HARI TARI SEDUNIA (WORLD DANCE DAY) 29 APRIL

Pastinya banyak yang masih tidak tahu bahwa ternyata ada sebuah peringatan tari sekelas dunia/international yang dirayakan setiap tahunnya, yaitu setiap tanggal 29 April.

Menurut sejarahnya, Hari Tari Sedunia ini ditetapkan sebagai bentuk penghormatan kepada Jean Georges Noverre, seorang pencipta tari balet modern berkebangsaan Perancis. Jean Georges Noverre lahir pada 29 April 1727 dan wafat tanggal 19 Oktober 1810.

Hari Tari Sedunia (World Dance Day) diperkenalkan tahun 1982 oleh was International Dance Committee of the International Theatre Institute (ITI), sebuah lembaga rekanan UNESCO, NGO. Tanggal 29 april sebagai tanggal lahir Jean-Georges Noverre diusulkan oleh International Dance Committee of ITI. Karena Jean-Georges Noverre adalah seorang pencipta ballet modern dan penemu dari sebuah karya yang terkenal yaitu, Lettres sur la danse yang dipublikasikan tahun 1760 di Lyon.

Setiap tahunnya, seorang koreografer atau penari ternama atau terhebat diundang untuk menyampaikan sebuah pesan untuk dunia. Kriterianya ditentukan oleh pendiri World Dance Day – the International Dance Committee of ITI, bekerjasama dengan World Dance Alliance, anggota kerjasama dari ITI. Beberapa diantaranya sebagai pembicara tersebut adalah  Merce Cunningham, Maurice Béjart, Akram Khan and Anne Teresa De Keersmaeker yang telah menyampaikan pesannya atau berpartisipasi dalam World Dance Day di UNESCO.

Tujuan dari “International Dance Day Message” (World Dance Day) adalah untuk merayakan tari, merombak universalitas dari sebuah bentuk seni, untuk melintasi berbagai rintangan politik, budaya dan etnis serta membawa seluruh bangsa dunia kepada satu bahasa yang sama yaitu tari.

Setiap tanggal 29 April inilah seluruh bangsa merayakannya dengan menampilkan beragam tari-tarian khasnya masing-masing.

Beberapa negara mengadakan berbagai pertunjukkan di jalanan dan di gedung-gedung kesenian. Parade tari dan Festival dipenuhi oleh ratusan penari dari berbagai sanggar tari (studio tari).

New York, misalnya. Pada tahun 2013 menyelenggarakan Dance Parade, dengan beberapa penampilan sebagai berikut:

  • Andanza Flamenco (FLAMENCO)
  • Dancing Rubies (BELLY DANCE)
  • Fusha Dance Company (AFRICAN)
  • Mazarte Dance Group (MEXICAN CARNIVAL)
  • Neville Dance Theatre (CONTEMPORARY)
  • NIWA (MODERN)
  • RISE Hip Hop (HIP-HOP)
  • Jehan’s Belly Dance Raks Stars (BELLYDANCE)
  • The Shakedown (FUNK)
  • Times Squares Square Dance Club (MODERN WSTRN SQUARE)

Di Pakistan, dirayakan dengan tari jalanan tari kontemporer yang diberi judul “Dancing amid sparks and shadows”

Di Indonesia, perayaan Hari tari Sedunia tahun 2013, Solo adalah salah satu daerah yang merayakan Hari Tari Sedunia dengan sangat besar dan meriah. Di kota pusat budaya Jawa tersebut digelar acara menari 24 jam tanpa henti di berbagai lokasi, di jalanan, di Mall juga di Bandara. Bahkan Wali Kota dan Wakil Walikota juga terlibat dan ikut menari bersama ratusan orang. Solo sudah 7 tahun menggelar acara seperti ini.

Di Denpasar, tepat tanggal 29 april 2013, Alunan instrumen musik tradisional gong bleganjur bertalu-talu memecah keheningan suasana kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar secara spontan. Tari legong massal juga dibawakan oleh para mahasiswa ISI mewarnai pementasan di panggung terbuka ISI Denpasar yang berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 21.00 hingga 24.00 waktu setempat.

Di Malang, pada tahun 2013, Festival Seribu Topeng yang dipadu dengan tarian dengan melibatkan 44 grup berasal dari berbagai sekolah di Kota Malang. Peserta festival terdiri dari 44 grup mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi. Setiap grup beranggotakan 25 orang penari topeng sehingga jumlah keseluruhan mencapai 1.200 penari topeng.

Di Makassar, tahun 2013, mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) mempertunjukkan 6 judul tari khas masyarakat Sulawesi Selatan di Anjungan Pantai Losari, Sulawesi Selatan.

Di Pekanbaru, Riau yang telah 7 kali menyelenggarakan acara peringatan Hari Tari Sedunia, tahun 2013 menampilkan lebih dari 26 ( dua puluh enam ) karya tari tidak hanya tari khas masyarakat Riau tetapi juga tari-tari nusantara seperti Reog Ponorogo, Jaran Kepang (modern), Tari Jejer Banyuwangi, dan juga Barongsai.

Begitu banyaknya seni tari Indonesia, jika diurutkan dari Sabang – Merauke, jika pada peringatan Hari Tari Sedunia media-media bekerjasama meliput dan menyiarkan secara langsung seluruh acara secara bergantian, pasti menjadi sangat ramai seperti perayaan tahun baru. Menjadikan masyarakat sadar dan peduli bahwa dunia sangat menghargai budaya tari sebagai bahasa universal. Dan seharusnya kita sebagai bangsa yang punya kekayaan tari yang banyak dan unik, lebih bisa berbangga dan turut melestarikannya.

 

 

Sumber:

http://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Dance_Day

http://www.international-dance-day.org/en/danceday.html

http://www.gotoriau.com/city-guide/seni-budaya/menarilah-sampai-kapan-kita-bisa

http://www.makassartv.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10956&catid=3&Itemid=56

http://www.aktual.co/warisanbudaya/192036malang-peringati-hari-tari-sedunia

http://m.detik.com/news/read/2013/04/29/110239/2232738/10/ratusan-warga-solo-peringati-hari-tari-beraksi-di-mal-hingga-bandara

http://oase.kompas.com/read/2013/05/04/09161755/Acara.Spontan.Peringatan.Hari.Tari.Sedunia

http://dawn.com/2013/05/08/dancing-amid-sparks-and-shadows/

http://danceparade.org/wp/international-dance-day/

 

 

Tolak Ukur Keberhasilan Anak Berlatih Seni Tari

Sebagai orangtua tentunya kita memiliki banyak sekali pengharapan pencapaian dari anak-anak kita setelah mereka menjalani suatu pembelajaran. Baik dalam bidang pengetahuan Bahasa, Angka, Alam dan bahkan seni. Namun bagaimanakan kita dapat mengukur keberhasilan anak dalam pembelajaran seni, terutama seni tari?

Pendidikan seni yang pada hakekatnya merupakan pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman apresiasi estetik, disamping mampu memberikan dorongan ber-“ekstasi” lewat seni, juga memberi alternatif pengembangan potensi psikis diri serta dapat berperan sebagai katarsis jiwa yang membebaskan. Ross mengungkapkan bahwa kurikulum pendidikan seni termasuk kurikulum humanistic yang mengutamakan pembinaan kemanusiaan, bukan kurikulum sosial yang mengutamakan hasil praktis (Ross 1983). Sedangkan menurut Read (1970) pendidikan seni lebih berdimensikan sebagai “media pendidikan” yang memberikan serangkaian pengalaman estetik yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa individu. Sebab melalui pendidikan ini akan diperoleh internalisasi pengalaman estetik yang berfungsi melatih kepekaan rasa yang tinggi. Dengan kepekaan rasa yang tinggi inilah, nantinya mental anak mudah untuk diisi dengan nilai-nilai religiousitas, budi pekerti atau jenis yang lain. Definisi dan pemaknaan “kearifan” diperlukan syarat-syarat: pengetahuan yang luas (to be learned), kecerdikan (smartness), akal sehat (common sense), tilikan (insight), yaitu mengenali inti dari hal-hal yang diketahui, sikap hati-hati (prodence, discrete), pemahaman terhadap norma-norma dan kebenaran, dan kemampuan mencernakan (to digest) pengalaman hidup (Buchori 2000 dalam Sindhunata 2001: 25). Semua nilai-nilai itu terkandung dengan sarat dalam dimensi pendidikan seni, karena berorientasi pada penekanan proses pengalaman olah rasa dan estetis.

Pendidikan seni yang diajarkan di sekolah saling berkaitan antara seni suara, gerak, rupa dan drama, karena seni memiliki sifat multilingual, multidimensional dan multikultural. Pendidikan seni dapat mengembangkan kemampuan manusia dalam berkomunikasi secara visual atau rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya (Goldberg 1997: 8). Selain itu, pendidikan seni juga dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya majemuk (Kamaril 2001: 4).

Pendidikan seni sangat penting diberikan sejak anak usia dini. Perkembangan anak usia dini dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu fase orok, fase bayi, fase prasekolah (usia Taman Kanak-Kanak), fase anak sekolah (usia anak Sekolah Dasar) dan fase remaja (Yusuf 2001: 149). Salah satu fase perkembangan yang berlangsung dalam kehidupan anak adalah tahap prasekolah yang berlangsung sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya) (Yusuf 2001: 162-163). Pada masa usia prasekolah ini, berbagai aspek perkembangan anak sedang berada pada keadaan perubahan yang sangat cepat, baik dalam kemampuan fisik, bahasa, kecerdasan, emosi, sosial dan kepribadian.

Perkembangan motorik anak pada usia ini, ditandai dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf otot (neoromuskuler), sehingga memungkinkan anak lebih lincah dan aktif bergerak. Dalam masa ini tampak adanya perubahan dalam gerakan yang semula kasar menjadi lebih halus yang memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot yang lebih halus serta terkoordinir. Untuk melatih ketrampilan dan koordinasi gerakan, dapat dilakukan dengan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, kubus-kubus, bola, balok titian, dan tongkat.

Menurut Yusuf (2001: 164), kemampuan motorik anak dapat dideskripsikan sebagai berikut. Kemampuan motorik kasar usia 3-4 tahun adalah naik turun tangga, meloncat dengan dua kaki, melempar bola, meloncat,sedangkan kemampuan motorik halus anak adalah menggunakan krayon, menggunakan benda/alat, menirukan bentuk (gerakan orang lain). Kemampuan motorik kasar anak usia 4-6 tahun adalah mengendarai sepeda anak, menangkap bola, bermain olah raga. Kemampuan motorik halus anak usia 4-6 tahun adalah menggunakan pensil, menggambar, memotong dengan gunting, menulis huruf cetak.

Sementara itu, gerakan yang sering dilakukan anak-anak dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu (1) motorik statis, yaitu gerakan tubuh sebagai upaya memperoleh keseimbangan gerak pada saat berjalan, (2) motorik ketangkasan, yaitu gerakan untuk melakukan tindakan yang berwujud ketangkasan dan ketrampilan, (3) motorik penguasaan, yaitu gerak yang dilakukan untuk mengendalikan otot-otot tubuh sehingga ekspresi muka terlihat jelas (Zulkipli 1992 : 32).

Dalam hal pembelajaran seni tari dimana anak tidak hanya belajar bergerak tetapi juga belajar mensinkronisasi gerak dengan musik dan kekompakan gerak dengan teman lainnya, maka yang dilatih tidak hanya motorik kasar tetapi juga motorik halus. Di dalam berlatih tari anak, anak harus belajar meniru dan menurunkan egonya ketika menari. Mereka harus belajar menyesuaikan geraknya agar sama dengan pelatih dan sama dengan teman-teman lainnya dalam kelompok. Kecerdasan Emosional anakpun dilatih.

Mungkin ada beberapa orangtua yang berharap terlalu muluk atau terlalu besar terhadap anaknya ketika mengikuti pelatihan tari. Orangtua memiliki bayangan bahwa anak bisa tiba-tiba menjadi luwes dalam berjalan, dalam melambai dan ataupun berputar setelah hanya beberapa bulan berlatih. Ketika hal tersebut ternyata tidak tampak terlihat, orangtua langsung berkesimpulan bahwa pelatihan tersebut gagal dan atau anaklah yang tidak punya kemampuan, maka kemudian memutuskan menghentikan pelatihan.

Padahal seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa pelatihan tari pada anak tidak hanya bertujuan agar anak bisa menari tetapi melatih kecerdasan emosional anak. Karena anak yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) tinggi adalah anak-anak yang bahagia, percaya diri, populer dan sukses.

Peningkatan kecerdasan emosional anak usia dini melalui pembelajaran seni tari dapat dilihat melalui: (1) timbulnya perasaan bangga, (2) memiliki sifat pemberani, (3) mampu mengendalikan emosi, (4) mampu mengasah kehalusan budi, (5) mampu menumbuhkan rasa bertanggung jawab, (6) mampu menumbuhkan rasa mandiri, (7) mudah berinteraksi dengan orang lain, (8) memiliki prestasi yang baik, (9) mampu mengembangkan imajinasi, dan (10) menjadi anak yang kreatif.

Timbulnya Perasaan Bangga
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat pada saat anak tampil menari dengan ekspresi tersenyum, tenang, dan gembira. Seorang anak membutuhkan kesepakatan pujian dari orang yang dikagumi, dicintai dan dihormatinya. Mendapat pujian dari orang yang dicintai, dikagumi, akan dapat membuat anak menjadi merasa lebih berarti dan berguna. Pujian tersebut bisa berupa kalimat verbal maupun non verbal sebagai pernyataan kekaguman atas diri anak. Pujian yang disampaikan kepada anak akan menimbulkan sugesti positif bagi anak, sehingga anak terpengaruh untuk menjadi lebih tenang, gembira, aman, optimis dan sebagainya.
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat melalui penampilan anak dalam melakukan gerakan tari yang selalu disertai dengan senyuman, kelincahan dan kegembiraan. Kemampuan menari dan peningkatan gerak motorik anak dapat menimbulkan perasaan bangga pada anak, yang menunjukkan anak memiliki kecerdasan emosional yang baik. Kecerdasan emosional anak terbentuk pada saat anak memulai belajar menari dari gerakan awal yang tidak begitu dikuasai, sampai akhirnya menguasai gerakan tari secara keseluruhan.

Memiliki Sifat Pemberani
Proses pembelajaran seni tari mengajarkan anak berani bergerak dengan bebas, berani bertanya, berani melakukan perintah gurunya, berani menunjukkan kemampuannya, dan berani untuk tampil di hadapan orang lain. Sikap berani anak ditunjukkan melalui cara anak menari dengan bebas tanpa tekanan, selalu tersenyum, tatapan mata yang penuh percaya diri. Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari sikap pemberani anak dalam menari tersebut tercermin dari sikap anak yang berani untuk bertemu dengan orang lain, berani menjawab pertanyaan orang lain, berani bertanya, berani bermain dengan teman sebayanya, berani berada di lingkungan yang baru dan berani mengikuti perintah guru.

Mampu Mengendalikan Emosi
Perilaku anak, baik itu meliputi perilaku yang baik ataupun buruk merupakan bagian dari pengembangan kecerdasan emosional anak. Sesungguhnya anak cenderung memiliki emosi yang lebih kuat daripada orang dewasa, karena anak belum mampu mengembangkan kemampuan menalar sampai dengan usia 9 tahun. Anak yang memiliki kecerdasan emosional kuat akan mampu menciptakan dan mempertahankan hubungan sehat dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Kecerdasan emosional anak terlihat pada anak yang benar-benar dididik dan diarahkan untuk menjiwai dan menghargai terhadap kemampuan dalam melakukan suatu tarian. Anak yang secara rutin belajar tari, secara tidak langsung telah belajar berbuat, merasa, dan menghargai orang lain. Kemampuan anak tersebut sangat berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sementara itu, perlu diperhatikan pula, bahwa faktor dukungan dari sekolah, orang tua dan masyarakat juga mempengaruhi pengendalian emosi anak yang sudah terarah dan terbentuk dengan baik, senantiasa akan berubah dan luntur oleh lingkungan dimana anak berada.

Mampu Mengasah Kehalusan Budi
Pelaksanaan pembelajaran seni tari tidak hanya mengajarkan, melatih dan membimbing anak untuk bergerak mengikuti alunan musik, melainkan dapat juga membimbing dan mengarahkan perilaku anak dengan etika yang baik. Seni tari mengajarkan anak untuk dapat menyesuaikan gerakan dengan musik sehingga anak secara tidak langsung berlatih untuk menggunakan kepekaan dan kehalusan budi/perasaannya agar dapat bergerak sesuai dengan musik. Anak belajar untuk mentaati dan melaksanakan perintah guru dalam pembelajaran seni tari, yang tercermin pada saat guru memberikan contoh gerak dan menyuruh anak untuk memperhatikan, menirukan dan mempraktekkan. Anak belajar untuk mengingat gerakan yang diberikan guru, sehingga anak juga belajar mengasah kognitifnya. Selain kognitifnya terasah, anak juga belajar menanamkan nilai-nilai etika yang mengasah kehalusan budinya melalui kegiatan menari dengan cara belajar menghargai teman, bekerjasama dengan teman, menolong sesama teman, mengikuti perintah guru, menghormati guru, dan memiliki sopan santun.

Mampu Menumbuhkan Rasa Bertanggung jawab
Anak yang bertanggungjawab adalah anak yang mampu melakukan apa yang diinginkannya sekaligus juga mampu melakukan apa yang diinginkan orang lain, mampu memilih mana yang baik dan buruk serta berani menanggung resiko. Untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak harus dilakukan dengan lemah lembut, halus, tegas tetapi penuh pengharapan. Bentuk tanggung jawab yang diajarkan guru kepada anak melalui pembelajaran seni tari adalah: (1) belajar mentaati waktu, apabila waktunya belajar tari sudah tiba maka anak-anak diminta segera untuk menuju ruang berlatih, (2) belajar mengatur dirinya sendiri melalui berbaris rapi, berjajar dengan teman-temannya pada saat mengikuti pelajaran tari, (3) belajar memperhatikan guru pada saat guru menerangkan dan mengikuti semua perintah guru, dan (4) belajar menghafalkan gerakan yang diberikan guru.

Mampu Menumbuhkan Rasa Mandiri
Salah satu ciri anak yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi adalah mempunyai sifat mandiri. Sifat mandiri pada anak dapat ditanamkan melalui pembelajaran tari, caranya dengan mengajarkan anak untuk melakukan tugas-tugasnya secara mandiri. Tugas-tugas anak tersebut antara lain yaitu: mencari tempat di dalam barisan pada saat belajar menari, berjalan tertib menuju ruang latihan menari, menirukan gerak yang diberikan oleh gurunya tanpa disuruh, berani menari sendiri tanpa diberi contoh, berani mengambil tempat minum sendiri, berani menari didepan banyak orang tanpa didampingi gurunya.

Mudah Berinteraksi dengan orang lain
Dalam pembelajaran seni tari, anak diajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya menjawab pertanyaan guru, memperhatikan guru dalam menjelaskan materi, menirukan gerak yang diberikan oleh guru, mempraktekkan gerak yang diajarkan guru, bertanya pada guru apabila mempunyai kesulitan, menyapa teman, berbaris rapi bersama teman, menari bersama teman, mau berbagi dengan teman. Kebiasaan yang diajarkan guru dalam proses belajar menari tersebut dapat diterapkan di dalam perilaku sehari-hari, misalnya mau menjawab pertanyaan orang lain, memperhatikan orang lain yang berbicara dengannya, bertanya atau menyapa pada orang lain, mau bermain dengan teman, berbagi dengan teman, membantu teman yang dalam kesulitan.

Memiliki Prestasi Yang Baik
Belajar menari tidak hanya membuat anak mempunyai tubuh yang lentur dan bugar, akan tetapi lebih jauh lagi, menari mampu membentuk kecerdasan emosional dan logika anak yang dibuktikan dengan prestasi yang baik di dalam pelajaran lainnya. Berdasarkan wawancara dengan seorang guru, bahwa anak-anak yang suka menari dan sering mengikuti pentas menari cenderung memiliki prestasi yang tinggi jika dibandingkan dengan anak yang tidak suka kegiatan menari. Anak yang suka menari mempunyai sifat mudah diajak berkomunikasi, mudah tanggap terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru dan cepat selesai mengerjakannya. Anak juga mempunyai konsentrasi yang baik dalam mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena di dalam proses belajar menari, anak tidak hanya dituntut untuk bisa menghafalkan gerak, tetapi juga dituntut untuk mampu mempraktekkannya sesuai dengan iringan dan mampu mengeskpresikan gerak tersebut dengan baik. Artinya di dalam proses belajar menari, anak belajar 3 hal sekaligus yang tidak didapatkan dalam mata pelajaran lain, yaitu menghafalkan, menyesuaikan gerak dengan musik, dan menjiwai gerakan tersebut.

Mampu Mengembangkan Imajinasi
Dalam pembelajaran tari, pengembangan imajinasi anak dilakukan melalui cerita yang disampaikan oleh guru sebelum memberikan contoh gerak. Selain cerita, foto, gambar, film, keadaan disekeliling anak juga dapat menjadi media pengembangan imajinasi anak. Misalnya, guru akan mengajarkan tari burung, terlebih dahulu anak diberikan cerita mengenai burung, bagaimana burung itu mencari makan, minum, terbang, bertengger, berjalan dan tidur. Kemudian anak diajarkan menirukan perilaku burung tersebut sesuai dengan imajinasi anak sendiri. Guru hanya mengarahkan gerakan yang dibuat anak berdasarkan imajinasinya tersebut supaya menghasilkan gerak yang baik. Guru harus menghargai karya anak tersebut, tidak boleh mencela atau mengatakan buruk, karena hanya akan mematahkan daya imajinasi anak.

Menjadi Anak Yang Kreatif
Proses pengembangan daya imajinasi anak, akan mengarah atau membentuk perilaku kreatif anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil karya anak. Dalam proses belajar tari, anak cenderung menjadi lebih kreatif, karena anak diberi kebebasan untuk bergerak, menirukan gerak, menafsirkan gerak sesuai dengan kemampuannya. Artinya dalam proses belajar tari, tidak ada istilah benar dan salah, sehingga anak bebas menirukan gerak yang diberikan gurunya. Bebas artinya gerakan yang dilakukan anak tidak harus sama persis yang dilakukan gurunya, misalnya gerak tangan ke atas, seharusnya gerak tangan tersebut dilakukan dengan lurus ke atas, tetapi anak bisa melakukannya tidak lurus mungkin agak serong. Selain itu, anak juga diberikan kebebasan untuk menafsirkan cerita yang diberikan guru untuk mengekspresikannya kedalam gerak sesuai dengan imajinasinya. Dengan membiarkan anak melakukan gerak tari sesuai dengan kemampuan dan imajinasinya, guru secara tidak langsung sudah mengajarkan anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Kreativitas gerak yang dimiliki anak, merupakan salah satu ciri kecerdasan emosional anak.

Sumber 1

Sumber 2

HARI TARI SEDUNIA (WORLD DANCE DAY)

Pastinya banyak yang masih tidak tahu bahwa ternyata ada sebuah peringatan tari sekelas dunia/international yang dirayakan setiap tahunnya, yaitu setiap tanggal 29 April.

Menurut sejarahnya, Hari Tari Sedunia ini ditetapkan sebagai bentuk penghormatan kepada Jean Georges Noverre, seorang pencipta tari balet modern berkebangsaan Perancis. Jean Georges Noverre lahir pada 29 April 1727 dan wafat tanggal 19 Oktober 1810.

Hari Tari Sedunia (World Dance Day) diperkenalkan tahun 1982 oleh was International Dance Committee of the International Theatre Institute (ITI), sebuah lembaga rekanan UNESCO, NGO. Tanggal 29 april sebagai tanggal lahir Jean-Georges Noverre diusulkan oleh International Dance Committee of ITI. Karena Jean-Georges Noverre adalah seorang pencipta ballet modern dan penemu dari sebuah karya yang terkenal yaitu, Lettres sur la danse yang dipublikasikan tahun 1760 di Lyon.

Setiap tahunnya, seorang koreografer atau penari ternama atau terhebat diundang untuk menyampaikan sebuah pesan untuk dunia. Kriterianya ditentukan oleh pendiri World Dance Day – the International Dance Committee of ITI, bekerjasama dengan World Dance Alliance, anggota kerjasama dari ITI. Beberapa diantaranya sebagai pembicara tersebut adalah  Merce Cunningham, Maurice Béjart, Akram Khan and Anne Teresa De Keersmaeker yang telah menyampaikan pesannya atau berpartisipasi dalam World Dance Day di UNESCO.

Tujuan dari “International Dance Day Message” (World Dance Day) adalah untuk merayakan tari, merombak universalitas dari sebuah bentuk seni, untuk melintasi berbagai rintangan politik, budaya dan etnis serta membawa seluruh bangsa dunia kepada satu bahasa yang sama yaitu tari.

Setiap tanggal 29 April inilah seluruh bangsa merayakannya dengan menampilkan beragam tari-tarian khasnya masing-masing.

Beberapa negara mengadakan berbagai pertunjukkan di jalanan dan di gedung-gedung kesenian. Parade tari dan Festival dipenuhi oleh ratusan penari dari berbagai sanggar tari (studio tari).

New York, misalnya. Pada tahun 2013 menyelenggarakan Dance Parade, dengan beberapa penampilan sebagai berikut:

  • Andanza Flamenco (FLAMENCO)
  • Dancing Rubies (BELLY DANCE)
  • Fusha Dance Company (AFRICAN)
  • Mazarte Dance Group (MEXICAN CARNIVAL)
  • Neville Dance Theatre (CONTEMPORARY)
  • NIWA (MODERN)
  • RISE Hip Hop (HIP-HOP)
  • Jehan’s Belly Dance Raks Stars (BELLYDANCE)
  • The Shakedown (FUNK)
  • Times Squares Square Dance Club (MODERN WSTRN SQUARE)

Di Pakistan, dirayakan dengan tari jalanan tari kontemporer yang diberi judul “Dancing amid sparks and shadows”

Di Indonesia, perayaan Hari tari Sedunia tahun 2013, Solo adalah salah satu daerah yang merayakan Hari Tari Sedunia dengan sangat besar dan meriah. Di kota pusat budaya Jawa tersebut digelar acara menari 24 jam tanpa henti di berbagai lokasi, di jalanan, di Mall juga di Bandara. Bahkan Wali Kota dan Wakil Walikota juga terlibat dan ikut menari bersama ratusan orang. Solo sudah 7 tahun menggelar acara seperti ini.

Di Denpasar, tepat tanggal 29 april 2013, Alunan instrumen musik tradisional gong bleganjur bertalu-talu memecah keheningan suasana kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar secara spontan. Tari legong massal juga dibawakan oleh para mahasiswa ISI mewarnai pementasan di panggung terbuka ISI Denpasar yang berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 21.00 hingga 24.00 waktu setempat.

Di Malang, pada tahun 2013, Festival Seribu Topeng yang dipadu dengan tarian dengan melibatkan 44 grup berasal dari berbagai sekolah di Kota Malang. Peserta festival terdiri dari 44 grup mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi. Setiap grup beranggotakan 25 orang penari topeng sehingga jumlah keseluruhan mencapai 1.200 penari topeng.

Di Makassar, tahun 2013, mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) mempertunjukkan 6 judul tari khas masyarakat Sulawesi Selatan di Anjungan Pantai Losari, Sulawesi Selatan.

Di Pekanbaru, Riau yang telah 7 kali menyelenggarakan acara peringatan Hari Tari Sedunia, tahun 2013 menampilkan lebih dari 26 ( dua puluh enam ) karya tari tidak hanya tari khas masyarakat Riau tetapi juga tari-tari nusantara seperti Reog Ponorogo, Jaran Kepang (modern), Tari Jejer Banyuwangi, dan juga Barongsai.

Begitu banyaknya seni tari Indonesia, jika diurutkan dari Sabang – Merauke, jika pada peringatan Hari Tari Sedunia media-media bekerjasama meliput dan menyiarkan secara langsung seluruh acara secara bergantian, pasti menjadi sangat ramai seperti perayaan tahun baru. Menjadikan masyarakat sadar dan peduli bahwa dunia sangat menghargai budaya tari sebagai bahasa universal. Dan seharusnya kita sebagai bangsa yang punya kekayaan tari yang banyak dan unik, lebih bisa berbangga dan turut melestarikannya.

 

 

Sumber:

http://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Dance_Day

http://www.international-dance-day.org/en/danceday.html

http://www.gotoriau.com/city-guide/seni-budaya/menarilah-sampai-kapan-kita-bisa

http://www.makassartv.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10956&catid=3&Itemid=56

http://www.aktual.co/warisanbudaya/192036malang-peringati-hari-tari-sedunia

http://m.detik.com/news/read/2013/04/29/110239/2232738/10/ratusan-warga-solo-peringati-hari-tari-beraksi-di-mal-hingga-bandara

http://oase.kompas.com/read/2013/05/04/09161755/Acara.Spontan.Peringatan.Hari.Tari.Sedunia

http://dawn.com/2013/05/08/dancing-amid-sparks-and-shadows/

http://danceparade.org/wp/international-dance-day/

 

 

Tolak Ukur Keberhasilan Anak Berlatih Seni Tari

Sebagai orangtua tentunya kita memiliki banyak sekali pengharapan pencapaian dari anak-anak kita setelah mereka menjalani suatu pembelajaran. Baik dalam bidang pengetahuan Bahasa, Angka, Alam dan bahkan seni. Namun bagaimanakan kita dapat mengukur keberhasilan anak dalam pembelajaran seni, terutama seni tari?

Pendidikan seni yang pada hakekatnya merupakan pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman apresiasi estetik, disamping mampu memberikan dorongan ber-“ekstasi” lewat seni, juga memberi alternatif pengembangan potensi psikis diri serta dapat berperan sebagai katarsis jiwa yang membebaskan. Ross mengungkapkan bahwa kurikulum pendidikan seni termasuk kurikulum humanistic yang mengutamakan pembinaan kemanusiaan, bukan kurikulum sosial yang mengutamakan hasil praktis (Ross 1983). Sedangkan menurut Read (1970) pendidikan seni lebih berdimensikan sebagai “media pendidikan” yang memberikan serangkaian pengalaman estetik yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa individu. Sebab melalui pendidikan ini akan diperoleh internalisasi pengalaman estetik yang berfungsi melatih kepekaan rasa yang tinggi. Dengan kepekaan rasa yang tinggi inilah, nantinya mental anak mudah untuk diisi dengan nilai-nilai religiousitas, budi pekerti atau jenis yang lain. Definisi dan pemaknaan “kearifan” diperlukan syarat-syarat: pengetahuan yang luas (to be learned), kecerdikan (smartness), akal sehat (common sense), tilikan (insight), yaitu mengenali inti dari hal-hal yang diketahui, sikap hati-hati (prodence, discrete), pemahaman terhadap norma-norma dan kebenaran, dan kemampuan mencernakan (to digest) pengalaman hidup (Buchori 2000 dalam Sindhunata 2001: 25). Semua nilai-nilai itu terkandung dengan sarat dalam dimensi pendidikan seni, karena berorientasi pada penekanan proses pengalaman olah rasa dan estetis.

Pendidikan seni yang diajarkan di sekolah saling berkaitan antara seni suara, gerak, rupa dan drama, karena seni memiliki sifat multilingual, multidimensional dan multikultural. Pendidikan seni dapat mengembangkan kemampuan manusia dalam berkomunikasi secara visual atau rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya (Goldberg 1997: 8). Selain itu, pendidikan seni juga dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya majemuk (Kamaril 2001: 4).

Pendidikan seni sangat penting diberikan sejak anak usia dini. Perkembangan anak usia dini dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu fase orok, fase bayi, fase prasekolah (usia Taman Kanak-Kanak), fase anak sekolah (usia anak Sekolah Dasar) dan fase remaja (Yusuf 2001: 149). Salah satu fase perkembangan yang berlangsung dalam kehidupan anak adalah tahap prasekolah yang berlangsung sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya) (Yusuf 2001: 162-163). Pada masa usia prasekolah ini, berbagai aspek perkembangan anak sedang berada pada keadaan perubahan yang sangat cepat, baik dalam kemampuan fisik, bahasa, kecerdasan, emosi, sosial dan kepribadian.

Perkembangan motorik anak pada usia ini, ditandai dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf otot (neoromuskuler), sehingga memungkinkan anak lebih lincah dan aktif bergerak. Dalam masa ini tampak adanya perubahan dalam gerakan yang semula kasar menjadi lebih halus yang memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot yang lebih halus serta terkoordinir. Untuk melatih ketrampilan dan koordinasi gerakan, dapat dilakukan dengan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, kubus-kubus, bola, balok titian, dan tongkat.

Menurut Yusuf (2001: 164), kemampuan motorik anak dapat dideskripsikan sebagai berikut. Kemampuan motorik kasar usia 3-4 tahun adalah naik turun tangga, meloncat dengan dua kaki, melempar bola, meloncat,sedangkan kemampuan motorik halus anak adalah menggunakan krayon, menggunakan benda/alat, menirukan bentuk (gerakan orang lain). Kemampuan motorik kasar anak usia 4-6 tahun adalah mengendarai sepeda anak, menangkap bola, bermain olah raga. Kemampuan motorik halus anak usia 4-6 tahun adalah menggunakan pensil, menggambar, memotong dengan gunting, menulis huruf cetak.

Sementara itu, gerakan yang sering dilakukan anak-anak dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu (1) motorik statis, yaitu gerakan tubuh sebagai upaya memperoleh keseimbangan gerak pada saat berjalan, (2) motorik ketangkasan, yaitu gerakan untuk melakukan tindakan yang berwujud ketangkasan dan ketrampilan, (3) motorik penguasaan, yaitu gerak yang dilakukan untuk mengendalikan otot-otot tubuh sehingga ekspresi muka terlihat jelas (Zulkipli 1992 : 32).

Dalam hal pembelajaran seni tari dimana anak tidak hanya belajar bergerak tetapi juga belajar mensinkronisasi gerak dengan musik dan kekompakan gerak dengan teman lainnya, maka yang dilatih tidak hanya motorik kasar tetapi juga motorik halus. Di dalam berlatih tari anak, anak harus belajar meniru dan menurunkan egonya ketika menari. Mereka harus belajar menyesuaikan geraknya agar sama dengan pelatih dan sama dengan teman-teman lainnya dalam kelompok. Kecerdasan Emosional anakpun dilatih.

Mungkin ada beberapa orangtua yang berharap terlalu muluk atau terlalu besar terhadap anaknya ketika mengikuti pelatihan tari. Orangtua memiliki bayangan bahwa anak bisa tiba-tiba menjadi luwes dalam berjalan, dalam melambai dan ataupun berputar setelah hanya beberapa bulan berlatih. Ketika hal tersebut ternyata tidak tampak terlihat, orangtua langsung berkesimpulan bahwa pelatihan tersebut gagal dan atau anaklah yang tidak punya kemampuan, maka kemudian memutuskan menghentikan pelatihan.

Padahal seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa pelatihan tari pada anak tidak hanya bertujuan agar anak bisa menari tetapi melatih kecerdasan emosional anak. Karena anak yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) tinggi adalah anak-anak yang bahagia, percaya diri, populer dan sukses.

Peningkatan kecerdasan emosional anak usia dini melalui pembelajaran seni tari dapat dilihat melalui: (1) timbulnya perasaan bangga, (2) memiliki sifat pemberani, (3) mampu mengendalikan emosi, (4) mampu mengasah kehalusan budi, (5) mampu menumbuhkan rasa bertanggung jawab, (6) mampu menumbuhkan rasa mandiri, (7) mudah berinteraksi dengan orang lain, (8) memiliki prestasi yang baik, (9) mampu mengembangkan imajinasi, dan (10) menjadi anak yang kreatif.

Timbulnya Perasaan Bangga
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat pada saat anak tampil menari dengan ekspresi tersenyum, tenang, dan gembira. Seorang anak membutuhkan kesepakatan pujian dari orang yang dikagumi, dicintai dan dihormatinya. Mendapat pujian dari orang yang dicintai, dikagumi, akan dapat membuat anak menjadi merasa lebih berarti dan berguna. Pujian tersebut bisa berupa kalimat verbal maupun non verbal sebagai pernyataan kekaguman atas diri anak. Pujian yang disampaikan kepada anak akan menimbulkan sugesti positif bagi anak, sehingga anak terpengaruh untuk menjadi lebih tenang, gembira, aman, optimis dan sebagainya.
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat melalui penampilan anak dalam melakukan gerakan tari yang selalu disertai dengan senyuman, kelincahan dan kegembiraan. Kemampuan menari dan peningkatan gerak motorik anak dapat menimbulkan perasaan bangga pada anak, yang menunjukkan anak memiliki kecerdasan emosional yang baik. Kecerdasan emosional anak terbentuk pada saat anak memulai belajar menari dari gerakan awal yang tidak begitu dikuasai, sampai akhirnya menguasai gerakan tari secara keseluruhan.

Memiliki Sifat Pemberani
Proses pembelajaran seni tari mengajarkan anak berani bergerak dengan bebas, berani bertanya, berani melakukan perintah gurunya, berani menunjukkan kemampuannya, dan berani untuk tampil di hadapan orang lain. Sikap berani anak ditunjukkan melalui cara anak menari dengan bebas tanpa tekanan, selalu tersenyum, tatapan mata yang penuh percaya diri. Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari sikap pemberani anak dalam menari tersebut tercermin dari sikap anak yang berani untuk bertemu dengan orang lain, berani menjawab pertanyaan orang lain, berani bertanya, berani bermain dengan teman sebayanya, berani berada di lingkungan yang baru dan berani mengikuti perintah guru.

Mampu Mengendalikan Emosi
Perilaku anak, baik itu meliputi perilaku yang baik ataupun buruk merupakan bagian dari pengembangan kecerdasan emosional anak. Sesungguhnya anak cenderung memiliki emosi yang lebih kuat daripada orang dewasa, karena anak belum mampu mengembangkan kemampuan menalar sampai dengan usia 9 tahun. Anak yang memiliki kecerdasan emosional kuat akan mampu menciptakan dan mempertahankan hubungan sehat dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Kecerdasan emosional anak terlihat pada anak yang benar-benar dididik dan diarahkan untuk menjiwai dan menghargai terhadap kemampuan dalam melakukan suatu tarian. Anak yang secara rutin belajar tari, secara tidak langsung telah belajar berbuat, merasa, dan menghargai orang lain. Kemampuan anak tersebut sangat berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sementara itu, perlu diperhatikan pula, bahwa faktor dukungan dari sekolah, orang tua dan masyarakat juga mempengaruhi pengendalian emosi anak yang sudah terarah dan terbentuk dengan baik, senantiasa akan berubah dan luntur oleh lingkungan dimana anak berada.

Mampu Mengasah Kehalusan Budi
Pelaksanaan pembelajaran seni tari tidak hanya mengajarkan, melatih dan membimbing anak untuk bergerak mengikuti alunan musik, melainkan dapat juga membimbing dan mengarahkan perilaku anak dengan etika yang baik. Seni tari mengajarkan anak untuk dapat menyesuaikan gerakan dengan musik sehingga anak secara tidak langsung berlatih untuk menggunakan kepekaan dan kehalusan budi/perasaannya agar dapat bergerak sesuai dengan musik. Anak belajar untuk mentaati dan melaksanakan perintah guru dalam pembelajaran seni tari, yang tercermin pada saat guru memberikan contoh gerak dan menyuruh anak untuk memperhatikan, menirukan dan mempraktekkan. Anak belajar untuk mengingat gerakan yang diberikan guru, sehingga anak juga belajar mengasah kognitifnya. Selain kognitifnya terasah, anak juga belajar menanamkan nilai-nilai etika yang mengasah kehalusan budinya melalui kegiatan menari dengan cara belajar menghargai teman, bekerjasama dengan teman, menolong sesama teman, mengikuti perintah guru, menghormati guru, dan memiliki sopan santun.

Mampu Menumbuhkan Rasa Bertanggung jawab
Anak yang bertanggungjawab adalah anak yang mampu melakukan apa yang diinginkannya sekaligus juga mampu melakukan apa yang diinginkan orang lain, mampu memilih mana yang baik dan buruk serta berani menanggung resiko. Untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak harus dilakukan dengan lemah lembut, halus, tegas tetapi penuh pengharapan. Bentuk tanggung jawab yang diajarkan guru kepada anak melalui pembelajaran seni tari adalah: (1) belajar mentaati waktu, apabila waktunya belajar tari sudah tiba maka anak-anak diminta segera untuk menuju ruang berlatih, (2) belajar mengatur dirinya sendiri melalui berbaris rapi, berjajar dengan teman-temannya pada saat mengikuti pelajaran tari, (3) belajar memperhatikan guru pada saat guru menerangkan dan mengikuti semua perintah guru, dan (4) belajar menghafalkan gerakan yang diberikan guru.

Mampu Menumbuhkan Rasa Mandiri
Salah satu ciri anak yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi adalah mempunyai sifat mandiri. Sifat mandiri pada anak dapat ditanamkan melalui pembelajaran tari, caranya dengan mengajarkan anak untuk melakukan tugas-tugasnya secara mandiri. Tugas-tugas anak tersebut antara lain yaitu: mencari tempat di dalam barisan pada saat belajar menari, berjalan tertib menuju ruang latihan menari, menirukan gerak yang diberikan oleh gurunya tanpa disuruh, berani menari sendiri tanpa diberi contoh, berani mengambil tempat minum sendiri, berani menari didepan banyak orang tanpa didampingi gurunya.

Mudah Berinteraksi dengan orang lain
Dalam pembelajaran seni tari, anak diajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya menjawab pertanyaan guru, memperhatikan guru dalam menjelaskan materi, menirukan gerak yang diberikan oleh guru, mempraktekkan gerak yang diajarkan guru, bertanya pada guru apabila mempunyai kesulitan, menyapa teman, berbaris rapi bersama teman, menari bersama teman, mau berbagi dengan teman. Kebiasaan yang diajarkan guru dalam proses belajar menari tersebut dapat diterapkan di dalam perilaku sehari-hari, misalnya mau menjawab pertanyaan orang lain, memperhatikan orang lain yang berbicara dengannya, bertanya atau menyapa pada orang lain, mau bermain dengan teman, berbagi dengan teman, membantu teman yang dalam kesulitan.

Memiliki Prestasi Yang Baik
Belajar menari tidak hanya membuat anak mempunyai tubuh yang lentur dan bugar, akan tetapi lebih jauh lagi, menari mampu membentuk kecerdasan emosional dan logika anak yang dibuktikan dengan prestasi yang baik di dalam pelajaran lainnya. Berdasarkan wawancara dengan seorang guru, bahwa anak-anak yang suka menari dan sering mengikuti pentas menari cenderung memiliki prestasi yang tinggi jika dibandingkan dengan anak yang tidak suka kegiatan menari. Anak yang suka menari mempunyai sifat mudah diajak berkomunikasi, mudah tanggap terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru dan cepat selesai mengerjakannya. Anak juga mempunyai konsentrasi yang baik dalam mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena di dalam proses belajar menari, anak tidak hanya dituntut untuk bisa menghafalkan gerak, tetapi juga dituntut untuk mampu mempraktekkannya sesuai dengan iringan dan mampu mengeskpresikan gerak tersebut dengan baik. Artinya di dalam proses belajar menari, anak belajar 3 hal sekaligus yang tidak didapatkan dalam mata pelajaran lain, yaitu menghafalkan, menyesuaikan gerak dengan musik, dan menjiwai gerakan tersebut.

Mampu Mengembangkan Imajinasi
Dalam pembelajaran tari, pengembangan imajinasi anak dilakukan melalui cerita yang disampaikan oleh guru sebelum memberikan contoh gerak. Selain cerita, foto, gambar, film, keadaan disekeliling anak juga dapat menjadi media pengembangan imajinasi anak. Misalnya, guru akan mengajarkan tari burung, terlebih dahulu anak diberikan cerita mengenai burung, bagaimana burung itu mencari makan, minum, terbang, bertengger, berjalan dan tidur. Kemudian anak diajarkan menirukan perilaku burung tersebut sesuai dengan imajinasi anak sendiri. Guru hanya mengarahkan gerakan yang dibuat anak berdasarkan imajinasinya tersebut supaya menghasilkan gerak yang baik. Guru harus menghargai karya anak tersebut, tidak boleh mencela atau mengatakan buruk, karena hanya akan mematahkan daya imajinasi anak.

Menjadi Anak Yang Kreatif
Proses pengembangan daya imajinasi anak, akan mengarah atau membentuk perilaku kreatif anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil karya anak. Dalam proses belajar tari, anak cenderung menjadi lebih kreatif, karena anak diberi kebebasan untuk bergerak, menirukan gerak, menafsirkan gerak sesuai dengan kemampuannya. Artinya dalam proses belajar tari, tidak ada istilah benar dan salah, sehingga anak bebas menirukan gerak yang diberikan gurunya. Bebas artinya gerakan yang dilakukan anak tidak harus sama persis yang dilakukan gurunya, misalnya gerak tangan ke atas, seharusnya gerak tangan tersebut dilakukan dengan lurus ke atas, tetapi anak bisa melakukannya tidak lurus mungkin agak serong. Selain itu, anak juga diberikan kebebasan untuk menafsirkan cerita yang diberikan guru untuk mengekspresikannya kedalam gerak sesuai dengan imajinasinya. Dengan membiarkan anak melakukan gerak tari sesuai dengan kemampuan dan imajinasinya, guru secara tidak langsung sudah mengajarkan anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Kreativitas gerak yang dimiliki anak, merupakan salah satu ciri kecerdasan emosional anak.

Sumber 1

Sumber 2

Profesi Penari Makin Dihargai

Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Ahmad Fauzi gembira mengingat antusiasme kalangan anak muda terhadap dunia tari kian besar. Penilaiannya itu tergambar dalam kompetisi pemilihan Duta Penari Jawa Timur 2008. Dalam even yang digelar di DBL Arena, Jumat (21/11) malam itu, Fauzi menjadi salah seorang juri.

”Tahun lalu peserta laki-laki hanya satu orang, tapi tahun ini ada empat orang. Bahkan, juaranya penari laki-laki,” katanya bangga.

Ya, dewan juri akhirnya memilih Mohammad Hariyanto dari Pamekasan menjadi yang terbaik dan berhak menyandang gelar duta penari Jawa Timur 2008.

Menurut Fauzi, dari ajang itu, masyarakat bisa mengetahui bahwa puncak karir seseorang yang mendalami seni tari tidak hanya pada penata tari saja, tapi juga sebagai penari. Dengan even tahunan yang digagas Dinas Pariwisata Jatim itu diharapkan bisa memotivasi masyarakat Jawa Timur untuk menghargai profesi penari.

”Dulu, di tradisi kita, tari itu dibawa oleh kekuatan individual,” kata alumnus Jurusan Tari STKW Surabaya itu.

Dalam perkembangannya kini, ketika seorang penata tari berkreasi, penari yang membawakan kreasinya seolah tenggelam. ”Yang lebih dikenal justru koreografernya,” tandasnya.

Dengan pemilihan duta tari itu diharapkan profesi penari akan menguat kembali. Duta yang terpilih diharapkan bisa menjadi delegasi dan difungsikan dengan kapasitas yang besar. Tidak hanya di wilayah sendiri tapi juga bisa membawa misi ke tingkat nasional bahkan internasional.(jan/ari)

Jawa Pos, Senin, 24 November 2008

Sumber

Seni Tari Dalam Pertumbuhan Generasi Muda Indonesia Dalam Menyongsong Kebudayaan Global

Penguatan Jatidiri Generasi Muda Indonesia melalui Nilai-Nilai Seni Tari Tradisional)
Robby Hidajat

Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Seni Tari,
Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Tingkat pengangguran nasional secara terbuka pada saat ini lebih dari 5,3 juta. 50 persen tingkat pengangguran terbuka berasal dari lulusan SD dan SMP, 30 persen berasal dari lulusan SMA dan SMK sementara sisanya lulusan perguruan tinggi (antaranews.com, tgl 20 April 2012). Menyimak angka ini tentu akan menggelisahkan banyak pihak, terutama pihal lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan pada dasarnya tidak secara langsung terkait dengan dunia kerja, tetapi hal tersebut tidak dapat dielekan. Semua orang tua yang menyerahkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan tentu berharap dikemudian hari mempunyai peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Gambaran kondisi generasi muda Indonesia dan peluang kerja masih menjadi realitas yang sulit untuk dihindari, oleh karena itu. Dunia pendidikan berusaha keras mengkaitkan proses pendidikan sedekat mungkin dengan dunia kerja.

Kondisi ini memiliki berbagai implikasi, sudah barang tentu akan dikaitkan atau terkait dengan ‘seni tari’. Seni tari yang diajarkan di berbagai jenjang sekolah adalah sebagai kegiatan ekstrakurikler, tujuannya untuk menyalurkan bakat dan pembinaan ketrampilan. Sebagian kecil ada yang disediakan khusus pendidikan setingkat SMA mempelajari seni tari sebagai tenaga oprasional teknis bidang seni tari, setingkat instruktur muda.

Paparan ini dimaksudkan untuk membeirkan gambaran pada generasi muda Indonesia, bahwa konsentrasi dunia kerja sudah merambah pada bidang seni, khususnya seni tari. Artinya seni yang semula menempati posisi sebagai kegiatan yang erat katiannya dengan adat tradisi masyarakat etnik tertentu, kini dapat menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran baru dalam mempersiapkan diri generasi muda mencapai kematangan kepribadian. Sudah barang tentu hal tersebut terkait dengan lembaga yang mengkondisikan, yaitu sekolah. Seni tari telah diimplementasikan dalam berbagai tingkat pendidikan, bahkan pada sisi pendidikan khusus direncanakan mampu menempati posisi profesi sebagai guru dan profesional.

SENI TARI & GENERASI MUDA
Di berbagai komunitas masyarakat etnik dunia menempatkan generasi muda pada posisi transformasi sosial, mereka diharapkan dapat mewarisi berbagai aspek untuk kelangsungan fungsi sosial masyarakatnya. Termasuk didalamnya adalah ‘seni tari’ sebagai salah satu profesi.

Seni Tari yang dipelajari generasi muda diharapkan menyiapkan regenerasi, dengan cara menerampilkan seseorang melalui seniornya. Usaha itu untuk menopang berbagai aspek sosial yang dibutuhkan masyarakat, baik untuk aktifitas ritual hingga aktifitas hiburan (pertunjukan). Pandangan praktis ini tentu akan mengalami pergeseran yang sangat hebat, karena penyangga seni tari dikemudian hari sudah tidak lagi berfungsi.
Seni tari dibelajarkan pada generasi muda untuk menjaga kontinuitas nilai-nilai budaya. Transformasi nilai budaya itu salah satunya disimpan pada tubuh (kecerdasan kinestetik). Karena kecerdasan budaya yang dihasilkan oleh masyarakat tidak hanya dapat didokumentasikan melalui tradisi baca-tulis. Tetapi hanya dapat diabadikan melalui seni, salah satunya adalah seni tari.

a.Generasi Muda Belajar melalui Kecerdasarn Kinetik
Dalam perkembangan sejarah seni tari, berbagai jenis tari yang disajikan sangat beragam, salah satunya disajikan secara Solo (tunggal). Umumnya ekspresi jenis tari yang bersifat dramatis, yaitu menggambarkan tokoh, karakteristik orang yang mempunyai kekhasan. Pribadi yang memiliki keunikan, postur tertentu yang mencapai kualitas edial, posisi sosial yang mampu ditampilakan sebagai profil khusus.
Pada umumnya tari tunggal menampilkan bentuk profil yang wajah yang mirip dengan tokoh yang digambarkan, termasuk tari yang bertopeng. Ini artinya bahwa para pembelajar tari atau penari yang mempresentasikan tari tunggal pada dasarnya adalah belajar tentang personalitas, biografi tokoh, sejarah kepribadian.

Tokoh-tokoh yang digambarkan pada tari tunggal adalah profil raja-raja, satria, atau tokoh masyarakat masa lalu yang mempu mencapai kualitas nilai hidup. Pencapaian kualitas sosialisasi diri, dan kepribadian yang memiliki potensi dalam mencapai drajat sosial, seperti satria, raja-raja, pemimpin dengan berbagai kekhasan, serta pahlawan-pahlawan yang memiliki jiwa heroisme sebagai pejuang membela nusa bangsa, atau pribdi yang memperjuangkan nilai-nilai cinta yang luhur (Rammayana atau Panji Romans) hingga profil yang menegakkan moralitas sebagai penumpas kebatilan dan penegak keadilan.

Gambar 1
Gambaran profil Tokoh Bapang salah satu tokoh pada Wayang Topeng Malang. Kepribadiannya yang unik, bupati Banjarpatoman yang memiliki semangat individu yang senang atas pujian orang lain (Foto Suci Narwati 2011)

Profil individu dalam lakon-lakon wayang seringkali ditransformasi dalam realitas hidup bermasyarakat, bahkan profil itu digunakan untuk memberikan motivasi progresif yang mungkin dapat diserap oleh para pemuda. Karakteristik manusia selalu dibedakan menjadi dua aspek yang bersifat kontradiktif, seperti sifat yang kasar dihadapkan dengan sifat yang halus. Dunia dikonstruksi melalui pilihan, tidak memiliki alternatif. Manusia tidak diberikan kesempatan untuk mengambil realitasnya sendiri. Fenomena itu juga terrefeleksikan pada kondisi generasi muda. Pemuda pada dasarnya dianugrahi kondisi pisik dan sosial yang tidak sama, kecantikan atau ketampanan, kekayaaan atau kepandaian. Perbedaan tersebut seringkali menjadi hambatan sosial, sehingga menimbulkan perasaan rendah diri (minder) atau tidak yakin dengan kondisi pribadinya. Akibatnya pertumbuhan pemuda dalam kontak sosial tidak mampu untuk mengembangkan potensi pribadi.

Hal ini banyak terjadi pada pertumbuhan kepribadian pemuda yang mengalami beban psikis akibat adanya tuntutan dari orang tua, guru, dan lingkungan yang menyebabkan pertumbuhan ketika seimbangan sosial. Seni tari sebagai kegiatan sosial menempatkan individu dalam kerangka kebersamaan, atau dalam kerangka pribadi yang mandiri. Siswa selalu dituntut mampu mengontrol dirinya, tetapi juga mampu bekerja sama sengan orang lain. Maka keyakinan akan kemampuan pribadi, dan ketergantungan pada orang lain dapat dibina secara simultan.

Generasi muda dimungkinkan terus menerus dibelajarkan mencapai tingkat kualitas individu yang maksimal, dalam suksesi raja-raja di Surakarta diceritakan ketika akan menggantikan posisi ayahandanya harus menarikan dulu tari tunggal yang disebut ‘Panji Sepuh’ (tari sakral yang dirahasiakan) dipelajari dan diekspresikan di dalam kamar tertutup. Jika calon raja itu mampu melewati pelajaran itu, maka menjadi salah satu legitimasi atas kekuasan yang diembannya. Pembelajaran seni tari itu adalah metaporis tentang transformasi kepemimpinan melalui kecerdasan kinetik, yaitu pelajaran lewat rasa gerak dan gerak rasa yang diharapkan mampu digunakan untuk mengembangkan pengendalian diri dan mengendalikan orang lain.
Raja Hayamwuruk raja kerajaan Majapahit, diberitakan menari ditengah keluarga dan para pejabat pemerintahnya. Ini tidak dapat dimaknai secara harfiah, tetapi dimungkinkan ini adalah sebuah metaforis, bahwa kecerdasan Hayamwuruk dalam perhelatan kenegaraan itu tidak hanya dikendalikan oleh intelektualitasnya, akan tetapi juga dengan sensitifitas kinetis. Membaca tubuh sangat diyakini mendekati kondisi yang dirasakan oleh orang lain.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai pencipta tari topeng di Jawa, hal ini adalah sebuah metaforis yang memberikan kesadaran masyarakat agar mampu mendalami kepribadiannya lebih mendalam. Topeng adalah sebuah manipulasi kehidupan sosial, setiap hari orang mengenakan dengan berbagai kebutuhan. Artinya manusia hidup dalam kepura-puraan. Maka yang menjadi penting dalam mempelajari tari topeng adalah penguasaan dan pemahaman kepribadian dirinya sendiri, bukan memasuki kepribdian tokoh topeng. Oleh karena itu, penari-penari topeng yang handal selalu digunakan sebagai objek imitasi. Bukan mempelajari biografi tokoh imajiner seperti Klana Sewandana, Panji Asmarabangun, Dewi Sekartaji, atau Bapang. Tetapi mereka yang berhasil mengobjektivitaskan dirinya melalui tokoh tertentu. Mereka yang telah berhasil dalam mencari dirinya melalui topeng, menjadi pribadi yang nyata. Dia tidak lagi berpura-pura, tetapi telah mencapai kemanunggalan. Topeng dan penarinya sudah tidak lagi ada perbedaannya. Cara belajar seperti ini yang dianjurkan oleh para wali, bahwa kepribdian yang sesungguhnya adalah hasil dari pencarian hakekat yang sudah ditakdirkan. Pengenalan atas diri pribadi adalah membimbing pada kesempurnaan hidup.

Generasi muda yang belajar mencapai kedewasaan harus belajar melalui kecedasan kinetik, merasakan berbagai ekspresi yang diekpresikan orang lain dalam kontak sosial. Ini artinya, bahwa seni tari itu sudah lama sebagai media untuk mengembangkan potensi kecerdasan kinetik. Akan tetapi banyak orang lebih terpukau oleh potensi kinetik, sehingga daya tarik pada penyajian penari di atas panggung adalah tubuh yang erotis, dan atau eksotis. Sehingga berbagai pemikiran yang dianggap akomodatif terhadap masa lalu adalah transformasi bentuk.

Kekaguman atas penampilan bentuk adalah ‘tipuan’ tidak nyata, karena yang tampil dihadapkan penonton adalah imaji (bayangan) atau virtualitas yang bersifat fatamorgana. Oleh karena itu mencoba untuk memasuki arena imaji atau virtual itu adalah sebuah pengalaman batin. Belajar menari adalah merupakan sebuah penziarahan ke pribadi yang unik, masa lalu yang mistritus, dan pengalaman batin yang bersifat transformatif.
Seorang guru tari dalam proses pembelajaran tidak semata-mata mentransformasikan materi ketrampilan, tetapi menularkan kepribadian. Pribadi seorang guru sebagai seniman sangat dibutuhkan. Karena pengalaman mistriusnya adalah sebuah cara siswa mampu memasuki dunia yang penuh dengan keunikan.

Gambar 2
Usaha mentrasformasikan materi pada siswa, di balik usaha itu adalah mentransformasikan kepribadian (foto Iip Rudi Rifai, 2012)

b. Generasi Muda Belajar melalui Kontak Sosial

Seni tari diekspresikan secara sosial, berbagai bentuk sajian penyajian yang dirancang secara kelompok. Pola kelompok ini adalah bentuk koreografi yang dianggap sangat tua, utamnya diekpresikan oleh masyarakat primitif.

Kontak sosial antar individu dalam hidup bermasyarakat pada dasarnya adalah penting, oleh karena itu bagi individu dalam masyarakat yang tingkat pendidikan dan pengetahuannya masih terbatas dimungkinkan belajar melalui kontak sosial. Kontak sosial seorang dengan seorang, dibutuhkan sebuah pemahaman pribadi dari keduanya. Kata-kata untuk menjelaskan diri tampaknya tidak sangat cukup, bahkan seringkali kata-kata dalam kontak sosial saling menyembunyikan pribadi yang sesungguhnya. Tari mengajarkan kontak sosial antar individu melakukan toleransi untuk mencapai keselarasan, bahkan hal ini dimungkinkan gerakan bersama membutuhkan kemampuan untuk memahami individu yang lain.

Kontak sosial juga dimungkinkan dilakukan secara berkelompok, berbagai jensi tari yang diikat dalam sebuah cerita menungkinkan seseorang menempati posisi tertentu. Seorang dengan orang lain dimungkinkan mampu bekerja sama. Menari bersama dalam sebuah sajian kelompok membuat individu mendalami pola yang telah ditata, bahkan tatanan seringkali mempunyai metarofis kosmoligis (tiruan dari pola mekanisme dunia). Bentuk formasi yang melingkar dapat dipahami sebagai lambang keutuhan, persatuan, dan juga ikatan konstruktif antara matahari dan pelanet, atau ikatan simbolis dari kekuatan alam yang menimbulkan pola grafitasi alam (orang Jawa memahami dengan istilah ‘keblat papat lima pancer’).


Gambar 3
Tari Srimpi dianggap sebagai metafor dari representasi arah mata angin (google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.blogspot.com)

Berbagai jenis tari yang mengekspresikan pola heroik (kepahlawanan) pada umumnya dinyatakan dengan garis-garis lurus dengan pola gerak yang serempak. Gerakan yang kuat dan bersemangat adalah menyatakan metoafisis dari semangat sosial dari kebersamaan, usaha bersama harus dilakukan secara serempak, bersama, dan menjalin ikatan yang kuat. Gotong royong dalam budaya Indonesia adalah sebuah refeleksi kebersamaan manusia sejak masa primitif, ditransformasikan pada semangat keprajuritan dalam berbagai pola kekuasaan feodalistik. Sementara pada masa kini, aspek sosial yang digalang dari individu itu sudah tidak mampu dikondisikan, hal ini karena tidak ada pola transformasi yang mampu mengkatualisasi nilai-nilai itu dalam masyarakat kita.

c. Generasi Muda Belajar dengan Rasa
Belajar seni tari pada dasarnya adalah belajar menggunakan ‘rasa’ atau dapat dipahami sebagai ‘perasaan’. Rasa di dalam budaya Hindu diartikan sebagai kepekaan batin (ramakertamukti.wordpress.com/2010/01/21/estetika-desain-menurut-hindu), sehingga yang penting dalam belajar seni tari adalah aspek batin. Semakin sering berlatih menari maka akan terkondisikan kekuatan perasaan. Oleh karena itu mempelajari estetika dan juga kebudayaan lebih tepat belajar mengguanakan media seni, salah satunya adalah seni tari. Oleh karena itu salah satu fungsi pendidikan seni tari adalah belajar tentang upaya agar siswa dapat mengenali nilai budaya. Karena belajar tentang budaya tidak cukup hanya dengan membaca atau diberi penjelasan saja, akan tetapi mereka dimungkinkan untuk dapat berpartisipasi dengan cara berperan aktif untuk merasakan secara fisikal atau melalui empatinya. Dengan demikian, gerak sembah yang ada pada tari Jawa, dapat dirasakan atau dihayati maknanya, misalnya sebagai tradisi sungkeman atau ngebekten (menunjukan rasa hormat pada orang tua).

Sudah barang tentu penenalan nilai budaya dalam seni tari juga dimungkinkan dapat mengaplikasikan ke dalam etika yang berkembang dalam masyarakat, seperti cara duduk, cara berdiri, berjalan, menghormati orang lain dan lain sebagainnya.

Belajar tentang budaya menjadi lengkap ketika ditingkatkan pada aspek ‘estetika’, pada dasarnya estetika atau keindahan dalam setiap seni mengomunikasikan rasa. Saat kita bermaksud mengomunikasikan objek topeng, misalnya. Objek profil topeng yang tertuang dalam realitas sebagai penutup muka, hal itu merupakan suatu bentuk komunikasi visual. Sementara itu, objek topeng yang dituangkan pada sebuah koreografi merupakan suatu bentuk komunikasi kinestetik (rasa gerak). Artinya, setiap perubahan gerak akan memberikan sentuhan nilai-nilai yang tidak sekedar figuratif yang dapat ditangkap oleh mata, tetapi juga memberikan pengalaman rasa gerak bagi penari, dan pengalaman imajinatif bagi penontonnya.

PERTUMBUHAN GENERASI MUDA
Generasi muda Indonesia sudah mengalami perubahan yang semakin hari semakin cepat. Pola pikir generasi muda yang mulai dinyatakan pada sumpah pemuda tahun 1928 adalah titik teraktual dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Akan tetapi generasi muda dalam lingkungan etnik di Indonesia kondisinya tidak selalu bergerak secara paralel.

Pemuda pada zaman perjuangan kemerdekaan menjadi lebih nayta ketika memekikan teriakan ‘merdeka!’. Tema-tema kepahlawanan dan perjuangan mempu mengangkat realitas dan juga memperjelas impian. Ir. Sukarno menjadi lebih nayata sebagai manusia yang utuh ketika dia mengikolakan ‘Gatutkaca’. Putra Bima yang dianggap pemuda yang sangat perkasa, otot kawat, balung wesi (otot dari Kawat, tulang dari besi).


Gambar 4
Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno memegang tokoh wayang kulit ‘Gatutkaca’
(google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox)

Transformasi perofil ini semakin nyata ketika penari Wayang Orang dari Sriwedari di Surakarta bernama Rusman. Rusman yang menarikan Gatutkaca di panggung dianggap lebih nyata dan lebih mengispirasi pemuda Indonesia (Jawa) dalam menemukan kejatiidiriannya. Dari pada itu, semangat hidup, bekerja, dan usaha keras menjadi lebih meningkat dengan tereksposnya slogan ‘gotong royong’.

Gotong royong sebagai fenomena sosial adalah kebersamaan, tetapi yang lebih penting dan mendasar dalam kehidupan ini adalah menumbuhkan rasa kebersamaan, kesetiakawanan, kerukunan dan merasakan senasib sepenanggungan. Kondisi ini menjadi semakin sulit untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tari tradisional yang dimodivikasi dalam bentunya yang baru lebih nenampilkan kemolekan, aktraktif, dan lebih menampakan aspek fashion. Guru-guru tidak menyadari, bahwa pola sosial dalam pertumbuhan generasi muda telah memasuki wilayah fasion, kecantikan fisik menjadi dayatarik utama, erotisme penampilan lebih memberikan energi sosial tentang perasan gairah yang nyata. Sehingga hubungan sosial antar pribadi menjadi bersifat alamiah, ketimbang simbolis.

Progresivitas pemuda Indonesia dari waktu ke waktu memiliki kecendrungan semakin individual dan bersifat konsumtif. Wilayah ruang gerak mereka tertarik dalam ranah metropolis, mall dan penempilan yang modis menjadi tolok ukur pemahaman tentang realitas yang bersifat aktual. Oleh karenanya, generasi muda Indonesia lebih cepat menangkap realitas imajiner yang dikomunikasikan media massa, ketimbang realitasnya sendiri.

Alat-alat komunikasi sosial mendorong pemuda lebih cepat mendorong mereka menjadi probadi yang selalu tampil dalam dunia imajiner (maya). Mereka menjadi lebih nyata ketika ada dalam dunia maya. Orentasi seni tari yang mereka rasakan lebih nyata adalah gerakan yang ‘nyata’ seperti apa adanya, tidak ada manipulasi tokoh atau karakteristik, formasi yang bervariasi menunjukan ungkapan yang bersifat dinamis. Kostum yang modis memberikan motivasi generasi muda untuk mampu memasuki dunia metropolis tanpa merasa canggung. Karena kondisi dan realitasnya yang semakin dirasakan tidak nyata.

Berbagai kreasi seni yang terekspos diberbagai media tidak lagi mempunyai orentasi untuk menjelaskan realitas, akan tetapi menampilkan eksotisme masa lalu, atau imajinere historis yang dipersepsi berdasarkan selera masa kini. Hal ini adalah realitas yang berorentasi pada masa lalu, sehingga tidak mampu menjadi motivasi untuk membangun spirit. Karena hal itu tidak lagi bersifat idealistik, tetapi benar-benar nyata hadir dalam kondisi yang sebenarnya. Jika ingin memahami secara lebih nyata, memahami profil, karakteristik, atau berbagai pola tingkah laku yang bersifat imajinere historis adalah ‘Opera van Java’ atau fenomena fashion on the street.

Gambar 5
Fashion on the street menjadi fenomena yang lebih nyata dari pada kenyataan
(google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox-a&sa)

Tokoh-tokoh yang diekspresikan dalam fenomena panggung tidak lagi mengalami penggalian nilai-nilai, akan tetapi lebih berorentasi pada fenomena yang sedang terjadi. Kekinian dijadikan objek yang lebih nyata, sehingga generasi muda hanya dibawa dalam realitas yang disebut estase. Sebuah cara melupakan realitas diri; kondisi sosial, strata, atau aspek sosial yang memiliki implikasi nilai-nilai tertentu dilupakan dengan cara menertawakan secara bersama-sama. Nilai lama dipendam dalam konsisi komikal, dan tidak lagi sempat direnungi untuk membentuk pribadi yang baru. Berbagai ide untuk mendorong pertunjukan atau atraksi panggung ke ranah jalanan (street) adalah realitas yang bersifat imajinere, kondisi yang tidak nyata dipertontonkan ke tidak nyataannya. Akibatnya tidak mampu membentuk sebuah kepribadian yang telah ditemukan (fenomena penari topeng), tetapi hanya mendorong beramai-rama memasuki dunia yang tidak nyata yaitu mengaktualisikan topeng dalam kehidupan yang nyata. Mengaktualisasikan topeng dalam kehidupan yang nyata tidak memberikan kontribusi pada pembentukan kepribadian, tetapi hanya sensasi dan eksotika masa lalu yang digunakan untuk daya tarik issu yang bersifat konsumtif yang di latar belakangi oleh tujuan ekonomis.

Berbagai realitas yang ditransformasi dalam pola pertunjukan itu sebenarnya tidak lengkap sebagaimana nilai yang hidup pada masanya, tetapi sudah bermetamorfosis dalam kondisi dalam kebudayaan global. Generasi muda yang tidak tetarik oleh seni tari tradisi karena tidak ada realitas, mereka tidak mampu hadir dalam kondisi rielnya. Menurut zaman ini yang riel adalah hadirnya pribadi yang terekspos oleh media masa, kata Tukul “masuk TV”. Kata-kata peresenter komedian itu memberikan gambaran yang nyata. TV adalah kotak ajaib yang mampu mentransformasi diri menjadi lebih nyata dari pada mitos-mitos masa lalu. Jika seorang pemuda naik di atas panggung memerankan tokoh Harjuna. Pada saat ini menjadi tidak menjadi nyata, karena dirinya yang memerankan tokoh Harjuna tenggelam dalam keanehan (eksotika dan romantisme) masa lalu, dan tidak dikenali oleh pemainnya sendiri. Hal ini terjadi ketika seseorang mengenakan busana adat, dia meresakan terjadi keanehan dalam dunia yang nyata.

Gambar 6
Tokoh Harjuna yang peragakan oleh wanita, sebuah cara orang Jawa memahami kehalusan dan kelembutan laki-laki (google.co.id /imgres?imgurl= http://www. pasarsolo.com/ kotasolo).

Kebudayaan global adalah membangun nilai-nilai sosial yang secara nyata dihayati secara konsumtif, bahkan bersifat instan. Kesesaatan yang mampu menggerakan massa menjadi tujuan dalam membangun pasar dan sekaligus mengembangkan budaya konsumtif.

Gambar 7
Para penari EKI Dance Company mementaskan komedi musikal “Jakarta Love Riot” di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (23/2). Pertunjukan yang disutradarai Rusdy Rukmarata dan Nanang Hape tersebut bercerita tentang kisah cinta dari kelas sosial yang berbeda dengan balutan komedi. (KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO) (cabiklunik.blogspot.com/2011_02_01_archive.html)

Berbagai nilai-nilai yang pada mulanya dianggap luhur, simbolis, atau artistik akan saling bertukar dengan realitas materialistik. Idiologi pasar menjadi lebih nyata dari pada idialistik, pandangan yang bersifat primodial menjadi tidak penting, kolektivitas hasil propokasi masa menjadi tujuan atas usaha membangun kelipatan perhitungan ekonomis.

Hitung-hitungan angka pengangguran di Indonesia menjadi tidak dapat ditekan atas kesasaran budaya. Karena pola transformasi masa lalu sudah tidak mampu untuk mengubah pola sosial yang telah mendorong generasi muda memasuki realitas kebudayaan global, kebudayaan yang nyata dialami jika kita mampu melakukan perlawanan dengan mereka yang memiliki modal (kapitalis), popularitas (seleberitis), dan dunia fashion.

Daftar Rujukan
antaranews.com / berita / 305795 / bkkbn- pengangguran- ancaman- generasi- muda, diunduh tanggal 20 April 2012
cabiklunik.blogspot.com/2011_02_01_archive.html
google.co.id /imgres?imgurl= http://www. pasarsolo.com/ kotasolo
google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.blogspot.com
google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox, diunduh tanggal 21 April 2012.
google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox-a&sa, diunduh tanggal 21 April 2012.
Liliweri, Alo. 2005, Prasangka & Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural, LKIS, Yogyakarta.
MacCrecken, Grant, 1984, Transformation, identity Construktion in Contremprary Culture, Bloomington and Indianapolis, Indiana University Press.
ramakertamukti.wordpress.com/2010/01/21/estetika-desain-menurut-hindu, diunduh tanggal 21 April 2012
Zimmer, Heinrich. 2003, Sejarah Filsafat India, Pustakat pelajar, Yogyakarta.

 

Sumber: http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=1308