Tentang Tari KECAK, Bali

Tentu kita semua sudah sangat mengenal dg Tari Kecak. Ketika ditanya “apa kesenian khas dari Bali?” pasti mayoritas yang terlintas di kepala adalah tari Kecak. Walo tidak semua pernah menonton tari Kecak dan apalagi tau tentang cerita tarian tersebut, tapi kata TARI KECAK itu sudah sangat kental nempel di otak kita sejak kecil ya. 🙂

Nah… Tahukah kamu bgmn Tari Kecak itu terbentuk? Apa tiba-tiba ada begitu saja?

Nah simak ulasan singkat berikut ini tentang siapakan yang menciptakan Tari Kecak itu?

Wayan Limbak (1897 – August 31, 2003), adalah seorang penari Bali yang bersama-sama Walter Spies (seorang pelukis Jerman) menciptakan tarian Kecak yang sangat terkenal sekarang ini. Beliau meninggal dunia di usia 106 tahun di Desa Bedulu, Gianyar, Bali.

Bekerjasama dengan Walter Spies sekitar tahun 1930an, berawal dari tarian Sang Hyang (tarian suci untuk ritual upacara) yang digelar setiap tahun dalam upacara suci di Pura Goa Gajah, Bedulu, Gianyar. Dengan usulan dari Walter Spies, tarian Sang Hyang tersebut dimodifikasi menjadi sebuah tarian Kecak seperti sekarang yang kita kenal, dengan mensisipkan cerita biasanya diambil dari epos Ramayana, takkala Subali bertempur dengan adiknya Sugriwa atau Rahwana menculik Dewi Sita.
Tarian Kecak ini ditarikan 50 sampai 100 orang dengan hanya menggunakan kain hitam dan ikat pinggang loreng tanpa baju membentuk formasi lingkaran, dimana nada musik untuk mengiringi tarian pemeran tokoh2 cerita, hanya dengan suara seluruh penari bersahut sahutan dengan mengucapkan cak cak cak cak…

Wayan Limbak mempopulerkan tari Kecak sebagai wakil Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya ke seluruh dunia dengan membawa grup tarinya keliling dunia untuk mengikuti berbagai festival internasional.

Sumber Artikel : religionlove
http://www.thebalitimeline.com/wayan-limbak-pencipta-tari-kecak/

image

Advertisements

Korea punya Gangnam style, US punya Harlem Shake, Indonesia???

Judul di atas tentu menarik sekali ya… Indonesia punya apa?

Judul tersebut saya ambil dari sebuah judul post seseorang pada suatu forum media sosial terkenal di Indonesia. Sang penulis tersebut seolah menggambarkan bahwa Indonesia tidak punya tarian yang mendunia layaknya gangnam dan harlem. Pertanyaannya, pantaskah tari Indonesia disejajarkan dengan gangnam dan harlem yang menurut saya sama sekali tidak ada nilai budayanya? Yang paling menyedihkan, komentator di forum tersebut pun banyak yang merasa Indonesia tidak punya karya tari yang mendunia. Saya kasihan dengan wawasan mereka dan kecewa dengan apresiasi mereka terhadap Indonesia.

Dilihat dari nama gangnam style dan harlem shake, adalah nama suatu wilayah yang ada di negaranya. Gangnam ada di korea, Harlem ada di US.  Nah… Indonesia punya berapa banyak wilayah? apakah tiap wilayah punya style tarian? YA!! Apakah style itu mendunia? YA!!

Mau contoh?

Kita mulai dari Sumatera.

Padang Style: tahu tarian Padang Style? ada tari piring dan tari badinding.

Penampilan Tari Piring di Purdue University

Penampilan Tari Badinding di Australia

Aceh style: kalo sampe gak tau Aceh style, keterlaluan deh. Tari Saman.

Penampilan Tari Saman di Argentina

Batak Style: Kalo ini harusnya pada tahu karena sempat jadi konflik dengan negara tetangga yang mau mengklaim juga. Tari Tor Tor

Penampilan Tari Tor Tor di Taiwan

Lanjut ke Jawa Barat.

Kalo ini saya bisa kasih nama Sunda Shake: Goyang Jaipong. Negara mana yang sanggup menandingi ini?

Penampilan Goyang Jaipong di USA

Berikutnya ke Jawa Tengah.

Ini lumayan juga yang mendunia. Saya bisa kasih nama sebagai berikut:

Keraton(Royal Court) Style: Bedhaya, Serimpi.

Penampilan Tari Bedhaya Pangkur

Penampilan Tari Serimpi Gondokusumo

Lalu kita ke Jawa Timur

Suroboyo Style: Ngeremo.

Penampilan Tari Remo di Chicago

Ponorogo Style: Reog

Penampilan Reog di Washington DC

Banyuwangi Shake: Gandrung

Penampilan Tari Gandrung Banyuwangi di Nagoya, Jepang

Madura Shake: Geleng Ro’om

Penampilan Tari Geleng Ro’om

Nah sekarang ke Bali. Gak mungkin dong Bali gak mendunia.

Bali Style: Legong, Kecak, Pendet, Cendrawasih.

Penampilan Tari Legong di Brussels

Berikutnya ke Kalimantan.

Ada Dayak style: Tari Enggang

Penampilan Tari Enggang di Seoul

Banjarmasin Style (kalimantan selatan)

Penampilan tari Jepen Lenggang Banua

Lanjut Sulawesi

Bugis (Makassar) Style: Tari Pakarena, Tari Kipas Mamiri.

Penampilan Tari Pakarena Ma’lino di Shanghai

dan masih banyak lagi Style lainnya pada setiap daerah di Indonesia, yang jika mau kita eksplore, tentunya akan menemukan banyak judul tari dengan stylenya masing-masing.

Dari hanya beberapa wilayah di Indonesia saja, kita sudah menemukan lebih dari 5 dance style. Kore hanya punya Gangnam, USA hanya punya Harlem, Indonesia?? WOW! punya puluhan.

Tulisan ini hanya ulasan singkat bentuk keprihatinan saya terhadap rendahnya apresiasi generasi muda bangsa ini terhadap karya-karya Indonesia. Saya berharap Generasi kini memiliki kemauan untuk setidaknya mencari tahu, melirik, dan lebih bagus lagi mempelajari kesenian kita. Buka You Tube… coba ketik Tari Tradisional pada search engine nya. Jangan hanya ketik K-Pop, Musik terkini, ato nama artis-artis kesukaan saja. Banyak di upload tari-tarian Indonesia tapi jumlah viewnya sedikit sekali dibandingkan link-link dari Luar Negeri.

Semoga tulisan ini dapat membangkitkan ketertarikan kita semua, mulai dari generasi muda hingga generasi tua untuk mengeksplore ragam seni budayaIndonesia dan mulai mempelajarinya serta menyebarluaskan ke penjuru dunia. Kalau bukan kita, masayarakat kita, generasi muda kita sendiri yang melirik, mempelajari, melestarikan dan menyebarluaskan seni kita, siapa lagi??? Negara lain? Bangsa lain? tapi kalo akhirnya di klaim milik mereka?

Ni Ketut Arini, Menari adalah Pengabdian

Menari tak sekadar meliukkan tubuh. Bagi Ni Ketut Arini (69), menari adalah karya suci. Sebuah pengabdian yang ditampilkan melalui teknik, ekspresi, dan konsentrasi. Pencapaian itu diperoleh setelah perempuan yang dikenal sebagai salah satu maestro tari Bali klasik ini menempuh jalan panjang dalam dunia tari.

Ia bagaikan pendekar dalam film kungfu yang ”berkelana” mencari guru, mengabdi pada sang guru, lalu mewarisi ilmu tari yang diturunkan para gurunya. Setelah menguasai ilmu yang diajarkan, ia mengembangkan karya tari peninggalan sang guru. Ia juga menciptakan bentuk tari baru yang berakar pada tradisinya.

Itulah cara Arini menahan gempuran budaya kontemporer agar anak-anak Bali tetap lekat dengan budayanya. Ia melihat betapa generasi muda mulai berpaling dari tradisi yang ditinggalkan leluhur.

”Kalau hal itu tidak disiasati, seni tradisi kita akan benar-benar hilang,” kata Arini sebelum ia mementaskan tari Condong pada acara Maestro! Maestro! #7 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir pekan lalu.

Arini dikenal sebagai maestro tari Condong, yang mengisahkan tokoh pembantu putri raja. Tokoh pembantu ini selalu ditampilkan pada drama tari Bali sesuai perkembangan zamannya, mulai tari Gambuh (drama tari dengan dialog), tari Arja (drama tari dengan nyanyian), dan Legong (tari yang diiringi gamelan pelegongan).

Arini yang mendalami sejarah tari mengatakan, Gambuh adalah tarian tertua di Bali yang berkembang sekitar abad ke-15, jauh sebelum tari Arja tercipta di Bali sekitar tahun 1911. Adapun tari Legong baru muncul sekitar tahun 1915 di bagian utara Bali. Ia menguasai ketiga jenis tarian Condong, baik Condong Gambuh, Condong Arja, maupun Condong Legong.

Gambuh memakai dialog bahasa Kawi yang sudah jarang dikenal seniman tari. Ia bisa menguasai Gambuh sejak 1967. ”Sekarang hanya ada beberapa desa yang masih memiliki Gambuh,” kata Arini. Gambuh sulit dipelajari karena lagunya begitu panjang. Ia sendiri membutuhkan hampir satu tahun untuk menghafalkan lagu pada Gambuh.

Selain Condong, ia juga menghidupkan kembali tari Legong klasik yang nyaris ditinggalkan penerusnya. Di Bali ada 14 gaya tari Legong klasik, dan ia menguasai enam di antaranya, yaitu Legong Pelayon, Lasem, Kuntul, Kuntir, Jobog, dan Semarandhana. Keenam tarian itu ia ajarkan di sanggarnya.

Pada 2010 ia bersama temannya mendokumentasikan enam tari Legong itu untuk arsip Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan menjadi bahan ajar mahasiswa tari.

Tari peninggalan para gurunya itu sudah lama ia ajarkan kepada muridnya di sanggar tari Bali ”Warini”. Muridnya tak hanya datang dari sekitar sanggar, tetapi juga dari negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Swiss.

Sanggar itu ia dirikan tahun 1973, dan sampai kini setiap tahun meluluskan sekitar 100 siswa tari. Arini punya cara agar tari klasik Bali tetap dipelajari generasi muda. ”Anak-anak biasanya cepat bosan karena tari klasik membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya.”

Untuk mengajarkan gerakan secara bertahap, ia menggunakan gamelan dan gong sebagai pengiring gerakan. Ia tak memakai hitungan untuk setiap gerakan yang dilakukan.

”Dengan iringan gamelan, anak-anak merasa sudah menari dan itu membuat mereka bersemangat,” kata Arini yang menjalani misi kesenian ke luar negeri sejak 1965.

Pengembaraan

Pengembaraan Arini di dunia tari dijalani sejak berusia 10 tahun. Ia lahir dari keluarga penari. Ayah dan neneknya adalah penari, sedangkan kakaknya seorang dalang. Namun, sejak kecil ia justru belajar menari kepada I Wayan Rindi, pamannya.

Bagi dia, lahir dari keluarga penari belum tentu punya bakat tari. Keterampilan tari bukan diwariskan, tetapi harus dipelajari dengan ketekunan dan kesungguhan hati.

”Saya setiap hari melihat paman melatih tari, lalu pengin bisa seperti paman mengajarkan tari,” katanya.

Arini seperti haus ilmu tari. Setelah belajar dari pamannya, ia berguru kepada I Nyoman Kaler yang pernah menjadi guru di desanya, Banjar Lebah, pada 1933 – 1950. Kaler menciptakan 10 karya tari, salah satunya Legong Kebyar yang diciptakan tahun 1935.

Legong Kebyar pernah terkenal di Bali, lalu hilang karena tak ada yang menarikannya. Keberadaan tarian itu hanya diceritakan di buku-buku. Suatu hari, Arini ditanya Rucina Balinger, muridnya dari AS.

”Balinger bertanya, apa harapan Ibu yang belum kesampaian? Saya bilang, saya ingin hidupkan lagi tarian guru saya, Pak Kaler,” kata Arini mengenang.

Tahun 2004 keduanya bekerja sama mengangkat kembali karya I Nyoman Kaler, antara lain tari Panji Semirang, Mregapati, Wiranata, Demang Miring, Candrametu, Puspawarna, Bayan Nginte, Kupu-kupu Tarum, dan Legong Kebyar.

Mereka menggali lagi karya Kaler lewat simposium dan pementasan yang ditarikan tiga penari lanjut usia, dewasa, dan remaja. Prof I Made Bandem, Prof I Wayan Dibia, dan I Wayan Dia dari Jakarta, adalah saksi saat Kaler mengajar di Banjar Lebah tahun 1933-1950.

Namun, karena tari Bali klasik mulai tergerus sekitar 1990-an, banyak pemilik sanggar menjual gamelan mereka, terutama gamelan pelegongan untuk mengiringi tari Legong.

Dianggap kurang menarik

Keinginan menjadi seniman tari muncul dari Arini tanpa paksaan orangtua. Ia bahkan pernah tak boleh menari karena kulitnya yang gelap dianggap kurang menarik. Namun, larangan itu justru membuatnya bersemangat. Dari Denpasar ia belajar menari kepada Pak Mario di Tabanan, dan Pak Lokasabha di Gianyar. Kaki kecilnya giat mengayuh sepeda ke tempat latihan.

Ia juga belajar pada Biang Sengok, penari tua yang menguasai tari Legong gaya Peliatan. Gurunya itu galak, rambutnya sering dijambak ke belakang bila kepalanya kurang tegak saat menari. Jika ada postur tubuh yang salah, sang guru tak segan-segan mendorong atau menekan badannya.

”Di sini saya belajar sikap sempurna berbagai gaya, yang membutuhkan disiplin tinggi,” ujarnya. Pada usia 14 tahun ia sudah mengajar tari di Karang Asem, berkat dorongan pamannya.

Pada 1963 ia menjadi guru tari di sanggar-sanggar. Semula ia berniat kuliah di Konservatori Karawitan Denpasar. ”Tetapi guru saya bilang, kalau saya kuliah tak ada yang meneruskan mengajar tari karena guru-guru saya sudah tua,” kata Arini yang lalu menunda kuliahnya. Empat tahun kemudian, setelah punya anak satu, ia baru kuliah di jurusan seni tari dan memperdalam sejarah tari.

Pada usia senja, Arini masih menari dengan energik. Ia tak bosan menari karena membuat hatinya senang. Kesenangan itu yang dia tularkan kepada orang lain. Ia diundang pentas dan mengajar di luar negeri. Ia juga menjadi pengajar rutin di Yayasan Sekar Jaya di AS yang didirikan muridnya.

Sumber

Doktor Bayu Wirawan, Studi lagi Ambil S-1 (demi ilmu seni)

DENPASAR, KOMPAS.com – Bayu Wirawan Phd alumnus Berklee College of musik di Boston, Amerika Serikat, yang lama menetap di AS dan Australia kembali melanjutkan studi sarjana (S-1) di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, yang puluhan tahun sebagai dosen di luar negeri itu kembali ke Tanah Air untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan tinggi seni.

Demikian dikatakan Bayu Wirawan kepada Rektor ISI Denpasar, Prof Dr I Wayan Rai, pada pengenalan kegiatan akademik dan kemahasiswaan bagi 432 mahasiswa baru, yang berlangsung selama sepekan, Selasa.

Bayu merupakan salah satu dari 432 mahasiswa, yang memilih Fakultas Seni Pertunjukan untuk memperlajari program studi tabuh dan tari Bali.

Sebagai komposer, Bayu yang telah berhasil mengkolaborasikan musik jazz dengan musik-musik tradisional, termasuk tabuh dan tari Bali ini, ingin secara khusus mempelajari tabuh dan tari Bali.

“Hal ini harus dilakukan karena banyak permintaan dan peluang terhadap tabuh dan tari Bali, namun tidak bisa saya lakoni, karena (saya) tidak bisa menabuh dan menari Bali, meskipun saya orang Indonesia,” ujar Bayu, Selasa (11/9/2012).

Oleh sebab itu dalam menyelesaikan program S-1 di ISI Denpasar, Bayu akan menekankan pada kemampuan untuk mempelajari tabuh dan tari Bali.

“Ini sangat berguna untuk menyempurnakan ilmu dan kemampuan (saya) dalam bidang menciptakan dan mengkolaborasikan musik yang berhaluan keras,” ujar Bayu Wirawan.

Secara khusus Prof Rai menyambut baik, semangat, tekad dan didikasi Bayu Wirawan serta ratusan mahasiswa baru lainnya untuk mendalami tabuh, tari Bali dan bidang seni lainnya di ISI Denpasar.

“Baru kali ini ada mahasiswa ISI yang sudah lulus S-3 kembali kuliah untuk S-1,” tutur Prof Rai.

 

Sumber: http://edukasi.kompas.com