Tentang Tari KECAK, Bali

Tentu kita semua sudah sangat mengenal dg Tari Kecak. Ketika ditanya “apa kesenian khas dari Bali?” pasti mayoritas yang terlintas di kepala adalah tari Kecak. Walo tidak semua pernah menonton tari Kecak dan apalagi tau tentang cerita tarian tersebut, tapi kata TARI KECAK itu sudah sangat kental nempel di otak kita sejak kecil ya. ūüôā

Nah… Tahukah kamu bgmn Tari Kecak itu terbentuk? Apa tiba-tiba ada begitu saja?

Nah simak ulasan singkat berikut ini tentang siapakan yang menciptakan Tari Kecak itu?

Wayan Limbak (1897 ‚Äď August 31, 2003), adalah seorang penari Bali yang bersama-sama Walter Spies (seorang pelukis Jerman) menciptakan tarian Kecak yang sangat terkenal sekarang ini. Beliau meninggal dunia di usia 106 tahun di Desa Bedulu, Gianyar, Bali.

Bekerjasama dengan Walter Spies sekitar tahun 1930an, berawal dari tarian Sang Hyang (tarian suci untuk ritual upacara) yang digelar setiap tahun dalam upacara suci di Pura Goa Gajah, Bedulu, Gianyar. Dengan usulan dari Walter Spies, tarian Sang Hyang tersebut dimodifikasi menjadi sebuah tarian Kecak seperti sekarang yang kita kenal, dengan mensisipkan cerita biasanya diambil dari epos Ramayana, takkala Subali bertempur dengan adiknya Sugriwa atau Rahwana menculik Dewi Sita.
Tarian Kecak ini ditarikan 50 sampai 100 orang dengan hanya menggunakan kain hitam dan ikat pinggang loreng tanpa baju membentuk formasi lingkaran, dimana nada musik untuk mengiringi tarian pemeran tokoh2 cerita, hanya dengan suara seluruh penari bersahut sahutan dengan mengucapkan cak cak cak cak…

Wayan Limbak mempopulerkan tari Kecak sebagai wakil Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya ke seluruh dunia dengan membawa grup tarinya keliling dunia untuk mengikuti berbagai festival internasional.

Sumber Artikel : religionlove
http://www.thebalitimeline.com/wayan-limbak-pencipta-tari-kecak/

image

TARI EBLAS

Versi pertama Eblas

Versi pertama tari Eblas

Tari Eblas Versi kini

 

Tari EBLAS adalah tari kreasi tradisional yang menceritakan tentang gadis-gadis madura yang cantik, feminin, luwes, lincah dan ceria.

Tari Eblas awal diciptakan berangkat dari ide keberadaan Topeng sebagai sebuah karya seni unik di Jawa Timur. Tari ini mengangkat seni Jawa-Madura yang dilahirkan dalam iklim budaya Surabaya.

Arif Rofiq menciptakan tari Eblas sekitar tahun 1990-an dengan konsep koreografi menggunakan topeng. Namun seiring perkembangan jaman, banyak penari yang sangat jarang mengenakan topengnya sehingga menonjolkan wajahnya.

Jadi tari Eblas dengan topeng -red: Topeng Eblas- bukanlah suatu inovasi baru dari tari Eblas tetapi justru adalah asal mula tari Eblas diciptakan.

Kostum tari Eblas sangat bervariasi, namun intinya adalah pakaian khas bernuansa madura. Seperti: kebaya madura, sewek/rok dengan batik madura, cemol madura, dan gelang kaki.

TARI LENGGANG SURABAYA

Tari Lenggang Surabaya adalah sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Dimas Pramuka Admaji untuk mengangkat kesenian tradisi Surabaya. Berangkat dari berbagai jenis kesenian tradisi seperti Tanda’an/Tayub dan Sandur Madura yang berada di Surabaya dan sekitarnya, maka pada tahun 1995, Dimas Pramuka Admaji menciptakan tari Lenggang surabaya atas pesanan dari Walikota Surabaya pada saat itu bahwa Surabaya perlu adanya¬† tari penyambut tamu. Tanggal 31 Mei 1995 tari Lenggang Surabaya pertama kali di pentaskan/dipergelarkan pada acara resepsi Hari Jadi kota Surabaya di kediaman Walikota Jl. Sedap malam Surabaya.

PROSES PENCIPTAAN TARI LENGGANG SURABAYA.
Dengan latar belakang mengangkat, melestarikan dan mengembangkan seni tari di Surabaya, sebagaimana disesuaikan dengan tuntutan kemajuan kota semakin pesat maka dengan menggarap dan menciptakan tari baru yang masih berpijak pada kesenian daerah setempat ini diharapkan menambah khasanah seni tari di Surabaya.
Inipun tidak lepas dari menumbuhkan rasa cinta kota Surabaya yang mana peran generasi muda peduli budaya kota Surabaya sangatlah perlu demi menepis budaya asing yang semakin rawan di kota metropolis.
Dalam proses penciptaan tari Lenggang Surabaya yang berangkat dan berpijak pada kesenian Tanda’an dan sandur Madura yang berkembang di Surabaya ini melalui tahapan eksplorasi, Improvisasi, komposisi gerak, musik dan busana.

  • Kesenian Tanda‚Äôan/Tayub

Kesenian ini sering ditemui di perkampungan kota Surabaya, biasanya pada acara perkawinan, khitanan dan sebagainya yang banyak dilakukan pada malam hari.
Kesenian ini hampir punah keberadaanya di Surabaya. Pada kesenian Tanda’an ini tamu yang hadir mayoritas laki-laki, yang mana hamper semua tamu mendapat giliran nandak atau kesempatan menari bersama tandak ( ledhek tayub ). Dan dengan membayar atau memberikan tip mereka berhak meminta lagu/gending yang disukai untuk menari.
Penari wanita yang disebut Ledhek atau tandak selalu membawa sampur dengan busana angkin melilit dengan rapi di bagian dada yang biasanya selalu diserasikan dengan busana bawah yang disebut jarit atau kain panjang. Sedangkan tat arias yang dipakai adalah tat arias cantik dengan memakai sanggul yang diberi hiasan bunga dan asesoris sebagai pemanis lainya seperti giwang dan kalung. Kesenian ini tergolong tari pergaulan yang mana seorang penari wanita selalu berusaha memikat pasangannya.

  • Kesenian Sandur Madura

Keberadaanya di Surabaya juga hampir punah dan biasanya di jumpai di perkampungan Madura di Surabaya. Penyajian kesenian Sandur ini hampir mirip dengan penyajian kesenian Tanda’an/Tayub. Sang Penari utama sebagai primadona adalah penari wanita selalu berhadapan dengan tamu laki-laki.Gending yang dibawakan biasanya seperti Talang, Rarari, Puspa, Walang kekek dan sebagainya.

SINOPSIS
Tari Lenggang Surabaya merupakan tari garapan baru yang diangkat/bersumber dari kesenian Tanda’an dan Sandur Madura yang ada di Surabaya dan sekitarnya.

Lenggang berarti gerak yang manis dan indah, Surabaya merupakan kota metropolis dimana nama ini mengikat untuk lebih mengidentifikasikan bahwa Lenggang Surabaya tentunya dari Surabaya.
Tari Lenggang Surabaya ditarikan oleh beberapa wanita dan menggambarkan Ning-Ning Surabaya yang kreatif, dinamis dan ekspresif.

 

BENTUK PENYAJIAN

A.  Tata Rias

Tata rias untuk mewujudkan mimik wajah penari dalam tari Lenggang Surabaya yang tergolong tari lepas dan bentuk tari yang di tarikan secara kelompok oleh beberapa wanita ini menggunakan tata rias cantik dengan mempertimbangkan nuansa serta bauran dan style pada warna riasan antara penari satu dan lainya memunculkan satu karakter. Rias cantik pada tari Lenggang Surabaya memberikan kesan dinamis dan ekspresif yang ditimbulkan oleh goresan garis tegas pada Alis dan rias mata.
Pada rias cantik nuansa warna yang dipakai bisa tergantung selera tetapi tetap harus memikirkan keserasian dengan warna yang dikenakan agar harmonisasi tercapai.

Desain rias seperti ini sangatlah perlu karena sangat membantu wajah penari hingga terlihat bersih rapi dan menarik, yang merupakan pertimbangan sesuai dengan karakter tari Lenggang Surabaya yang pada dasarnya menonjolkan pesona yang menawan seperti penari tandha’an atau ledhek yang selalu berusaha memikat tamu.sebagai salah satu sumber garap tari Lengggang Surabaya.

B. Tata Busana

Desain busana sangat penting karena penataan dan garap busana pada sebuah tari sangat membantu secara ekspresifitas garap gerak tari bahkan dalam memunculkan suatu karakter tari yang diharapkan pada koreografi. Tari Lenggang Surabaya yang merupakan tari garapan baru dan menggambarkan Ning- Ning Surabaya yang kreatif, dinamis dan ekspresif ataupun sebuah karya tari yang tergolong intertaimen maka busana yang dikenakan mengarah ke jenis busana abyor atau dengan tatanan pemanis pada aksen-aksen garis dengan harapan penari lebih kelihatan modis, cantik, menawan dan rapi. Tatanan desain busana tari Lenggang Surabaya ini walaupun tatanan menonjolkan banyak pengembangan namun masih berpijak pada sasaran tradisi yang dikembangkan dari penari Tandhak, Penari Sandur dan Ning Surabaya yang menjadi sumber garap.

Desain dan nuansa dalam tatanan busana tari Lenggang Surabaya terdiri dari :

Kain panjang :
Batik pekalongan atau batik yang mengarah ke corak Madura, lasem Sidoarjo dsb. Sebagai aksen pemanis bentuk jarit adalah garis wiron yang diseuaikan dengan paduan jarit dan kebaya.
Kebaya :
Merupakan busana badan yang desainya sengaja dimasukan pada angken atau kemben. Desain ini menunjukan bahwa penari tandak sebagai sumber garap selalu berdandan menonjolkan angkin pada busana badan. Hal ini dirasa juga sangat membantu ekspresi tubuh sebagai media gerak yang dimunculkan oleh sikap tubuh penari Lenggang Surabaya.

Angken/kemben/Mekak :
Busana angken dikenakan diluar kebaya, menggunakan payet atau manik-manik yang sifatnya tidak hanya sebagai pemanis namun juga sebagai sentuhan-sentuhan karakteristik pada busana Ngremo Putri pada kesenian Tandha’an yang identik melakukan upaya menghias diri demi memikat semua yang melihanya.

Busana Lainya :

  • Bokongan ( merupakan ugo rampe yang letaknya di belakang membentuk garis melengkung di pinggang )
  • Sampur ( juga disebut selendang yang berfungsi sebagai busana dan property yang diletakkan pada punggung penari menjurai kebawah.
  • Sabuk atau ebog ( merupakan ikat pinggang yang terletak pada pinggang dan terdiri dari sabuk besar dan kecil yang dikenakan ber sap atau tumpuk.
  • Perhiasan:
  • Giwang ( pemanis pada daun telinga yang tebuat dari permata)
  • Bunga Melati sisir dan pengasih atau sintingan ( sisir adalah rangkaian melati yang letaknya melengkung pada garis atas kode dan pengasih atau sintingan adalah ronce bunga melati dengan bunga kantil yang diletakan di bagian samping konde di belakang telinga.
  • Bunga mawar atau bunga ceplok berbetuk bulat yang biasa juga bisa disebut jebehan
  • Cunduk/ cucuk
  • Konde ( konde yang dipakai adalah jenis konde jawa dan bisa juga jenis konde yang biasa dikenakan ning Surabaya ataupun alternative lain adalah konde modern ukuran sedang.

C. Iringan tari

Tari Lenggang Surabaya menggunakan iringan gamelan Jawa dengan laras Slendro.
Iringan tari Lenggang Surabaya tidak hanya sebuah musik sebagai pengiring namun ditata sedemikian rupa sehingga memunculkan dinamika yang dibawakan secara komposisi gerak dalam mencapai ekspresi penampilan tari secara utuh. Garap iringan tari Lenggang Surabaya merupakan pengembangan dari gending-gending Jawa Timuran seperti : Walang kekek, Jaranan, Jula-juli, Ceko, Blandong, Gedog dsb. Style dan ornament tambahan seperti Vokal madura, lagu Tanjung Perak sebagai kesan emosional pada identitas Surabaya dan juga merupakan pengembangan yang terekplor dari Sandur Madura dan Ngremo Putri yang berkembang di Surabaya sebagai inspirasi ataupun sumber garap tari Lenggang Surabaya yang di harapkan menjadi tari selamat datang serta tari garapan baru sebagai sebuah tari yang dimiliki oleh Surabaya.

Dengan latar belakang mengangkat, melestarikan dan mengembangkan seni tari di Surabaya, sebagaimana disesuaikan dengan tuntutan kemajuan kota semakin pesat maka dengan menggarap dan menciptakan tari baru yang masih berpijak pada kesenian daerah setempat ini diharapkan menambah khasanah seni tari di Surabaya.

Tari Lenggang Surabaya telah sering kali disajikan sebagai penyambutan dalam berbagai acara penting seperti:

  • Menyambut Presiden Megawati di Sangrila hotel th. 2004.
  • Closing ceremony of Surabaya Cross Cuulture Festival 2012 in Surabaya City Hall area, Park Surya, Surabaya.
  • Peresmian kapal perang baru yang diberi nama KRI Surabaya. Peresmian dilakukan di Koarmatim, Ujung, Surabaya, 2008
  • Indonesia Forum International Poet (FPII), 2012.
  • Perjamuan tamu INDIA di grahadi, 2013
  • Perjamuan penandatanganan kesepakatan jatim dan kalsel di grahadi, 2013
  • dan masih banyak lagi

 

Sumber

MAKNA GERAK TARI REMO (NGREMO)

Tari Ngremo sebagai sebuah ikon tari tradisional Jawa Timur telah dikenal luas dan sangat umum dipertunjukkan sebagai tari pembuka atau tari selamat datang dalam berbagai acara.

Tari Ngremo adalah hasil penggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana yang saat itu tari Klana (menggunakan topeng) sedang ngamen di Sidoarjo (Marsudi Utomo, 1977) . Beberapa keragaman gerak tari Ngremo mirip dengan beberapa ragam gerak tari yang ada pada tari Klana Sabrang (tokoh Sewandana ataupun tokoh Basunanda). Beberapa ragam gerak tari hasil dari penggabungan antara ragam gerak tari Besut dan ragam gerak tari Klana dapat disebutkan antara lain sebagai berikut : gedrug, kipatan sampur, gendewa, ngore rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan, tepisan, nglandak, kencak, klepatan, telesik, bumi langit.

GEDRUG
Sebagai symbol manusia mulai mengenal bumi tempat ia dilahirkan dan mengarungi kehidupan. Gedrug adalah gerakan kaki (terpusat pada hentakan tumit kanan) menghentak bumi, sebagai pelambang kesadaran manusia atas daya hidup yang ada di bumi, bahwa bumi sebagai sumber hidup yang perlu dipahami adanya. KIPATAN SAMPUR Merupakan symbol dari perlindungan diri, sampur sebagai alat untuk menjauhkan diri dari segala pengaruh negative atau pengaruh buruk. Adapula yang mengartikan bahwa kipatan sampur sebagai symbol membuang hal yang buruk atau negative.

 

GENDEWA
Sebagai symbol melajunya anak panah yang sedang dilepaskan dari busur. Digambarkan bahwa gerak langkah manusia yang secepat anak panah sedang dilepas dari busurnya. Makna lain yang tersirat dalam ragam gerak gendewa ini adalah bahwa dalam melaksanakan kehidupan ini, manusia berupaya melepaskan pengalamannya untuk diturunkan kepada orang lain. Adapula yang mengartikan tentang symbol kewaspadaan seseorang terhadap zat-zat atau berbagai pengaruh yang ada di sekitarnya.

 

NGORE REKMO
Ngore adalah mengurai, rekmo adalah rambut. Dalam gerak tari ngore rekmo ini dimaksudkan sebagai symbol merias diri, terutama gambaran seseorang sedang menata rambut. NEBAK BUMI Sebagai symbol adanya bumi dan langit yang mengitari kehidupan manusia, keterikatan antara bumi dan langit dan adanya ruang diantara bumi dan langit yang dijadikan tempat untuk machluk hidup. Ruang tersebut sebagai sebuah daya yang saling berhubungan, saling mengisi dan saling mempengaruhi. Bahwa bumi dan langit merupakan dua kondisi alam yang tak dapat dilepaskan dalam kehidupan semua machluk hidup yang ada diantaranya.

 

TATASAN
Diibaratkan sebagai kemampuan seseorang dalam menangkap sesuatu yang sedang membahayakan dirinya.

 

CEKLEKAN 
Diibaratkan sebagai ranting-ranting pohon yang patah. Gerak ceklekan ini terpusat pada kesan patah-patah pada siku.

 

TRANJALAN 
Ada yang menyebutnya dengan nama gobesan. Nama gobesan biasa digunakan dalam wayang topeng malangan. Isi geraknya tidak jauh dari penggamabaran tentang solah busana, adapula yang menyebutnya dengan istilah ngudisarira. Tranjalan mempunyai makna bahwa manusia hidup selalu berupaya memelihara diri sendiri, membersihkan dirinya dari segala kotoran, yaitu kotoran yang berbentuk debu (zat mati) ataupun kotoran yang berupa zat hidup yang negative yang mempengaruhi sifat maupun prilaku manusia.

 

TEPISAN 
Merupakan symbol dari gerakan kecekatan tangan dalam melindungi tubuh dari unsure negative. Munali Fatah mengisinya dengan motif gerak tumpangtali yang tehnik geraknya bersumber dari tumpangtalinya pada tarian klana bagus dan sejenisnya (gaya tari Surakarta). Tepisan ini merupakan symbol menyaturkan daya linuwih (kekuatan lain) yang diberikan alam kepada diri manusia yang dapat terujudkan melalui gesekan kedua telapak tangan. Gerakan ini dilakukan didepan perut, karena dalam perut tersebut pusat lumbung udara yang didapatkan dari pertemuan antara udara yang dihirup dari luar dan udara yang ada dalam tubuh manusia.

 

NGLANDAK 
Merupakan symbol gerak yang menirukan prilaku binatang landak. KENCAK Merupakan symbol gerak yang menirukan prilaku binatang kuda, hal ini mirip dengan kuda kencak, mengapa disebut dengan kuda kencak, karena kuda tersebut dapat menari-nari, gerakannya antara lain diseputar junjungan kaki yang depan dan gerakan bergeser kearah samping (nyelereg). Depakan-depakan kaki kuda yang bergerak kearah samping inilah kemungkinan besar mengilhami gerak kencak pada tari ngremo. Gerakan semacam ini sudah ada pada gerak tariannya ludruk besut atau yang dikenal pula dengan nama seniti. Motif gerakan serupa juga terdapat pada tari jaranan yang berkembang subur di daerah Kediri ‚Äď Tulungagung ‚Äď Trenggalek.

 

KLEPATAN 
Diibaratkan sebagai upaya manusia untuk menghindar dari segala bahaya yang mengenai dirinya, untuk itu ia perlu mengetahui dan waspada terhadap segala sesuatu yang berada disekitarnya yang berusaha mendepat pada dirinya. Dijelaskan bahwa segala sesuatu itu bias berupa ujud fisik yang Nampak secara nyata, adapula ujud abstrak yang mengenai dirinya dengan tidak dapat Nampak oleh penglihatan tetapi dapat dirasakan adanya.

 

TELESIK (TELESIKAN) 
Diibaratkan seperti pergeserran benda-benda kecil (pasir, dedaunan, ranting) yang terdorong angin. Dalam hal ini mengisyaratkan bahwa disekitar manusia ini terdapat suatu daya yang mampu membawa perubahan diri manusia. Udara merupakan unsure yang perlu dipahami sebagai sesuatu yang mampu membentuk dan mengubah kehidupan.

 

BUMI LANGIT 
Gerak bumi langit ini mengandung makna kesadaran terhadap daya hidup yang ditimbulkan oleh bumi dan langit. Diantara bumi dan langit itu manusia berada untuk melaksanakan kehidupannya atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

 

 

Sumber

REMO -First Version-

Ngremo

Tari Remo atau juga disebut Ngremo sebagai sebuah tarian tradisional, telah dikenal secara luas sebagai tarian khas Jawa Timur. Tari ini pada masa kini dipertunjukkan sebagai tarian pembuka atau selamat datang pada berbagai acara.

Telah banyak juga yang membahas bahwa tari Ngremo ada 2 gaya yaitu Gaya Suroboyo-an dan gaya Jombang-an. Manakah versi yang paling awal hadir dan menjadi ikon Jawa Timur?

Berikut ini adalah ulasan tentang Ngremo, versi paling awal.

Pendahuluan

Remo (Ngremo) merupakan salah satu bentuk tari tradisional yang sudah cukup dikenal oleh kebanyakan orang di Jawa Timur maupun di wilayah lain. Meskipun tari Ngremo sudah sangat sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan di luar panggung tradisional, sementara ini juga masih banyak pula yang belum faham tentang isi tari Ngremo. Oleh karena itu tafsir tentang tari Ngremo menjadi simpang siur, bahkan ada yang menyebutnya bahwa tari Ngremo adalah tari kepahlawanan, padahal nilai-nilai koreografinya, dari aspek motif gerak tari, struktur koreografi hingga kesan musikalnya sama sekali tidak ada sentuhan tentang kepahlawanan. 

Sentuhan kepahlawanan dalam kesenian Ludruk itu sebenarnya terletak pada kidungan yang digunakan oleh pelawak, yaitu : pegupon omahe dara, melok Nipon awak tambah sengsara, artinya pegupon rumah burung merpati, ikut Nipon badan tambah sengsara. Kidungan ini kali pertama dikumandangkan oleh cak Durasim salah seorang pemain lawak dalam Ludruk di Surabaya, saat itu sekitar tahun 1927 bersamaan dengan adanya upaya penggarapan Ludruk Besut yang dikolaborasi dengan tonil sehingga munculah Sandiwara Ludruk, pada saat bersamaan dengan adanya masa pergerakan, sandiwara ludruk dimanfaatkan sebagai media propaganda untuk menyuarakan hati rakyat dalam spirit pergerakan anti penjajahan.

Oleh karena itu berkembang informasi yang sangat popular di kalangan seniman Ludruk, bahwa pada saat penjajahan Jepang saat itu, cak Durasim sering keluar masuk penjara tahanan Jepang,

Pada tahun 1975 pada saat tari Ngremo sering ditampilkan di Istana Negara untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI ataupun acara penyambutan tamu, petugas dari Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur membuatkan sinopsis dengan acuan tari Ngremo sebagai tari kepahlawanan. Pendekatan ini sangat tidak tepat, bila ditinjau dari fungsi tari Ngremo dalam pertunjukan Ludruk maupun dalam pertunjukan wayang purwa jawa timuran dan dalam kesenian tandhakan sentuhan nilai kepahlawanan itu sama sekali tidak ada, apalagi bila ditinjau dari koreografi dan symbol-simbol gerak tarinya, yang sangat menonjol dalam penyajian adalah kesan gagah untuk ngremo putra dan kesan halus cakrak untuk ngremo putri. Dengan demikian identifikasi tentang tari Ngremo sebagai tari kepahlawanan perlu dipertanyakan keabsahannya, meskipun hal tersebut pernah menjadi isu yang dimunculkan untuk dapatnya menampilkan tari Ngremo dalam acara dimaksud, ini adalah pemaksaan dan sekaligus merusak konsep tari Ngremo itu sendiri.(Tri Broto)

Latar Belakang Penciptaan

Penggambaran tari Ngremo sebagai kehidupan manusia diatas bumi sudah melekat sejak adanya tokoh Besut dalam ludruk Besutan. Beberapa gerak yang sudah digunakan oleh Besut dalam penggambaran kelahiran manusia adalah : gerakan gedrug, gerakan manembah kearah empat keblat, gerakan lampah, gerakan kencak. Pada saat gerak tari Besut tersebut digarap bersamaan dengan kemunsulan Sandiwara Ludruk jaman pergerakan, Pak Winata adalah Guru Pak Munali Fatah menggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana yang saat itu tari Klana (menggunakan topeng) sedang ngamen di Sidoarjo (Marsudi Utomo, 1977) . Pendekatan kolaboratif antara ragam gerak tari besutan dan ragam gerak tari Klana (wayang topeng Malangan) sangat besar kebenarannya, bila dilihat dari perjalanan sejarah zaman Daha-Kediri hingga menelusuri sungai porong dan percikan keberadaan wayang topeng di wilayah Malang. Beberapa keragaman gerak tari Ngremo mirip dengan beberapa ragam gerak tari yang ada pada tari Klana Sabrang (tokoh Sewandana ataupun tokoh Basunanda) Beberapa ragam gerak tari hasil dari penggabungan antara ragam gerak tari Besut dan ragam gerak tari Klana dapat disebutkan antara lain sebagai berikut : gedrug, kipatan sampur, gendewa, ngore rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan, tepisan, nglandak, kencak, klepatan, telesik, bumi langit.(Tri Broto)

Kesimpulan

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Tari Remo BUKAN tari kepahlawanan

2. Tari Remo adalah penggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana, bukan berasal dari tari Beskalan.

3. Tari Remo di awali oleh ide kreatif Pak Winata yang adalah Guru dari Munali Fatah

4. Kemudian tari ini disempurnakan oleh gaya Munali, sehingga hingga saat ini dikenal dengan judul Tari Remo Munali

Sumber

Tari Bedhaya Ketawang (Jawa Tengah)

Bedhaya berasal dari bahasa Sanskerta budh yang berarti pikiran atau budi. Dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi bedhaya atau budaya. Penggunaan istilah tersebut dikarenakan tari bedhaya diciptakan melalui proses olah fikir dan olah rasa. Pendapat lain menyatakan bahwa bedhaya berarti penari kraton, sedangkan ketawang berarti langit atau angkasa. Jadi bedhaya ketawang berarti tarian langit yang menggambarkan gerak bintang-bintang, sehingga gerakan para penarinya sangat pelan.

Tari Bedhaya Ketawang dipercaya merupakan reaktualisasi percintaan Kanjeng Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati (raja pertama Dinasti Mataram Islam). Konon, tari ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul bersama Panembahan Senopati. Setelah Panembahan Senopati mengikat janji dengan Kanjeng Ratu Kidul, ia meminta Kanjeng Ratu Kidul datang ke Kraton Mataram untuk mengajarkan tari Bedhaya Ketawang kepada penari-penari kesayangan Panembahan Senapati. Kanjeng Ratu Kidul menyanggupi permintaan tersebut dan setiap hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) ia hadir di Kraton Mataram untuk mengajarkan tarian tersebut. Selain itu busana dan tata rias penari Bedhaya Ketawang pun diyakini sebagai ciptaan Kanjeng Ratu Kidul.

Berdasarkan kepercayaan tersebut, maka ketika tari Bedhaya Ketawang hendak dipagelarkan harus meminta ijin kepada Kanjeng Ratu Kidul sebagai pemilik tari. Untuk itu dilaksanakan ritual caos dhahar, yang merupakan manifestasi suatu kebaktian dan usaha untuk berkomunikasi dengan roh halus atau dunia gaib. Caos dhahar dilaksanakan 5 kali, yaitu pertama menghadap ke selatan ditujukan kepada Kanjeng Ratu Kidul, lalu menghadap ke utara untuk Bathari Durga, menghadap ke barat untuk Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton, dan terakhir kembali menghadap ke selatan untuk berpamitan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Ritual tersebut dilakukan dengan harapan Kanjeng Ratu Kidul akan berkenan hadir dan turut terlibat baik dalam latihan maupun pagelaran yang akan dilaksanakan.

Raja-raja Dinasti Mataram Islam terutama Panembahan Senopati dan Sultan Agung sering dihubungkan dengan Kanjeng Ratu Kidul, baik dalam bentuk cerita lisan maupun babad. Hal tersebut tidak lepas dari upaya legitimasi kekuasaan para raja tersebut. Dengan menghubungkan diri dengan tokoh mistik yang sangat dihormati, maka seorang raja akan memperoleh legitimasi yang kuat dan meminimalkan kemungkinan adanya pemberontakan.

Oleh karena itu, ketika Perjanjian Giyanti membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Kraton Surakarta meminta tari Bedhaya Ketawang sebagai pertunjukan sakral istana. Sedangkan kraton Yogyakarta, mencipta bedhaya Semang. Bedhaya Ketawang dibawakan oleh 9 penari wanita dan dianggap sebagai induk munculnya jenis tari Bedhaya lainnya. Kesembilan penari tersebut memiliki posisi masing-masing yang disebut sebagai batak, endhel ajeg, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, apit meneng, gulu, dhadha, serta boncit. Masing-masing posisi merupakan  suatu simbol, yaitu:

·       Apit mburi: melambangkan lengan kiri

·       Apit ngarep: melambangkan lengan kanan

·       Apit meneng: melambangkan kaki kiri

·       Batak: mewujudkan jiwa dan pikiran

·       Buncit: mewujudkan organ seks

·       Dadha: melambangkan dada

·       Endhel ajeg: mewujudkan nafsu atau keinginan hati

·       Endhel weton: melambangkan kaki kanan

·       Jangga (gulu): melambangkan leher

Keseluruhan penari yang berjumlah 9 orang dipercaya merupakan angka sakral yang melambangkan 9 arah mata angin. Hal ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat Jawa pada peradaban Klasik, dimana terdapat 9 dewa yang menguasai sembilan arah mata angin yang disebut juga sebagai Nawasanga, yang terdiri dari: Wisnu (Utara), Sambu (Timur Laut), Iswara (Timur), Mahesora (Tenggara), Brahma (Selatan), Rudra (Barat Daya), Mahadewa (Barat), Sengkara (Barat Laut), dan Siwa (Tengah). Upaya mengejawantahkan 9 dewa penguasa arah mata angin dalam wujud 9 orang penari tersebut merupakan suatu simbol bahwa pada hakekatnya tari Bedhaya Ketawang bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam yaitu keseimbangan antara mikrokosmos (jagat kecil) dan makrokosmos (jagat besar). Suatu konsep kosmologi yang telah mendarah daging pada masyarakat Jawa sejak berabad-abad silam.

Sebagai tarian yang sangat sakral, maka syarat menjadi penari Bedhaya Ketawang sangat tidak mudah. Paling utama, para penari Bedhaya Ketawang haruslah seorang gadis yang suci dan tidak sedang haid. Apabila sang penari sedang memperoleh haid, ia tetap diperbolehkan menari dengan meminta izin terlebih dahulu kepada Kanjeng Ratu Kidul. Untuk itu, harus dilakukan caos dhahar di Panggung Sanggabuwana, suatu bangunan yang digunakan sebagai tempat pertemuan Sunan dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Selain suci lahiriah yang dimaknai dengan sedang tidak haid-nya seorang penari Bedhaya Ketawang, ia juga dituntut untuk suci secara batiniah. Hal ini dapat dicapai dengan menjalani puasa selama beberapa hari menjelang pagelaran. Dengan menjalani lelaku tersebut diharapkan para penari tersebut dapat membawakan tarian Bedhaya Ketawang dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan ada suatu beban tersendiri pada para penari. Dipercaya bahwa dalam suatu pagelaran Bedhaya Ketawang, Kanjeng Ratu Kidul akan hadir bahkan ikut menari dan apabila ada penari yang kurang baik dalam menari maka ia akan dibawa Kanjeng Ratu Kidul ke Laut Selatan. Kepercayaan ini memberikan suatu motivasi tersendiri bagi para penari, bahwa mereka harus membawakan Bedhaya Ketawang dengan sesempurna mungkin supaya tidak dibawa ke Laut Selatan.

Sebagai penyempurna tampilan para penari, maka beberapa hari menjelang pagelaran, para penari harus mempersiapkan diri antara lain dengan meratus rambut serta kain, melulur tubuh, maupun perawatan tubuh lainnya supaya aura mereka dapat terpancar sempurna sehingga memperkuat aura kesakralan dari tari itu sendiri.

Sementara itu busana dan tata rias yang dikenakan penari dalam pagelaran tari Bedhaya Ketawang adalah layaknya pengantin putri Kraton Surakarta. Hal tersebut dikarenakan tari Bedhaya Ketawang merupakan reaktualisasi pernikahan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, sehingga busana yang dikenakan haruslah busana pengantin, yang lazim disebut sebagai Basahan. Busana tersebut meliputi kain dodot, samparan, serta sondher. Dodot merupakan kain yang memiliki ukuran 2 atau 2,5 kali kain panjang biasa, hingga panjang dodot bisa mencapai 3,75 hingga 4 meter. Pada masa lalu, kain ini hanya dikenakan oleh raja dan keluarga serta kaum ningrat untuk upacara tertentu, sepasang pengantin keraton, serta penari Bedhaya dan Serimpi.

Sebagaimana pengantin, maka dodot yang digunakan bermotif alas-alasan. Tarian ini memiliki dua penari utama, yaitu batak dan endhel ajeg yang dapat dibedakan dari warna dodot mereka. Meskipun memiliki motif yang sama yaitu alas-alasan, tetapi warnanya berbeda. Batak dan endhel ajeg mengenakan dodot alas-alasan berwarna hijau gelap yang disebut dodot gadung mlathi, sedangkan 7 penari lainnya mengenakan dodot alas-alasan berwarna biru gelap yang disebut dodot bangun tulak.

Kata bangun tulak berasal dari kata bango dan tulak. Bango merupakan nama sejenis burung yang dipercaya memiliki umur yang sangat panjang. Sementara itu tulak berarti mencegah bala atau kejahatan. Versi lain kain alas-alasan adalah gadhung mlathi yang memiliki lapisan bawah berwarna hijau sesuai dengan makna gadhung dan lapisan tengah berwarna putih sebagaimana warna bunga melati. Kain tersebut dikenakan sebagai bentuk penghormatan pada Kanjeng Ratu Kidul, karena dipercaya beliau sangat menyukai warna hijau. Selain itu hijau merupakan simbol kemakmuran, ketentraman, dan rasa ketenangan. Lembaran kain dodot tersebut dihiasi dengan motif alas-alasan, yang berarti rimba raya. Penamaan ini berkaitan dengan elemen-elemen yang membentuk motif tersebut, yaitu penggambaran seisi belantara yang meliputi aneka jenis hewan dan tumbuhan, yaitu:

a.     Ragam hias garuda

Dalam batik motif semen, motif garuda merupakan motif yang paling tinggi kedudukannya di antara motif lain. Garuda dipercaya sebagai burung dewa, kendaraan Wisnu, dan sekaligus sebagai simbol matahari. Dalam konsep dewa raja, raja diposisikan sebagai titisan Wisnu (dewa pemelihara), sehingga kendaraannya disejajarkan dengan kendaraan Wisnu. Simbol garuda dapat meninggikan kedudukan raja yang berkuasa.

b.     Ragam hias kura-kura

Kura-kura dipercaya sebagai lambang dunia bawah atau lambang bumi. Dalam agama Hindu, kura-kura merupakan penjelmaan Wisnu yang diharapkan akan dapat menjalankan tugasnya menjaga bumi bila bersatu dengan istrinya yaitu Dewi Sri atau Dewi Kesuburan.

c.      Ragam hias ular

Ular dianggap sebagai simbol perempuan dan merupakan bagian dari konsep kesuburan, hujan, samudera, dan bulan. Sementara itu naga sebagai ular dewa merupakan lambang air dan bumi. Watak tersebut dilambangkan sebagai Dewi Sri. Dalam pengertian simbol, naga melambangkan dunia bawah, air, perempuan, bumi, dan yoni.

d.     Ragam hias burung

Burung merupakan lambang dunia atas yang menggambarkan elemen hidup dari udara (angin) dan melambangkan watak luhur. Kadangkala burung menjadi lambang nenek moyang yang telah meninggal atau dipakai sebagai kendaraan roh menuju Tuhannya. Penggunaan ragam hias burung melambangkan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke asalnya, yaitu kepada Sang Pencipta.

e.     Ragam hias Meru

Motif meru merupakan simbol gunung. Menurut paham Indonesia kuno, gunung melambangkan unsur bumi atau tanah. Pada kebudayaan Jawa Hindu, puncak gunung yang tinggi merupakan tempat bersemayam para dewa. Sementara itu pada pola batik, ragam hias meru menyimbolkan tanah atau bumi yang menggambarkan proses hidup tumbuh di atas tanah.

f.       Ragam hias Pohon Hayat

Melambangkan kesatuan dan ke-Esaan. Bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta

g.     Ragam hias Ayam Jantan

Di Indonesia dipandang sebagai symbol keberanian dan tanggung jawab

h.     Ragam hias kijang

Kijang adalah lambang kelincahan dan kebijaksanaan yang menyimbolkan kelincahan dalam berfikir dan mengambil tindakan serta keputusan.

i.       Ragam hias gajah

Merupakan lambang kendaraan raja yang melambangkan kedudukan luhur, mengandung arti sesuatu yang paling tinggi, paling besar, dan paling baik agar menjadi manusia sempurna.

j.       Ragam hias burung bangau

Burung bangau dipercaya memiliki umur yang sangat panjang bahkan dapat mencapai ratusan tahun. Ia dianggap sebagai lambang penolakan keadaan yang tidak baik, sehingga diharapkan dapat menghindari atau menjauhi bahaya apapun, supaya pada akhirnya dapat meraih keselamatan dan berumur panjang.

k.      Ragam hias harimau

Melambangkan keindahan yang disertai wibawa dan tangguh dalam menghadapi lawan

l.       Ragam hias motif kawung

Motif ini tersusun atas bentuk elips, yang dapat diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan 4 lembar daun bunganya yang sedang mekar. Bunga ini melambangkan umur panjang dan kesucian. Dewa juga dilambangkan dengan bunga teratai. Berdasarkan hal tersebut, maka motif kawung menyimbolkan kedudukan raja sebagai pusat kekuasaan mikrokosmos sejajar dengan dewa sebagai pusat kekuasaan makrokosmos.

Pada hakikatnya penggunaan kain dodot dengan motif alas-alasan tersebut memiliki harapan yang baik sekaligus sebagai penolak bala. Hal ini sesuai dengan ornamen-ornamen yang digambarkan pada lembaran kain tersebut.

Namun sebelum dodot dipakai, terlebih dahulu dikenakan samparan, yaitu kain panjang yang dikenakan sebagai pakaian dalam bagian bawah. Kain tersebut berukuran 2,5 kacu atau 2,5 kali lebar kain yang dikenakan dengan cara melilitkan kain dari kiri ke kanan. Sisa kain yang biasanya digunakan sebagai wiron diurai ke bawah, di antara kedua kaki mengarah ke belakang sehingga membentuk semacam ekor yang disebut seredan. Pemakaian kain jenis ini disebut samparan. Dalam suatu pagelaran, kain yang digunakan sebagai samparan adalah cindhe dengan motif Cakaran berwarna merah.

Selanjutnya dikenakan sondher, yaitu kain panjang menyerupai selendang yang dikenakan untuk menari. Kain tersebut biasanya memiliki panjang 3 meter dan lebar 50 cm, yang disebut sampur atau udhet. Dalam suatu pagelaran, sondher yang dikenakan bermotif cindhe sekar warna merah, ujungnya berhias gombyok atau rumbai warna emas.

Dari uraian tersebut kita mengetahui bahwa para penari Bedhaya Ketawang mengenakan beberapa helai kain yang dalam teknik pemakaiannya tidak memakai proses jahit dan hanya dililitkan, diselipkan diantara lapisan-lapisan kain lainnya. Oleh karena itu, busana tersebut rentan untuk rusak tatanannya selama menari, baik karena terinjak atau karena sebab lain. Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, maka selama menari terdapat dua orang abdi dalem yang bertugas mendampingi untuk membenahi busana para penari apabila busana tersebut rusak ketika sedang menari. Ada suatu keunikan disini, karena selama membetulkan busana tersebut, para penari tetap menari dan abdi dalem lah yang menyesuaikan dengan gerakan penari supaya sang penari tetap konsentrasi menari dengan baik karena sedang membawakan tari pusaka.

Untuk mendukung tata busana penari Bedhaya Ketawang, maka wajah para penari tersebut juga dirias selayaknya pengantin. Untuk itu pada bagian dahi dilukiskan beberapa bentuk, yaitu:

1.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†gajahan, bentuk seperti setengah bulatan telur bebek, letak di tengah-tengah dahi¬† ¬Ī 3 cm di atas kedua pangkal alis dengan lebar pada pangkal dahi ¬Ī 4 cm. apabila ditarik garis lurus pada ujungnya secara vertical tepat pada ujung hidung. Merupakan lambang kendaraan raja yang menyimbolkan kedudukan luhur, sesuatu yang paling tinggi, paling besar, dan paling baik agar menjadi manusia sempurna.

2.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†pengapit, berbentuk ngudup kanthil yaitu seperti kuncup bunga kanthil. Bentuk ini terletak pada dahi, mengapit di kanan kiri bentuk gajahan. Kedua ujung pengapit jika ditarik dengan garis lurus akan bertemu di suatu titik antara kedua pangkal alis. Titik yang merupakan pusat dari semua unsur bentuk paes dan disebut cihna. Lebar pengapit pada pangkal dahi ¬Ī 2 cm. Merupakan pendamping kiri-kanan, yang menyimbolkan bahwa meskipun sudah menjadi manusia sempurna harus selalu waspada terhadap sifat buruk pendamping kiri. Pendamping kanan sebagai pemomong akan selalu setia mengingatkan melalui suara hati agar tetap kuat dan teguh imannya.

3.              penitis berbentuk seperti setengah bulatan telur ayam pada bagian ujung. Bentuk ini mempunyai ukuran lebih kecil dari pada gajahan. Ada dua penitis seperti halnya pengapit, bentuk ini terletak pada bagian luar dari pengapit kanan dan pengapit kiri. Ujung penitis menghadap ke ujung alis. Merupakan symbol kearifan dan harapan agar mempunyai tujuan yang tepat.

4.              godheg berbentuk seperti kudhup atau kuncup bunga turi dengan ukuran mirip dengan pengapit. Bentuk ini berada di dekat telinga kanan dan kiri. Pembuatan godheg dimulai dari atas telinga turun melengkung sampai di depan telinga. Melambangkan bahwa manusia harus mengetahui asal usul dari mana ia datang dan ke mana harus pergi. Manusia diharapkan dapat kembali ke asal dengan sempurna.

5.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†alis penari berbentuk menyerupai tanduk kijang bercabang satu atau disebut menjangan ranggah. Melambangkan bahwa agar dapat mengatasi segala serangan buruk dari beberapa arah harus selalu waspada dan bijaksana atau ‚Äútanggap ing sasmita‚ÄĚ.

Bentuk-bentuk tersebut dioles dengan lotha yaitu ramuan berwarna hijau yang dibuat dari campuran malam kote, minyak jarak, dan daun dhandhang gula. Pada jaman dahulu ramuan tersebut dibuat dari daun yang berbau wangi, disebut daun dhandhang gendhis, sehingga rias wajah penari tersebut disebut paes dhandhang gendhis.

Sebagaimana pengantin, maka rambut para penari Bedhaya Ketawang juga disanggul, yang disebut sebagai sanggul bokor mengkurep. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai bokor yang tengkurap. Sanggul ini ditutup dengan rajutan melati dan dihias  dengan bunga tiba dhadha yang dibuat dari roncean melati berbentuk bulat panjang sampai tengah paha. Keanggunan dan keagungan tata busana dan rias tersebut ditunjang dengan pemakaian seperangkat perhiasan yang biasa dikenakan pengantin, yang disebut raja keputren, meliputi cundhuk jungkat, centhung, subang, 9 buah cundhuk mentul, garuda mungkur, kalung, kelat bahu, slepe, serta cincin.

Keseluruhan tata busana dan rias pengantin yang dikenakan oleh para penari Bedhaya Ketawang tersebut seolah mereaktualisasikan perjanjian antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Bahwasanya Kanjeng Ratu Kidul akan senantiasa menjaga dan melindungi Kerajaan Mataram, salah satunya dengan ia akan selalu memperbaharui pernikahannya dengan raja ‚Äď raja Mataram. Oleh karena itu Sunan biasanya akan mengangkat salah satu penari Bedhaya Ketawang sebagai selirnya. Hal ini dilakukan untuk mereaktualisasikan pernikahannya dengan Kanjeng Ratu Kidul yang dipercaya selalu hadir setiap tari ini dibawakan. Kanjeng Ratu Kidul dipercaya akan masuk ke tubuh salah satu penari, yang kemudian diangkat sebagai selir oleh raja. Oleh karena itu para penarinya haruslah memenuhi syarat-syarat sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Pustaka :

Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia

Djandjang Purwo Sedjati, ‚ÄúBusana Tari Bedhaya Ketawang: Ragam Hias dan Makna Simboliknya‚ÄĚ, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2004.

Nunuk Rahayu, ‚Äú Tari Bedhaya dalam Upacara Perkawinan Agung di Kraton Surakarta Masa Paku Buwana X 1893-1939‚ÄĚ, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1994.

Tutik Winarni, ‚ÄúTari Golek Gaya Yogyakarta Sebuah Akulturasi Budaya Rakyat dan Budaya Istana‚ÄĚ, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1997.

Yuli Sectio Rini, ‚ÄúKajian Sistem Pembinaan Seni Tari Gaya Istana Surakarta pada Masa Susuhunan Paku Buwana X (1893-1939)‚ÄĚ, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1997.

Sumber