Cara memakai kain jarik jawa

Mungkin bagi sebagian besar orang jawa saat ini tidak banyak yang tahu bagaimana memakai jarik. Tidak seperti jaman dulu ketika orang-orang baik perempuan maupun laki-laki terbiasa memakai kain jarik baik di acara resmi maupun di keseharian mereka. Ketika browsing mencari materi tentang memakai kain jarik tuh sangat sulit atau bahkan tidak ada penjelasan yang signifikan. 

Untuk itu saya akan sedikit berbagi ilmu meski tidak bisa menjelaskan secara detail namun setidaknya dapat menambah pengetahuan tentang kebudayaan khususnya jawa dalam memakai kain jarik.

1. untuk wanita

kaki kanan di posisikan di depan kaki kiri (seperti orang melangkah), dimaksudkan agar setelah dililit kain jarik masih bisa jalan dengan nyaman

☑ kain jarik dililitkan dari arah kiri

pertama kali di lilitkan, kain jarik yang disematkan harus ditarik agak banyak atau dilipat membentuk segitiga. Ini dimaksudkan agar ketika dililitkan kain jarik bagian dalam tidak terlihat atau nglewer (bhs. Jawanya) dan tujuan lain agar nanti bentuk lilitan jarik bisa membentuk lekuk tubuh bagian bawah

☑ wiru jatuh di tengah2 kaki

☑ menutupi mata kaki

☑ setelah selesai melilitkan kain jarik baru diikat dengan tali kemudian lengkapi dengan stagen dll.

Lihat vidionya https://youtu.be/3jztLHEROYc

2. untuk laki-laki

berdiri dengan kaki direnggangkan senyamanya

☑ kain jarik dililitkan dari arah kanan. pertama kali di lilitkan, kain jarik yang disematkan harus ditarik sedikit, agar bagian dalam nantinya tidak kelihatan nglewer (bhs. Jawa)

☑ wiru jatuh di tengah-tengah kaki

☑ kain jarik tidak menutupi mata kaki atau sekitar 5cm di atas mata kaki

☑ untuk laki-laki hasil akhirnya tidak membentuk lekuk tubuh bagian bawah seperti pada wanita melainkan jatuh lurus kebawah

☑ setelah selesai melilitkan kain jarik baru diikat dengan tali kemudian lengkapi dengan sabuk dll.

Advertisements

Tentang Tari KECAK, Bali

Tentu kita semua sudah sangat mengenal dg Tari Kecak. Ketika ditanya “apa kesenian khas dari Bali?” pasti mayoritas yang terlintas di kepala adalah tari Kecak. Walo tidak semua pernah menonton tari Kecak dan apalagi tau tentang cerita tarian tersebut, tapi kata TARI KECAK itu sudah sangat kental nempel di otak kita sejak kecil ya. 🙂

Nah… Tahukah kamu bgmn Tari Kecak itu terbentuk? Apa tiba-tiba ada begitu saja?

Nah simak ulasan singkat berikut ini tentang siapakan yang menciptakan Tari Kecak itu?

Wayan Limbak (1897 – August 31, 2003), adalah seorang penari Bali yang bersama-sama Walter Spies (seorang pelukis Jerman) menciptakan tarian Kecak yang sangat terkenal sekarang ini. Beliau meninggal dunia di usia 106 tahun di Desa Bedulu, Gianyar, Bali.

Bekerjasama dengan Walter Spies sekitar tahun 1930an, berawal dari tarian Sang Hyang (tarian suci untuk ritual upacara) yang digelar setiap tahun dalam upacara suci di Pura Goa Gajah, Bedulu, Gianyar. Dengan usulan dari Walter Spies, tarian Sang Hyang tersebut dimodifikasi menjadi sebuah tarian Kecak seperti sekarang yang kita kenal, dengan mensisipkan cerita biasanya diambil dari epos Ramayana, takkala Subali bertempur dengan adiknya Sugriwa atau Rahwana menculik Dewi Sita.
Tarian Kecak ini ditarikan 50 sampai 100 orang dengan hanya menggunakan kain hitam dan ikat pinggang loreng tanpa baju membentuk formasi lingkaran, dimana nada musik untuk mengiringi tarian pemeran tokoh2 cerita, hanya dengan suara seluruh penari bersahut sahutan dengan mengucapkan cak cak cak cak…

Wayan Limbak mempopulerkan tari Kecak sebagai wakil Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya ke seluruh dunia dengan membawa grup tarinya keliling dunia untuk mengikuti berbagai festival internasional.

Sumber Artikel : religionlove
http://www.thebalitimeline.com/wayan-limbak-pencipta-tari-kecak/

image

HARI TARI SEDUNIA (WORLD DANCE DAY) 29 APRIL

Pastinya banyak yang masih tidak tahu bahwa ternyata ada sebuah peringatan tari sekelas dunia/international yang dirayakan setiap tahunnya, yaitu setiap tanggal 29 April.

Menurut sejarahnya, Hari Tari Sedunia ini ditetapkan sebagai bentuk penghormatan kepada Jean Georges Noverre, seorang pencipta tari balet modern berkebangsaan Perancis. Jean Georges Noverre lahir pada 29 April 1727 dan wafat tanggal 19 Oktober 1810.

Hari Tari Sedunia (World Dance Day) diperkenalkan tahun 1982 oleh was International Dance Committee of the International Theatre Institute (ITI), sebuah lembaga rekanan UNESCO, NGO. Tanggal 29 april sebagai tanggal lahir Jean-Georges Noverre diusulkan oleh International Dance Committee of ITI. Karena Jean-Georges Noverre adalah seorang pencipta ballet modern dan penemu dari sebuah karya yang terkenal yaitu, Lettres sur la danse yang dipublikasikan tahun 1760 di Lyon.

Setiap tahunnya, seorang koreografer atau penari ternama atau terhebat diundang untuk menyampaikan sebuah pesan untuk dunia. Kriterianya ditentukan oleh pendiri World Dance Day – the International Dance Committee of ITI, bekerjasama dengan World Dance Alliance, anggota kerjasama dari ITI. Beberapa diantaranya sebagai pembicara tersebut adalah  Merce Cunningham, Maurice Béjart, Akram Khan and Anne Teresa De Keersmaeker yang telah menyampaikan pesannya atau berpartisipasi dalam World Dance Day di UNESCO.

Tujuan dari “International Dance Day Message” (World Dance Day) adalah untuk merayakan tari, merombak universalitas dari sebuah bentuk seni, untuk melintasi berbagai rintangan politik, budaya dan etnis serta membawa seluruh bangsa dunia kepada satu bahasa yang sama yaitu tari.

Setiap tanggal 29 April inilah seluruh bangsa merayakannya dengan menampilkan beragam tari-tarian khasnya masing-masing.

Beberapa negara mengadakan berbagai pertunjukkan di jalanan dan di gedung-gedung kesenian. Parade tari dan Festival dipenuhi oleh ratusan penari dari berbagai sanggar tari (studio tari).

New York, misalnya. Pada tahun 2013 menyelenggarakan Dance Parade, dengan beberapa penampilan sebagai berikut:

  • Andanza Flamenco (FLAMENCO)
  • Dancing Rubies (BELLY DANCE)
  • Fusha Dance Company (AFRICAN)
  • Mazarte Dance Group (MEXICAN CARNIVAL)
  • Neville Dance Theatre (CONTEMPORARY)
  • NIWA (MODERN)
  • RISE Hip Hop (HIP-HOP)
  • Jehan’s Belly Dance Raks Stars (BELLYDANCE)
  • The Shakedown (FUNK)
  • Times Squares Square Dance Club (MODERN WSTRN SQUARE)

Di Pakistan, dirayakan dengan tari jalanan tari kontemporer yang diberi judul “Dancing amid sparks and shadows”

Di Indonesia, perayaan Hari tari Sedunia tahun 2013, Solo adalah salah satu daerah yang merayakan Hari Tari Sedunia dengan sangat besar dan meriah. Di kota pusat budaya Jawa tersebut digelar acara menari 24 jam tanpa henti di berbagai lokasi, di jalanan, di Mall juga di Bandara. Bahkan Wali Kota dan Wakil Walikota juga terlibat dan ikut menari bersama ratusan orang. Solo sudah 7 tahun menggelar acara seperti ini.

Di Denpasar, tepat tanggal 29 april 2013, Alunan instrumen musik tradisional gong bleganjur bertalu-talu memecah keheningan suasana kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar secara spontan. Tari legong massal juga dibawakan oleh para mahasiswa ISI mewarnai pementasan di panggung terbuka ISI Denpasar yang berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 21.00 hingga 24.00 waktu setempat.

Di Malang, pada tahun 2013, Festival Seribu Topeng yang dipadu dengan tarian dengan melibatkan 44 grup berasal dari berbagai sekolah di Kota Malang. Peserta festival terdiri dari 44 grup mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi. Setiap grup beranggotakan 25 orang penari topeng sehingga jumlah keseluruhan mencapai 1.200 penari topeng.

Di Makassar, tahun 2013, mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) mempertunjukkan 6 judul tari khas masyarakat Sulawesi Selatan di Anjungan Pantai Losari, Sulawesi Selatan.

Di Pekanbaru, Riau yang telah 7 kali menyelenggarakan acara peringatan Hari Tari Sedunia, tahun 2013 menampilkan lebih dari 26 ( dua puluh enam ) karya tari tidak hanya tari khas masyarakat Riau tetapi juga tari-tari nusantara seperti Reog Ponorogo, Jaran Kepang (modern), Tari Jejer Banyuwangi, dan juga Barongsai.

Begitu banyaknya seni tari Indonesia, jika diurutkan dari Sabang – Merauke, jika pada peringatan Hari Tari Sedunia media-media bekerjasama meliput dan menyiarkan secara langsung seluruh acara secara bergantian, pasti menjadi sangat ramai seperti perayaan tahun baru. Menjadikan masyarakat sadar dan peduli bahwa dunia sangat menghargai budaya tari sebagai bahasa universal. Dan seharusnya kita sebagai bangsa yang punya kekayaan tari yang banyak dan unik, lebih bisa berbangga dan turut melestarikannya.

 

 

Sumber:

http://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Dance_Day

http://www.international-dance-day.org/en/danceday.html

http://www.gotoriau.com/city-guide/seni-budaya/menarilah-sampai-kapan-kita-bisa

http://www.makassartv.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10956&catid=3&Itemid=56

http://www.aktual.co/warisanbudaya/192036malang-peringati-hari-tari-sedunia

http://m.detik.com/news/read/2013/04/29/110239/2232738/10/ratusan-warga-solo-peringati-hari-tari-beraksi-di-mal-hingga-bandara

http://oase.kompas.com/read/2013/05/04/09161755/Acara.Spontan.Peringatan.Hari.Tari.Sedunia

http://dawn.com/2013/05/08/dancing-amid-sparks-and-shadows/

http://danceparade.org/wp/international-dance-day/

 

 

TROWULAN, BEKAS IBUKOTA MAJAPAHIT – SISA-SISA KEBESARAN KERAJAAN MAJAPAHIT

Situs Trowulan, Mojokerto

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan yang berhasil memepersatukan hampir seluruh wilayah Nusantara sekarang. Pengaruhnya bahkan sampai di Negara-negara tetangga di daratan Asia. Kini bekas ibukota kerajaan majapahit masih dapat disaksikan di Trowulan, sebuah daerah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto, letaknya kurang lebih 13 kilometer kea rah Jombang.

Di daerah Trowulan dan sekitarnya terdapat banyak sisa peninggalan Majapahit. Yang tampak dipermukaan tanah antara lain, berupa candi, pintu gerbang, kolam, pondasi-pondasi bangunan, serta benda-benda purbakala lainnya berupa arca, yoni, batu bertulis (Prasasti), umpak-umpak batu, dan sebagainya

Peninggalan-peninggalan yang dapat disaksikan dikawasan tersebut antara lain, Candi Wringin lawang, Candi Brahu, Kolam Segaran, Makam Putri Campa, Komplek Makam Tralaya, candi Minak Djinggo, Sumur Upas, Candi Kedaton, Candi Tikus, Situs Klinterejo, dan benda-benda lainnya yang disimpan dalam sebuah mesuem Purbakala Trowulan yang dibangun pada tahun 1920

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar. Bangunan yang mirip dengan gapura Bali tersebut dikenal dengan nama gapura Jati-pasar atau gapura Gapit. Sedang nama Wringin Lawang diberikan oleh penduduk karena dulu di depan bangunan tersebut tumbuh beringin berjajar dua yang menyerupai pintu (lawang).

Sebuah tradisi tutur rakyat yang dicatat oleh J. Knebel pada tahun 1907, menyebutkan bahwa dulu di keraton Majapahit, terdapat empat gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di desa Sdati, di selatan di Desa Gumitir, di barat di Desa Trowulan dan si utara di desa Jatipasar. Bila cerita tersebut mengandung kebenaran candi Wringin Lawang yang dapat disaksikan saat ini merupakan gerbang di utara. Sedang yang lainnya sudah tidak tampak .

Candi Brahu

Di tengah sawah, agak jauh dari pemukiman, tampak sebuah candi besar yang disebut dengan Candi Brahu. Candi yang mengahadap ke barat dan mempunyai tinggi 21,30 meter ini terbuat dari batu bata diperkirakan berfungsi sebagai tempat pemujaan. Namun dari cerita rakyat ada yang menyebutkan bahwa Candi Brahu dibangun oleh raja Brawijaya, yang berfungsi sebagai tempat pembakaran dan penyimpanan abu raja-raja Majapahit. Tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk mencari kebenarannya.
Berdekaran dengan Candi Brahu pernah pula ditemukan beberapa candi lain dari bahan yang sama. Tetapi semuanya sudah runtuh dan sulit ditemukan sisa-sisanya. Hanya Candi Gentong yang dapat ditemukan pondasinya.

Kolam Segaran

Kolam Segaran, Mojokerto

Agak ke selatan dari Candi Brahu, yaiut di desa Trowulan dapat dijumpai sebuah kolam besar yang oleh penduduk dikenal dengan nama Kolam Segaran. Kolam ini berbentuk segi empat dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter. Ketika dikunjungi Raffles tahun 1815, kolam tersebut sudah tertimbun tanah dan tidak berair. Kini kolam seharan telah selesai difugar, disebelah selatan ditemukan sisa-sisa balai. Dengan adanya sisa-sisa tersebut kolam segaran dapat diperkirakan sebagai tempat rekreasi dan mungkin juga sebagai waduk tempat menampung air. Namun cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa kolam berfungsi sebagai tamansari, tempat para raja, dan istri dan keluarga bercengkrama dan sekalis tempat menjamu para tamu raja.

Kompleks Makam

Kompleks Makam Troloyo, Mojokerto

Di sebelah timur laut dari Kolam Segaran ditemukan kompleks makam. Masyarakat sekitar menyebutnya Makam Putri Sampa (campa/cempo). Bagaimana ceritanya sampai disebut demikian memang belum jelas. Tetapi dalam sejarah dapat diketahui bahwa hubungan dengan Campa sudah berlangsung sebelum jaman Majapahit.

Dua kilometer dari makam Putri Campa dapat dijumpai Makam Tralaya (Troloyo) yang merupakan makam Islam. Dengan demikian menunjukan bahwa pada abad ke-15 agama Islam telah masuk ke ibukota kerajaan Majapahit. Makam Tralaya merupakan kompleks makam yang luas dan dikelilingi tembok, di dalammnya terdapar kelompok malam yang berisi 9 buah makam yang amat panjang. Menurut dongeng makam tersebut hanyalah perilasan paara wali yang datang bersama-sama menyerbu Majapahit, dan di tempat tersebut mengislamkan Raja Brawijaya. Kemudian agak ke barat dapat dijumpai tujuh buah makam yang dipagari tembok keliling. Makam ini dalah makam keluarga raja atau pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam.

Candi Minakdjinggo

Kurang lebih 300 meter dari Kolam Segaran ke arah timur , dapat dijumpai kelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menujukan bekas bangunan candi. Dulu di tempat tersebut ditemukan arca besar berwajah raksasa setinggi 1,48 meter, sehingga tempat tersebut dikenal dengan Candi Minakdjinggo. Arca tersebut kini dapat disaksikan di Museum Purbakala Mojokerto.

Candi Bajangratu

Di Desa Temon ditemukan juga sebuah candi yang agak utuh dengan tinggi 16.5 meter. Candi ini dikenal dengan nama Candi Bajangratu. Diperkirakan dibangun pada abad XIV. Terbuat dari batu-bata dan berbentuk sebuah gerbang dengan atap bertingkat berbentuk kubus. Setiap tingkat atap dihiasi dengan pahatan ornament sehingga tampak indah.

Candi Tikus

Di desa yang sama, tidak jauh dari Candi Bajangratu ditemukan juga sebuah candi. Ketika ditemukan terdapat banyak tikus hingga kini orang menyebutnya dengan Candi Tikus. Candi ini merupakan sebuah candi pemandian berbentuk kolam segi empat. Airnya keluar dari sejumlah pancuran yang terbuat dari batu andesit berbentuk makara atau teratai kuncup.

Pada teras pertama terdapat 8 buah candi menara demikian juga pada teras kedua. Secara keseluruhan teras beserta candi menara seperti menggambarkan puncak gunung (Mahameru) yang dikelilingi oleh 16 anak bukit. Melihat keindahan bentuk candi ini diperkirakan dibuat pada jaman keemasan Majapahit pada abad XIV. Candi serupa serupa Candi Tikus dijumpai di desa Kepungpada kedalaman 8 meter.

Sumur Upas dan Candi Kedaton

 

Tahun 1966, dibangun sebuah Pendopo besar di Trowulan yang disebut Pendopo Agung. Di tempat ini sebelumnya ditemukan umpak (alas tiang) terbuat dari batu besar dan dua buah tiang batu. Tidak jauh dari Pendopo Agung terdapat sebuah situs yang disebut Sumur Upas. Sumur Upas merupakan lubang yang kini sudah ditutupi batu dan dibuatkan sungkup.

Ada beberapa pendapat yang menjadi dasar penamaan sumur tersebut menjadi SUMUR UPAS. Diantaranya yang saya dengar adalah :

  1. Sumur itu mengandung kadar racun yang sangat tinggi (pengaruh geologis lokasi) terutama WARANGAN, yang mampu merusak sistem saraf manusia dengan sangat cepat. Itulah sebabnya air disini bagus untuk merendam pusaka.
  2. Sumur tua ini dihuni banyak mahluk berbisa (yang saya pernah lihat dan sering temukan di sekeliling sumur adalah : Kalajengking, Lipan, Ular Welang dan Kodok Bangkong beracun). Saya nggak tahu logikanya kenapa mahluk-mahluk beracun ini senang mendekat kearah sumur ini, walaupun di lokasi yang sama ada juga sumur lain. Atau bisa juga karena adanya pohon beringin besar yang menaunginya itu (efek lembab) lihat di foto atas. Sekarang pohon itu sudah ditebang dan tidak ada lagi.
  3. SUMUR UPAS dalam pengertian kiasan atau sanepan. Karena tempat ini adalah tempat pendidikan Ksatrya keluarga raja yang kelak mewarisi tahta, juga mendidik senopati utama dan raja-raja bawahan, maka bagi lawan lokasi ini adalah SUMBER RACUN bagi kekuasaan mereka. Karena doktrin pendidikan yang keras (BELA NEGARA), akan melahirkan pemimpin tangguh yang menjadi pesaing lawan-lawan Majapahit.

Di tempat ini juga terdapat pondasi yang diperkirakan kaki candi. Menurut catatan lama kompleks ini disebut dengan Candi Kedaton.

Di luar daerah Trowulan pun masih ditemukan peninggalan sejarah yang masih berkaitan dengan Majapahit. Misalnya di wilayah Kecamatan Soko ditemukan yoni yang memuat pahatan angka tahun 1294 saka (1372 M). angka tersebut bertepatan dengan meninggalnya Bhre kahuripan, sehingga diperkirakan debagai candi pemakaman dari Bhre Kahuripan atau Tribuwana Tunggadewi, ibu dari Raja Hayam Wuruk.
Dapat dibayangkan alangkah luas dan megah ibukota kerajaan Majapahit di masa lampau. Rahasia Trowulan masih banyak yang belum terungkap. Kiranya partisipasi masyarakat untuk senantiasa ikut memelihara situs kepurbakalaan ini sangat diharapkan.

Sumber:

kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1094/trowulan-bekas-ibu-kota-majapahit
/wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/01/29/candi-kedaton-sumur-upas-peninggalan-kerajaan-wilwatikta/

Gubernur Jatim, Soekarwo Pertahankan Trowulan Sebagai Cagar Budaya

Oleh :Dept. Konservasi Nilai Budaya

Surabaya, 4 Maret 2015

Gubernur Jatim, Soekarwo bersikukuh mempertahankan kawasan Trowulan, Mojokerto sebagai cagar budaya, karena merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit.

“Saya bertanggung jawab, sebagai wakil pemerintahan pusat tidak mudah menerima tekanan dari manapun. Untuk menjaga jati diri bangsa, sejarah Majapahit harus dipertahankan”

Hal itu ditegaskan Soekarwo ketika menerima audiensi rombongan Dewan Kesenian Provinsi Jatim dan para penggiat pelestari cagar budaya, di Ruang Kertanagera, Kantor Gubernur, Surabaya, Selasa (3/3).

Menurut Soekarwo, ada tiga hal yang akan dilakukan untuk mempertahankan situs cagar budaya Trowulan. Pertama, dirinyaakan mengirim surat ke Bupati Mojokerto dan akan mengundang pimpinan Dewan, karena DPRD juga harus memahami dan mencarikan solusi jika ada tuntutan dari perusahaan yang akan membangun pabrik.

“Selama ini prosedur yang dilakukan sudah benar hanya karena kesalahan Perda dari sisi Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Mojokerto yang diperuntukan kawasan industri. Tapi saya tidak setuju di kawasan cagar budaya itu dibangun pabrik,” jelasnya,

Selanjutnya, berkaitan dengan surat dari Kemendagri RI no 430/123/PUM perihal : penetapan kawasan cagar budaya di Trowulan Mojokerto, Pakde Karwo memerintahkan Kepala Disbudpar Jatim Djariyantomelakukan pembenahan secara struktural dengan membuat konsep surat ke Dirjen Kebudayaan, untuk menjelaskan bahwa cagar budaya tidak bisa dipindah, dan diharapkan untuk menelaah kembali keputusan mencabut Trowulan sebagai cagar budaya.

“Tidak bisa memindah Majapahit ke tempat lain, Majapahit tempatnya ya di Trowulan. Yang bisa dipindah pabriknya ke tempat lain,” tegas Pakde Karwo.

Kepada komunitas pelestari cagar budaya Trowulan, Pakde mengatakan bahwa menghadapi intrik-intrik itu biasa, tidak perlu terlalu gelisah terhadap intimidasi, justru harus bangga dianggap sebagai orang penting, tapi harus tetap hati-hati menghadapinya.

”Kita tidak ingin melakukan konfrontasitapi menegakkan melaui budaya musyawarah mufakat, namun tetap teguh mempertahankan substansinya bahwa kawasan Trowulan sebagai cagar budaya, tentunya dilengkapi dengan kajian dan hasil penelitian, dan saya tidak setuju jika dibangun pabrik, apalagi izin mendirikan bangunan belum keluar,” tandasnya.

Sumber:
http://dkjatim.com/news/content/gubernur-jatim-pertahankan-trowulan-sebagai-cagar-budaya

PERAN SANGGAR TARI & SEKOLAH SENI

Oleh : Risang Anom Pujayanto

Dalam kisaran angka tahun 1990an, geliat sanggar tari seperti tidak terbendung. Di Surabaya, daerah Genteng saja terdapat sanggar tari Solo, sanggar tari PLT Bagong, sanggar tari Sunda, sanggar tari Modern, sanggar tari Bali, Yayasan Bina Tari Jatim. Saat ini, beberapa sanggar masih bertahan dan yang lain telah kehilangan eksistensi. Kematian beberapa sanggar tari tersebut bukan berarti mengurangi rutinitas sanggar tari di Jatim, khususnya Surabaya. Pasalnya, setiap sanggar tari yang mati diganti sanggar-sanggar tari baru. Raff dance, Gita Marron, Studio Tydif, Candi Ayu merupakan di antaranya. Bahkan saat ini di daerah Simo, Kenjeran, Semolowaru, Kebaron, dan hampir di seluruh wilayah kecamatan Surabaya juga terbit sanggar-sanggar baru. Artinya, kondisi saat ini sanggar tari mulai kembali seperti era 1990an.

Patut disayangkan potensi di titik-titik ini kurang mendapat perhatian dari instansi daerah yang menaungi. Akibatnya, pendapat miring pun terdengar nyaring. Bahwasannya, nasib sanggar diperkirakan tidak bakal bertahan lama.

”Sudah beruntung Surabaya masih memiliki puluhan sanggar. Sepatutnya ini terus dijaga dan dioptimalkan potensinya,” pinta Ketua Yayasan Bina tari Jatim, Tri Broto Wibisono. Wisata seni merupakan salah satu proyek yang bisa dibangun ke depannya. Selain akan menambah devisa negara dari pemasukan turis yang berhasrat pada tarian-tarian etnik, juga dapat menelurkan generasi penari, lanjutnya.

Kepedulian akan seni tari memang masih dalam tataran rendah. Dan, ramalan akan sanggar nyaris meraih kenyataan. Di berbagai sanggar mengakui, minat generasi tari dari waktu ke waktu terus mengalami penurunan. Peminat terbanyak masih diikuti oleh anak-anak. Ironisnya, ketika mulai beranjak dewasa, masing-masing peserta didik seni tari memilih tidak melanjutkan tari.

”Karena apresiasi masyarakat metropolik menurun,” sahut pimpinan tunggal Studio Tydif Surabaya, Dra Diaztiarni Azhar. Sehingga menimbulkan kesan kesia-siaan mempelajari tari dalam diri setiap peserta tari. Implikasinya, dari berbagai sanggar yang tersebar dan yang masih tetap menjaga eksistensinya, dikentarai hanya sebagian kecil yang bisa dikatakan produktif. Lainnya hanya syukur bertahan saja, tambahnya.

Secara materi, untuk mengadakan satu pagelaran tari memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi tidak mungkin menyalahkan sanggar tari, jika geliat seni tari tidak populer di daerah sendiri. Sokongan dana dan ruang dari instansi pemerintah dan perusahaan swasta menjadi harapan yang bisa mengubah keadaan tari di daerah sendiri. Apresiasi dari kedua instansi tersebut pernah menjadi primadona seni tari di era 1990an.

Saat ini, beberapa apresiasi formal tersebut masih kerap ditemui. Hanya saja frekuensi ditentukan seiring momentum-momentum tertentu. Fatalnya untuk saat ini, ketika perhatian itu didapat justru menimbulkan kerancuan-kerancuan baru. Ketika ada even kenegaraan, misalnya, pemilihan partisipan sanggar tidak pernah merata. Hanya sanggar-sanggar tertentu yang menjadi pilihan. Sedangkan apabila apresiasi datang dari pihak swasta, keberadaan tari menjelma budak yang wajib menuruti kemauan tuannya. Dan, seni mengalami perombakan total menjadi komoditi belaka.

Dalam sekolah seni pun tidak berbeda. Di Jatim, seni merupakan pendidikan wajib untuk siswa setara tingkat dasar, kecuali di sekolah pendidikan khusus seni. Ini berbeda dengan daerah Jateng. Sebagai pendorong kesenian untuk tetap bersemi, pemerintah memasukkan seni ke dalam kurikulum jalur prestasi untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Dengan begitu, perihal pembinaan seni diakui jauh lebih baik.

”Seni berkaitan dengan aspek moral. Beberapa orang yang berminat dalam bidang ini saja merupakan intan mutiara yang wajib dijaga. Bukan karena secara kuantitas minim, malah justru tidak mendapat dukungan,” jelas Tri Broto. Tak ayal, pendidikan pun menjadi kering makna moral. Selain itu, di pendidikan tinggi seni, mahasiswa seni ditengarai sekadar memenuhi tuntutan pendidikan. Pasca lulus pendidikan, seni tak ubahnya bak barang yang usang dan siap dibuang. Karena itu, kontribusi tari jatim justru dihasilkan dari sanggar ketimbang perguruan tinggi.

Kepala Sendratasik Unesa jurusan Tari, Drs Djoko Tutoko MSn mengatakan, sejatinya pembinaan tari di sekolah seni masih bagus. Pasalnya, terdapat dukungan finansial dan apresiasi dari instansi yang menaungi di atasnya. Kegiatan lomba, pagelaran, diskusi, workshop dan sebagainya bagian yang tidak terputus dalam sekolah seni.

”Bahkan, Sendratasik Unesa berencana akan memfasilitasi pagelaran antarsanggar tari seJatim bulan Oktober nanti,” katanya. Hanya saja mental berkesenian memang masih terus menjadi pekerjaan rumah tersendiri, mengingat lingkungan masyarakat seni Jatim kurang mendukung.

Etnik dan kontemporer. Dua medium material yang menjadi basis eksplorasi sanggar dan sekolah seni. Komoditi dan seni murni. Dua obyek material yang menjadi orientasi pemilihan sanggar dan sekolah seni. Sejauh ini, menurut pimpinan Raff Dance Arif Rofiq, kecenderungan tari sanggar yang tidak lagi pada tataran seni, melainkan komoditi, sejatinya tidak selalu benar. Sebab, tipikal tari tradisi adalah paket tari etnik yang bisa dipelajari sebagai bahan pencetak generasi penari handal. Tidak dipungkiri, pergeseran tujuan sanggar merupakan keniscayaan yang sukar dihindarkan. Namun meski demikian, seharusnya dalam kepentingan ekspresi seni, orang tari serta-merta harus terjebak harus menampilkan seni kontemporer.

”Kontemporer sering dipahami ke balet-baletan. Asal gerak mulet dalam improvisasu,” tutur Arif Rofiq.

Dengan begitu, tubuh penari sebagai media ekspresi seringkali menyajikan tubuh yang kaya nuansa tetapi kering makna. Ikon-ikon tradisi yang ditayangkan seringkali menjadi nuansa dan kilasan kesan, pesan pintas. Dalam konteks yang lebih mendalam idiom dan medium tradisi dikemas untuk menyatakan nilai-nilai baru, gagasan baru yang secara signifikan tidak terkait dengan nilai dan semangat aslinya.

”Obyek material tradisi etnik dipaksa menjelejahi ruang dan makna yang baru. Seringkali terlepas dari budaya dan keutuhan kosmisnya, menjadi simbol yang sama sekali baru,” ucap pengajar STKW dan penari lulusan STSI Surakarta, R Djoko Prakosa SSn.

Kontemporer harus tumbuh dari tari lokal secara mandiri. Dengan mengamati apa saja yang bisa dieksplor sedemikian rupa. Bahkan, menurut Tri Broto, pengurangan durasi waktu yang paten dalam suatu pementasan tari pun bisa dikatakan sebagai kontemporer. Daripada harus mengacu pada asal percampuran tari lokal dan tari dari luar. Sebab, apabila kontemporer yang dimaksud ialah percampuran serampangan tanpa pijakan tari lokal, maka jati diri tari lokal kontemporer akan ditemukan di setiap daerah-daerah lain. Katakanlah, tari kontemporer Jatim akan sama dengan kontemporer tari Solo, karena adanya kesengajaan persinggungan antarkeduanya.

Sanggar tari dan sekolah seni merupakan pusat dari kegemilangan seni dan moral di Jatim, maka seyogyanya diperhatikan dan dimanfaatkan kesempatan segala potensi. Membiarkan perkembangan secara mandiri sama halnya melakukan perjudian. Antara kematian dan perbaikan. Sementara apabila area ini dioptimalkan, dapat dipastikan penari hiburan, penari profesional, dan seniman tari hadir mewarnai dan bakal semakin mengangkat nama besar Jatim. Sebab tanpa diperhatikan saja, tari Jatim sudah disegani di level nasional maupun mancanegara.

Sumber