Menjaga Kelestarian Wayang Thengul – Bojonegoro, Jawa timur

Ki Sumardji Marto-Deglek

Wayang thengul menjadi salah satu ikon Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Keberhasilan kesenian tradisi khas Bojonegoro itu bertahan hingga kini tak lepas dari peran Ki Sumardji Marto Deglek (73). Ia tak lelah memperkenalkan, melestarikan, dan mengajarkan wayang thengul.

Mbah Mardji, sapaannya, menyadari, tanpa kerja keras, wayang thengul terancam punah. Jika hal itu terjadi, generasi mendatang bangsa ini sekadar tahu wayang thengul dari cerita. Oleh karena itulah, ia mengupayakan regenerasi wayang thengul dengan mengader sejumlah dalang.

Meski usianya telah lanjut, Mbah Mardji tetap mendalang saat ada yang meminta. Ia berusaha memenuhi permintaan itu, mengingat wayang thengul adalah tontonan yang semakin langka. Kesenian tradisi itu menghadapi gempuran budaya pop, seperti organ tunggal dan dangdut.

”Akhir September lalu saya mendalang di Kabunan, Kecamatan Balen, dan Oktober sudah ada dua permintaan pentas. Gaya dan pola tampilan (wayang thengul) harus menyesuaikan perkembangan zaman, termasuk memadukannya dengan irama campursari dan dangdut,” ujar Mbah Mardji yang menampilkan wayang thengul untuk hajatan perkawinan, khitanan, murwakala (ruwatan), hingga memeriahkan peringatan proklamasi kemerdekaan RI.

Setiap kali pentas, dia dan kelompoknya, Sekar Laras Anglingdharma, mendapat imbalan Rp 5 juta. Uang itu dibagi untuk tiga pesinden, masing- masing sekitar Rp 400.000, sewa truk pengangkut wayang dan gamelan Rp 300.000-Rp 500.000.

Setelah dikurangi untuk dirinya sebesar Rp 1,2 juta, sisa uang pentas itu digunakan untuk imbalan bagi 16 panjak (pemain gamelan pengiring wayang) serta biaya perawatan wayang dan gamelan. ”Begitulah penghasilan kami. Bagaimanapun juga saya bersyukur, masih ada yang menyukai wayang thengul.”

Di luar permintaan pentas, Mbah Mardji berupaya memperkenalkan wayang thengul, terutama kepada warga Bojonegoro. Ia mengamen dari kampung ke kampung sejak 1968. Tak hanya di Bojonegoro, tetapi juga Lamongan, Tuban, bahkan Cepu, Blora, Jawa Tengah, pun didatanginya.

Saat mengamen, Mbah Mardji disertai seorang pesinden dan empat panjak. Biasanya mereka mengamen pukul 13.00-17.00 atau mulai pukul 20.00.

”Biasanya orang nanggap (memintanya mendalang) menjelang panen, tujuannya mengusir hama dan tikus,” kata Mbah Mardji yang bisa ditemui di Dusun Kalipang, Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, atau di Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.

Bertani

Di Growok, ia tinggal bersama istrinya, Endang Sumini. Rumahnya sederhana, berdinding kayu berukuran sekitar 5 meter x 7 meter, berlantai tanah. Seperangkat gamelan ada di ruang tamu, kendangnya digantung. Kotak wayang berisi 106 anak wayang dikunci dan diletakkan di atas meja.

Pada saat sepi tanggapan, Mbah Mardji bertani. Terkadang ia juga ikut memelihara tanaman hutan di Dander. Di sela tanaman jati berjarak 3 meter x 3 meter itu, ditanaminya menyok (ketela).

Untuk menunjang kegiatan sehari-hari, Mbah Mardji menggunakan sepeda. Dengan bersepeda dia mengurus rekomendasi saat mau mendalang sampai menengok tanaman di hutan. Ia biasa menempuh jarak sekitar 20 kilometer dari Tikusan, Kecamatan Kapas, ke Growok, Kecamatan Dander.

Ia bercerita, di dunia pedalangan namanya Ki Sumardji Marto Deglek. Marto adalah nama kakeknya yang juga dalang. Bakat mendalangnya pun warisan dari sang ayah, Niti Giatno Kencik. ”Ki Marto dulu juga dalang keliling,” ujarnya.

Mbah Mardji mulai mengenal dunia wayang sejak usia 14 tahun. Pada 1954, atau setahun kemudian, dia sudah menjadi dalang cilik. ”Sebenarnya waktu umur tujuh tahun, saya sudah membuat wayang dari tanah liat dan daun kluwih.”

Ia belajar mendalang dari sang ayah, ibaratnya magang. Ia mendampingi ayahnya sambil mengamati dan belajar mendalang. ”Kalau saya tanya tentang lakonnya, ayah saya baru mau menjawab dengan imbalan pijatan, ha-ha-ha,” cerita Mbah Mardji, satu-satunya anak dari lima bersaudara yang menjadi dalang.

Ia ingin mewariskan kepiawaian mendalang wayang thengul kepada keluarga. Namun, dua anaknya perempuan, cucunya pun perempuan. ”Jadi, saya tularkan ilmu mendalang ini kepada siapa saja yang mau belajar dan meneruskan wayang thengul,” katanya.

Guru

Oleh karena itulah, hampir semua dalang wayang thengul di Bojonegoro menganggap Mbah Mardji sebagai guru. Ia biasa melibatkan setidaknya dua dalang pada setiap pergelaran. Dalang yang menjadi kadernya pun diberi kesempatan unjuk kebolehan selama 1-2 jam.

Rumah Mbah Mardji juga kerap dikunjungi pelajar dan mahasiswa dari luar Bojonegoro, seperti Surabaya, Jember, dan Malang. Mereka umumnya datang untuk belajar wayang thengul dan wayang krucil.

”Memainkannya sama saja, bedanya, golekan (boneka) wayang thengul itu gilik (bulat tiga dimensi), sementara golekan wayang krucil kan pipih,” tutur Mbah Mardji yang juga bisa mendalang wayang purwa (kulit).

Mbah Mardji tak hanya memberi kesempatan belajar bagi kader dalang, tetapi juga mereka yang ingin menjadi panjak dan membuat wayang thengul.

Wayang thengul adalah tradisi pertunjukan wayang golek (boneka dari kayu) yang tumbuh dan berkembang di Bojonegoro. Istilah thengul berasal dari kata methentheng terus menthungul yang menyiratkan makna semangat untuk selalu tampil di permukaan ruang dan zaman.

Wayang thengul lebih dekat dengan lakon wayang menak, seperti cerita-cerita Panji atau Damarwulan. Namun, cerita tentang Wali Sanga pun menjadi lakon favorit yang kerap dipentaskan.

”Meski ada semacam ’pantangan’, seperti kalau di Bojonegoro jangan mengangkat cerita Anglingdharma, di Cepu jangan membawakan lakon Aryo Penangsang, atau di Tuban jangan sampai mengangkat lakon Ronggolawe gugur,” tuturnya tanpa memberikan alasan.

Sumber

Ni Ketut Arini, Menari adalah Pengabdian

Menari tak sekadar meliukkan tubuh. Bagi Ni Ketut Arini (69), menari adalah karya suci. Sebuah pengabdian yang ditampilkan melalui teknik, ekspresi, dan konsentrasi. Pencapaian itu diperoleh setelah perempuan yang dikenal sebagai salah satu maestro tari Bali klasik ini menempuh jalan panjang dalam dunia tari.

Ia bagaikan pendekar dalam film kungfu yang ”berkelana” mencari guru, mengabdi pada sang guru, lalu mewarisi ilmu tari yang diturunkan para gurunya. Setelah menguasai ilmu yang diajarkan, ia mengembangkan karya tari peninggalan sang guru. Ia juga menciptakan bentuk tari baru yang berakar pada tradisinya.

Itulah cara Arini menahan gempuran budaya kontemporer agar anak-anak Bali tetap lekat dengan budayanya. Ia melihat betapa generasi muda mulai berpaling dari tradisi yang ditinggalkan leluhur.

”Kalau hal itu tidak disiasati, seni tradisi kita akan benar-benar hilang,” kata Arini sebelum ia mementaskan tari Condong pada acara Maestro! Maestro! #7 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir pekan lalu.

Arini dikenal sebagai maestro tari Condong, yang mengisahkan tokoh pembantu putri raja. Tokoh pembantu ini selalu ditampilkan pada drama tari Bali sesuai perkembangan zamannya, mulai tari Gambuh (drama tari dengan dialog), tari Arja (drama tari dengan nyanyian), dan Legong (tari yang diiringi gamelan pelegongan).

Arini yang mendalami sejarah tari mengatakan, Gambuh adalah tarian tertua di Bali yang berkembang sekitar abad ke-15, jauh sebelum tari Arja tercipta di Bali sekitar tahun 1911. Adapun tari Legong baru muncul sekitar tahun 1915 di bagian utara Bali. Ia menguasai ketiga jenis tarian Condong, baik Condong Gambuh, Condong Arja, maupun Condong Legong.

Gambuh memakai dialog bahasa Kawi yang sudah jarang dikenal seniman tari. Ia bisa menguasai Gambuh sejak 1967. ”Sekarang hanya ada beberapa desa yang masih memiliki Gambuh,” kata Arini. Gambuh sulit dipelajari karena lagunya begitu panjang. Ia sendiri membutuhkan hampir satu tahun untuk menghafalkan lagu pada Gambuh.

Selain Condong, ia juga menghidupkan kembali tari Legong klasik yang nyaris ditinggalkan penerusnya. Di Bali ada 14 gaya tari Legong klasik, dan ia menguasai enam di antaranya, yaitu Legong Pelayon, Lasem, Kuntul, Kuntir, Jobog, dan Semarandhana. Keenam tarian itu ia ajarkan di sanggarnya.

Pada 2010 ia bersama temannya mendokumentasikan enam tari Legong itu untuk arsip Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan menjadi bahan ajar mahasiswa tari.

Tari peninggalan para gurunya itu sudah lama ia ajarkan kepada muridnya di sanggar tari Bali ”Warini”. Muridnya tak hanya datang dari sekitar sanggar, tetapi juga dari negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Swiss.

Sanggar itu ia dirikan tahun 1973, dan sampai kini setiap tahun meluluskan sekitar 100 siswa tari. Arini punya cara agar tari klasik Bali tetap dipelajari generasi muda. ”Anak-anak biasanya cepat bosan karena tari klasik membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya.”

Untuk mengajarkan gerakan secara bertahap, ia menggunakan gamelan dan gong sebagai pengiring gerakan. Ia tak memakai hitungan untuk setiap gerakan yang dilakukan.

”Dengan iringan gamelan, anak-anak merasa sudah menari dan itu membuat mereka bersemangat,” kata Arini yang menjalani misi kesenian ke luar negeri sejak 1965.

Pengembaraan

Pengembaraan Arini di dunia tari dijalani sejak berusia 10 tahun. Ia lahir dari keluarga penari. Ayah dan neneknya adalah penari, sedangkan kakaknya seorang dalang. Namun, sejak kecil ia justru belajar menari kepada I Wayan Rindi, pamannya.

Bagi dia, lahir dari keluarga penari belum tentu punya bakat tari. Keterampilan tari bukan diwariskan, tetapi harus dipelajari dengan ketekunan dan kesungguhan hati.

”Saya setiap hari melihat paman melatih tari, lalu pengin bisa seperti paman mengajarkan tari,” katanya.

Arini seperti haus ilmu tari. Setelah belajar dari pamannya, ia berguru kepada I Nyoman Kaler yang pernah menjadi guru di desanya, Banjar Lebah, pada 1933 – 1950. Kaler menciptakan 10 karya tari, salah satunya Legong Kebyar yang diciptakan tahun 1935.

Legong Kebyar pernah terkenal di Bali, lalu hilang karena tak ada yang menarikannya. Keberadaan tarian itu hanya diceritakan di buku-buku. Suatu hari, Arini ditanya Rucina Balinger, muridnya dari AS.

”Balinger bertanya, apa harapan Ibu yang belum kesampaian? Saya bilang, saya ingin hidupkan lagi tarian guru saya, Pak Kaler,” kata Arini mengenang.

Tahun 2004 keduanya bekerja sama mengangkat kembali karya I Nyoman Kaler, antara lain tari Panji Semirang, Mregapati, Wiranata, Demang Miring, Candrametu, Puspawarna, Bayan Nginte, Kupu-kupu Tarum, dan Legong Kebyar.

Mereka menggali lagi karya Kaler lewat simposium dan pementasan yang ditarikan tiga penari lanjut usia, dewasa, dan remaja. Prof I Made Bandem, Prof I Wayan Dibia, dan I Wayan Dia dari Jakarta, adalah saksi saat Kaler mengajar di Banjar Lebah tahun 1933-1950.

Namun, karena tari Bali klasik mulai tergerus sekitar 1990-an, banyak pemilik sanggar menjual gamelan mereka, terutama gamelan pelegongan untuk mengiringi tari Legong.

Dianggap kurang menarik

Keinginan menjadi seniman tari muncul dari Arini tanpa paksaan orangtua. Ia bahkan pernah tak boleh menari karena kulitnya yang gelap dianggap kurang menarik. Namun, larangan itu justru membuatnya bersemangat. Dari Denpasar ia belajar menari kepada Pak Mario di Tabanan, dan Pak Lokasabha di Gianyar. Kaki kecilnya giat mengayuh sepeda ke tempat latihan.

Ia juga belajar pada Biang Sengok, penari tua yang menguasai tari Legong gaya Peliatan. Gurunya itu galak, rambutnya sering dijambak ke belakang bila kepalanya kurang tegak saat menari. Jika ada postur tubuh yang salah, sang guru tak segan-segan mendorong atau menekan badannya.

”Di sini saya belajar sikap sempurna berbagai gaya, yang membutuhkan disiplin tinggi,” ujarnya. Pada usia 14 tahun ia sudah mengajar tari di Karang Asem, berkat dorongan pamannya.

Pada 1963 ia menjadi guru tari di sanggar-sanggar. Semula ia berniat kuliah di Konservatori Karawitan Denpasar. ”Tetapi guru saya bilang, kalau saya kuliah tak ada yang meneruskan mengajar tari karena guru-guru saya sudah tua,” kata Arini yang lalu menunda kuliahnya. Empat tahun kemudian, setelah punya anak satu, ia baru kuliah di jurusan seni tari dan memperdalam sejarah tari.

Pada usia senja, Arini masih menari dengan energik. Ia tak bosan menari karena membuat hatinya senang. Kesenangan itu yang dia tularkan kepada orang lain. Ia diundang pentas dan mengajar di luar negeri. Ia juga menjadi pengajar rutin di Yayasan Sekar Jaya di AS yang didirikan muridnya.

Sumber

DIDIK NINI THOWOK

 

Didik Nini Thowok adalah anak sulung dari lima bersaudara, keempat adiknya. Ia dilahirkan di Temanggung, 13 November 1954 dengan nama Kwee Tjoen Lian. Didik kecil sering sakit-sakitan sehingga orangtuanya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Kwee Tjoen An. Darah Tionghoa diwarisinya dari sang ayah, Kwee Yoe Tiang. Sementara ibunya, Suminah, adalah asli Jawa asal Desa Citayem, Cilacap.

Setelah meletusnya peristiwa G30S/PKI, pemerintah mewajibkan seluruh keturunan Tionghoa untuk mengganti nama Tionghoanya dengan nama pribumi. Sejak saat itu nama Kwee Tjoen An tidak lagi digunakan dan berganti menjadi Didik Hadiprayitno. Ayah Didik, yang kemudian berganti nama menjadi Hadiprayitno, bekerja sebagai penjual kulit sapi dan kambing, sedangkan ibunya membuka warung kelontong di Pasar Kayu. Karena suatu hal, usaha ayahnya mengalami gulung tikar. Agar dapat menafkahi istri serta kelima orang anaknya, Hadiprayitno bekerja sebagai supir truk. Didik sekeluarga tinggal bersama kakek dan neneknya. Hidup mereka sangat sederhana dan pas-pasan.

Dimasa kecil, Didik tidak nakal seperti kebanyakan anak laki-laki seusianya. Ia bahkan cenderung dikucilkan oleh teman-teman lelakinya, karena gerak-geriknya yang lemah gemulai. Permainan masa kecil Didik bukan perang-perangan layaknya seorang anak laki-laki, ia lebih suka main masak-masakan. Oleh sang nenek, Didik juga diajari keterampilan seperti menjahit, menisik, menyulam, dan merenda.

Tak jarang ia pun harus menerima hinaan serta cemoohan dari teman laki-lakinya. Hal itu membuat Didik kecil semakin menarik diri dan lebih nyaman bergaul dengan teman-teman perempuannya. Teman-teman perempuan Didik pun selalu membela dan melindunginya ketika Didik menjadi bahan olok-olokan. Namun, Didik tidak mau membalas kenakalan teman-teman lelakinya. Ia justru terdorong untuk dapat menunjukkan kepada mereka bahwa ia bisa dibanggakan.

Bakat seni Didik sudah terlihat sejak ia masih berseragam sekolah dasar. Hal itu bisa dilihat dari nilai rapornya untuk mata pelajaran kesenian khususnya menggambar dan menyanyi yang di atas rata-rata. Atas prestasinya itu, pujian pun berdatangan. Sejak saat itu, Didik mulai memupuk rasa percaya dirinya. Ia seakan membalas perlakuan buruk teman-temannya dengan membuktikan bahwa ia bisa berprestasi. Impian untuk menjadi seorang seniman besar mulai dirintisnya.

Menurut Didik, dalam perjalanan menemukan jati dirinya sebagai seorang seniman, peran sang kakek amatlah berperan. Engkong Lek, begitu Didik biasa menyapa kakeknya, amat mendukung bakat seni Didik, khususnya di bidang lukis-melukis. Engkong rupanya sangat mendambakan cucu pertamanya itu menjadi seorang pelukis ternama. Sang kakek bahkan membelikan Didik peralatan melukis seperti kertas, konte, cat air, dan pensil warna.

Didik bisa dibilang beruntung, karena walaupun terlahir dalam keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi, ia mendapat dukungan penuh dalam mengembangkan bakat seninya. Selain sang kakek, ibunya, Suminah, juga memiliki andil dalam memupuk bakat seni Didik, bahkan ketika anak pertamanya itu masih di dalam kandungan, Didik merasa telah “diajari” menari. Menurut cerita ibunya, sewaktu mengandung Didik, sambil menggembala kambing ia selalu menari sambil menyanyikan tembang-tembang Jawa. Hal itu dilakukannya secara diam-diam, maklum saja pada masa itu, image masyarakat terhadap perempuan menari itu masih buruk.

Ibunya pun selalu mengajak Didik menyaksikan film India yang diputar di bioskop di Temanggung. Film-film India yang selalu diselilingi dengan adegan menari dan menyanyi para bintangnya membuat Didik terkesima. Seringkali setelah menonton film India, ia bermimpi sedang menari India.

Bahkan saking jatuh cinta pada tarian India, Didik sampai menirukan gaya penari perempuan India lengkap dengan selendang sebagai atribut pelengkap. Karena terlalu semangat, Didik bahkan sempat mengalami kecelakaan kecil. Kala itu ia jatuh terjerembab dan menyebabkan kakinya terluka. Namun rupanya seni tari seakan sudah menjadi nafasnya, kecelakaan kecil itu tidak membuatnya kapok untuk kembali menari.

Suatu hari ada rombongan penari Bali yang akan menggelar pementasan di kampung halamannya. Keinginan Didik untuk menyaksikan aksi para penari Bali harus dibuangnya jauh-jauh karena ia tidak memiliki cukup uang. Ia harus puas dengan mendengarkan suara gamelan khas Pulau Dewata itu dari luar gedung pertunjukan. Meskipun hanya mendengar dari luar, Didik merasakan sensasi tersendiri kala suara gamelan itu mengalun.

Dari pengalaman itu, Didik tergerak untuk mempelajari tari Bali. Sampai suatu ketika ia menanyakan sanggar tari Bali pada Pak Soegiyanto. Tak disangka, pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang cukur itu ternyata bisa mengajarkan tari Bali. Kesempatan emas itu tak disia-siakan Didik. Ketika sedang tak ada pelanggan, Didik dengan tekun belajar menari Legong di kios sempit, tempat Pak Soegiyanto menjual jasanya. Melihat bakat dan kemampuan Didik, Pak Soegiyanto kemudian mengajaknya ke rumah salah seorang sahabatnya bernama Pak Kahari. Di samping tempatnya luas, di sana juga terdapat perangkat gamelan.

Bakat seni yang mengalir deras dalam darahnya membuat Didik cepat menangkap setiap gerakan yang diajarkan Pak Soegiyanto. Dengan diiringi gamelan dari Pak Kahari, Didik terlihat luwes menari. Dalam hitungan hari, ia diajak Pak Kahari untuk ‘mentas’ keliling kampung. Sejak itu Didik banyak menerima tawaran untuk mengisi berbagai acara mulai dari perayaan tujuh belasan, ulang tahun teman hingga perpisahan sekolah. Nama Didik sebagai seorang penari Bali semakin hari semakin dikenal masyarakat Temanggung.

Koreografi tari ciptaannya yang pertama dibuat pada pertengahan 1971. Tarian itu diberi judul “Tari Persembahan”, yang merupakan perpaduan gerak tari Bali dan Jawa. Didik tampil pertama kali sebagai penari  lengkap dengan kebaya dan sanggulnya saat acara kelulusan SMA tahun 1972.

Totalitasnya sebagai penari tak tanggung-tanggung. Karena kerap membawakan tarian perempuan, Didik juga merias wajahnya layaknya seorang perempuan. Keinginan Didik untuk terus mempertajam kemampuan menarinya kian tak terbendung. Setelah lulus SMA, ia ingin melanjutkan pendidikan ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta. Namun karena terbentur masalah biaya, ia harus menunda keinginannya. Ia juga menyadari keterbatasan orangtuanya yang masih harus membiayai keempat adiknya. Oleh karena itu Didik berusaha mencari biaya kuliah dengan bekerja di Kabin Kebudayaan Kabupaten Temanggung sebagai guru tari.

Pada tahun 1974, setelah dua tahun bekerja, berbekal tabungan, Didik berangkat ke Yogyakarta dan mendaftar ke ASTI. Tari Manipuri yang dengan apik dibawakannya berhasil memikat dewan juri sekaligus membuatnya diterima sebagai mahasiswa ASTI.
Hidup sebagai perantau yang jauh dari kampung halaman membuat Didik harus mencari penghasilan untuk menyambung hidup. Keterampilan ‘perempuan’ yang dulu diajarkan neneknya dirasa sangat berguna. Didik menerima pesanan membuat bordir, juga menjual hasil kerajinannya, seperti syal dan taplak meja.

Nama Nini Thowok yang lekat di belakang namanya berawal ketika Didik membantu seniornya di ASTI, Bekti Budi Hastuti (Tuti), dalam pementasan sebuah fragmen tari berjudul Nini Thowok bersama Sunaryo. Kala itu Didik kebagian peran sebagai seorang dukun. Pementasan berlangsung sangat sukses. Debut tari perdananya itu langsung membuat nama Didik meroket di lingkungan kampus. Nini Thowok sendiri berkisah tentang drama pemanggilan arwah semacam permainan jailangkung yang dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa namun dibumbui dengan unsur komedi. Dengan improvisasi, penghayatan dan estetikanya, Didik sukses meramu elemen-elemen komedi dengan gerakan sehingga mampu mengundang tawa. Totalitasnya itu mengundang decak kagum dari para dosen dan seniornya di ASTI.
Didik dan kawan-kawan pun mulai kebanjiran tawaran pementasan. Demi kepuasan penonton, pertunjukan dikemas dengan konsep yang lebih matang. Saat Sunaryo mengundurkan diri, posisinya digantikan Bambang Leksono Setyo Aji, teman sekos Didik. Sejak saat itu kelompok mereka dikenal dengan nama Bengkel Nini Thowok.

Nama Nini Thowok juga melekat di belakang nama setiap personilnya. Sejak saat itulah Didik Hadiprayitno dikenal dengan nama Didik Nini Thowok. Dan sejak itu pula, unsur komedi dan peran dalam tariannya menjadi ciri khas pria yang mengaku cengeng ini. Setelah itu, karier Didik Nini Thowok sebagai penari terus mengalami kemajuan, hingga ia tampil di televisi.

Kesuksesan yang telah diraihnya tak membuat Didik berpuas diri dan merasa paling hebat. “Kakek saya pernah berpesan, kalau maju harus bisa mbodo; jangan merasa sudah pintar dan tak mau belajar atau mendengar dari orang lain. Hati dan pikiran harus selalu terbuka menerima masukan,” kenang Didik. Sepenggal kalimat itu yang membuat Didik tak pernah letih dalam mengejar ilmu. “Sekali kita merasa sudah cukup berhasil, di situlah kita akan berhenti,” lanjutnya. Bagi penerima penghargaan Kick Andy Heroes Award tahun 2009 ini, belajar adalah sebuah proses yang terus menerus dan tak ada akhirnya. Di atas langit masih ada langit.

Didik pun tak segan berguru pada seniman lain. Tercatat sudah puluhan maestro, baik dari dalam maupun luar negeri yang menjadi gurunya. Ia belajar tari Bali pada maestro I Gusti Gde Raka, di Gianyar. Ia juga mempelajari tari klasik Sunda dari Endo Suanda; Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan yang dipelajarinya dari tokoh besar Topeng Cirebon, Ibu Suji. Saat pergi ke Jepang, Didik mempelajari tari klasik Noh (Hagoromo), di Spanyol, ia pun belajar tari Flamenco.

Berkat didikan dari para gurunya, kreativitas Didik dalam mengembangkan tari tradisional semakin tergali. Berkat kemampuannya bereksplorasi, Didik mampu ‘menyegarkan’ tarian tradisional dengan unsur jenaka tanpa mengurangi keindahan di setiap gerakannya.

Setelah menyandang gelar SST (Sarjana Seni Tari), Didik ditawari untuk mengabdi sebagai dosen. Selain itu ia juga diminta mengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK)

Seorang penari, baginya bukan hanya sekadar berlenggak-lenggok, namun juga harus mampu menghancurkan egonya dan menyatu dengan karakter yang sedang dibawakannya. Untuk dapat melakukan hal itu, menurutnya diperlukan kejujuran.

“Seorang penari tak akan bisa menyuguhkan tarian dengan sempurna jika egonya masih ikut menari. Tari meniscayakan kejujuran. Meski menguasai teknik dengan baik, jika egonya belum lebur, penari itu berarti masih menari dengan arogansi, dan itu tak akan berhasil,” kata pria kemayu itu.

“Ketika saya menari, saya mengosongkan diri saya. Apakah saya orang Indonesia, saya keturunan China campur Jawa, saya orang Kristen, atau saya penari dengan bayaran selangit, itu semua sudah tidak ada lagi. Saya masuk dan menjadi karakter yang saya tarikan,” lanjut ayah angkat Aditya Awaras Hadiprayitno itu.

Pepatah “ibarat padi yang semakin berisi semakin merunduk” dirasa tepat untuk menggambarkan kearifan Didik Nini Thowok. Meski telah puluhan tahun menjalani profesi sebagai penari, dengan segudang pengalamannya baik di dalam maupun luar negeri, tak lantas membuat Didik tinggi hati. “Saya ini belum apa-apa. Semakin saya belajar semakin saya sadar bahwa banyak yang belum saya ketahui. Oleh karena itu, saya heran kalau ada penari baru yang baru punya prestasi sedikit saja sudah kemiliti (sombong). Kalau mau sombong-sombongan, saya mungkin bisa saja menyombongkan prestasi saya, dari yang mulai ngamen di pinggir jalan sampai menari di depan pemimpin-pemimpin mancanegara, saya sudah kenyang. Tapi untuk apa kita sombong. Bukan itu tujuan saya. Saya hanya ingin menjalankan peran kesenimanan saya dengan baik, menjadi manusia yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Jika kemudian upaya saya dihargai dan diapresiasi sedemikian rupa, itu merupakan karunia yang harus disyukuri tanpa kita harus menjadi tinggi hati,” kata Didik serius.

Didik memang terlahir sebagai seniman yang hidup dari dan untuk tari. Pada tahun 1980 ia mendirikan Sanggar Tari Natya Lakshita di Yogyakarta. Karena ingin berkonsentrasi pada sanggar maka pada tahun 1985, setelah delapan tahun menjadi dosen di almamaternya, ASTI, Didik memutuskan untuk mengundurkan diri sekaligus melepaskan statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Tekadnya untuk terus berkarya dalam dunia seni tari semakin kuat, bukan hanya sebagai penari tapi juga pencipta, penata dan pengelola sanggar tari. Selama perjalanannya bergelut dengan dunia tari banyak nilai positif yang dirasakan Didik. Semua itu diyakininya dapat ditemukan di mana saja, di agama dan di bidang apa saja.

Pria yang murah senyum ini dikenal sebagai pribadi yang hangat dan ramah. Keramahan dan kehangatannya tak hanya ditunjukkan pada orang-orang dengan jabatan tertentu, tapi juga masyarakat biasa. Keramahan, kelemahlembutan, kerendahan hati, kejujuran, dan keikhlasan didapatkan Didik dari menari. Nilai-nilai tersebut berusaha diterapkan dalam kesehariannya. Walaupun sudah punya ‘nama’, Didik tidak pernah membedakan saat ia harus menari di pinggir jalan atau di istana, semua dijalaninya dengan jujur dan ikhlas. Dengan begitu seseorang dapat terhindar dari sifat sombong. “Saya paling takut dengan kesombongan. Kesombongan itu, selain bisa menyakiti orang lain, juga bisa menghancurkan diri kita,” kata Didik.

Meski disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam mengurus sanggar asuhannya, atau menghadiri undangan ke luar negeri untuk mengisi berbagai event, Didik selalu meluangkan waktunya untuk beribadah. “Buat saya agama itu sangat penting. Ketekunan dalam beribadah berpengaruh besar dalam membimbing seseorang agar tidak terjerumus dalam kecenderungan destruktif,” katanya.

Sebagai penganut Kristen Protestan yang taat, setiap Minggu Didik hampir tak pernah absen menghadiri kebaktian di gereja. Agar khusyuk mendengarkan khotbah pendeta, Didik memilih duduk di bagian paling depan. Tak jarang Didik sampai menitikkan airmata jika mendengar kata-kata yang menyentuh hati. Kalaupun ia tak sempat pergi ke gereja, Didik memanggil pendeta ke rumahnya untuk menggelar kebaktian di rumah.

Dalam perjalanan karirnya, Didik benar-benar merasakan campur tangan Tuhan. Di tengah hambatan dan rintangan yang dihadapinya, Didik yakin segalanya akan baik-baik saja jika Tuhan sudah turun tangan. Meskipun diakuinya tak mudah untuk bisa konsisten menjalankan kehidupan berdasarkan nilai-nilai yang ingin selalu kita anut. Ia mencontohkan, agama mengajarkan kita untuk membalas kejahatan yang dilakukan orang terhadap kita dengan kebaikan. Jika seseorang mampu melakukannya, itu sangat luar biasa, karena hal itu tidak mudah. Tiap kali merasa tersakiti, Didik selalu menangis dan mengadu kepada Tuhan. Meskipun ia masih tetap berusaha menjalankan ajaran mulia itu. Paling tidak ia dapat membalas kebaikan dengan kebaikan.

Karena merasa telah dibesarkan oleh seni tari tradisional, Didik ingin membalas budi dengan berkontribusi demi kemajuan kesenian yang telah puluhan tahun digelutinya itu. Salah satunya dengan membuat VCD Tari Legong Bapang. Meski menelan biaya hingga ratusan juta rupiah, Didik tak mengharapkan keuntungan sedikit pun. Malah banyak pihak yang secara sukarela mendanai proyek itu. “Maka dari itu saya sangat yakin dengan pentingnya keikhlasan,”kata Didik.

Keikhlasan juga membuatnya mensyukuri segala pemberian Tuhan padanya. Di masa lalu, saat sebagian orang melihat sifat feminin yang lekat pada sosok Didik sebagai kekurangan, kini keadaan pun berbalik dengan kesuksesan yang telah digenggamnya. Berkat ketabahan dan ketekunannya, kekurangannya itu malah disyukurinya. Di saat orang hanya bisa menghujaninya dengan cemoohan karena kerap berpenampilan seperti perempuan, Didik terus konsisten hingga akhirnya ia berhasil memetik sukses buah dari kesabarannya itu.

Sebutan sebagai seniman cross gender (sebuah identifikasi terhadap sebuah kemampuan yang melintasi batas-batas seksualitas) baru didengarnya kala ia bepergian ke luar negeri tahun 2000 lalu. Pada Maret 2003, ia tergabung dalam pertunjukan yang berjudul Impersonators, The Female Role Players in Asian Dance and Theater di Tokyo, Jepang. Dalam pertunjukan yang disponsori Japan Foundation ini, Didik bergabung dengan para penari cross gender dari berbagai negara di Asia.

Jauh sebelum istilah itu dikenal, Indonesia sesungguhnya telah lama memiliki seniman cross gender berbakat, dialah Didik Nini Thowok. Mengenai masalah ini, Didik masih prihatin karena masyarakat Indonesia masih belum bisa membedakan antara cross gender dengan seni pertunjukkan waria, gay, dan lesbian.

Dalam mengapresiasi karya seniman cross gender, Didik merasa Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara lain seperti China, Jepang, dan India. Bahkan yang lebih menyedihkan ketidakpahaman itu bukan hanya dialami masyarakat awam namun juga para anggota dewan. Sebagai contoh RUU Penyiaran yang mengatur identifikasi gender sebagai buntut dari maraknya presenter di televisi yang berdandan dan berprilaku ala waria yang kemudian disamaratakan dengan seni pertunjukkan cross gender. Menurut Didik, para pembuat undang-undang itu tidak mengerti sejarah.

Meski dilanda keprihatinan karena minimnya apresiasi masyarakat maupun pemerintah Indonesia, Didik tak berkecil hati. Penggemar film kartun itu tetap mensyukuri semua yang telah diraihnya. Rasa syukur itu juga ia wujudkan dengan mendirikan sebuah yayasan yang menyantuni biaya pendidikan lebih dari 60 anak.

“Bagaimanapun, saya bersyukur dengan apa yang telah saya raih selama ini. Saya merasa ini semua karunia Tuhan. Saya merasa semua doa-doa saya dijawab oleh Tuhan,” kata Didik sambil menitikkan air mata. Didik memang pria melanlokis, hal itu pun diakuinya. Kehalusan hati dan rasa kasih yang melimpah dalam jiwanya membuatnya mudah menangis.

Sumber

sS
–>