Jay Subyakto Prihatin Pagelaran Budaya Sulit Dapatkan Sponsor

“Banyak budaya yang tersimpan, jangan sampai muncul di negara tetangga dan jadi ribut-ribut.”

Menggelar kembali lakon Matah Ati untuk ketiga kalinya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tanggal 22-25 Juni 2012 dan di Halaman Istana Mangkunegaran, Solo pada tanggal 8-10 September 2012 diakui Jay Subyakto selaku Penata Artistik mendatangkan tantangan tersendiri.

“Yang pertama itu mengenai apresiasi. Banyak yang mengira ini tentang tradisi dan bikin ngantuk. Itu tantangan main di negeri sendiri,” katanya saat dijumpai usai pertunjukan Matah Ati di Taman Ismail Marzuki Kamis malam (21/6).

“Biasanya bangsa kita kalau lihat pertunjukan sendiri seperti guru lihat murid, tapi kalau (melihat) pertunjukan barat seperti murid lihat guru,” imbuhnya.

Tantangan kedua dalam menyajikan gelaran yang menceritakan kisah pertemuan Raden Mas Said dan Rubiyah di abad ke-17 ini adalah sulitnya mendapat dukungan dari pihak sponsor. “Kita menghimbau perusahaan besar untuk coba melirik pada (acara) budaya,” ujar Jay.

Hal senada juga disampaikan oleh Atilah Soeryadjaya selaku Penulis Naskah, Produser, Sutradara, dan Perancang Kostum pada kesempatan yang sama.

“Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki pertambangan, perkebunan yang kami harapkan memberi sumbangan kepada daerah masing-masing. Banyak budaya yang tersimpan, jangan sampai muncul di negara tetangga dan jadi ribut-ribut,” katanya.

Selain mendapat dukungan dari pihak sponsor, Atilah juga mengatakan bahwa ia dan tim berharap adanya dukungan dari pihak pemerintah untuk bisa ikut membantu melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal kepada bangsa sendiri dan bangsa lain.

“Kami ada pengalaman, ketika bermain di Singapura ada Pemerintah Singapura menanyakan kepada kami mana duta besarnya. Sampai sekarang kami belum tahu kami sudah dilihat apa belum, walaupun kami juga mengerti bahwa mereka (Duta Besar Indonesia) mungkin ada kesibukan lain,” tutupnya.

 

http://www.beritasatu.com/budaya/55653-jay-subyakto-prihatin-pagelaran-budaya-sulit-dapatkan-sponsor.html

Advertisements

JENIS TARI MENURUT KOREOGRAFI

Istilah koreografi adalah suatu istilah yang digunakan untuk susunan tari.

 Sedang untuk menyebut orang yang menyusun tari adalah koreografer.

Tari menurut koreografi dapat dibedakan menjadi :

 a. Tari Rakyat

Tari rakyat adalah tari yang hidup dan berkembang pada masyarakat tertentu sejak jaman primitif sampai sekarang.Ciri-ciri tari rakyat adalah :

  • Sederhana ( pakaian,rias,gerak dan ringan )
  • Tidak mengindahkan norma-norma keindahan
  • Memiliki kekuatan magis

Contoh tari rakyat :

Lengger, Tayub, Orek-Orek, Joget, Kubrasiwa, Buncis, Ndulalak, Sintren, Angguk, Rodat

b. Tari Klasik

Tari klasik adalah tari yang mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak jaman feudal.Tari ini biasanya hidup dilikgkungan keraton.

 Ciri-ciri tari klasik adalah :

  • Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
  • Hidup dikalangan raja-raja
  • Adanya standarisasi

 Contoh tari klasik adalah bedaya,srimpi,lawung ageng,lawung alit dan juga karya-karya empu tari baik empu tari gaya Yogyakarta dan empu tari gaya Surakarta seperti S.Mariadi dan S.Ngaliman  yang sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti : Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna Tinanding, Srikandi Bisma, dll

c. Tari Kreasi Baru dan Tari Modern

Tari kreasi baru adalah tari-tariklasik yamg dikembangkan sesuai dengan  perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi  baru adalah karya-karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar kembang sore dari Yogyakarta.

Contohnya adalah :

Tari Kupu-Kupu , Tari Merak, Tari Roro Ngigel, Tari Ongkek Manis, Tari Manipuri, Tari Roro Wilis,dll

 Tari modern adalah sebuah tari yang mengungkapkan emosi manusia secara bebas atau setiap penari bebas dalam mewujudkan ekspresi emosionalnya yang tidak terikat oleh sebuah bentuk yang berstandar. Contoh tari modern adalah : Caca, Break Dance, Penari Latar, Samba, dll