HARI TARI SEDUNIA (WORLD DANCE DAY) 29 APRIL

Pastinya banyak yang masih tidak tahu bahwa ternyata ada sebuah peringatan tari sekelas dunia/international yang dirayakan setiap tahunnya, yaitu setiap tanggal 29 April.

Menurut sejarahnya, Hari Tari Sedunia ini ditetapkan sebagai bentuk penghormatan kepada Jean Georges Noverre, seorang pencipta tari balet modern berkebangsaan Perancis. Jean Georges Noverre lahir pada 29 April 1727 dan wafat tanggal 19 Oktober 1810.

Hari Tari Sedunia (World Dance Day) diperkenalkan tahun 1982 oleh was International Dance Committee of the International Theatre Institute (ITI), sebuah lembaga rekanan UNESCO, NGO. Tanggal 29 april sebagai tanggal lahir Jean-Georges Noverre diusulkan oleh International Dance Committee of ITI. Karena Jean-Georges Noverre adalah seorang pencipta ballet modern dan penemu dari sebuah karya yang terkenal yaitu, Lettres sur la danse yang dipublikasikan tahun 1760 di Lyon.

Setiap tahunnya, seorang koreografer atau penari ternama atau terhebat diundang untuk menyampaikan sebuah pesan untuk dunia. Kriterianya ditentukan oleh pendiri World Dance Day – the International Dance Committee of ITI, bekerjasama dengan World Dance Alliance, anggota kerjasama dari ITI. Beberapa diantaranya sebagai pembicara tersebut adalah  Merce Cunningham, Maurice Béjart, Akram Khan and Anne Teresa De Keersmaeker yang telah menyampaikan pesannya atau berpartisipasi dalam World Dance Day di UNESCO.

Tujuan dari “International Dance Day Message” (World Dance Day) adalah untuk merayakan tari, merombak universalitas dari sebuah bentuk seni, untuk melintasi berbagai rintangan politik, budaya dan etnis serta membawa seluruh bangsa dunia kepada satu bahasa yang sama yaitu tari.

Setiap tanggal 29 April inilah seluruh bangsa merayakannya dengan menampilkan beragam tari-tarian khasnya masing-masing.

Beberapa negara mengadakan berbagai pertunjukkan di jalanan dan di gedung-gedung kesenian. Parade tari dan Festival dipenuhi oleh ratusan penari dari berbagai sanggar tari (studio tari).

New York, misalnya. Pada tahun 2013 menyelenggarakan Dance Parade, dengan beberapa penampilan sebagai berikut:

  • Andanza Flamenco (FLAMENCO)
  • Dancing Rubies (BELLY DANCE)
  • Fusha Dance Company (AFRICAN)
  • Mazarte Dance Group (MEXICAN CARNIVAL)
  • Neville Dance Theatre (CONTEMPORARY)
  • NIWA (MODERN)
  • RISE Hip Hop (HIP-HOP)
  • Jehan’s Belly Dance Raks Stars (BELLYDANCE)
  • The Shakedown (FUNK)
  • Times Squares Square Dance Club (MODERN WSTRN SQUARE)

Di Pakistan, dirayakan dengan tari jalanan tari kontemporer yang diberi judul “Dancing amid sparks and shadows”

Di Indonesia, perayaan Hari tari Sedunia tahun 2013, Solo adalah salah satu daerah yang merayakan Hari Tari Sedunia dengan sangat besar dan meriah. Di kota pusat budaya Jawa tersebut digelar acara menari 24 jam tanpa henti di berbagai lokasi, di jalanan, di Mall juga di Bandara. Bahkan Wali Kota dan Wakil Walikota juga terlibat dan ikut menari bersama ratusan orang. Solo sudah 7 tahun menggelar acara seperti ini.

Di Denpasar, tepat tanggal 29 april 2013, Alunan instrumen musik tradisional gong bleganjur bertalu-talu memecah keheningan suasana kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar secara spontan. Tari legong massal juga dibawakan oleh para mahasiswa ISI mewarnai pementasan di panggung terbuka ISI Denpasar yang berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 21.00 hingga 24.00 waktu setempat.

Di Malang, pada tahun 2013, Festival Seribu Topeng yang dipadu dengan tarian dengan melibatkan 44 grup berasal dari berbagai sekolah di Kota Malang. Peserta festival terdiri dari 44 grup mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi. Setiap grup beranggotakan 25 orang penari topeng sehingga jumlah keseluruhan mencapai 1.200 penari topeng.

Di Makassar, tahun 2013, mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) mempertunjukkan 6 judul tari khas masyarakat Sulawesi Selatan di Anjungan Pantai Losari, Sulawesi Selatan.

Di Pekanbaru, Riau yang telah 7 kali menyelenggarakan acara peringatan Hari Tari Sedunia, tahun 2013 menampilkan lebih dari 26 ( dua puluh enam ) karya tari tidak hanya tari khas masyarakat Riau tetapi juga tari-tari nusantara seperti Reog Ponorogo, Jaran Kepang (modern), Tari Jejer Banyuwangi, dan juga Barongsai.

Begitu banyaknya seni tari Indonesia, jika diurutkan dari Sabang – Merauke, jika pada peringatan Hari Tari Sedunia media-media bekerjasama meliput dan menyiarkan secara langsung seluruh acara secara bergantian, pasti menjadi sangat ramai seperti perayaan tahun baru. Menjadikan masyarakat sadar dan peduli bahwa dunia sangat menghargai budaya tari sebagai bahasa universal. Dan seharusnya kita sebagai bangsa yang punya kekayaan tari yang banyak dan unik, lebih bisa berbangga dan turut melestarikannya.

 

 

Sumber:

http://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Dance_Day

http://www.international-dance-day.org/en/danceday.html

http://www.gotoriau.com/city-guide/seni-budaya/menarilah-sampai-kapan-kita-bisa

http://www.makassartv.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10956&catid=3&Itemid=56

http://www.aktual.co/warisanbudaya/192036malang-peringati-hari-tari-sedunia

http://m.detik.com/news/read/2013/04/29/110239/2232738/10/ratusan-warga-solo-peringati-hari-tari-beraksi-di-mal-hingga-bandara

http://oase.kompas.com/read/2013/05/04/09161755/Acara.Spontan.Peringatan.Hari.Tari.Sedunia

http://dawn.com/2013/05/08/dancing-amid-sparks-and-shadows/

http://danceparade.org/wp/international-dance-day/

 

 

TROWULAN, BEKAS IBUKOTA MAJAPAHIT – SISA-SISA KEBESARAN KERAJAAN MAJAPAHIT

Situs Trowulan, Mojokerto

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan yang berhasil memepersatukan hampir seluruh wilayah Nusantara sekarang. Pengaruhnya bahkan sampai di Negara-negara tetangga di daratan Asia. Kini bekas ibukota kerajaan majapahit masih dapat disaksikan di Trowulan, sebuah daerah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto, letaknya kurang lebih 13 kilometer kea rah Jombang.

Di daerah Trowulan dan sekitarnya terdapat banyak sisa peninggalan Majapahit. Yang tampak dipermukaan tanah antara lain, berupa candi, pintu gerbang, kolam, pondasi-pondasi bangunan, serta benda-benda purbakala lainnya berupa arca, yoni, batu bertulis (Prasasti), umpak-umpak batu, dan sebagainya

Peninggalan-peninggalan yang dapat disaksikan dikawasan tersebut antara lain, Candi Wringin lawang, Candi Brahu, Kolam Segaran, Makam Putri Campa, Komplek Makam Tralaya, candi Minak Djinggo, Sumur Upas, Candi Kedaton, Candi Tikus, Situs Klinterejo, dan benda-benda lainnya yang disimpan dalam sebuah mesuem Purbakala Trowulan yang dibangun pada tahun 1920

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar. Bangunan yang mirip dengan gapura Bali tersebut dikenal dengan nama gapura Jati-pasar atau gapura Gapit. Sedang nama Wringin Lawang diberikan oleh penduduk karena dulu di depan bangunan tersebut tumbuh beringin berjajar dua yang menyerupai pintu (lawang).

Sebuah tradisi tutur rakyat yang dicatat oleh J. Knebel pada tahun 1907, menyebutkan bahwa dulu di keraton Majapahit, terdapat empat gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur di desa Sdati, di selatan di Desa Gumitir, di barat di Desa Trowulan dan si utara di desa Jatipasar. Bila cerita tersebut mengandung kebenaran candi Wringin Lawang yang dapat disaksikan saat ini merupakan gerbang di utara. Sedang yang lainnya sudah tidak tampak .

Candi Brahu

Di tengah sawah, agak jauh dari pemukiman, tampak sebuah candi besar yang disebut dengan Candi Brahu. Candi yang mengahadap ke barat dan mempunyai tinggi 21,30 meter ini terbuat dari batu bata diperkirakan berfungsi sebagai tempat pemujaan. Namun dari cerita rakyat ada yang menyebutkan bahwa Candi Brahu dibangun oleh raja Brawijaya, yang berfungsi sebagai tempat pembakaran dan penyimpanan abu raja-raja Majapahit. Tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk mencari kebenarannya.
Berdekaran dengan Candi Brahu pernah pula ditemukan beberapa candi lain dari bahan yang sama. Tetapi semuanya sudah runtuh dan sulit ditemukan sisa-sisanya. Hanya Candi Gentong yang dapat ditemukan pondasinya.

Kolam Segaran

Kolam Segaran, Mojokerto

Agak ke selatan dari Candi Brahu, yaiut di desa Trowulan dapat dijumpai sebuah kolam besar yang oleh penduduk dikenal dengan nama Kolam Segaran. Kolam ini berbentuk segi empat dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter. Ketika dikunjungi Raffles tahun 1815, kolam tersebut sudah tertimbun tanah dan tidak berair. Kini kolam seharan telah selesai difugar, disebelah selatan ditemukan sisa-sisa balai. Dengan adanya sisa-sisa tersebut kolam segaran dapat diperkirakan sebagai tempat rekreasi dan mungkin juga sebagai waduk tempat menampung air. Namun cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa kolam berfungsi sebagai tamansari, tempat para raja, dan istri dan keluarga bercengkrama dan sekalis tempat menjamu para tamu raja.

Kompleks Makam

Kompleks Makam Troloyo, Mojokerto

Di sebelah timur laut dari Kolam Segaran ditemukan kompleks makam. Masyarakat sekitar menyebutnya Makam Putri Sampa (campa/cempo). Bagaimana ceritanya sampai disebut demikian memang belum jelas. Tetapi dalam sejarah dapat diketahui bahwa hubungan dengan Campa sudah berlangsung sebelum jaman Majapahit.

Dua kilometer dari makam Putri Campa dapat dijumpai Makam Tralaya (Troloyo) yang merupakan makam Islam. Dengan demikian menunjukan bahwa pada abad ke-15 agama Islam telah masuk ke ibukota kerajaan Majapahit. Makam Tralaya merupakan kompleks makam yang luas dan dikelilingi tembok, di dalammnya terdapar kelompok malam yang berisi 9 buah makam yang amat panjang. Menurut dongeng makam tersebut hanyalah perilasan paara wali yang datang bersama-sama menyerbu Majapahit, dan di tempat tersebut mengislamkan Raja Brawijaya. Kemudian agak ke barat dapat dijumpai tujuh buah makam yang dipagari tembok keliling. Makam ini dalah makam keluarga raja atau pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam.

Candi Minakdjinggo

Kurang lebih 300 meter dari Kolam Segaran ke arah timur , dapat dijumpai kelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menujukan bekas bangunan candi. Dulu di tempat tersebut ditemukan arca besar berwajah raksasa setinggi 1,48 meter, sehingga tempat tersebut dikenal dengan Candi Minakdjinggo. Arca tersebut kini dapat disaksikan di Museum Purbakala Mojokerto.

Candi Bajangratu

Di Desa Temon ditemukan juga sebuah candi yang agak utuh dengan tinggi 16.5 meter. Candi ini dikenal dengan nama Candi Bajangratu. Diperkirakan dibangun pada abad XIV. Terbuat dari batu-bata dan berbentuk sebuah gerbang dengan atap bertingkat berbentuk kubus. Setiap tingkat atap dihiasi dengan pahatan ornament sehingga tampak indah.

Candi Tikus

Di desa yang sama, tidak jauh dari Candi Bajangratu ditemukan juga sebuah candi. Ketika ditemukan terdapat banyak tikus hingga kini orang menyebutnya dengan Candi Tikus. Candi ini merupakan sebuah candi pemandian berbentuk kolam segi empat. Airnya keluar dari sejumlah pancuran yang terbuat dari batu andesit berbentuk makara atau teratai kuncup.

Pada teras pertama terdapat 8 buah candi menara demikian juga pada teras kedua. Secara keseluruhan teras beserta candi menara seperti menggambarkan puncak gunung (Mahameru) yang dikelilingi oleh 16 anak bukit. Melihat keindahan bentuk candi ini diperkirakan dibuat pada jaman keemasan Majapahit pada abad XIV. Candi serupa serupa Candi Tikus dijumpai di desa Kepungpada kedalaman 8 meter.

Sumur Upas dan Candi Kedaton

 

Tahun 1966, dibangun sebuah Pendopo besar di Trowulan yang disebut Pendopo Agung. Di tempat ini sebelumnya ditemukan umpak (alas tiang) terbuat dari batu besar dan dua buah tiang batu. Tidak jauh dari Pendopo Agung terdapat sebuah situs yang disebut Sumur Upas. Sumur Upas merupakan lubang yang kini sudah ditutupi batu dan dibuatkan sungkup.

Ada beberapa pendapat yang menjadi dasar penamaan sumur tersebut menjadi SUMUR UPAS. Diantaranya yang saya dengar adalah :

  1. Sumur itu mengandung kadar racun yang sangat tinggi (pengaruh geologis lokasi) terutama WARANGAN, yang mampu merusak sistem saraf manusia dengan sangat cepat. Itulah sebabnya air disini bagus untuk merendam pusaka.
  2. Sumur tua ini dihuni banyak mahluk berbisa (yang saya pernah lihat dan sering temukan di sekeliling sumur adalah : Kalajengking, Lipan, Ular Welang dan Kodok Bangkong beracun). Saya nggak tahu logikanya kenapa mahluk-mahluk beracun ini senang mendekat kearah sumur ini, walaupun di lokasi yang sama ada juga sumur lain. Atau bisa juga karena adanya pohon beringin besar yang menaunginya itu (efek lembab) lihat di foto atas. Sekarang pohon itu sudah ditebang dan tidak ada lagi.
  3. SUMUR UPAS dalam pengertian kiasan atau sanepan. Karena tempat ini adalah tempat pendidikan Ksatrya keluarga raja yang kelak mewarisi tahta, juga mendidik senopati utama dan raja-raja bawahan, maka bagi lawan lokasi ini adalah SUMBER RACUN bagi kekuasaan mereka. Karena doktrin pendidikan yang keras (BELA NEGARA), akan melahirkan pemimpin tangguh yang menjadi pesaing lawan-lawan Majapahit.

Di tempat ini juga terdapat pondasi yang diperkirakan kaki candi. Menurut catatan lama kompleks ini disebut dengan Candi Kedaton.

Di luar daerah Trowulan pun masih ditemukan peninggalan sejarah yang masih berkaitan dengan Majapahit. Misalnya di wilayah Kecamatan Soko ditemukan yoni yang memuat pahatan angka tahun 1294 saka (1372 M). angka tersebut bertepatan dengan meninggalnya Bhre kahuripan, sehingga diperkirakan debagai candi pemakaman dari Bhre Kahuripan atau Tribuwana Tunggadewi, ibu dari Raja Hayam Wuruk.
Dapat dibayangkan alangkah luas dan megah ibukota kerajaan Majapahit di masa lampau. Rahasia Trowulan masih banyak yang belum terungkap. Kiranya partisipasi masyarakat untuk senantiasa ikut memelihara situs kepurbakalaan ini sangat diharapkan.

Sumber:

kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1094/trowulan-bekas-ibu-kota-majapahit
/wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/01/29/candi-kedaton-sumur-upas-peninggalan-kerajaan-wilwatikta/

Gubernur Jatim, Soekarwo Pertahankan Trowulan Sebagai Cagar Budaya

Oleh :Dept. Konservasi Nilai Budaya

Surabaya, 4 Maret 2015

Gubernur Jatim, Soekarwo bersikukuh mempertahankan kawasan Trowulan, Mojokerto sebagai cagar budaya, karena merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit.

“Saya bertanggung jawab, sebagai wakil pemerintahan pusat tidak mudah menerima tekanan dari manapun. Untuk menjaga jati diri bangsa, sejarah Majapahit harus dipertahankan”

Hal itu ditegaskan Soekarwo ketika menerima audiensi rombongan Dewan Kesenian Provinsi Jatim dan para penggiat pelestari cagar budaya, di Ruang Kertanagera, Kantor Gubernur, Surabaya, Selasa (3/3).

Menurut Soekarwo, ada tiga hal yang akan dilakukan untuk mempertahankan situs cagar budaya Trowulan. Pertama, dirinyaakan mengirim surat ke Bupati Mojokerto dan akan mengundang pimpinan Dewan, karena DPRD juga harus memahami dan mencarikan solusi jika ada tuntutan dari perusahaan yang akan membangun pabrik.

“Selama ini prosedur yang dilakukan sudah benar hanya karena kesalahan Perda dari sisi Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Mojokerto yang diperuntukan kawasan industri. Tapi saya tidak setuju di kawasan cagar budaya itu dibangun pabrik,” jelasnya,

Selanjutnya, berkaitan dengan surat dari Kemendagri RI no 430/123/PUM perihal : penetapan kawasan cagar budaya di Trowulan Mojokerto, Pakde Karwo memerintahkan Kepala Disbudpar Jatim Djariyantomelakukan pembenahan secara struktural dengan membuat konsep surat ke Dirjen Kebudayaan, untuk menjelaskan bahwa cagar budaya tidak bisa dipindah, dan diharapkan untuk menelaah kembali keputusan mencabut Trowulan sebagai cagar budaya.

“Tidak bisa memindah Majapahit ke tempat lain, Majapahit tempatnya ya di Trowulan. Yang bisa dipindah pabriknya ke tempat lain,” tegas Pakde Karwo.

Kepada komunitas pelestari cagar budaya Trowulan, Pakde mengatakan bahwa menghadapi intrik-intrik itu biasa, tidak perlu terlalu gelisah terhadap intimidasi, justru harus bangga dianggap sebagai orang penting, tapi harus tetap hati-hati menghadapinya.

”Kita tidak ingin melakukan konfrontasitapi menegakkan melaui budaya musyawarah mufakat, namun tetap teguh mempertahankan substansinya bahwa kawasan Trowulan sebagai cagar budaya, tentunya dilengkapi dengan kajian dan hasil penelitian, dan saya tidak setuju jika dibangun pabrik, apalagi izin mendirikan bangunan belum keluar,” tandasnya.

Sumber:
http://dkjatim.com/news/content/gubernur-jatim-pertahankan-trowulan-sebagai-cagar-budaya

PERAN SANGGAR TARI & SEKOLAH SENI

Oleh : Risang Anom Pujayanto

Dalam kisaran angka tahun 1990an, geliat sanggar tari seperti tidak terbendung. Di Surabaya, daerah Genteng saja terdapat sanggar tari Solo, sanggar tari PLT Bagong, sanggar tari Sunda, sanggar tari Modern, sanggar tari Bali, Yayasan Bina Tari Jatim. Saat ini, beberapa sanggar masih bertahan dan yang lain telah kehilangan eksistensi. Kematian beberapa sanggar tari tersebut bukan berarti mengurangi rutinitas sanggar tari di Jatim, khususnya Surabaya. Pasalnya, setiap sanggar tari yang mati diganti sanggar-sanggar tari baru. Raff dance, Gita Marron, Studio Tydif, Candi Ayu merupakan di antaranya. Bahkan saat ini di daerah Simo, Kenjeran, Semolowaru, Kebaron, dan hampir di seluruh wilayah kecamatan Surabaya juga terbit sanggar-sanggar baru. Artinya, kondisi saat ini sanggar tari mulai kembali seperti era 1990an.

Patut disayangkan potensi di titik-titik ini kurang mendapat perhatian dari instansi daerah yang menaungi. Akibatnya, pendapat miring pun terdengar nyaring. Bahwasannya, nasib sanggar diperkirakan tidak bakal bertahan lama.

”Sudah beruntung Surabaya masih memiliki puluhan sanggar. Sepatutnya ini terus dijaga dan dioptimalkan potensinya,” pinta Ketua Yayasan Bina tari Jatim, Tri Broto Wibisono. Wisata seni merupakan salah satu proyek yang bisa dibangun ke depannya. Selain akan menambah devisa negara dari pemasukan turis yang berhasrat pada tarian-tarian etnik, juga dapat menelurkan generasi penari, lanjutnya.

Kepedulian akan seni tari memang masih dalam tataran rendah. Dan, ramalan akan sanggar nyaris meraih kenyataan. Di berbagai sanggar mengakui, minat generasi tari dari waktu ke waktu terus mengalami penurunan. Peminat terbanyak masih diikuti oleh anak-anak. Ironisnya, ketika mulai beranjak dewasa, masing-masing peserta didik seni tari memilih tidak melanjutkan tari.

”Karena apresiasi masyarakat metropolik menurun,” sahut pimpinan tunggal Studio Tydif Surabaya, Dra Diaztiarni Azhar. Sehingga menimbulkan kesan kesia-siaan mempelajari tari dalam diri setiap peserta tari. Implikasinya, dari berbagai sanggar yang tersebar dan yang masih tetap menjaga eksistensinya, dikentarai hanya sebagian kecil yang bisa dikatakan produktif. Lainnya hanya syukur bertahan saja, tambahnya.

Secara materi, untuk mengadakan satu pagelaran tari memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi tidak mungkin menyalahkan sanggar tari, jika geliat seni tari tidak populer di daerah sendiri. Sokongan dana dan ruang dari instansi pemerintah dan perusahaan swasta menjadi harapan yang bisa mengubah keadaan tari di daerah sendiri. Apresiasi dari kedua instansi tersebut pernah menjadi primadona seni tari di era 1990an.

Saat ini, beberapa apresiasi formal tersebut masih kerap ditemui. Hanya saja frekuensi ditentukan seiring momentum-momentum tertentu. Fatalnya untuk saat ini, ketika perhatian itu didapat justru menimbulkan kerancuan-kerancuan baru. Ketika ada even kenegaraan, misalnya, pemilihan partisipan sanggar tidak pernah merata. Hanya sanggar-sanggar tertentu yang menjadi pilihan. Sedangkan apabila apresiasi datang dari pihak swasta, keberadaan tari menjelma budak yang wajib menuruti kemauan tuannya. Dan, seni mengalami perombakan total menjadi komoditi belaka.

Dalam sekolah seni pun tidak berbeda. Di Jatim, seni merupakan pendidikan wajib untuk siswa setara tingkat dasar, kecuali di sekolah pendidikan khusus seni. Ini berbeda dengan daerah Jateng. Sebagai pendorong kesenian untuk tetap bersemi, pemerintah memasukkan seni ke dalam kurikulum jalur prestasi untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Dengan begitu, perihal pembinaan seni diakui jauh lebih baik.

”Seni berkaitan dengan aspek moral. Beberapa orang yang berminat dalam bidang ini saja merupakan intan mutiara yang wajib dijaga. Bukan karena secara kuantitas minim, malah justru tidak mendapat dukungan,” jelas Tri Broto. Tak ayal, pendidikan pun menjadi kering makna moral. Selain itu, di pendidikan tinggi seni, mahasiswa seni ditengarai sekadar memenuhi tuntutan pendidikan. Pasca lulus pendidikan, seni tak ubahnya bak barang yang usang dan siap dibuang. Karena itu, kontribusi tari jatim justru dihasilkan dari sanggar ketimbang perguruan tinggi.

Kepala Sendratasik Unesa jurusan Tari, Drs Djoko Tutoko MSn mengatakan, sejatinya pembinaan tari di sekolah seni masih bagus. Pasalnya, terdapat dukungan finansial dan apresiasi dari instansi yang menaungi di atasnya. Kegiatan lomba, pagelaran, diskusi, workshop dan sebagainya bagian yang tidak terputus dalam sekolah seni.

”Bahkan, Sendratasik Unesa berencana akan memfasilitasi pagelaran antarsanggar tari seJatim bulan Oktober nanti,” katanya. Hanya saja mental berkesenian memang masih terus menjadi pekerjaan rumah tersendiri, mengingat lingkungan masyarakat seni Jatim kurang mendukung.

Etnik dan kontemporer. Dua medium material yang menjadi basis eksplorasi sanggar dan sekolah seni. Komoditi dan seni murni. Dua obyek material yang menjadi orientasi pemilihan sanggar dan sekolah seni. Sejauh ini, menurut pimpinan Raff Dance Arif Rofiq, kecenderungan tari sanggar yang tidak lagi pada tataran seni, melainkan komoditi, sejatinya tidak selalu benar. Sebab, tipikal tari tradisi adalah paket tari etnik yang bisa dipelajari sebagai bahan pencetak generasi penari handal. Tidak dipungkiri, pergeseran tujuan sanggar merupakan keniscayaan yang sukar dihindarkan. Namun meski demikian, seharusnya dalam kepentingan ekspresi seni, orang tari serta-merta harus terjebak harus menampilkan seni kontemporer.

”Kontemporer sering dipahami ke balet-baletan. Asal gerak mulet dalam improvisasu,” tutur Arif Rofiq.

Dengan begitu, tubuh penari sebagai media ekspresi seringkali menyajikan tubuh yang kaya nuansa tetapi kering makna. Ikon-ikon tradisi yang ditayangkan seringkali menjadi nuansa dan kilasan kesan, pesan pintas. Dalam konteks yang lebih mendalam idiom dan medium tradisi dikemas untuk menyatakan nilai-nilai baru, gagasan baru yang secara signifikan tidak terkait dengan nilai dan semangat aslinya.

”Obyek material tradisi etnik dipaksa menjelejahi ruang dan makna yang baru. Seringkali terlepas dari budaya dan keutuhan kosmisnya, menjadi simbol yang sama sekali baru,” ucap pengajar STKW dan penari lulusan STSI Surakarta, R Djoko Prakosa SSn.

Kontemporer harus tumbuh dari tari lokal secara mandiri. Dengan mengamati apa saja yang bisa dieksplor sedemikian rupa. Bahkan, menurut Tri Broto, pengurangan durasi waktu yang paten dalam suatu pementasan tari pun bisa dikatakan sebagai kontemporer. Daripada harus mengacu pada asal percampuran tari lokal dan tari dari luar. Sebab, apabila kontemporer yang dimaksud ialah percampuran serampangan tanpa pijakan tari lokal, maka jati diri tari lokal kontemporer akan ditemukan di setiap daerah-daerah lain. Katakanlah, tari kontemporer Jatim akan sama dengan kontemporer tari Solo, karena adanya kesengajaan persinggungan antarkeduanya.

Sanggar tari dan sekolah seni merupakan pusat dari kegemilangan seni dan moral di Jatim, maka seyogyanya diperhatikan dan dimanfaatkan kesempatan segala potensi. Membiarkan perkembangan secara mandiri sama halnya melakukan perjudian. Antara kematian dan perbaikan. Sementara apabila area ini dioptimalkan, dapat dipastikan penari hiburan, penari profesional, dan seniman tari hadir mewarnai dan bakal semakin mengangkat nama besar Jatim. Sebab tanpa diperhatikan saja, tari Jatim sudah disegani di level nasional maupun mancanegara.

Sumber

Tolak Ukur Keberhasilan Anak Berlatih Seni Tari

Sebagai orangtua tentunya kita memiliki banyak sekali pengharapan pencapaian dari anak-anak kita setelah mereka menjalani suatu pembelajaran. Baik dalam bidang pengetahuan Bahasa, Angka, Alam dan bahkan seni. Namun bagaimanakan kita dapat mengukur keberhasilan anak dalam pembelajaran seni, terutama seni tari?

Pendidikan seni yang pada hakekatnya merupakan pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman apresiasi estetik, disamping mampu memberikan dorongan ber-“ekstasi” lewat seni, juga memberi alternatif pengembangan potensi psikis diri serta dapat berperan sebagai katarsis jiwa yang membebaskan. Ross mengungkapkan bahwa kurikulum pendidikan seni termasuk kurikulum humanistic yang mengutamakan pembinaan kemanusiaan, bukan kurikulum sosial yang mengutamakan hasil praktis (Ross 1983). Sedangkan menurut Read (1970) pendidikan seni lebih berdimensikan sebagai “media pendidikan” yang memberikan serangkaian pengalaman estetik yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa individu. Sebab melalui pendidikan ini akan diperoleh internalisasi pengalaman estetik yang berfungsi melatih kepekaan rasa yang tinggi. Dengan kepekaan rasa yang tinggi inilah, nantinya mental anak mudah untuk diisi dengan nilai-nilai religiousitas, budi pekerti atau jenis yang lain. Definisi dan pemaknaan “kearifan” diperlukan syarat-syarat: pengetahuan yang luas (to be learned), kecerdikan (smartness), akal sehat (common sense), tilikan (insight), yaitu mengenali inti dari hal-hal yang diketahui, sikap hati-hati (prodence, discrete), pemahaman terhadap norma-norma dan kebenaran, dan kemampuan mencernakan (to digest) pengalaman hidup (Buchori 2000 dalam Sindhunata 2001: 25). Semua nilai-nilai itu terkandung dengan sarat dalam dimensi pendidikan seni, karena berorientasi pada penekanan proses pengalaman olah rasa dan estetis.

Pendidikan seni yang diajarkan di sekolah saling berkaitan antara seni suara, gerak, rupa dan drama, karena seni memiliki sifat multilingual, multidimensional dan multikultural. Pendidikan seni dapat mengembangkan kemampuan manusia dalam berkomunikasi secara visual atau rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya (Goldberg 1997: 8). Selain itu, pendidikan seni juga dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya majemuk (Kamaril 2001: 4).

Pendidikan seni sangat penting diberikan sejak anak usia dini. Perkembangan anak usia dini dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu fase orok, fase bayi, fase prasekolah (usia Taman Kanak-Kanak), fase anak sekolah (usia anak Sekolah Dasar) dan fase remaja (Yusuf 2001: 149). Salah satu fase perkembangan yang berlangsung dalam kehidupan anak adalah tahap prasekolah yang berlangsung sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya) (Yusuf 2001: 162-163). Pada masa usia prasekolah ini, berbagai aspek perkembangan anak sedang berada pada keadaan perubahan yang sangat cepat, baik dalam kemampuan fisik, bahasa, kecerdasan, emosi, sosial dan kepribadian.

Perkembangan motorik anak pada usia ini, ditandai dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf otot (neoromuskuler), sehingga memungkinkan anak lebih lincah dan aktif bergerak. Dalam masa ini tampak adanya perubahan dalam gerakan yang semula kasar menjadi lebih halus yang memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot yang lebih halus serta terkoordinir. Untuk melatih ketrampilan dan koordinasi gerakan, dapat dilakukan dengan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, kubus-kubus, bola, balok titian, dan tongkat.

Menurut Yusuf (2001: 164), kemampuan motorik anak dapat dideskripsikan sebagai berikut. Kemampuan motorik kasar usia 3-4 tahun adalah naik turun tangga, meloncat dengan dua kaki, melempar bola, meloncat,sedangkan kemampuan motorik halus anak adalah menggunakan krayon, menggunakan benda/alat, menirukan bentuk (gerakan orang lain). Kemampuan motorik kasar anak usia 4-6 tahun adalah mengendarai sepeda anak, menangkap bola, bermain olah raga. Kemampuan motorik halus anak usia 4-6 tahun adalah menggunakan pensil, menggambar, memotong dengan gunting, menulis huruf cetak.

Sementara itu, gerakan yang sering dilakukan anak-anak dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu (1) motorik statis, yaitu gerakan tubuh sebagai upaya memperoleh keseimbangan gerak pada saat berjalan, (2) motorik ketangkasan, yaitu gerakan untuk melakukan tindakan yang berwujud ketangkasan dan ketrampilan, (3) motorik penguasaan, yaitu gerak yang dilakukan untuk mengendalikan otot-otot tubuh sehingga ekspresi muka terlihat jelas (Zulkipli 1992 : 32).

Dalam hal pembelajaran seni tari dimana anak tidak hanya belajar bergerak tetapi juga belajar mensinkronisasi gerak dengan musik dan kekompakan gerak dengan teman lainnya, maka yang dilatih tidak hanya motorik kasar tetapi juga motorik halus. Di dalam berlatih tari anak, anak harus belajar meniru dan menurunkan egonya ketika menari. Mereka harus belajar menyesuaikan geraknya agar sama dengan pelatih dan sama dengan teman-teman lainnya dalam kelompok. Kecerdasan Emosional anakpun dilatih.

Mungkin ada beberapa orangtua yang berharap terlalu muluk atau terlalu besar terhadap anaknya ketika mengikuti pelatihan tari. Orangtua memiliki bayangan bahwa anak bisa tiba-tiba menjadi luwes dalam berjalan, dalam melambai dan ataupun berputar setelah hanya beberapa bulan berlatih. Ketika hal tersebut ternyata tidak tampak terlihat, orangtua langsung berkesimpulan bahwa pelatihan tersebut gagal dan atau anaklah yang tidak punya kemampuan, maka kemudian memutuskan menghentikan pelatihan.

Padahal seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa pelatihan tari pada anak tidak hanya bertujuan agar anak bisa menari tetapi melatih kecerdasan emosional anak. Karena anak yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) tinggi adalah anak-anak yang bahagia, percaya diri, populer dan sukses.

Peningkatan kecerdasan emosional anak usia dini melalui pembelajaran seni tari dapat dilihat melalui: (1) timbulnya perasaan bangga, (2) memiliki sifat pemberani, (3) mampu mengendalikan emosi, (4) mampu mengasah kehalusan budi, (5) mampu menumbuhkan rasa bertanggung jawab, (6) mampu menumbuhkan rasa mandiri, (7) mudah berinteraksi dengan orang lain, (8) memiliki prestasi yang baik, (9) mampu mengembangkan imajinasi, dan (10) menjadi anak yang kreatif.

Timbulnya Perasaan Bangga
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat pada saat anak tampil menari dengan ekspresi tersenyum, tenang, dan gembira. Seorang anak membutuhkan kesepakatan pujian dari orang yang dikagumi, dicintai dan dihormatinya. Mendapat pujian dari orang yang dicintai, dikagumi, akan dapat membuat anak menjadi merasa lebih berarti dan berguna. Pujian tersebut bisa berupa kalimat verbal maupun non verbal sebagai pernyataan kekaguman atas diri anak. Pujian yang disampaikan kepada anak akan menimbulkan sugesti positif bagi anak, sehingga anak terpengaruh untuk menjadi lebih tenang, gembira, aman, optimis dan sebagainya.
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat melalui penampilan anak dalam melakukan gerakan tari yang selalu disertai dengan senyuman, kelincahan dan kegembiraan. Kemampuan menari dan peningkatan gerak motorik anak dapat menimbulkan perasaan bangga pada anak, yang menunjukkan anak memiliki kecerdasan emosional yang baik. Kecerdasan emosional anak terbentuk pada saat anak memulai belajar menari dari gerakan awal yang tidak begitu dikuasai, sampai akhirnya menguasai gerakan tari secara keseluruhan.

Memiliki Sifat Pemberani
Proses pembelajaran seni tari mengajarkan anak berani bergerak dengan bebas, berani bertanya, berani melakukan perintah gurunya, berani menunjukkan kemampuannya, dan berani untuk tampil di hadapan orang lain. Sikap berani anak ditunjukkan melalui cara anak menari dengan bebas tanpa tekanan, selalu tersenyum, tatapan mata yang penuh percaya diri. Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari sikap pemberani anak dalam menari tersebut tercermin dari sikap anak yang berani untuk bertemu dengan orang lain, berani menjawab pertanyaan orang lain, berani bertanya, berani bermain dengan teman sebayanya, berani berada di lingkungan yang baru dan berani mengikuti perintah guru.

Mampu Mengendalikan Emosi
Perilaku anak, baik itu meliputi perilaku yang baik ataupun buruk merupakan bagian dari pengembangan kecerdasan emosional anak. Sesungguhnya anak cenderung memiliki emosi yang lebih kuat daripada orang dewasa, karena anak belum mampu mengembangkan kemampuan menalar sampai dengan usia 9 tahun. Anak yang memiliki kecerdasan emosional kuat akan mampu menciptakan dan mempertahankan hubungan sehat dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Kecerdasan emosional anak terlihat pada anak yang benar-benar dididik dan diarahkan untuk menjiwai dan menghargai terhadap kemampuan dalam melakukan suatu tarian. Anak yang secara rutin belajar tari, secara tidak langsung telah belajar berbuat, merasa, dan menghargai orang lain. Kemampuan anak tersebut sangat berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sementara itu, perlu diperhatikan pula, bahwa faktor dukungan dari sekolah, orang tua dan masyarakat juga mempengaruhi pengendalian emosi anak yang sudah terarah dan terbentuk dengan baik, senantiasa akan berubah dan luntur oleh lingkungan dimana anak berada.

Mampu Mengasah Kehalusan Budi
Pelaksanaan pembelajaran seni tari tidak hanya mengajarkan, melatih dan membimbing anak untuk bergerak mengikuti alunan musik, melainkan dapat juga membimbing dan mengarahkan perilaku anak dengan etika yang baik. Seni tari mengajarkan anak untuk dapat menyesuaikan gerakan dengan musik sehingga anak secara tidak langsung berlatih untuk menggunakan kepekaan dan kehalusan budi/perasaannya agar dapat bergerak sesuai dengan musik. Anak belajar untuk mentaati dan melaksanakan perintah guru dalam pembelajaran seni tari, yang tercermin pada saat guru memberikan contoh gerak dan menyuruh anak untuk memperhatikan, menirukan dan mempraktekkan. Anak belajar untuk mengingat gerakan yang diberikan guru, sehingga anak juga belajar mengasah kognitifnya. Selain kognitifnya terasah, anak juga belajar menanamkan nilai-nilai etika yang mengasah kehalusan budinya melalui kegiatan menari dengan cara belajar menghargai teman, bekerjasama dengan teman, menolong sesama teman, mengikuti perintah guru, menghormati guru, dan memiliki sopan santun.

Mampu Menumbuhkan Rasa Bertanggung jawab
Anak yang bertanggungjawab adalah anak yang mampu melakukan apa yang diinginkannya sekaligus juga mampu melakukan apa yang diinginkan orang lain, mampu memilih mana yang baik dan buruk serta berani menanggung resiko. Untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak harus dilakukan dengan lemah lembut, halus, tegas tetapi penuh pengharapan. Bentuk tanggung jawab yang diajarkan guru kepada anak melalui pembelajaran seni tari adalah: (1) belajar mentaati waktu, apabila waktunya belajar tari sudah tiba maka anak-anak diminta segera untuk menuju ruang berlatih, (2) belajar mengatur dirinya sendiri melalui berbaris rapi, berjajar dengan teman-temannya pada saat mengikuti pelajaran tari, (3) belajar memperhatikan guru pada saat guru menerangkan dan mengikuti semua perintah guru, dan (4) belajar menghafalkan gerakan yang diberikan guru.

Mampu Menumbuhkan Rasa Mandiri
Salah satu ciri anak yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi adalah mempunyai sifat mandiri. Sifat mandiri pada anak dapat ditanamkan melalui pembelajaran tari, caranya dengan mengajarkan anak untuk melakukan tugas-tugasnya secara mandiri. Tugas-tugas anak tersebut antara lain yaitu: mencari tempat di dalam barisan pada saat belajar menari, berjalan tertib menuju ruang latihan menari, menirukan gerak yang diberikan oleh gurunya tanpa disuruh, berani menari sendiri tanpa diberi contoh, berani mengambil tempat minum sendiri, berani menari didepan banyak orang tanpa didampingi gurunya.

Mudah Berinteraksi dengan orang lain
Dalam pembelajaran seni tari, anak diajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya menjawab pertanyaan guru, memperhatikan guru dalam menjelaskan materi, menirukan gerak yang diberikan oleh guru, mempraktekkan gerak yang diajarkan guru, bertanya pada guru apabila mempunyai kesulitan, menyapa teman, berbaris rapi bersama teman, menari bersama teman, mau berbagi dengan teman. Kebiasaan yang diajarkan guru dalam proses belajar menari tersebut dapat diterapkan di dalam perilaku sehari-hari, misalnya mau menjawab pertanyaan orang lain, memperhatikan orang lain yang berbicara dengannya, bertanya atau menyapa pada orang lain, mau bermain dengan teman, berbagi dengan teman, membantu teman yang dalam kesulitan.

Memiliki Prestasi Yang Baik
Belajar menari tidak hanya membuat anak mempunyai tubuh yang lentur dan bugar, akan tetapi lebih jauh lagi, menari mampu membentuk kecerdasan emosional dan logika anak yang dibuktikan dengan prestasi yang baik di dalam pelajaran lainnya. Berdasarkan wawancara dengan seorang guru, bahwa anak-anak yang suka menari dan sering mengikuti pentas menari cenderung memiliki prestasi yang tinggi jika dibandingkan dengan anak yang tidak suka kegiatan menari. Anak yang suka menari mempunyai sifat mudah diajak berkomunikasi, mudah tanggap terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru dan cepat selesai mengerjakannya. Anak juga mempunyai konsentrasi yang baik dalam mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena di dalam proses belajar menari, anak tidak hanya dituntut untuk bisa menghafalkan gerak, tetapi juga dituntut untuk mampu mempraktekkannya sesuai dengan iringan dan mampu mengeskpresikan gerak tersebut dengan baik. Artinya di dalam proses belajar menari, anak belajar 3 hal sekaligus yang tidak didapatkan dalam mata pelajaran lain, yaitu menghafalkan, menyesuaikan gerak dengan musik, dan menjiwai gerakan tersebut.

Mampu Mengembangkan Imajinasi
Dalam pembelajaran tari, pengembangan imajinasi anak dilakukan melalui cerita yang disampaikan oleh guru sebelum memberikan contoh gerak. Selain cerita, foto, gambar, film, keadaan disekeliling anak juga dapat menjadi media pengembangan imajinasi anak. Misalnya, guru akan mengajarkan tari burung, terlebih dahulu anak diberikan cerita mengenai burung, bagaimana burung itu mencari makan, minum, terbang, bertengger, berjalan dan tidur. Kemudian anak diajarkan menirukan perilaku burung tersebut sesuai dengan imajinasi anak sendiri. Guru hanya mengarahkan gerakan yang dibuat anak berdasarkan imajinasinya tersebut supaya menghasilkan gerak yang baik. Guru harus menghargai karya anak tersebut, tidak boleh mencela atau mengatakan buruk, karena hanya akan mematahkan daya imajinasi anak.

Menjadi Anak Yang Kreatif
Proses pengembangan daya imajinasi anak, akan mengarah atau membentuk perilaku kreatif anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil karya anak. Dalam proses belajar tari, anak cenderung menjadi lebih kreatif, karena anak diberi kebebasan untuk bergerak, menirukan gerak, menafsirkan gerak sesuai dengan kemampuannya. Artinya dalam proses belajar tari, tidak ada istilah benar dan salah, sehingga anak bebas menirukan gerak yang diberikan gurunya. Bebas artinya gerakan yang dilakukan anak tidak harus sama persis yang dilakukan gurunya, misalnya gerak tangan ke atas, seharusnya gerak tangan tersebut dilakukan dengan lurus ke atas, tetapi anak bisa melakukannya tidak lurus mungkin agak serong. Selain itu, anak juga diberikan kebebasan untuk menafsirkan cerita yang diberikan guru untuk mengekspresikannya kedalam gerak sesuai dengan imajinasinya. Dengan membiarkan anak melakukan gerak tari sesuai dengan kemampuan dan imajinasinya, guru secara tidak langsung sudah mengajarkan anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Kreativitas gerak yang dimiliki anak, merupakan salah satu ciri kecerdasan emosional anak.

Sumber 1

Sumber 2

Warisan Budaya Jatim Diakui Nasional

JAKARTA: Sebanyak 8 (delapan) warisan budaya takbenda (intangible heritage) dari Jawa Timur diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional. Hal ini diputuskan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2014 yang dilaksanakan di Hotel Millenium Jakarta (17-19/9). Acara tersebut digelar oleh Direktorat Internalisasi dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Keputusan Sidang yang dibacakan oleh Ketua Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Nasional, Mukhlis PaEni, Jumat malam (19/9), menyebutkan bahwa 8 (delapan) warisan budaya takbenda asal Jawa Timur tersebut adalah:

1.Tari Seblang (Banyuwangi),

2. Wayang Topeng (Malang),

3. Ritual Tumpeng Sewu (Banyuwangi),

4. Syiir Madura,

5. Upacara Kasada (Tengger),

6. Ludruk,

7. Jaran Bodhag (Probolinggo),

8. Topeng Dongkrek (Madiun).

Sedangkan permainan anak Egrang, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Bersama karena permainan ini juga ada di banyak daerah meski dengan nama-nama yang berbeda. Sebetulnya masih ada satu usulan lagi dari Jatim, yaitu Jaranan, namun dalam klasifikasi pendaftaran terlanjur dimasukkan usulan dari Yogyakarta, padahal kesenian tersebut di Yogya lebih dikenal dengan nama Jathilan.

Selama berlangsungnya Sidang Penetapan tersebut, provinsi Jawa Timur diwakili oleh Henri Nurcahyo, pengurus Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jatim selaku stakeholder Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur. Disamping itu juga didukung oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, dimana Jatim memang berada dalam wilayah kerjanya. Pada tanggal 17 Oktober mendatang, kedelapan warisan budaya takbenda tersebut akan ditetapkan secara formal oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dalam kesempatan tersebut Kemendikbud akan langsung mengundang Gubernur Jatim untuk menerimanya.

Penetapan 8 warisan budaya asal Jatim ini melengkapi daftar warisan budaya takbenda asal Jatim yang sudah diakui secara nasional pada tahun lalu. Lima dari 77 warisan budaya tersebut adalah Reog Ponorogo, ‘Keraben Sape’ (Karapan Sapi), Sapi Sonok, Gandrung dan Kentrung.
Sedangkan warisan budaya takbenda Indonesia yang sudah diakui secara internasional oleh UNESCO adalah Wayang, Keris, Batik, Angklung, Saman dan Noken. (hn)

Sumber: http://brangwetan.wordpress.com