Lawan Tren K-Pop, Budaya Indonesia Harus Dikemas Lebih Populer

Ada jarak antara budaya Indonesia dengan rakyat kebanyakan, khususnya anak muda

Fenomena generasi muda yang gandrung kepada musik dan artis Korea saat ini bisa disebut wajar saja. Sebab, teknologi komunikasi sudah sedemikian maju untuk mengirimkan informasi, termasuk pesan-pesan budaya yang dikemas secara populer. Indonesia juga seharusnya berani memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi untuk penanaman nilai-nilai budaya sendiri kepada khalayak muda.

Hal itu dikatakan oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Tarumanagara sekaligus Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom), Eko Harry Susanto, saat ditemui di Jakarta, Selasa (11/9). Eko menilai, ada jarak antara budaya Indonesia dengan rakyat kebanyakan, khususnya anak muda. Akibatnya menurutnya, rakyat mencari nilai-nilai budaya dari negara lain yang tersebar luas di media massa.

“Bukan salah generasi muda yang suka SuJu (Super Junior) atau K-Pop. Teknologi komunikasi memberi pesan-pesan hebat, seperti tren seluruh dunia, sementara nilai-nilai kultural internal tidak ada keteladanan. Lalu bagaimana? Perkuat nilai budaya kita, kembangkan secara menarik dan lebih populer,” kata Eko.

Eko mengakui, fanatisme anak muda kepada budaya asing bisa melunturkan rasa cinta kepada budaya Indonesia. Tetapi menurutnya, bukan berarti anak-anak muda kehilangan jati diri bangsa atau rasa nasionalisme.

“Kita sebenarnya tidak kehilangan jati diri. Bahkan ada kerinduan besar anak-anak muda kepada rasa nasionalisme,” tandas Eko.

Dia mencontohkan anak-anak muda Indonesia yang masih setia mendukung Indonesia dalam kompetisi internasional sepakbola. Atau bahkan anak-anak muda yang ikut memberi dukungan saat binatang asli Indonesia (komodo) menjadi nominasi New Seven Wonder.

Contoh lain, kata Eko pula, adalah saat Malaysia mengklaim sejumlah budaya Indonesia, di mana anak-anak muda juga tak segan melakukan pembelaan lewat berbagai jejaring sosial.

Beri Ruang

Eko mengatakan, pemerintah seharusnya memberi ruang publik yang memadai untuk pengembangan budaya lokal. Lebih jauh, penyemaian budaya harus dilakukan secara populer, dengan memanfaatkan perkembangan zaman.

Misalnya, kata Eko, pemerintah bisa mewajibkan hotel-hotel untuk menyajikan tarian tradisional daerah. Selain itu, media televisi juga harus diwajibkan menampilkan pertunjukan tradisional dengan gaya modern. Misalnya, saat ini ada penampilan pesinden Soimah dalam sebuah acara televisi.

“Seharusnya budaya kita diberi ruang, sehingga masyarakat tidak merasa terasing,” ujarnya.

Eko menegaskan, budaya Indonesia harus bisa sebanyak mungkin dinikmati oleh rakyat. Dengan kata lain menurutnya, budaya jangan justru membuat rakyat semakin terkotak-kotak.

“Contohnya pertunjukan Matah Ati. Itu budaya yang dikemas sangat populer, tapi terlalu elite. Bolehlah ditampilkan Matah Ati untuk level pengusaha, tapi, tampilkan juga versi untuk rakyat. Coba buat down to earth,” tandasnya.

 

http://www.beritasatu.com/budaya/71200-lawan-tren-k-pop-budaya-indonesia-harus-dikemas-lebih-populer.html

Jay Subyakto Prihatin Pagelaran Budaya Sulit Dapatkan Sponsor

“Banyak budaya yang tersimpan, jangan sampai muncul di negara tetangga dan jadi ribut-ribut.”

Menggelar kembali lakon Matah Ati untuk ketiga kalinya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tanggal 22-25 Juni 2012 dan di Halaman Istana Mangkunegaran, Solo pada tanggal 8-10 September 2012 diakui Jay Subyakto selaku Penata Artistik mendatangkan tantangan tersendiri.

“Yang pertama itu mengenai apresiasi. Banyak yang mengira ini tentang tradisi dan bikin ngantuk. Itu tantangan main di negeri sendiri,” katanya saat dijumpai usai pertunjukan Matah Ati di Taman Ismail Marzuki Kamis malam (21/6).

“Biasanya bangsa kita kalau lihat pertunjukan sendiri seperti guru lihat murid, tapi kalau (melihat) pertunjukan barat seperti murid lihat guru,” imbuhnya.

Tantangan kedua dalam menyajikan gelaran yang menceritakan kisah pertemuan Raden Mas Said dan Rubiyah di abad ke-17 ini adalah sulitnya mendapat dukungan dari pihak sponsor. “Kita menghimbau perusahaan besar untuk coba melirik pada (acara) budaya,” ujar Jay.

Hal senada juga disampaikan oleh Atilah Soeryadjaya selaku Penulis Naskah, Produser, Sutradara, dan Perancang Kostum pada kesempatan yang sama.

“Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki pertambangan, perkebunan yang kami harapkan memberi sumbangan kepada daerah masing-masing. Banyak budaya yang tersimpan, jangan sampai muncul di negara tetangga dan jadi ribut-ribut,” katanya.

Selain mendapat dukungan dari pihak sponsor, Atilah juga mengatakan bahwa ia dan tim berharap adanya dukungan dari pihak pemerintah untuk bisa ikut membantu melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal kepada bangsa sendiri dan bangsa lain.

“Kami ada pengalaman, ketika bermain di Singapura ada Pemerintah Singapura menanyakan kepada kami mana duta besarnya. Sampai sekarang kami belum tahu kami sudah dilihat apa belum, walaupun kami juga mengerti bahwa mereka (Duta Besar Indonesia) mungkin ada kesibukan lain,” tutupnya.

 

http://www.beritasatu.com/budaya/55653-jay-subyakto-prihatin-pagelaran-budaya-sulit-dapatkan-sponsor.html

PENGAJARAN SENI TARI

Tujuan akhir pengajaran seni tari adalah siswa  mampu mengggunakan kepekaan indrawi dan intelektual dalam memahami teknik, materi dan keahlian berkreasi seni tari serta siswa mampu berkomunikasi melalui peragaan, penampilan, melalui pertunjukkan seni tari, selain itu juga bisa menunjukkan motivasi dalam belajar, percaya diri dan bisa bekerjasama dengan orang lain.

Kemampuan siswa dalam membawakan sebuah tarian adalah ditentukan dengan ketetapan wiraga (gerak), wirasa dan wirama. Untuk mengukur semua itu, maka harus dilalukan pengamatan atau pengujian tentang ketepatan hitugan gerak/langkah, ketepatan iringan music serta rasa dalam membawakan sebuah gerakan.

Beberapa kelemahan siswa ketika membawakan sebuah tarian adalah:

  1. Siswa kurang percaya diri, karena belum hafal gerakan atau dalam membawakan tarian ada rasa takut/malu pada teman-temannya jika nanti ditertawakan.
  2. Siswa belum mampu/belum tepat membawakan sebuah gerakan dikarenakan teknik-teknik dasar yang belum dikuasai.
  3. Siswa belum bisa menjiwai sebuah tarian karena siswa dalam membawakan tarian hanya sebatas bergerak sesuai hafalan yang diberikan.
  4. Siswa belum bisa menyesuaiakan gerak dan iringan music karena belum ada kepekaan terhadap music.

Dan sebenarnya masih banyak hal lagi yang menjadi kelemahan yang dipengaruhi minat siswa, kondisi tempat, waktu, dan suasana lokasi latihan tari. Tetapi faktor penting yang menjadi penyebab segala kelemahan tersebut adalah karena siswa tidak terlatih dan terbiasa melakukan kegiatan untuk mengatasi segala kelemahan yang ada. Dan salah satu yang paling dasar adalah kurangnya pengajaran dasar gerak tari, sehingga siswa kurang mampu dalam ketepatan teknik gerak, ketepatan irama dan rasa. Pengajaran dasar gaerak tari tersebut tentunya tidak bida dilakukan sekejap. Dalm artian perlu proses yang panjang karena melatih dasar gerak tari berkaitan dengan melatih gerak tangan, kaki, tubuh, kepala dan kemudian melatih rasa dalam membawakan suatu gerak tari.

Ada suatu model pengajaran yang bisa dilakukan dalam pelatihan tari, yaitu:

1. Pendahuluan
Arahan daru guru/pelatih mengenai materi yang akan diajarkan.

2. Inti

a. Pemanasan
Sebelum memasuki materi hendaknya dilakukan pemanasan/pelenturan tubuh. Ini bertujuan agar sewaktu melaksanakan gerakan, tubuh tidak kaku atau mengalami cedera otot. Pemanasan ini biasanya dilakukan selama 15 menit.

b. Konsentrasi atau pemusatan pikiran. Konsentrasi ini bertujuan agar pemikiran siswa beralih dari masalah-masalah pelajaran sebelumnya ke pelajaran seni tari yang akan dilakukan. Intinya adalah pengosongan pikiran terhadap segala sesuatu diluar tari. Pemusatan pikiran bisa dilaukan dengan cara siswa duduk bersila, punggung ditegakkan, dada dibusungkan, tangan dipaha, mata menghadap lurus ke depan,kemudian dipejamkan selama 5 menit tanpa suara

c. Sebelum masuk ke materi tari sebagai pemula, hendaklah siswa diajarkan dulu gerak dasar tari, gerak dasar tari ini bertujuan agar siswa dapat berlatih gerak tari secara bertahap. Fungsinya adalah agar nanti siswa bisa menyesuaikan dengan irama musik dan langkah-langkahnya. Ada beberapa gerak dasar tari, yaitu:

  1. Langkah satu ke depan (maju-mundur)
  2. Langkah satu ke samping (kanan-kiri)
  3. Langkah nazi
  4. Langkah dua ke samping
  5. Langkah tiga ke samping
  6. Langkah tiga ke depan (maju-mundur)
  7. Langkah siku
  8. Putar siku
  9. Langkah tak jadi
  10. Dan masih banyak lagi gerak tangan, gerak kepala, leher, dll

Setelah menguasai beberapa langkah gerak dasar tari, baru kemudian disesuaikan dengan menggunakan irama music. Siswa terus dilatih dalam gerak dasar hingga betul-betul hafal dan dikuasai.

d. Setelah menguasai gerak dasar tari, barulah guru memberikan materi tari yang utuh. Dengan latihan yang rutin dan sungguh-sungguh baik di tempat latihan dan juga di rumah masing-masing, maka mudah-mudahan apa yang diharapkan dalam berlatih tari akan tercapai.
 

 

 

 

 

 

Sumber: Jurnal Seni, Lusi Susila Indah, S.Pd (Guru SMPN 1, Padang Panjang).