TARI LENGGANG SURABAYA

Tari Lenggang Surabaya adalah sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Dimas Pramuka Admaji untuk mengangkat kesenian tradisi Surabaya. Berangkat dari berbagai jenis kesenian tradisi seperti Tanda’an/Tayub dan Sandur Madura yang berada di Surabaya dan sekitarnya, maka pada tahun 1995, Dimas Pramuka Admaji menciptakan tari Lenggang surabaya atas pesanan dari Walikota Surabaya pada saat itu bahwa Surabaya perlu adanya  tari penyambut tamu. Tanggal 31 Mei 1995 tari Lenggang Surabaya pertama kali di pentaskan/dipergelarkan pada acara resepsi Hari Jadi kota Surabaya di kediaman Walikota Jl. Sedap malam Surabaya.

PROSES PENCIPTAAN TARI LENGGANG SURABAYA.
Dengan latar belakang mengangkat, melestarikan dan mengembangkan seni tari di Surabaya, sebagaimana disesuaikan dengan tuntutan kemajuan kota semakin pesat maka dengan menggarap dan menciptakan tari baru yang masih berpijak pada kesenian daerah setempat ini diharapkan menambah khasanah seni tari di Surabaya.
Inipun tidak lepas dari menumbuhkan rasa cinta kota Surabaya yang mana peran generasi muda peduli budaya kota Surabaya sangatlah perlu demi menepis budaya asing yang semakin rawan di kota metropolis.
Dalam proses penciptaan tari Lenggang Surabaya yang berangkat dan berpijak pada kesenian Tanda’an dan sandur Madura yang berkembang di Surabaya ini melalui tahapan eksplorasi, Improvisasi, komposisi gerak, musik dan busana.

  • Kesenian Tanda’an/Tayub

Kesenian ini sering ditemui di perkampungan kota Surabaya, biasanya pada acara perkawinan, khitanan dan sebagainya yang banyak dilakukan pada malam hari.
Kesenian ini hampir punah keberadaanya di Surabaya. Pada kesenian Tanda’an ini tamu yang hadir mayoritas laki-laki, yang mana hamper semua tamu mendapat giliran nandak atau kesempatan menari bersama tandak ( ledhek tayub ). Dan dengan membayar atau memberikan tip mereka berhak meminta lagu/gending yang disukai untuk menari.
Penari wanita yang disebut Ledhek atau tandak selalu membawa sampur dengan busana angkin melilit dengan rapi di bagian dada yang biasanya selalu diserasikan dengan busana bawah yang disebut jarit atau kain panjang. Sedangkan tat arias yang dipakai adalah tat arias cantik dengan memakai sanggul yang diberi hiasan bunga dan asesoris sebagai pemanis lainya seperti giwang dan kalung. Kesenian ini tergolong tari pergaulan yang mana seorang penari wanita selalu berusaha memikat pasangannya.

  • Kesenian Sandur Madura

Keberadaanya di Surabaya juga hampir punah dan biasanya di jumpai di perkampungan Madura di Surabaya. Penyajian kesenian Sandur ini hampir mirip dengan penyajian kesenian Tanda’an/Tayub. Sang Penari utama sebagai primadona adalah penari wanita selalu berhadapan dengan tamu laki-laki.Gending yang dibawakan biasanya seperti Talang, Rarari, Puspa, Walang kekek dan sebagainya.

SINOPSIS
Tari Lenggang Surabaya merupakan tari garapan baru yang diangkat/bersumber dari kesenian Tanda’an dan Sandur Madura yang ada di Surabaya dan sekitarnya.

Lenggang berarti gerak yang manis dan indah, Surabaya merupakan kota metropolis dimana nama ini mengikat untuk lebih mengidentifikasikan bahwa Lenggang Surabaya tentunya dari Surabaya.
Tari Lenggang Surabaya ditarikan oleh beberapa wanita dan menggambarkan Ning-Ning Surabaya yang kreatif, dinamis dan ekspresif.

 

BENTUK PENYAJIAN

A.  Tata Rias

Tata rias untuk mewujudkan mimik wajah penari dalam tari Lenggang Surabaya yang tergolong tari lepas dan bentuk tari yang di tarikan secara kelompok oleh beberapa wanita ini menggunakan tata rias cantik dengan mempertimbangkan nuansa serta bauran dan style pada warna riasan antara penari satu dan lainya memunculkan satu karakter. Rias cantik pada tari Lenggang Surabaya memberikan kesan dinamis dan ekspresif yang ditimbulkan oleh goresan garis tegas pada Alis dan rias mata.
Pada rias cantik nuansa warna yang dipakai bisa tergantung selera tetapi tetap harus memikirkan keserasian dengan warna yang dikenakan agar harmonisasi tercapai.

Desain rias seperti ini sangatlah perlu karena sangat membantu wajah penari hingga terlihat bersih rapi dan menarik, yang merupakan pertimbangan sesuai dengan karakter tari Lenggang Surabaya yang pada dasarnya menonjolkan pesona yang menawan seperti penari tandha’an atau ledhek yang selalu berusaha memikat tamu.sebagai salah satu sumber garap tari Lengggang Surabaya.

B. Tata Busana

Desain busana sangat penting karena penataan dan garap busana pada sebuah tari sangat membantu secara ekspresifitas garap gerak tari bahkan dalam memunculkan suatu karakter tari yang diharapkan pada koreografi. Tari Lenggang Surabaya yang merupakan tari garapan baru dan menggambarkan Ning- Ning Surabaya yang kreatif, dinamis dan ekspresif ataupun sebuah karya tari yang tergolong intertaimen maka busana yang dikenakan mengarah ke jenis busana abyor atau dengan tatanan pemanis pada aksen-aksen garis dengan harapan penari lebih kelihatan modis, cantik, menawan dan rapi. Tatanan desain busana tari Lenggang Surabaya ini walaupun tatanan menonjolkan banyak pengembangan namun masih berpijak pada sasaran tradisi yang dikembangkan dari penari Tandhak, Penari Sandur dan Ning Surabaya yang menjadi sumber garap.

Desain dan nuansa dalam tatanan busana tari Lenggang Surabaya terdiri dari :

Kain panjang :
Batik pekalongan atau batik yang mengarah ke corak Madura, lasem Sidoarjo dsb. Sebagai aksen pemanis bentuk jarit adalah garis wiron yang diseuaikan dengan paduan jarit dan kebaya.
Kebaya :
Merupakan busana badan yang desainya sengaja dimasukan pada angken atau kemben. Desain ini menunjukan bahwa penari tandak sebagai sumber garap selalu berdandan menonjolkan angkin pada busana badan. Hal ini dirasa juga sangat membantu ekspresi tubuh sebagai media gerak yang dimunculkan oleh sikap tubuh penari Lenggang Surabaya.

Angken/kemben/Mekak :
Busana angken dikenakan diluar kebaya, menggunakan payet atau manik-manik yang sifatnya tidak hanya sebagai pemanis namun juga sebagai sentuhan-sentuhan karakteristik pada busana Ngremo Putri pada kesenian Tandha’an yang identik melakukan upaya menghias diri demi memikat semua yang melihanya.

Busana Lainya :

  • Bokongan ( merupakan ugo rampe yang letaknya di belakang membentuk garis melengkung di pinggang )
  • Sampur ( juga disebut selendang yang berfungsi sebagai busana dan property yang diletakkan pada punggung penari menjurai kebawah.
  • Sabuk atau ebog ( merupakan ikat pinggang yang terletak pada pinggang dan terdiri dari sabuk besar dan kecil yang dikenakan ber sap atau tumpuk.
  • Perhiasan:
  • Giwang ( pemanis pada daun telinga yang tebuat dari permata)
  • Bunga Melati sisir dan pengasih atau sintingan ( sisir adalah rangkaian melati yang letaknya melengkung pada garis atas kode dan pengasih atau sintingan adalah ronce bunga melati dengan bunga kantil yang diletakan di bagian samping konde di belakang telinga.
  • Bunga mawar atau bunga ceplok berbetuk bulat yang biasa juga bisa disebut jebehan
  • Cunduk/ cucuk
  • Konde ( konde yang dipakai adalah jenis konde jawa dan bisa juga jenis konde yang biasa dikenakan ning Surabaya ataupun alternative lain adalah konde modern ukuran sedang.

C. Iringan tari

Tari Lenggang Surabaya menggunakan iringan gamelan Jawa dengan laras Slendro.
Iringan tari Lenggang Surabaya tidak hanya sebuah musik sebagai pengiring namun ditata sedemikian rupa sehingga memunculkan dinamika yang dibawakan secara komposisi gerak dalam mencapai ekspresi penampilan tari secara utuh. Garap iringan tari Lenggang Surabaya merupakan pengembangan dari gending-gending Jawa Timuran seperti : Walang kekek, Jaranan, Jula-juli, Ceko, Blandong, Gedog dsb. Style dan ornament tambahan seperti Vokal madura, lagu Tanjung Perak sebagai kesan emosional pada identitas Surabaya dan juga merupakan pengembangan yang terekplor dari Sandur Madura dan Ngremo Putri yang berkembang di Surabaya sebagai inspirasi ataupun sumber garap tari Lenggang Surabaya yang di harapkan menjadi tari selamat datang serta tari garapan baru sebagai sebuah tari yang dimiliki oleh Surabaya.

Dengan latar belakang mengangkat, melestarikan dan mengembangkan seni tari di Surabaya, sebagaimana disesuaikan dengan tuntutan kemajuan kota semakin pesat maka dengan menggarap dan menciptakan tari baru yang masih berpijak pada kesenian daerah setempat ini diharapkan menambah khasanah seni tari di Surabaya.

Tari Lenggang Surabaya telah sering kali disajikan sebagai penyambutan dalam berbagai acara penting seperti:

  • Menyambut Presiden Megawati di Sangrila hotel th. 2004.
  • Closing ceremony of Surabaya Cross Cuulture Festival 2012 in Surabaya City Hall area, Park Surya, Surabaya.
  • Peresmian kapal perang baru yang diberi nama KRI Surabaya. Peresmian dilakukan di Koarmatim, Ujung, Surabaya, 2008
  • Indonesia Forum International Poet (FPII), 2012.
  • Perjamuan tamu INDIA di grahadi, 2013
  • Perjamuan penandatanganan kesepakatan jatim dan kalsel di grahadi, 2013
  • dan masih banyak lagi

 

Sumber

Advertisements

HARI TARI SEDUNIA (WORLD DANCE DAY)

Pastinya banyak yang masih tidak tahu bahwa ternyata ada sebuah peringatan tari sekelas dunia/international yang dirayakan setiap tahunnya, yaitu setiap tanggal 29 April.

Menurut sejarahnya, Hari Tari Sedunia ini ditetapkan sebagai bentuk penghormatan kepada Jean Georges Noverre, seorang pencipta tari balet modern berkebangsaan Perancis. Jean Georges Noverre lahir pada 29 April 1727 dan wafat tanggal 19 Oktober 1810.

Hari Tari Sedunia (World Dance Day) diperkenalkan tahun 1982 oleh was International Dance Committee of the International Theatre Institute (ITI), sebuah lembaga rekanan UNESCO, NGO. Tanggal 29 april sebagai tanggal lahir Jean-Georges Noverre diusulkan oleh International Dance Committee of ITI. Karena Jean-Georges Noverre adalah seorang pencipta ballet modern dan penemu dari sebuah karya yang terkenal yaitu, Lettres sur la danse yang dipublikasikan tahun 1760 di Lyon.

Setiap tahunnya, seorang koreografer atau penari ternama atau terhebat diundang untuk menyampaikan sebuah pesan untuk dunia. Kriterianya ditentukan oleh pendiri World Dance Day – the International Dance Committee of ITI, bekerjasama dengan World Dance Alliance, anggota kerjasama dari ITI. Beberapa diantaranya sebagai pembicara tersebut adalah  Merce Cunningham, Maurice Béjart, Akram Khan and Anne Teresa De Keersmaeker yang telah menyampaikan pesannya atau berpartisipasi dalam World Dance Day di UNESCO.

Tujuan dari “International Dance Day Message” (World Dance Day) adalah untuk merayakan tari, merombak universalitas dari sebuah bentuk seni, untuk melintasi berbagai rintangan politik, budaya dan etnis serta membawa seluruh bangsa dunia kepada satu bahasa yang sama yaitu tari.

Setiap tanggal 29 April inilah seluruh bangsa merayakannya dengan menampilkan beragam tari-tarian khasnya masing-masing.

Beberapa negara mengadakan berbagai pertunjukkan di jalanan dan di gedung-gedung kesenian. Parade tari dan Festival dipenuhi oleh ratusan penari dari berbagai sanggar tari (studio tari).

New York, misalnya. Pada tahun 2013 menyelenggarakan Dance Parade, dengan beberapa penampilan sebagai berikut:

  • Andanza Flamenco (FLAMENCO)
  • Dancing Rubies (BELLY DANCE)
  • Fusha Dance Company (AFRICAN)
  • Mazarte Dance Group (MEXICAN CARNIVAL)
  • Neville Dance Theatre (CONTEMPORARY)
  • NIWA (MODERN)
  • RISE Hip Hop (HIP-HOP)
  • Jehan’s Belly Dance Raks Stars (BELLYDANCE)
  • The Shakedown (FUNK)
  • Times Squares Square Dance Club (MODERN WSTRN SQUARE)

Di Pakistan, dirayakan dengan tari jalanan tari kontemporer yang diberi judul “Dancing amid sparks and shadows”

Di Indonesia, perayaan Hari tari Sedunia tahun 2013, Solo adalah salah satu daerah yang merayakan Hari Tari Sedunia dengan sangat besar dan meriah. Di kota pusat budaya Jawa tersebut digelar acara menari 24 jam tanpa henti di berbagai lokasi, di jalanan, di Mall juga di Bandara. Bahkan Wali Kota dan Wakil Walikota juga terlibat dan ikut menari bersama ratusan orang. Solo sudah 7 tahun menggelar acara seperti ini.

Di Denpasar, tepat tanggal 29 april 2013, Alunan instrumen musik tradisional gong bleganjur bertalu-talu memecah keheningan suasana kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar secara spontan. Tari legong massal juga dibawakan oleh para mahasiswa ISI mewarnai pementasan di panggung terbuka ISI Denpasar yang berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 21.00 hingga 24.00 waktu setempat.

Di Malang, pada tahun 2013, Festival Seribu Topeng yang dipadu dengan tarian dengan melibatkan 44 grup berasal dari berbagai sekolah di Kota Malang. Peserta festival terdiri dari 44 grup mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi. Setiap grup beranggotakan 25 orang penari topeng sehingga jumlah keseluruhan mencapai 1.200 penari topeng.

Di Makassar, tahun 2013, mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) mempertunjukkan 6 judul tari khas masyarakat Sulawesi Selatan di Anjungan Pantai Losari, Sulawesi Selatan.

Di Pekanbaru, Riau yang telah 7 kali menyelenggarakan acara peringatan Hari Tari Sedunia, tahun 2013 menampilkan lebih dari 26 ( dua puluh enam ) karya tari tidak hanya tari khas masyarakat Riau tetapi juga tari-tari nusantara seperti Reog Ponorogo, Jaran Kepang (modern), Tari Jejer Banyuwangi, dan juga Barongsai.

Begitu banyaknya seni tari Indonesia, jika diurutkan dari Sabang – Merauke, jika pada peringatan Hari Tari Sedunia media-media bekerjasama meliput dan menyiarkan secara langsung seluruh acara secara bergantian, pasti menjadi sangat ramai seperti perayaan tahun baru. Menjadikan masyarakat sadar dan peduli bahwa dunia sangat menghargai budaya tari sebagai bahasa universal. Dan seharusnya kita sebagai bangsa yang punya kekayaan tari yang banyak dan unik, lebih bisa berbangga dan turut melestarikannya.

 

 

Sumber:

http://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Dance_Day

http://www.international-dance-day.org/en/danceday.html

http://www.gotoriau.com/city-guide/seni-budaya/menarilah-sampai-kapan-kita-bisa

http://www.makassartv.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10956&catid=3&Itemid=56

http://www.aktual.co/warisanbudaya/192036malang-peringati-hari-tari-sedunia

http://m.detik.com/news/read/2013/04/29/110239/2232738/10/ratusan-warga-solo-peringati-hari-tari-beraksi-di-mal-hingga-bandara

http://oase.kompas.com/read/2013/05/04/09161755/Acara.Spontan.Peringatan.Hari.Tari.Sedunia

http://dawn.com/2013/05/08/dancing-amid-sparks-and-shadows/

http://danceparade.org/wp/international-dance-day/

 

 

Ironi Guru SMK Seni

Awal keprihatinan itu muncul dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) kesenian di Indonesia. Sekolah-sekolah seni itu sedang dihadapkan dengan masalah krusial. Tak memiliki kualifikasi guru atau pengajar sesuai dengan bidang keahlihan (seni). Sementara di satu sisi, jumlah siswanya tiap tahun semakin membeludak banyak. Hal itu disebabkan oleh aturan yang awalnya mengharuskan seorang guru adalah produk lulusan dari perguruan tinggi yang berbasis Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Terlebih dahulu perlu diketahui, pada  SMK setidaknya terdapat tiga jenis kriteria pengajar atau guru. Yakni guru adaptif, guru normatif dan guru produktif. Guru normatif adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran pokok seperti Matematika, Bahasa Indonesia dan Agama. Guru adaftif mengajarkan mata pelajaran adaptif seperti Kimia, Biologi, Ilmu Alam dan Fisika. Sedangkan guru “produktif” mengajarkan mata pelajaran khusus bagi siswa SMK seperti Tekstil, Batik, Seni Kriya, Teater, Karawitan, Pedalangan, Elektro. Kriteria terakhir inilah yang saat ini menjadi problematis.

Problematis
Jejak SMK dilahirkan dengan tujuan mencetak siswa untuk siap bekerja setelah menyelesaikan masa belajarnya. Oleh karena itu, siswa SMK harus dibimbing oleh guru-guru yang memiliki bidang keahlian spesifik (produktif). Namun sayang bagi sekolah seni, kasus SMK Negeri 12 Surabaya (serupa juga di Solo, Yogya, Makassar, Padang, Denpasar, Banyumas, Bandung) misalnya, saat ini hanya memiliki satu guru produktif untuk bidang keahlian Seni Pedalangan sementara jumlah siswanya mencapai hampir 40 orang. Di Jurusan Seni Karawitan, tujuh guru produktif dengan jumlah siswa hampir 200 orang. Jurusan Teater hanya satu guru produktif untuk siswa lebih dari 50 orang. Bandingkan dengan guru normatif dan adaftif yang jumlahnya lebih dari 25-an orang.

Padahal di sisi lain, sarjana lulusan perguruan tinggi seni dengan bidang keahlian karawitan, pedalangan dan teater jumlahnya semakin banyak. Namun para sarjana seni itu tak bisa lekas mengembangkan profesi sebagai pengajar karena tak memiliki sertifikat atau ijazah sebagai pendidik. Akibatnya, suplai untuk guru-guru dengan bidang keahlian produktif mengalami kebuntuan. Lebih ironisnya, banyak guru yang tidak memiliki kompetensi utama bisa masuk sebagai pengajar dengan mudah hanya karena memiliki ijazah sebagai pendidik. Seni karawitan misalnya, dianggap sebagai seni musik, calon guru yang memiliki ijazah kependidikan musik dari LPTK dapat dengan mudah mendaftar. Padahal LPTK hanya menyediakan pendidikan musik Barat, bukan musik etnik seperti karawitan (gamelan).

Bayangkan kemudian jika seorang guru dengan bidang keahlian kependidikan musik biola atau piano tiba-tiba harus mengajar rebab atau kendang dalam gamelan. Untuk menyiasati hal itu, SMK seni menggunakan jasa guru kontrak yakni orang profesional (seniman-empu-maestro-pelaku) guna menularkan kemampuannya bagi para siswa. Jangan heran kemudian jika banyak guru kontrak yang dirasa lebih kompeten daripada guru tetap (pegawai negeri). Namun biaya yang dikeluarkan untuk membayar banyak guru kontrak itu tidaklah murah.

Melihat persoalan di wilayah sekolah seni seperti di atas, beberapa perguruan tinggi seni di Indonesia seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Denpasar ‘terpaksa’ harus membuka program jurusan kependidikan (keguruan) seni seperti karawitan, pedalangan, teater, kriya dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan agar para sarjana lulusan perguruan tinggi seni tersebut dapat langsung terserap sebagai pengajar di berbagai jenjang sekolah, terutama sekolah seni. Terobosan itu bukannya tanpa resiko. Guru adalah profesi yang saat ini menjadi dambaan bagi para sarjana di Indonesia. Antusiasme ini dapat dilihat dari jumlah mahasiswa keguruan yang tak pernah surut dari tahun ke tahun, bahkan jumlahnya cenderung meningkat. Dengan demikikan bisa dipastikan, jumlah mahasiswa keguruan seni membeludak, sementara jumlah mahasiswa di Jurusan Pedalangan, Karawitan, Teater yang mencetak calon seniman mengalami penurunan drastis.

Sekolah Khusus
SMK adalah sekolah khusus, tidak bisa disamakan dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sejenisnya. Apalagi bagi sekolah seni seperti SMKN 12 Surabaya, SMKN 8 Surakarta, SMKN 1 Yogyakarta, SMKN 3 Banyumas, SMKN 14 Bandung, SMKN 7 Padang (Sumatera), SMKN 1 Somba Opu (Makassar), SMKN 3 Sukowati (Denpasar). Hal utama yang coba ditekankan pada sekolah itu bukan semata kemampuan teoritis, namun pada aspek praktik untuk mencetak calon seniman handal siap kerja (berkarya). Apalagi sekolah seni wajib ada dan diadakan, sebagai benteng penjaga, pelestari kesenian (budaya) tradisi dan laboratorium kekaryaan baru. Jika tidak disokong dengan kemampuan pengajar yang kompeten maka mustahil akan mampu melahirkan lulusan berkualitas. Sementara pengajar yang kompeten pada bidang-bidang itu adalah lulusan perguruan tinggi seni. Namun tak mendapat ruang karena tak memiliki sertifikat kependidikan.

Tak mengherankan jika jumlah guru-guru produktif di sekolah-sekolah seni semakin menyusut dan bukan mustahil habis. Idealnya, bagi SMK-SMK yang memiliki bidang keahlian khusus, di mana profesi pengajarnya belum termuat di LPTK dapat memiliki kelonggaran untuk merekrut guru secara khusus pula. Kebijakan ini pernah bergulir saat sekolah dan perguruan tinggi seni pertama kali dirintis di Indonesia. Seniman-seniman yang memiliki kompetensi unggulan dapat menjadi pengajar tetap, tentu dengan melaksanakan pelatihan mengajar sebelumnya. Dalam sejarahnya, banyak empu-maestro di bidangnya menjadi guru yang ternyata mampu melahirkan lulusan berkualitas. Lihatlah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dengan Affandi, Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta dengan Martopangrawit dan Gendhon Humardani, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung dengan Enoch Atmadibrata, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta dengan Djaduk Djajakusuma, Konservatori Karawitan Surakarta dengan Sindusawarno, Konservatori Tari Yogyakarta dengan Hardjosoebroto dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya dengan Diyat Sariredjo.

Angin segar sebenarnya telah berhembus. Pemerintah sudah membuka alternatif jalan keluar, sarjana non kependidikan dapat bersaing dengan sarjana kependidikan untuk menjadi guru dengan adanya Undang-Undang no.14 tahun 2005. Dalam undang-undang itu disebutkan di ayat 8 bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Lebih lanjut di ayat 9 mempertegas lagi bahwa kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi “program sarjana” atau program “diploma empat”. 
Dengan adanya peraturan itu, semua lulusan perguruan tinggi (sarjana) non kependidikan dapat bersaing menjadi guru. Tentu dengan mengikuti matrikulasi matakuliah akademik kependidikan, satu paket dengan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang ditempuh sebagaimana diatur dalam Permendiknas no. 8 tahun 2009. Menjadi pelajaran penting bagi perguruan tinggi (seni) di Indonesia untuk tidak buru-buru membuka program kependidikan hanya karena takut jika lulusannya tak terserap menjadi guru.

Namun ironisnya, pasal 9 di undang-undang no. 14 tahun 2005 itu saat ini harus diuji di Mahkamah Konstitusi, karena ada gugatan beberapa orang yang menyatakan profesi guru hanya berlaku bagi lulusan perguruan tinggi yang berbasis Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Jika gugatan itu terkabulkan, bisa dibayangkan bagaimana dengan nasib SMK kesenian di Indonesia?

Aris Setiawan
Pengajar di Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Seni Topeng Madura

Topeng Madura

Kesenian topeng telah ada di Indonesia sejak lama sekali. Banyak daerah yang memiliki ciri khas kesenian topeng masing-masing. Seperti contohnya topeng Cirebon yang sangat umum dikenal. Tetapi di Jawa Timur pun ada seni topengnya. Yaitu Topeng Madura. Dan seperti juga seni topeng lainnya, topeng Madura memiliki keunikan dan filosofi tersendiri.

Topeng Madura, mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan topeng yang lain. Hal ini dapat dilihat pada ekspresi wajah topeng yang mencerminkan perwatakan, sifat perangai setiap tokoh.

Makna simbolik yang terkandung dalam topeng Madura ini diantaranya dapat terlihat dari pemberian warna dasar sebagi berikut.

Warna Dasar Hijau :

Memiliki simbol sebagai bayangan insani yang selalu mencapai tujuan hidup lestari memenuhi norma-norma yang benar, jalan yang lurus, (sesuai dengan kaidah agama Islam). Simbol ini ada pada topeng Arjuna.

Warna Dasar Putih.

Memiliki simbol sebagai tokoh suci dengan watak yang arif, setia dalam mengabdikan diri pada keadilan dan kebenaran. Simbol ini ada pada tokoh semar.

Warna Dasar Merah.

Memiliki simbol yang melambangkan keberanian, ambisius, angkuh, sombong, serakah, dengki, keji dan licik meskipun demikian tidak semua tokoh berwajah merah selalu merupakah tokoh negatif, tetapi ada kalanya menjadi tokoh kesatria, misalnya tokoh dalam topeng Gatotkaca.

Warna Dasar Hitam

Memiliki simbol sebagai pandangan dunia suku Madura mengenai jagat raya yang menempatkan manusia sebagi mahkluk kecil dalam lingkungan alam raya ciptaan Tuhan, dimana kehidupan manusia sangat tergantung kepada kemurahan Tuhan, secara fisik bermakna tergantng kepada kemurahan alam raya hal itu terdiri dari unsur utama yaitu angkasa yang mengatur cuaca, musim dan bumi yang memberikan sumber air, sandang dan pangan. Simbol ini ada pada topeng Kresna.

Selain warna di atas, ada dua warna lainnya yaitu warna dasar coklat, dadu, kelabu, biru muda untuk tokoh satria yang kurang penting.

Mputantular: Seri Mengenal koleksi museum Negeri Propinsi Jawa Timur, Surabaya: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur,1995, hlm.39-40

 

Sumber

 

 

MAKNA GERAK TARI REMO (NGREMO)

Tari Ngremo sebagai sebuah ikon tari tradisional Jawa Timur telah dikenal luas dan sangat umum dipertunjukkan sebagai tari pembuka atau tari selamat datang dalam berbagai acara.

Tari Ngremo adalah hasil penggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana yang saat itu tari Klana (menggunakan topeng) sedang ngamen di Sidoarjo (Marsudi Utomo, 1977) . Beberapa keragaman gerak tari Ngremo mirip dengan beberapa ragam gerak tari yang ada pada tari Klana Sabrang (tokoh Sewandana ataupun tokoh Basunanda). Beberapa ragam gerak tari hasil dari penggabungan antara ragam gerak tari Besut dan ragam gerak tari Klana dapat disebutkan antara lain sebagai berikut : gedrug, kipatan sampur, gendewa, ngore rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan, tepisan, nglandak, kencak, klepatan, telesik, bumi langit.

GEDRUG
Sebagai symbol manusia mulai mengenal bumi tempat ia dilahirkan dan mengarungi kehidupan. Gedrug adalah gerakan kaki (terpusat pada hentakan tumit kanan) menghentak bumi, sebagai pelambang kesadaran manusia atas daya hidup yang ada di bumi, bahwa bumi sebagai sumber hidup yang perlu dipahami adanya. KIPATAN SAMPUR Merupakan symbol dari perlindungan diri, sampur sebagai alat untuk menjauhkan diri dari segala pengaruh negative atau pengaruh buruk. Adapula yang mengartikan bahwa kipatan sampur sebagai symbol membuang hal yang buruk atau negative.

 

GENDEWA
Sebagai symbol melajunya anak panah yang sedang dilepaskan dari busur. Digambarkan bahwa gerak langkah manusia yang secepat anak panah sedang dilepas dari busurnya. Makna lain yang tersirat dalam ragam gerak gendewa ini adalah bahwa dalam melaksanakan kehidupan ini, manusia berupaya melepaskan pengalamannya untuk diturunkan kepada orang lain. Adapula yang mengartikan tentang symbol kewaspadaan seseorang terhadap zat-zat atau berbagai pengaruh yang ada di sekitarnya.

 

NGORE REKMO
Ngore adalah mengurai, rekmo adalah rambut. Dalam gerak tari ngore rekmo ini dimaksudkan sebagai symbol merias diri, terutama gambaran seseorang sedang menata rambut. NEBAK BUMI Sebagai symbol adanya bumi dan langit yang mengitari kehidupan manusia, keterikatan antara bumi dan langit dan adanya ruang diantara bumi dan langit yang dijadikan tempat untuk machluk hidup. Ruang tersebut sebagai sebuah daya yang saling berhubungan, saling mengisi dan saling mempengaruhi. Bahwa bumi dan langit merupakan dua kondisi alam yang tak dapat dilepaskan dalam kehidupan semua machluk hidup yang ada diantaranya.

 

TATASAN
Diibaratkan sebagai kemampuan seseorang dalam menangkap sesuatu yang sedang membahayakan dirinya.

 

CEKLEKAN 
Diibaratkan sebagai ranting-ranting pohon yang patah. Gerak ceklekan ini terpusat pada kesan patah-patah pada siku.

 

TRANJALAN 
Ada yang menyebutnya dengan nama gobesan. Nama gobesan biasa digunakan dalam wayang topeng malangan. Isi geraknya tidak jauh dari penggamabaran tentang solah busana, adapula yang menyebutnya dengan istilah ngudisarira. Tranjalan mempunyai makna bahwa manusia hidup selalu berupaya memelihara diri sendiri, membersihkan dirinya dari segala kotoran, yaitu kotoran yang berbentuk debu (zat mati) ataupun kotoran yang berupa zat hidup yang negative yang mempengaruhi sifat maupun prilaku manusia.

 

TEPISAN 
Merupakan symbol dari gerakan kecekatan tangan dalam melindungi tubuh dari unsure negative. Munali Fatah mengisinya dengan motif gerak tumpangtali yang tehnik geraknya bersumber dari tumpangtalinya pada tarian klana bagus dan sejenisnya (gaya tari Surakarta). Tepisan ini merupakan symbol menyaturkan daya linuwih (kekuatan lain) yang diberikan alam kepada diri manusia yang dapat terujudkan melalui gesekan kedua telapak tangan. Gerakan ini dilakukan didepan perut, karena dalam perut tersebut pusat lumbung udara yang didapatkan dari pertemuan antara udara yang dihirup dari luar dan udara yang ada dalam tubuh manusia.

 

NGLANDAK 
Merupakan symbol gerak yang menirukan prilaku binatang landak. KENCAK Merupakan symbol gerak yang menirukan prilaku binatang kuda, hal ini mirip dengan kuda kencak, mengapa disebut dengan kuda kencak, karena kuda tersebut dapat menari-nari, gerakannya antara lain diseputar junjungan kaki yang depan dan gerakan bergeser kearah samping (nyelereg). Depakan-depakan kaki kuda yang bergerak kearah samping inilah kemungkinan besar mengilhami gerak kencak pada tari ngremo. Gerakan semacam ini sudah ada pada gerak tariannya ludruk besut atau yang dikenal pula dengan nama seniti. Motif gerakan serupa juga terdapat pada tari jaranan yang berkembang subur di daerah Kediri – Tulungagung – Trenggalek.

 

KLEPATAN 
Diibaratkan sebagai upaya manusia untuk menghindar dari segala bahaya yang mengenai dirinya, untuk itu ia perlu mengetahui dan waspada terhadap segala sesuatu yang berada disekitarnya yang berusaha mendepat pada dirinya. Dijelaskan bahwa segala sesuatu itu bias berupa ujud fisik yang Nampak secara nyata, adapula ujud abstrak yang mengenai dirinya dengan tidak dapat Nampak oleh penglihatan tetapi dapat dirasakan adanya.

 

TELESIK (TELESIKAN) 
Diibaratkan seperti pergeserran benda-benda kecil (pasir, dedaunan, ranting) yang terdorong angin. Dalam hal ini mengisyaratkan bahwa disekitar manusia ini terdapat suatu daya yang mampu membawa perubahan diri manusia. Udara merupakan unsure yang perlu dipahami sebagai sesuatu yang mampu membentuk dan mengubah kehidupan.

 

BUMI LANGIT 
Gerak bumi langit ini mengandung makna kesadaran terhadap daya hidup yang ditimbulkan oleh bumi dan langit. Diantara bumi dan langit itu manusia berada untuk melaksanakan kehidupannya atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

 

 

Sumber

REMO -First Version-

Ngremo

Tari Remo atau juga disebut Ngremo sebagai sebuah tarian tradisional, telah dikenal secara luas sebagai tarian khas Jawa Timur. Tari ini pada masa kini dipertunjukkan sebagai tarian pembuka atau selamat datang pada berbagai acara.

Telah banyak juga yang membahas bahwa tari Ngremo ada 2 gaya yaitu Gaya Suroboyo-an dan gaya Jombang-an. Manakah versi yang paling awal hadir dan menjadi ikon Jawa Timur?

Berikut ini adalah ulasan tentang Ngremo, versi paling awal.

Pendahuluan

Remo (Ngremo) merupakan salah satu bentuk tari tradisional yang sudah cukup dikenal oleh kebanyakan orang di Jawa Timur maupun di wilayah lain. Meskipun tari Ngremo sudah sangat sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan di luar panggung tradisional, sementara ini juga masih banyak pula yang belum faham tentang isi tari Ngremo. Oleh karena itu tafsir tentang tari Ngremo menjadi simpang siur, bahkan ada yang menyebutnya bahwa tari Ngremo adalah tari kepahlawanan, padahal nilai-nilai koreografinya, dari aspek motif gerak tari, struktur koreografi hingga kesan musikalnya sama sekali tidak ada sentuhan tentang kepahlawanan. 

Sentuhan kepahlawanan dalam kesenian Ludruk itu sebenarnya terletak pada kidungan yang digunakan oleh pelawak, yaitu : pegupon omahe dara, melok Nipon awak tambah sengsara, artinya pegupon rumah burung merpati, ikut Nipon badan tambah sengsara. Kidungan ini kali pertama dikumandangkan oleh cak Durasim salah seorang pemain lawak dalam Ludruk di Surabaya, saat itu sekitar tahun 1927 bersamaan dengan adanya upaya penggarapan Ludruk Besut yang dikolaborasi dengan tonil sehingga munculah Sandiwara Ludruk, pada saat bersamaan dengan adanya masa pergerakan, sandiwara ludruk dimanfaatkan sebagai media propaganda untuk menyuarakan hati rakyat dalam spirit pergerakan anti penjajahan.

Oleh karena itu berkembang informasi yang sangat popular di kalangan seniman Ludruk, bahwa pada saat penjajahan Jepang saat itu, cak Durasim sering keluar masuk penjara tahanan Jepang,

Pada tahun 1975 pada saat tari Ngremo sering ditampilkan di Istana Negara untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI ataupun acara penyambutan tamu, petugas dari Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur membuatkan sinopsis dengan acuan tari Ngremo sebagai tari kepahlawanan. Pendekatan ini sangat tidak tepat, bila ditinjau dari fungsi tari Ngremo dalam pertunjukan Ludruk maupun dalam pertunjukan wayang purwa jawa timuran dan dalam kesenian tandhakan sentuhan nilai kepahlawanan itu sama sekali tidak ada, apalagi bila ditinjau dari koreografi dan symbol-simbol gerak tarinya, yang sangat menonjol dalam penyajian adalah kesan gagah untuk ngremo putra dan kesan halus cakrak untuk ngremo putri. Dengan demikian identifikasi tentang tari Ngremo sebagai tari kepahlawanan perlu dipertanyakan keabsahannya, meskipun hal tersebut pernah menjadi isu yang dimunculkan untuk dapatnya menampilkan tari Ngremo dalam acara dimaksud, ini adalah pemaksaan dan sekaligus merusak konsep tari Ngremo itu sendiri.(Tri Broto)

Latar Belakang Penciptaan

Penggambaran tari Ngremo sebagai kehidupan manusia diatas bumi sudah melekat sejak adanya tokoh Besut dalam ludruk Besutan. Beberapa gerak yang sudah digunakan oleh Besut dalam penggambaran kelahiran manusia adalah : gerakan gedrug, gerakan manembah kearah empat keblat, gerakan lampah, gerakan kencak. Pada saat gerak tari Besut tersebut digarap bersamaan dengan kemunsulan Sandiwara Ludruk jaman pergerakan, Pak Winata adalah Guru Pak Munali Fatah menggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana yang saat itu tari Klana (menggunakan topeng) sedang ngamen di Sidoarjo (Marsudi Utomo, 1977) . Pendekatan kolaboratif antara ragam gerak tari besutan dan ragam gerak tari Klana (wayang topeng Malangan) sangat besar kebenarannya, bila dilihat dari perjalanan sejarah zaman Daha-Kediri hingga menelusuri sungai porong dan percikan keberadaan wayang topeng di wilayah Malang. Beberapa keragaman gerak tari Ngremo mirip dengan beberapa ragam gerak tari yang ada pada tari Klana Sabrang (tokoh Sewandana ataupun tokoh Basunanda) Beberapa ragam gerak tari hasil dari penggabungan antara ragam gerak tari Besut dan ragam gerak tari Klana dapat disebutkan antara lain sebagai berikut : gedrug, kipatan sampur, gendewa, ngore rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan, tepisan, nglandak, kencak, klepatan, telesik, bumi langit.(Tri Broto)

Kesimpulan

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Tari Remo BUKAN tari kepahlawanan

2. Tari Remo adalah penggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana, bukan berasal dari tari Beskalan.

3. Tari Remo di awali oleh ide kreatif Pak Winata yang adalah Guru dari Munali Fatah

4. Kemudian tari ini disempurnakan oleh gaya Munali, sehingga hingga saat ini dikenal dengan judul Tari Remo Munali

Sumber