebawah

☑ setelah selesai melilitkan kain jarik baru diikat dengan tali kemudian lengkapi dengan sabuk dll.

Tentang Tari KECAK, Bali

Tentu kita semua sudah sangat mengenal dg Tari Kecak. Ketika ditanya “apa kesenian khas dari Bali?” pasti mayoritas yang terlintas di kepala adalah tari Kecak. Walo tidak semua pernah menonton tari Kecak dan apalagi tau tentang cerita tarian tersebut, tapi kata TARI KECAK itu sudah sangat kental nempel di otak kita sejak kecil ya. 🙂

Nah… Tahukah kamu bgmn Tari Kecak itu terbentuk? Apa tiba-tiba ada begitu saja?

Nah simak ulasan singkat berikut ini tentang siapakan yang menciptakan Tari Kecak itu?

Wayan Limbak (1897 – August 31, 2003), adalah seorang penari Bali yang bersama-sama Walter Spies (seorang pelukis Jerman) menciptakan tarian Kecak yang sangat terkenal sekarang ini. Beliau meninggal dunia di usia 106 tahun di Desa Bedulu, Gianyar, Bali.

Bekerjasama dengan Walter Spies sekitar tahun 1930an, berawal dari tarian Sang Hyang (tarian suci untuk ritual upacara) yang digelar setiap tahun dalam upacara suci di Pura Goa Gajah, Bedulu, Gianyar. Dengan usulan dari Walter Spies, tarian Sang Hyang tersebut dimodifikasi menjadi sebuah tarian Kecak seperti sekarang yang kita kenal, dengan mensisipkan cerita biasanya diambil dari epos Ramayana, takkala Subali bertempur dengan adiknya Sugriwa atau Rahwana menculik Dewi Sita.
Tarian Kecak ini ditarikan 50 sampai 100 orang dengan hanya menggunakan kain hitam dan ikat pinggang loreng tanpa baju membentuk formasi lingkaran, dimana nada musik untuk mengiringi tarian pemeran tokoh2 cerita, hanya dengan suara seluruh penari bersahut sahutan dengan mengucapkan cak cak cak cak…

Wayan Limbak mempopulerkan tari Kecak sebagai wakil Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya ke seluruh dunia dengan membawa grup tarinya keliling dunia untuk mengikuti berbagai festival internasional.

Sumber Artikel : religionlove
http://www.thebalitimeline.com/wayan-limbak-pencipta-tari-kecak/

image

HARI TARI SEDUNIA (WORLD DANCE DAY) 29 APRIL

Pastinya banyak yang masih tidak tahu bahwa ternyata ada sebuah peringatan tari sekelas dunia/international yang dirayakan setiap tahunnya, yaitu setiap tanggal 29 April.

Menurut sejarahnya, Hari Tari Sedunia ini ditetapkan sebagai bentuk penghormatan kepada Jean Georges Noverre, seorang pencipta tari balet modern berkebangsaan Perancis. Jean Georges Noverre lahir pada 29 April 1727 dan wafat tanggal 19 Oktober 1810.

Hari Tari Sedunia (World Dance Day) diperkenalkan tahun 1982 oleh was International Dance Committee of the International Theatre Institute (ITI), sebuah lembaga rekanan UNESCO, NGO. Tanggal 29 april sebagai tanggal lahir Jean-Georges Noverre diusulkan oleh International Dance Committee of ITI. Karena Jean-Georges Noverre adalah seorang pencipta ballet modern dan penemu dari sebuah karya yang terkenal yaitu, Lettres sur la danse yang dipublikasikan tahun 1760 di Lyon.

Setiap tahunnya, seorang koreografer atau penari ternama atau terhebat diundang untuk menyampaikan sebuah pesan untuk dunia. Kriterianya ditentukan oleh pendiri World Dance Day – the International Dance Committee of ITI, bekerjasama dengan World Dance Alliance, anggota kerjasama dari ITI. Beberapa diantaranya sebagai pembicara tersebut adalah  Merce Cunningham, Maurice Béjart, Akram Khan and Anne Teresa De Keersmaeker yang telah menyampaikan pesannya atau berpartisipasi dalam World Dance Day di UNESCO.

Tujuan dari “International Dance Day Message” (World Dance Day) adalah untuk merayakan tari, merombak universalitas dari sebuah bentuk seni, untuk melintasi berbagai rintangan politik, budaya dan etnis serta membawa seluruh bangsa dunia kepada satu bahasa yang sama yaitu tari.

Setiap tanggal 29 April inilah seluruh bangsa merayakannya dengan menampilkan beragam tari-tarian khasnya masing-masing.

Beberapa negara mengadakan berbagai pertunjukkan di jalanan dan di gedung-gedung kesenian. Parade tari dan Festival dipenuhi oleh ratusan penari dari berbagai sanggar tari (studio tari).

New York, misalnya. Pada tahun 2013 menyelenggarakan Dance Parade, dengan beberapa penampilan sebagai berikut:

  • Andanza Flamenco (FLAMENCO)
  • Dancing Rubies (BELLY DANCE)
  • Fusha Dance Company (AFRICAN)
  • Mazarte Dance Group (MEXICAN CARNIVAL)
  • Neville Dance Theatre (CONTEMPORARY)
  • NIWA (MODERN)
  • RISE Hip Hop (HIP-HOP)
  • Jehan’s Belly Dance Raks Stars (BELLYDANCE)
  • The Shakedown (FUNK)
  • Times Squares Square Dance Club (MODERN WSTRN SQUARE)

Di Pakistan, dirayakan dengan tari jalanan tari kontemporer yang diberi judul “Dancing amid sparks and shadows”

Di Indonesia, perayaan Hari tari Sedunia tahun 2013, Solo adalah salah satu daerah yang merayakan Hari Tari Sedunia dengan sangat besar dan meriah. Di kota pusat budaya Jawa tersebut digelar acara menari 24 jam tanpa henti di berbagai lokasi, di jalanan, di Mall juga di Bandara. Bahkan Wali Kota dan Wakil Walikota juga terlibat dan ikut menari bersama ratusan orang. Solo sudah 7 tahun menggelar acara seperti ini.

Di Denpasar, tepat tanggal 29 april 2013, Alunan instrumen musik tradisional gong bleganjur bertalu-talu memecah keheningan suasana kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar secara spontan. Tari legong massal juga dibawakan oleh para mahasiswa ISI mewarnai pementasan di panggung terbuka ISI Denpasar yang berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 21.00 hingga 24.00 waktu setempat.

Di Malang, pada tahun 2013, Festival Seribu Topeng yang dipadu dengan tarian dengan melibatkan 44 grup berasal dari berbagai sekolah di Kota Malang. Peserta festival terdiri dari 44 grup mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi. Setiap grup beranggotakan 25 orang penari topeng sehingga jumlah keseluruhan mencapai 1.200 penari topeng.

Di Makassar, tahun 2013, mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) mempertunjukkan 6 judul tari khas masyarakat Sulawesi Selatan di Anjungan Pantai Losari, Sulawesi Selatan.

Di Pekanbaru, Riau yang telah 7 kali menyelenggarakan acara peringatan Hari Tari Sedunia, tahun 2013 menampilkan lebih dari 26 ( dua puluh enam ) karya tari tidak hanya tari khas masyarakat Riau tetapi juga tari-tari nusantara seperti Reog Ponorogo, Jaran Kepang (modern), Tari Jejer Banyuwangi, dan juga Barongsai.

Begitu banyaknya seni tari Indonesia, jika diurutkan dari Sabang – Merauke, jika pada peringatan Hari Tari Sedunia media-media bekerjasama meliput dan menyiarkan secara langsung seluruh acara secara bergantian, pasti menjadi sangat ramai seperti perayaan tahun baru. Menjadikan masyarakat sadar dan peduli bahwa dunia sangat menghargai budaya tari sebagai bahasa universal. Dan seharusnya kita sebagai bangsa yang punya kekayaan tari yang banyak dan unik, lebih bisa berbangga dan turut melestarikannya.

 

 

Sumber:

http://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Dance_Day

http://www.international-dance-day.org/en/danceday.html

http://www.gotoriau.com/city-guide/seni-budaya/menarilah-sampai-kapan-kita-bisa

http://www.makassartv.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10956&catid=3&Itemid=56

http://www.aktual.co/warisanbudaya/192036malang-peringati-hari-tari-sedunia

http://m.detik.com/news/read/2013/04/29/110239/2232738/10/ratusan-warga-solo-peringati-hari-tari-beraksi-di-mal-hingga-bandara

http://oase.kompas.com/read/2013/05/04/09161755/Acara.Spontan.Peringatan.Hari.Tari.Sedunia

http://dawn.com/2013/05/08/dancing-amid-sparks-and-shadows/

http://danceparade.org/wp/international-dance-day/

 

 

TROWULAN, BEKAS IBUKOTA MAJAPAHIT – SISA-SISA KEBESARAN KERAJAAN MAJAPAHIT

Situs Trowulan, Mojokerto

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan yang berhasil memepersatukan hampir seluruh wilayah Nusantara sekarang. Pengaruhnya bahkan sampai di Negara-negara tetangga di daratan Asia. Kini bekas ibukota kerajaan majapahit masih dapat disaksikan di Trowulan, sebuah daerah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto, letaknya kurang lebih 13 kilometer kea rah Jombang.

Di daerah Trowulan dan sekitarnya terdapat banyak sisa peninggalan Majapahit. Yang tampak dipermukaan tanah antara lain, berupa candi, pintu gerbang, kolam, pondasi-pondasi bangunan, serta benda-benda purbakala lainnya berupa arca, yoni, batu bertulis (Prasasti), umpak-umpak batu, dan sebagainya

Peninggalan-peninggalan yang dapat disaksikan dikawasan tersebut antara lain, Candi Wringin lawang, Candi Brahu, Kolam Segaran, Makam Putri Campa, Komplek Makam Tralaya, candi Minak Djinggo, Sumur Upas, Candi Kedaton, Candi Tikus, Situs Klinterejo, dan benda-benda lainnya yang disimpan dalam sebuah mesuem Purbakala Trowulan yang dibangun pada tahun 1920

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar. Bangunan yang mirip dengan gapura Bali tersebut dikenal dengan nama gapura Jati-pasar atau gapura Gapit. Sedang nama Wringin Lawang diberikan oleh penduduk karena dulu di depan bangunan tersebut tumbuh beringin berjajar dua yang menyerupai pintu (lawang).

Sebuah tradisi tutur rakyat yang dicatat oleh J. Knebel pada tahun 1907, menyebutkan bahwa dulu di keraton Majapahit, terdapat empat gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di desa Sdati, di selatan di Desa Gumitir, di barat di Desa Trowulan dan si utara di desa Jatipasar. Bila cerita tersebut mengandung kebenaran candi Wringin Lawang yang dapat disaksikan saat ini merupakan gerbang di utara. Sedang yang lainnya sudah tidak tampak .

Candi Brahu

Di tengah sawah, agak jauh dari pemukiman, tampak sebuah candi besar yang disebut dengan Candi Brahu. Candi yang mengahadap ke barat dan mempunyai tinggi 21,30 meter ini terbuat dari batu bata diperkirakan berfungsi sebagai tempat pemujaan. Namun dari cerita rakyat ada yang menyebutkan bahwa Candi Brahu dibangun oleh raja Brawijaya, yang berfungsi sebagai tempat pembakaran dan penyimpanan abu raja-raja Majapahit. Tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk mencari kebenarannya.
Berdekaran dengan Candi Brahu pernah pula ditemukan beberapa candi lain dari bahan yang sama. Tetapi semuanya sudah runtuh dan sulit ditemukan sisa-sisanya. Hanya Candi Gentong yang dapat ditemukan pondasinya.

Kolam Segaran

Kolam Segaran, Mojokerto

Agak ke selatan dari Candi Brahu, yaiut di desa Trowulan dapat dijumpai sebuah kolam besar yang oleh penduduk dikenal dengan nama Kolam Segaran. Kolam ini berbentuk segi empat dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter. Ketika dikunjungi Raffles tahun 1815, kolam tersebut sudah tertimbun tanah dan tidak berair. Kini kolam seharan telah selesai difugar, disebelah selatan ditemukan sisa-sisa balai. Dengan adanya sisa-sisa tersebut kolam segaran dapat diperkirakan sebagai tempat rekreasi dan mungkin juga sebagai waduk tempat menampung air. Namun cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa kolam berfungsi sebagai tamansari, tempat para raja, dan istri dan keluarga bercengkrama dan sekalis tempat menjamu para tamu raja.

Kompleks Makam

Kompleks Makam Troloyo, Mojokerto

Di sebelah timur laut dari Kolam Segaran ditemukan kompleks makam. Masyarakat sekitar menyebutnya Makam Putri Sampa (campa/cempo). Bagaimana ceritanya sampai disebut demikian memang belum jelas. Tetapi dalam sejarah dapat diketahui bahwa hubungan dengan Campa sudah berlangsung sebelum jaman Majapahit.

Dua kilometer dari makam Putri Campa dapat dijumpai Makam Tralaya (Troloyo) yang merupakan makam Islam. Dengan demikian menunjukan bahwa pada abad ke-15 agama Islam telah masuk ke ibukota kerajaan Majapahit. Makam Tralaya merupakan kompleks makam yang luas dan dikelilingi tembok, di dalammnya terdapar kelompok malam yang berisi 9 buah makam yang amat panjang. Menurut dongeng makam tersebut hanyalah perilasan paara wali yang datang bersama-sama menyerbu Majapahit, dan di tempat tersebut mengislamkan Raja Brawijaya. Kemudian agak ke barat dapat dijumpai tujuh buah makam yang dipagari tembok keliling. Makam ini dalah makam keluarga raja atau pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam.

Candi Minakdjinggo

Kurang lebih 300 meter dari Kolam Segaran ke arah timur , dapat dijumpai kelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menujukan bekas bangunan candi. Dulu di tempat tersebut ditemukan arca besar berwajah raksasa setinggi 1,48 meter, sehingga tempat tersebut dikenal dengan Candi Minakdjinggo. Arca tersebut kini dapat disaksikan di Museum Purbakala Mojokerto.

Candi Bajangratu

Di Desa Temon ditemukan juga sebuah candi yang agak utuh dengan tinggi 16.5 meter. Candi ini dikenal dengan nama Candi Bajangratu. Diperkirakan dibangun pada abad XIV. Terbuat dari batu-bata dan berbentuk sebuah gerbang dengan atap bertingkat berbentuk kubus. Setiap tingkat atap dihiasi dengan pahatan ornament sehingga tampak indah.

Candi Tikus

Di desa yang sama, tidak jauh dari Candi Bajangratu ditemukan juga sebuah candi. Ketika ditemukan terdapat banyak tikus hingga kini orang menyebutnya dengan Candi Tikus. Candi ini merupakan sebuah candi pemandian berbentuk kolam segi empat. Airnya keluar dari sejumlah pancuran yang terbuat dari batu andesit berbentuk makara atau teratai kuncup.

Pada teras pertama terdapat 8 buah candi menara demikian juga pada teras kedua. Secara keseluruhan teras beserta candi menara seperti menggambarkan puncak gunung (Mahameru) yang dikelilingi oleh 16 anak bukit. Melihat keindahan bentuk candi ini diperkirakan dibuat pada jaman keemasan Majapahit pada abad XIV. Candi serupa serupa Candi Tikus dijumpai di desa Kepungpada kedalaman 8 meter.

Sumur Upas dan Candi Kedaton

 

Tahun 1966, dibangun sebuah Pendopo besar di Trowulan yang disebut Pendopo Agung. Di tempat ini sebelumnya ditemukan umpak (alas tiang) terbuat dari batu besar dan dua buah tiang batu. Tidak jauh dari Pendopo Agung terdapat sebuah situs yang disebut Sumur Upas. Sumur Upas merupakan lubang yang kini sudah ditutupi batu dan dibuatkan sungkup.

Ada beberapa pendapat yang menjadi dasar penamaan sumur tersebut menjadi SUMUR UPAS. Diantaranya yang saya dengar adalah :

  1. Sumur itu mengandung kadar racun yang sangat tinggi (pengaruh geologis lokasi) terutama WARANGAN, yang mampu merusak sistem saraf manusia dengan sangat cepat. Itulah sebabnya air disini bagus untuk merendam pusaka.
  2. Sumur tua ini dihuni banyak mahluk berbisa (yang saya pernah lihat dan sering temukan di sekeliling sumur adalah : Kalajengking, Lipan, Ular Welang dan Kodok Bangkong beracun). Saya nggak tahu logikanya kenapa mahluk-mahluk beracun ini senang mendekat kearah sumur ini, walaupun di lokasi yang sama ada juga sumur lain. Atau bisa juga karena adanya pohon beringin besar yang menaunginya itu (efek lembab) lihat di foto atas. Sekarang pohon itu sudah ditebang dan tidak ada lagi.
  3. SUMUR UPAS dalam pengertian kiasan atau sanepan. Karena tempat ini adalah tempat pendidikan Ksatrya keluarga raja yang kelak mewarisi tahta, juga mendidik senopati utama dan raja-raja bawahan, maka bagi lawan lokasi ini adalah SUMBER RACUN bagi kekuasaan mereka. Karena doktrin pendidikan yang keras (BELA NEGARA), akan melahirkan pemimpin tangguh yang menjadi pesaing lawan-lawan Majapahit.

Di tempat ini juga terdapat pondasi yang diperkirakan kaki candi. Menurut catatan lama kompleks ini disebut dengan Candi Kedaton.

Di luar daerah Trowulan pun masih ditemukan peninggalan sejarah yang masih berkaitan dengan Majapahit. Misalnya di wilayah Kecamatan Soko ditemukan yoni yang memuat pahatan angka tahun 1294 saka (1372 M). angka tersebut bertepatan dengan meninggalnya Bhre kahuripan, sehingga diperkirakan debagai candi pemakaman dari Bhre Kahuripan atau Tribuwana Tunggadewi, ibu dari Raja Hayam Wuruk.
Dapat dibayangkan alangkah luas dan megah ibukota kerajaan Majapahit di masa lampau. Rahasia Trowulan masih banyak yang belum terungkap. Kiranya partisipasi masyarakat untuk senantiasa ikut memelihara situs kepurbakalaan ini sangat diharapkan.

Sumber:

kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1094/trowulan-bekas-ibu-kota-majapahit
/wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/01/29/candi-kedaton-sumur-upas-peninggalan-kerajaan-wilwatikta/