PENTINGNYA OLAH TUBUH BAGI PENARI

Kesiapan tubuh secara fisik bagi seorang penari sangat vital keberadaannya untuk melakukan aktifitas gerak tari. Keterampilan tari yang dimiliki dapat dibentuk melalui kesiapan organ-organ tubuh (fisik) yang akan digunakan untuk melakukan gerak. Untuk melakukan gerak tari dengan terampil perlu adanya kesiapan fisik yang prima. Kondisi ini dapat dicapai apabila seorang penari dengan sadar melakukan kesiapan-kesiapan seluruh organ tubuh dengan rutin (continue). Dengan arti kata lain, bahwa secara sadar seorang penari harus melakukan pengolahan gerak tubuh secara merata dan sempurna.

Pengertian pengolahan tubuh bagi seorang penari atau sering disebut dengan olah tubuh adalah suatu kegiatan manusia mengolah tubuh yang dengan sengaja menjadikan barang mentah menjadi barang jadi, sehingga siap untuk dipergunakan. Kegiatan ini mengandung maksud yaitu usaha mempersiapkan organ tubuh dalam keadaan stabil (tetap/normal) menjadi kondisi yang labil (lentur/mudah bergerak). Perkataan olah tubuh menunjukkan bahwa tekanan aktivitas pada pengolahan tubuh manusia seutuhnya meliputi jiwa dan raga, yang menjadi satu kesatuan (Sumedi, 1:86).

Olah tubuh bagi seorang penari adalah suatu bentuk aktivitas yang dilakukan dengan jalan melakukan susunan latihan yang teratur meliputi otot-otot, persendian, dan seluruh organ tubuh agar selalu siap berfungsi bergerak dengan baik dan optimal serta diharapkan mampu menambah kualitas gerak.

Di dalam menari, gerak-gerak yang dilakukan oleh penari tentunya memiliki tuntutan tertentu walaupun pada prinsipnya adalah menggerakkan sekmen-sekmen tubuh. Melihat kontek gerak dalam tari dengan tuntutan nilai estetik, maka tidaklah sekedar menggerakkan tubuh seperti dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mudah memunculkan nilai estetik (yang abstrak) tanpa didahului dengan proses gerak tubuh (materi) yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Untuk itu bermula dari kemampuan melakukan gerakan-gerakan tubuh, seorang penari mengkomunikasikan perasaannya dengan bahasa gerak. Maka yang terpenting dalam hal ini berpangkal dari tubuh manusia yang menjadi titik tolak sebagai bahasa dalam seni tari.

Seorang penari harus sadar akan kemampuan, kelebihan dan kekurangan dari tubuh yang dimiliki, untuk kemudian melatihnya agar jangkauan geraknya dapat lebih leluasa (Murgiyanto, 1983). Setiap gerakan dalam setiap sekmen tubuh harus dilatih secara bertahap dan kontinu yang meliputi dari tiga aspek, yaitu:

  • Tenaga: berhubungan dengan stamina yang dimiliki untuk melakukan gerak cepat,keras, kencang dan sebagainya.
  • Ruang: yaitu upaya sekmen tubuh dapat digerakkan ke berbagai arah yang memakan/menempati ruang.
  • Waktu: berhubungan dengan durasi yang diperlukan untuk dilakukan dalam melakukan latihan olah tubuh dan idealnya adalah dalam waktu yang stabil, misalnya satu hari satu kali @60 menit.

Olah tubuh dalam seni tari erat kaitannya dengan pelatihan fisik penari. Karena melatih kondisi fisik bagi penari sangat penting untuk mengembangkan kemampuannya dalam menari. Beberapa kondisi fisik yang perlu dilatih antara lain:

  1. Kekuatan (strength)
  2. Kecepatan (speed)
  3. Daya tahan (endurance)
  4. Kelincahan (flexibility)
  5. Koordinasi (coordination)
  6. Ketetapan (accuracy)

Kesiapan tubuh seorang penari akan berdampak pada kualitas gerak tari. Kualitas gerak tari terkait pada unsur-unsur gerak yang meliputi:

  • Bentuk: rumit dan sederhananya gerakan
  • Volume: luas dan sempitnya  gerak
  • Tekanan: keras dan lemahnya gerakan
  • Tempo; cepat dan lambatnya gerakan

Jika kondisi fisik penari prima, baik sebelum menari ataupun setelah menari, akan memberikan keleluasaan bagi penari penari untuk lebih fokus pada imajinasi, ekspresi dan penghayatan tarian. Karena jika salah satu sekmen tubuh tidak dalam kondisi prima maka akan terganggu pula seluruh penampilan yang dibawakan.

METODE LATIHAN OLAH TUBUH

Menggunakan metode latihan olah tubuh diharapkan akan membuat gerakan menjadi teratur dan sistematis sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan dan terkontrol. Adapun susunan pelatihan olah tubuh adalah sebagai berikut:

1. Pemanasan.

Kegunaaan pemanasan dalam latihan olah tubuh adalah:

  • Menyiapkan anatomis, physiologist dan psychologist penari dalam berlatih
  • Sebagai pencegahan terhadap terjadinya cedera selama menjalankan aktivitas.

2. Latihan inti

Secara umum latihan inti terdiri dari:

  • Latihan tubuh

Latihan tubuh pada prinsipnya mempunyai sifat untuk memperbaiki dan membenarkan kesalahan-kesalahan ringan yang terdapat pada tubuh, yang terdiri dari:

  • Latihan pelemasan
  • Latihan peng-uluran
  • Latihan penguatan
  • Latihan pelepasan
  • Latihan Keseimbangan

Tujuan Latihan keseimbangan adalah untuk mempertinggi perasaan keseimbangan dan perasaan kerja otot serta memiliki arti dan fungsi yang besar dalam membentuk sikap gerak.

  • Latihan Kekuatan/ketangkasan

Perlu dibedakan antara latihan penguatan dan latihan kekuatan.

Latihan penguatan adalah untuk menguatkan otot-otot setempat yang lemah, maka tidak menyangkut kualitas kemampuan tubuh.

Latihan kekuatan adalah meningkatkan kualitas kemampuan tubuh secara keseluruhan.

Latihan ketangkasan berhubungan dengan kelincahan dan kecepatan. Cepat dalammengambil tindakan dan selain itu ketangkasan menambah keberanian, ketahanan dan penguasaan diri.

  • Latihan penutup (penenangan)

Tujuan latihan penenangan adalah untuk membawa suhu badan dan kerja organ-organ tubuh kembali dalam keadaan biasa/normal seperti saat sebelum latihan. Sehingga tubuh siap untuk kembali siap melakukan kegiatan lain setelahnya.

Disadur dari HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI, MANFAAT OLAH TUBUH BAGI SEORANG PENARI, Moh. Hasan Bisri (staf pengajar jurusan sendratasik FBS UNNES), 2001

Advertisements

MEMPERINGATI HARI TARI SEDUNIA 2014 (WORLD DANCE DAY)

Kemarin, tanggal 29 April, masih ingatkan kita pada tanggal tersebut ada peringatan apa?

Ya, saya mengucapkan SELAMAT HARI TARI SEDUNIA!! 😀

Pernah dibahas pada tulisan sebelumnya, https://spectradancestudio.wordpress.com/2013/05/13/hari-tari-sedunia-world-dance-day/

setiap tanggal 29 April, Dunia menetapkannya sebagai HARI TARI dengan tujuannya adalah untuk merayakan tari, merombak universalitas dari sebuah bentuk seni, untuk melintasi berbagai rintangan politik, budaya dan etnis serta membawa seluruh bangsa dunia kepada satu bahasa yang sama yaitu tari. dan pada hari itu beberapa negara di dunia mengadakan berbagai pertunjukkan di jalanan dan di gedung-gedung kesenian. Parade tari dan Festival dipenuhi oleh ratusan penari dari berbagai sanggar tari (studio tari).

Indonesia tentunya sebagai negara yang dikenal sebagai negara TERKAYA akan kesenian daerah yang beragam, tidak ketinggalan untuk ikut menyemarakkan HARI TARI SEDUNIA ini. Beberapa daerah melakukan berbagai acara secara rutin, seperti:

1. Solo: http://www.solopos.com/2014/04/28/hari-tari-sedunia-catat-ini-agenda-solo-menari-24-jam-selasa-rabu-505121

2. Denpasar: http://jogja.antaranews.com/berita/321994/isi-denpasar-peringati-hari-tari-sedunia

3. Semarang: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/04/28/200009

4. Riau: http://www.riaukepri.com/index.php/pagi-ini-seniman-tari-riau-beraksi-di-tiga-kawasan-strategis-pekanbaru/

SUKSES untuk seluruh instansi daerah yang mendukung pengadaan acara tahunan WORLD DANCE DAY, dan juga kepada seluruh partisipannya: penari, koreografer, pengrawit, masyarakatnya yang turu menari,….. Semoga acara tahunan ini bisa terus dilestarikan oleh semua daerah NKRI untuk terus membangkitkan semangat CINTA KESENIAN BUDAYA INDONESIA.

 

SALAM BUDAYA

Persyaratan Menjadi Penari Bedhaya Ketawang

TIDAK mudah menjadi seorang penari Bedhaya Ketawang. Ada sederet peraturan yang mengikat, untuk bisa tampil menjadi penari tarian sakral yang sangat fenomenal tersebut.

Tak heran, begitu terpilih menjadi penari Bedhaya Ketawang, maka pamor sang penari itu pun melejit seiring kebanggaannya menjadi penari kerajaan.

Kepada Soloblitz, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, atau biasa disapa Gusti Moeng, menjelaskan untuk menyeleksi penari Bedhaya Ketawang, dibutuhkan waktu tahunan, bahkan belasan tahun.

Jika dulu para penari Bedhaya Ketawang diambil dari putri para Pangeran, dan para Adipati, namun kini tidak lagi demikian. Sekarang, Keraton Surakarta mulai melakukan kaderisasi sejak dini melalui sanggar tari yang ada di Keraton. Pesertanya pun boleh dari kalangan masyarakat biasa.

“Disitu anak-anak kecil, sudah kita latih tari halus gaya Keraton Surakarta. Dan ketika mereka bertahan sampai remaja, serta memenuhi syarat, baru kita ambil sebagai penari Bedhaya Ketawang,” ujar Gusti Moeng.

Syarat sebagai seorang penari Bedhaya Ketawang diantaranya menguasai gerakan dasar beksan Ketawang secara baik, memahami budaya Jawa, beretika, postur dan raut wajah memenuhi syarat, serta mempunyai daya tahan fisik yang bagus. Maklum saja, ketika digelar Bedhaya Ketawang sendiri berdurasi lebih dari dua jam. Selain itu juga ada syarat khusus yaitu masih perawan, atau belum tersentuh pria.

“Ditambah lagi masih harus betah laku prihatin atau tirakat, seperti puasa, mutih, dan lainnya, sehingga selalu beriman kepada Tuhan YME,” beber Gusti Moeng.

Dari sekian banyak yang diseleksi, nantinya hanya 12 orang saja yang akan diambil. Itu pun masih akan diseleksi lagi, hingga tinggal 9 orang saja yang menjadi penari inti Bedhaya Ketawang.

Mereka yang nantinya menempati 9 posisi urutan penari Bedhaya Ketawang dari selatan ke utara, yaitu Batak, Endel Ajeg, Endel Weton, Apit Ngarep, Apit Wingking, Apit Meneng, Gulu, Dada, dan Buncit.

Para penari itulah yang akan digembleng setiap 35 hari sekali, dan sepekan non stop menjelang Tingalan Jumenengan berlangsung.

Dan di hari Senin (3/6/2013) ini, para penari Bedhaya Ketawang sudah dipaes (rias) dan menjalani pingitan di Gedhong Bedhaya selama sehari semalam, hingga Tingalan Jumenengan berlangsung besok Selasa (4/6/2013).

“Tujuannya ya supaya terjaga kondisinya, baik lahir maupun batin karena tugas mereka sangat berat, yaitu membawakan Bedhaya Ketawang,” jelas Gusti Moeng.

Deniawan Tommy Chandra Wijaya |@deniawantommy

Sumber

PENTINGNYA OLAH TUBUH BAGI PENARI

Kesiapan tubuh secara fisik bagi seorang penari sangat vital keberadaannya untuk melakukan aktifitas gerak tari. Keterampilan tari yang dimiliki dapat dibentuk melalui kesiapan organ-organ tubuh (fisik) yang akan digunakan untuk melakukan gerak. Untuk melakukan gerak tari dengan terampil perlu adanya kesiapan fisik yang prima. Kondisi ini dapat dicapai apabila seorang penari dengan sadar melakukan kesiapan-kesiapan seluruh organ tubuh dengan rutin (continue). Dengan arti kata lain, bahwa secara sadar seorang penari harus melakukan pengolahan gerak tubuh secara merata dan sempurna.

Pengertian pengolahan tubuh bagi seorang penari atau sering disebut dengan olah tubuh adalah suatu kegiatan manusia mengolah tubuh yang dengan sengaja menjadikan barang mentah menjadi barang jadi, sehingga siap untuk dipergunakan. Kegiatan ini mengandung maksud yaitu usaha mempersiapkan organ tubuh dalam keadaan stabil (tetap/normal) menjadi kondisi yang labil (lentur/mudah bergerak). Perkataan olah tubuh menunjukkan bahwa tekanan aktivitas pada pengolahan tubuh manusia seutuhnya meliputi jiwa dan raga, yang menjadi satu kesatuan (Sumedi, 1:86).

Olah tubuh bagi seorang penari adalah suatu bentuk aktivitas yang dilakukan dengan jalan melakukan susunan latihan yang teratur meliputi otot-otot, persendian, dan seluruh organ tubuh agar selalu siap berfungsi bergerak dengan baik dan optimal serta diharapkan mampu menambah kualitas gerak.

Di dalam menari, gerak-gerak yang dilakukan oleh penari tentunya memiliki tuntutan tertentu walaupun pada prinsipnya adalah menggerakkan sekmen-sekmen tubuh. Melihat kontek gerak dalam tari dengan tuntutan nilai estetik, maka tidaklah sekedar menggerakkan tubuh seperti dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mudah memunculkan nilai estetik (yang abstrak) tanpa didahului dengan proses gerak tubuh (materi) yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Untuk itu bermula dari kemampuan melakukan gerakan-gerakan tubuh, seorang penari mengkomunikasikan perasaannya dengan bahasa gerak. Maka yang terpenting dalam hal ini berpangkal dari tubuh manusia yang menjadi titik tolak sebagai bahasa dalam seni tari.

Seorang penari harus sadar akan kemampuan, kelebihan dan kekurangan dari tubuh yang dimiliki, untuk kemudian melatihnya agar jangkauan geraknya dapat lebih leluasa (Murgiyanto, 1983). Setiap gerakan dalam setiap sekmen tubuh harus dilatih secara bertahap dan kontinu yang meliputi dari tiga aspek, yaitu:

  • Tenaga: berhubungan dengan stamina yang dimiliki untuk melakukan gerak cepat,keras, kencang dan sebagainya.
  • Ruang: yaitu upaya sekmen tubuh dapat digerakkan ke berbagai arah yang memakan/menempati ruang.
  • Waktu: berhubungan dengan durasi yang diperlukan untuk dilakukan dalam melakukan latihan olah tubuh dan idealnya adalah dalam waktu yang stabil, misalnya satu hari satu kali @60 menit.

Olah tubuh dalam seni tari erat kaitannya dengan pelatihan fisik penari. Karena melatih kondisi fisik bagi penari sangat penting untuk mengembangkan kemampuannya dalam menari. Beberapa kondisi fisik yang perlu dilatih antara lain:

  1. Kekuatan (strength)
  2. Kecepatan (speed)
  3. Daya tahan (endurance)
  4. Kelincahan (flexibility)
  5. Koordinasi (coordination)
  6. Ketetapan (accuracy)

Kesiapan tubuh seorang penari akan berdampak pada kualitas gerak tari. Kualitas gerak tari terkait pada unsur-unsur gerak yang meliputi:

  • Bentuk: rumit dan sederhananya gerakan
  • Volume: luas dan sempitnya  gerak
  • Tekanan: keras dan lemahnya gerakan
  • Tempo; cepat dan lambatnya gerakan

Jika kondisi fisik penari prima, baik sebelum menari ataupun setelah menari, akan memberikan keleluasaan bagi penari penari untuk lebih fokus pada imajinasi, ekspresi dan penghayatan tarian. Karena jika salah satu sekmen tubuh tidak dalam kondisi prima maka akan terganggu pula seluruh penampilan yang dibawakan.

METODE LATIHAN OLAH TUBUH

Menggunakan metode latihan olah tubuh diharapkan akan membuat gerakan menjadi teratur dan sistematis sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan dan terkontrol. Adapun susunan pelatihan olah tubuh adalah sebagai berikut:

1. Pemanasan.

Kegunaaan pemanasan dalam latihan olah tubuh adalah:

  • Menyiapkan anatomis, physiologist dan psychologist penari dalam berlatih
  • Sebagai pencegahan terhadap terjadinya cedera selama menjalankan aktivitas.

2. Latihan inti

Secara umum latihan inti terdiri dari:

  • Latihan tubuh

Latihan tubuh pada prinsipnya mempunyai sifat untuk memperbaiki dan membenarkan kesalahan-kesalahan ringan yang terdapat pada tubuh, yang terdiri dari:

  • Latihan pelemasan
  • Latihan peng-uluran
  • Latihan penguatan
  • Latihan pelepasan
  • Latihan Keseimbangan

Tujuan Latihan keseimbangan adalah untuk mempertinggi perasaan keseimbangan dan perasaan kerja otot serta memiliki arti dan fungsi yang besar dalam membentuk sikap gerak.

  • Latihan Kekuatan/ketangkasan

Perlu dibedakan antara latihan penguatan dan latihan kekuatan.

Latihan penguatan adalah untuk menguatkan otot-otot setempat yang lemah, maka tidak menyangkut kualitas kemampuan tubuh.

Latihan kekuatan adalah meningkatkan kualitas kemampuan tubuh secara keseluruhan.

Latihan ketangkasan berhubungan dengan kelincahan dan kecepatan. Cepat dalammengambil tindakan dan selain itu ketangkasan menambah keberanian, ketahanan dan penguasaan diri.

  • Latihan penutup (penenangan)

Tujuan latihan penenangan adalah untuk membawa suhu badan dan kerja organ-organ tubuh kembali dalam keadaan biasa/normal seperti saat sebelum latihan. Sehingga tubuh siap untuk kembali siap melakukan kegiatan lain setelahnya.

Disadur dari HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI, MANFAAT OLAH TUBUH BAGI SEORANG PENARI, Moh. Hasan Bisri (staf pengajar jurusan sendratasik FBS UNNES), 2001

Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) Tahun 2013

Sebanyak 70 orang pemuda yang berasal dari sejumlah negara akan menetap di Indonesia untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia.

“Kementerian Luar Negeri RI pada tahun 2013 kembali memberikan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (Indonesian Arts and Culture Scholarship/IACS). Beasiswa tersebut merupakan salah satu bentuk soft-power diplomacy yang dilakukan oleh Pemerintah RI dalam menciptakan citra positif Indonesia di kalangan masyarakat internasional yang dilakukan oleh Kemlu RI melalui pendekatan people-to-people contact, jelas Plh. Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar negeri RI, Diah W. M. Rubianto.
Untuk Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) tahun 2013, Kemlu RI akan mengadakan dua program yakni BSBI Reguler dan BSBI Kekhususan yang diselenggarakan mulai akhir Mei hingga awal September 2013. BSBI Reguler merupakan program beasiswa yang akan diberikan kepada 60 pemuda warga negara asing dari sejumlah negara untuk mempelajari seni pertunjukan tradisional Indonesia. “Peserta BSBI akan belajar seni tradisional Indonesia di salah satu sanggar seni di Bandung, Solo, Surabaya, Bali, dan Makassar. Disamping belajar kesenian, para peserta juga akan diperkenalkan dengan kehidupan bermasyarakat di Indonesia termasuk local wisdom masyarakat setempat,” lanjut Diah.
Program BSBI Kekhususan merupakan sebuah tailor-made program yang diberikan kepada sepuluh pemuda asing yang memiliki garis keturunan darah Indonesia. Pada 2013, program BSBI Kekhususan bertemakan ‘Indonesian Studies for Indonesian Diaspora’. Para peserta BSBI Kekhususan akan mempelajari Bahasa Indonesia serta mengenal perkembangan ekonomi dan sosial politik di Indonesia, termasuk mengenai kerukunan umat beragama, pemberantasan korupsi, pengembangan demokrasi serta penegakan hak asasi manusia di Indonesia. “Rencananya BSBI Kekhususan akan diselenggarakan bekerjasama dengan salah satu universitas di Yogyakarta,” ujar Diah.
Sebagai acara puncak sekaligus penutupan program BSBI 2013, seluruh peserta BSBI rencananya akan mempresentasikan pengetahuan serta keahlian yang telah mereka pelajari selama mengikuti program BSBI dalam sebuah pagelaran seni akbar bertajuk ‘Indonesian Channel’ yang akan diselenggarakan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya pada tanggal 7 September 2013 di Surabaya.
BSBI telah diberikan setiap tahun oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 2003, dan hingga tahun 2012 telah diikuti oleh 449 peserta dari 47 negara. “Seluruh warga negara asing yang pernah mengikuti program BSBI di Indonesia telah menjadi ‘friend of Indonesia’ yang hingga kini terus aktif membantu Perwakilan RI mempromosikan seni dan budaya Indonesia di masing-masing negara asal peserta. Bagi mahasiswa indonesia yang berminat dapat melamar dan mengunduh aplikasinya di website kemlu www.kemlu.go.id,” ungkap Diah menutup penjelasannya. (sumber: Dit. Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI)

Ni Ketut Arini, Menari adalah Pengabdian

Menari tak sekadar meliukkan tubuh. Bagi Ni Ketut Arini (69), menari adalah karya suci. Sebuah pengabdian yang ditampilkan melalui teknik, ekspresi, dan konsentrasi. Pencapaian itu diperoleh setelah perempuan yang dikenal sebagai salah satu maestro tari Bali klasik ini menempuh jalan panjang dalam dunia tari.

Ia bagaikan pendekar dalam film kungfu yang ”berkelana” mencari guru, mengabdi pada sang guru, lalu mewarisi ilmu tari yang diturunkan para gurunya. Setelah menguasai ilmu yang diajarkan, ia mengembangkan karya tari peninggalan sang guru. Ia juga menciptakan bentuk tari baru yang berakar pada tradisinya.

Itulah cara Arini menahan gempuran budaya kontemporer agar anak-anak Bali tetap lekat dengan budayanya. Ia melihat betapa generasi muda mulai berpaling dari tradisi yang ditinggalkan leluhur.

”Kalau hal itu tidak disiasati, seni tradisi kita akan benar-benar hilang,” kata Arini sebelum ia mementaskan tari Condong pada acara Maestro! Maestro! #7 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir pekan lalu.

Arini dikenal sebagai maestro tari Condong, yang mengisahkan tokoh pembantu putri raja. Tokoh pembantu ini selalu ditampilkan pada drama tari Bali sesuai perkembangan zamannya, mulai tari Gambuh (drama tari dengan dialog), tari Arja (drama tari dengan nyanyian), dan Legong (tari yang diiringi gamelan pelegongan).

Arini yang mendalami sejarah tari mengatakan, Gambuh adalah tarian tertua di Bali yang berkembang sekitar abad ke-15, jauh sebelum tari Arja tercipta di Bali sekitar tahun 1911. Adapun tari Legong baru muncul sekitar tahun 1915 di bagian utara Bali. Ia menguasai ketiga jenis tarian Condong, baik Condong Gambuh, Condong Arja, maupun Condong Legong.

Gambuh memakai dialog bahasa Kawi yang sudah jarang dikenal seniman tari. Ia bisa menguasai Gambuh sejak 1967. ”Sekarang hanya ada beberapa desa yang masih memiliki Gambuh,” kata Arini. Gambuh sulit dipelajari karena lagunya begitu panjang. Ia sendiri membutuhkan hampir satu tahun untuk menghafalkan lagu pada Gambuh.

Selain Condong, ia juga menghidupkan kembali tari Legong klasik yang nyaris ditinggalkan penerusnya. Di Bali ada 14 gaya tari Legong klasik, dan ia menguasai enam di antaranya, yaitu Legong Pelayon, Lasem, Kuntul, Kuntir, Jobog, dan Semarandhana. Keenam tarian itu ia ajarkan di sanggarnya.

Pada 2010 ia bersama temannya mendokumentasikan enam tari Legong itu untuk arsip Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan menjadi bahan ajar mahasiswa tari.

Tari peninggalan para gurunya itu sudah lama ia ajarkan kepada muridnya di sanggar tari Bali ”Warini”. Muridnya tak hanya datang dari sekitar sanggar, tetapi juga dari negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Swiss.

Sanggar itu ia dirikan tahun 1973, dan sampai kini setiap tahun meluluskan sekitar 100 siswa tari. Arini punya cara agar tari klasik Bali tetap dipelajari generasi muda. ”Anak-anak biasanya cepat bosan karena tari klasik membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya.”

Untuk mengajarkan gerakan secara bertahap, ia menggunakan gamelan dan gong sebagai pengiring gerakan. Ia tak memakai hitungan untuk setiap gerakan yang dilakukan.

”Dengan iringan gamelan, anak-anak merasa sudah menari dan itu membuat mereka bersemangat,” kata Arini yang menjalani misi kesenian ke luar negeri sejak 1965.

Pengembaraan

Pengembaraan Arini di dunia tari dijalani sejak berusia 10 tahun. Ia lahir dari keluarga penari. Ayah dan neneknya adalah penari, sedangkan kakaknya seorang dalang. Namun, sejak kecil ia justru belajar menari kepada I Wayan Rindi, pamannya.

Bagi dia, lahir dari keluarga penari belum tentu punya bakat tari. Keterampilan tari bukan diwariskan, tetapi harus dipelajari dengan ketekunan dan kesungguhan hati.

”Saya setiap hari melihat paman melatih tari, lalu pengin bisa seperti paman mengajarkan tari,” katanya.

Arini seperti haus ilmu tari. Setelah belajar dari pamannya, ia berguru kepada I Nyoman Kaler yang pernah menjadi guru di desanya, Banjar Lebah, pada 1933 – 1950. Kaler menciptakan 10 karya tari, salah satunya Legong Kebyar yang diciptakan tahun 1935.

Legong Kebyar pernah terkenal di Bali, lalu hilang karena tak ada yang menarikannya. Keberadaan tarian itu hanya diceritakan di buku-buku. Suatu hari, Arini ditanya Rucina Balinger, muridnya dari AS.

”Balinger bertanya, apa harapan Ibu yang belum kesampaian? Saya bilang, saya ingin hidupkan lagi tarian guru saya, Pak Kaler,” kata Arini mengenang.

Tahun 2004 keduanya bekerja sama mengangkat kembali karya I Nyoman Kaler, antara lain tari Panji Semirang, Mregapati, Wiranata, Demang Miring, Candrametu, Puspawarna, Bayan Nginte, Kupu-kupu Tarum, dan Legong Kebyar.

Mereka menggali lagi karya Kaler lewat simposium dan pementasan yang ditarikan tiga penari lanjut usia, dewasa, dan remaja. Prof I Made Bandem, Prof I Wayan Dibia, dan I Wayan Dia dari Jakarta, adalah saksi saat Kaler mengajar di Banjar Lebah tahun 1933-1950.

Namun, karena tari Bali klasik mulai tergerus sekitar 1990-an, banyak pemilik sanggar menjual gamelan mereka, terutama gamelan pelegongan untuk mengiringi tari Legong.

Dianggap kurang menarik

Keinginan menjadi seniman tari muncul dari Arini tanpa paksaan orangtua. Ia bahkan pernah tak boleh menari karena kulitnya yang gelap dianggap kurang menarik. Namun, larangan itu justru membuatnya bersemangat. Dari Denpasar ia belajar menari kepada Pak Mario di Tabanan, dan Pak Lokasabha di Gianyar. Kaki kecilnya giat mengayuh sepeda ke tempat latihan.

Ia juga belajar pada Biang Sengok, penari tua yang menguasai tari Legong gaya Peliatan. Gurunya itu galak, rambutnya sering dijambak ke belakang bila kepalanya kurang tegak saat menari. Jika ada postur tubuh yang salah, sang guru tak segan-segan mendorong atau menekan badannya.

”Di sini saya belajar sikap sempurna berbagai gaya, yang membutuhkan disiplin tinggi,” ujarnya. Pada usia 14 tahun ia sudah mengajar tari di Karang Asem, berkat dorongan pamannya.

Pada 1963 ia menjadi guru tari di sanggar-sanggar. Semula ia berniat kuliah di Konservatori Karawitan Denpasar. ”Tetapi guru saya bilang, kalau saya kuliah tak ada yang meneruskan mengajar tari karena guru-guru saya sudah tua,” kata Arini yang lalu menunda kuliahnya. Empat tahun kemudian, setelah punya anak satu, ia baru kuliah di jurusan seni tari dan memperdalam sejarah tari.

Pada usia senja, Arini masih menari dengan energik. Ia tak bosan menari karena membuat hatinya senang. Kesenangan itu yang dia tularkan kepada orang lain. Ia diundang pentas dan mengajar di luar negeri. Ia juga menjadi pengajar rutin di Yayasan Sekar Jaya di AS yang didirikan muridnya.

Sumber