Memperkenalkan tarian anak-anak yang sesuai

Mengapa tarian anak itu mayoritas tari dengan judul hewan-hewan, tari permainan-permainan, tari lucu-lucu?
Perlu dipahami oleh anda semua, bahwa menciptakan tarian anak itu ada pendidikannya khusus. Koregrafer yang menciptakan tari anak itu tidak asal menciptakan tari. Semua tarian untuk anak itu memiliki maksud dan tujuan yang tidak sekedar goyang asik atau berjoged ramai.

Seringkali saya temui orangtua yang inginnya anak menari goyang-goyang egol egol, terlihat bahenol ya? tapi maaf pak/buk, itu sangatlah tidak untuk usianya. Meskipun Jaipong anda pikir tariannya seksi, goyangan lenggok menggoda, tapi yang anda lihat itu anak usia belasan atau dewasa yang memang sangat menarik dilihat menggoda, tetapi apakah sesuai untuk anak-anak?

Mengutip dari “Materi Seni Budaya.blogspot” bahwa Mempelajari gerak tari bukan merupakan prioritas utama. Namun yang lebih penting adalah aspek di balik pelajaran tari kaitannya dengan masalah budi pekeri dan perilaku anak.
Untuk itulah anak jangan dipaksakan menerima materi yang tidak sesuai dengan tingkat usia yang dimiliki. Hal ini akan sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis anak dalam menapak masa depan. tari dalam tataran ini harus mampu merangsang dan mengembangkan imajinasi serta memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk menemukan sesuatu (Murgiyanto, 1993: 22).

Materi tari untuk anak dapat kita klasifikasikan sebagai berikut:

1. Tari yang disusun berdasarkan permainan anak keseharian (dolanan)
2. Tari yang disusun atas dasar teks lagu
3. Tari yang disusun atas dasar lagu
4. Imitasi gerak dalam kehidupan sehari-hari
(Empat tahapan tersebut untuk kelas I s/d III SD)

5. Imitasi tari tradisional
6. Tari tradisional yang disesuaikan dengan jiwa anak
7. Tari tradisional yang disesuaikan dengan kemampuan anak
(Kategori ini lebih tepat untuk kelas IV s/d VI SD).

Bagaimana mengajarkan tari untuk anak yang efektif ? Kita perlu memahami pembatasan kelas dan usia anak. Ini sangat perlu diketahui. Untuk memberikan materi kelas I s/d III kita dapat menerapkan sistem pelajaran imitasi (menirukan) gerak bebas dengan mengutamakan ketepatan irama. Baru kemudian menirukan gerak dengan ketepatan gerak. Dan terakhir adalah improvisasi secara bebas.

Untuk kelas IV s/d VI, secara umum metode di atas dapat diterapkan, namun dengan penekanan pada unsur kualitas gerak.

Menari juga memerlukan kematangan psikologis. Karena itu tarian tradisional untuk anak usia dini- anak sekolah SD dan Remaja sampai dewasa itu berbeda dan memang diciptakan sudah sesuai dengan karakter usianya.

Spectra Dance Studio telah mengklasifikan materi-materi tarian berdasarkan tingkatan level anak – Remaja/dewasa. Semua bertujuan untuk melatih, memperkenalkan, melestarikan kesenian tradisional tetapi sekaligus mendidik.

Memaksakan jenis tarian yang tidak sesuai dengan karakter psikologis usianya akan membebani anak dikemudian hari dan tentunya tidak baik bagi perkembangan emosional anak.

Menurut I Gusti Komang Aryaprastya dalam PENDIDIKAN SENI TARI ANAK USIA DINI

MELALUI STIMULUS BERKREASI TARI NUSANTARA, Anak Usia Dini merupakan sosok insan yang masih memiliki sifat bermain yang sangat tinggi, oleh karena itu kebebasan berimajinasi menjadikan dirinya memiliki keunikan tersendiri dibandingkan orang dewasa. Kegemarannya bermain seringkali menghadirkan suara-suara maupun gerak-gerik tubuh yang indah atau ekspresif dengan gaya yang spesifik. Perilaku seperti ini bisa menjadi sumber kreatifitas dan acuan dalam memotivasi keberanian untuk berkreasi.

Seperti misalnya dalam menari tarian hewan seperti semut, bebek, kancil, dan sebagainya, anak akan menari sambil dilatih berimajinasi menirukan binatang, dengan arahan, ia belajar menirukan gerak bebek terbang, kancil melopat, semut berlari dan seterusnya, itulah orisinalitas anak-anak dalam berekspresi.

Kecenderungan anak-anak menyukai musik-musik yang populer seperti dangdut, india, korea dan sebagainya serta dengan goyangan-goyangan yang meniru orang dewasa. Karena secara psikologis memang anak-anak adalah peniru yang ulung. Oleh karena itu, sebagai orangtua, orang dewasa yang ingin generasi penerus yang terdidik mental dan emosionalnya sesuai dengan usianya, perlu membimbing dan mengarahkan lebih baik. Memperkenalkan pada dunia seni tradisional juga sebaiknya sesuai dengan tingkatan usianya, akan sangat berbahaya jika memperkenalkan materi seni kepada anak, namun tidak mempertimbangkan faktor psikologis dan tingkat perkembangan emosional anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s