Sekilas Tentang Seni Tari Tradisional Rakyat Jawa

Kebudayaan yang menjadi sebuah peradaban adalah hasil dari karya, cipta, dan karsa dari sekumpulan manusia yang disebut masyarakat. Hal tersebut karena manusia merupakan makhluk yang selalu untuk berkarya dalam menciptakan sesuatu. Seperti kata Koentjaraningrat: “Alam, kemajuan, dan perkembangan akal manusia sangat besar peranannya dalam pertumbuhan budaya.” Berangkat dari konsep ini melihat bahwa tari tradisional merupakan produk budaya yang dihasilkan, dipelihara, dikontrol, dan dikembangkan oleh suatu budaya tradisi tertentu, akan memberikan konsekuensi dalam proses kehidupan budaya.

Akan tetapi bilamana nanti kebudayaan itu mulai pudar dengan perkembangan alam pikir manusia maka kebudayaan tersebut akan diganti dengan kebudayaan yang baru. Kebudayaan manusia yang baru diciptakan tersebut akan memiliki corak tersendiri sesuai dengan alam dan kemajuan jaman yang berlaku pada waktu itu. Sedangkan kebudayaan yang lama tidaklah semuanya hilang tetapi dia akan ada walaupun hanya sedikit. Maka kesimpulannya kebudayaan yang lama tidak semuanya dilupakan dan menyatu dengan kebudayaan yang baru.

Jenis tari tradisional kerakyatan khususnya yang berkembang di Jawa dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu:

1. Tari Jathilan
Tarian ini merupakan gaya seni tari kerakyatan yang sangat sederhana, tidak begitu rumit, lebih bersifat spontan, dan berhubungan dengan ritual. Pada nantinya dengan sebutan “ndadi” pemain akan menari diluar kesadarannya. Menurut mereka, penari kemasukan roh yang ikut menari. Biasanya pemain yang sedang “ndadi” sering diberi jenis-jenis makanan, seperti padi, rumput, bunga, pecahan kaca, dan sebagainya, sehingga perbuatannya bersifat supranatural.

2. Tari Tayub
Komposisi tari ini ada sangkut pautnya dengan upacara kesuburan, baik untuk kesuburan tanah maupun kesuburan manusia. Komposisi tari tayub yang diperagakan oleh penari wanita yang disebut ledhek dan penari laki-laki disebut pengibing, menari-nari bersama analog dengan hubungan antara benih dengan tanahnya, sehingga hubungan laki perempuan pada tari tayub secara magi simpatetis dapat mempengaruhi kesuburan tanah.

3. Tari Slawatan
Pada mulanya tarian ini lebih banyak menggunakan posisi duduk dengan gerakan-gerakan sederhana sambil menyanyikan lagu-lagu yang berisikan syair-syair yang mengagungkan Allah dan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi pada perkembangannya tarian ini dikembangkan dan dipadukan dengan gerakan pencak silat. Contoh tarian ini adalah tari Kobrasiswa, Badui, Angguk, dan Trengganon.

4. Tari Jenis Dramatari Rakyat
Tarian ini didasari oleh semacam upacara ritual adalah wayang topeng. Topeng yang semata-mata sebagai penutup muka atau mask sebenarnya merupakan tipologi suatu karakter jiwa manusia maupun jenis-jenis binatang. Bentuk-bentuk topeng itu dianggap memiliki jiwa yang sampai sekarang masih berpengaruh terhadap masyarakat.

Dengan perkembangan jaman banyak tarian daerah yang mulai ditinggalkan. Maka banyak hal yang dilakukan untuk melestarikan tari tradisional tersebut. Beberapa peristiwa yang patut dicatat sehubungan dengan usaha-usaha mengembangkan seni tari melalui jalur kegiatan pendidikan formal adalah:

1. Dekade 1950-1960
Dialog yang terjadi antara seniman-seniman pada Jawatan Kebudayaan tidak sempat berkembang karena sikap seniman yang nampaknya kurang menghendaki pengelolaan kesenian sebagai kegiatan studi di perguruan tinggi ke arah pendidikan kesarjanaan.

2. Dekade 1960-1970
Konservatori Tari Indonesia berdiri dalam program tiga tahun setingkat Sekolah Menengah Tingkat Atas. Sedangkan Akademi Seni Tari Indonesia berdiri di Yogyakarta disusul pendirian ASTI di Bali dan di Bandung. Semua sekolah seni tari ini di bawah pengelolaan Dirjen Kebudayaan.

3. Dekade 1970-1980
Pengelolaan Sekolah dan Akademi tari kemudian dialihkan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, sedangkan ASTI kepada Dirjen Pendidikan Tinggi.

4. Dekade 1980- …
Pemantapan akademi-akademi kesenian untuk dikembangkan sebagai bagian dalam wadah Institut Kesenian Indonesia untuk memberkan kemungkinan perkembangan lebih luas dan tingkat yang lebih lanjut. Selain itu juga mulai dibukanya program Diploma kependidikan pada Insititut Keguruan dan Ilmu Pendidikan seperti di Yogyakarta, Surabaya, dan Solo.

Dari kenyataan tersebut di atas, tampaklah bahwa pendidikan tinggi tari tidaklah terkait secara langsung dengan Universitas/Institut dalam program kesarjanaan, sehingga studi tari yang berkembang melalui disiplin-disiplin ilmu sosial maupun humaniora tidak dapat berkembang. namun, bagaimanapun juga, upaya-upaya untuk menyelenggarakan kegiatan berseni tari dalam jalur formal merupakan langkah baru guna melestarikan seni tari di Indonesia.

 

Sumber: http://wisatadanbudaya.blogspot.com

Gus Nuril Sebut Jathilan Seperti Tarian Darwis Jalaludin Rumi

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG, –  DR KH Nuril Arifin Husein, MBA (Gus Nuril) sangat menyayangkan pernyataan Gubernur Jateng H Bibit Waluyo, yang mengatakan kesenian jaran kepang adalah paling jelek di dunia.

Gus Nuril yang hadir dalam acara Pentas dan Dialog Jaran Kepang bertema Kemerosotan Budaya di Studio Mendut, Kabupaten Magelang, Kamis (13/9/2012), mengatakan, kesenian jaran kepang atau jathilan merupakan ekspresi seni orang Jawa yang setara dengan tarian Darwis ala Maulana Jalaluddin Rumi.

“Jaran Kepang itu sebenarnya seperti tarian Darwis ala Maulana Jalaluddin Rumi. Bagi orang Jawa adalah pencapaian tingkat tinggi dalam jiwanya. Jadi kuda lumping itu mengandung sisi tasawuf yang sangat tinggi,” katanya saat berbincang dengan Tribun Jogja dan sejumlah budayawan Magelang serta dosen dari ISI Surakarta.

Ketua Umum Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama yang juga mantan Panglima Pasukan Berani Mati (PBM) di era Presiden Gus Dur tersebut mengatakan, sebagai seorang pimpinan di Jawa Tengah tidak seharusnya Bibit menjelekkan rakyatnya yang sedang bermain kesenian di hadapan publik bertaraf internasional.

“Bibit tidak layak memimpin Jateng. Karena dia tidak faham dengan perut masyarakat Jateng. Bibit harus minta maaf pada bangsanya. Kalau dia mengaku orang Jawa harus minta maaf pada diri sendiri atau pada orangtuanya,” tandas Gus Nuril.

Gus Nuril menjelaskan, pemimpin yang tidak menyadari kondisi sosial budaya masyarakatnya berarti sudah tercabut dari akarnya. Menurutnya, Indonesia titik centralnya adalah Jawa, kemudian di Jawa centralnya adalah Yogyakarta dan Semarang.

“Indonesia itu titiknya di Jawa, dan centralnya di Yogya dan Semarang. Kalau dia tinggal di Semarang yang notabenenya sebagai central Jawa, sementara pusat budaya Jawa di semarang, masa dia menjelek-jelekkan dirinya sendiri. Itu bukan menyakitkan orang seniman saja tapi juga menyakitkan orang Jawa,” tandasnya.

Menurutnya, asal mula kerusuhan di berbagai daerah di Indonesia disebabkan sikap para pemimpin yang sudah tidak lagi memerhatikan nilai-nilai kebudayaan dalam pengambilan keputusan.

“Sekarang ini sudah saatnya menyemai bangsa dengan kebudayaan. Semua pimpinan bangsa sudah buta dengan nilai-nilai itu. Kerusuhan di negara ini banyak disebabkan karena pimpinannya tidak faham dengan rakyatnya,” tegas Gus Nuril.

Budayawan Magelang, Sutanto (Tanto Mendut) mengatakan, kesenian jaran kepang itu adalah kesenian paling unik di dunia. Menurutnya, aspek keunikan tersebut terletak pada saat pemainnya kesurupan.

Buktinya, lanjutnya, jaran kepang dari Magelang pada 15-17 Maret 2013 mendatang terpilih untuk tampil dalam festival World of Music Arts and Dance (WOMAD) di New Zealand.

“Yang membuat menarik itu kuda lumping itu dipilih dalam even Asia Pasific itu adalah adanya kesurupan. Mereka tidak memilih jenis kesenian lain, karena jaran kepang itu mengandung keunikan pada aspek psikologi,” kata Sutanto. (tribunjogja.com)