SENI PERTUNJUKAN SANDUR, KABUPATEN TUBAN

Pertunjukan Sandur atau Sandur merupakan sebuah pertunjukan (baca: seni pertunjukan) yang cukup populer dan khas di daerah Kabupaten Tuban. Sandur diakui sebagai icon daerah Tuban karena sifatnya yang unik dan khas. Dalam tulisan ini mengambil paguyuban Sandur Ronggo Budoyo yang dipimpin Sakru (45 tahun) desa Bektihajo, Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban sebagai Studi kasus. Pemilihan tersebut dengan alasan bahwa Sandur tersebut merupakan satu-satunya paguyuban Sandur yang anggotanya masih ada dan aktif melakukan pementasan.

pertunjukan Sandur merupakan pertunjukan rakyat yang digelar di tanah lapang atau di halaman yang bersifat komunal. Penonton duduk di sekeliling pementasan. Tempat pertunjukan, untuk membatasai dengan penonton dipasang tali berbentuk bujur sangkar dengan sisi-sisi sekitar 4 meter, tinggi sekitar 1,5 meter. Masing-masing sisi diberi janur kuning sehingga batas itu lebih jelas. Di tengah-tengah sisi sebelah timur dan barat dipancangkan sebatang bambu menjulang ke atas dengan ketinggian sekitar 15 meter. Dari ujung kedua bambu dihubungkan dengan tali yang cukup besar dan kuat. Di tengah-tengah tali diikatkan tali yang menjulur samapi ke tanah tepat ditengah arena. Pada tali baik yang di sisi maupun di atas bambu diikatkan beberapa kupat dan lepet bagian dari sesaji. Di tengah-tengah atau titik pusat arena ditancapkan gagar mayang (rontek) dengan bendera kertas meliputi emat warna hijau (pengganti warna hitam), kuning, merah dan putih.

Waktu pertunjukan biasanya dilakukan pada malam hari dimulai sekitar jam 20.00 berakhir pada 04.00 pagi hari. Ada dua fungsi pementasan Sandur, pertama dipentaskan di tempat-tempat keramat di mana tempat para tokoh Sadur nyetri dan kedua dipentaskan di tempat umum. Pementasan di tempat keramat dengan tujuan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan mencoba apakah tokoh Sandur sudah mendapat kekuatan tertentu. Pementasan ini dianggap wajib dilakukan pada awal musim pementasan. Sejak dahulu memang selalu begitu tidak berani meninggalkan, karena ada perasan takut bila tidak dilakukan akan mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Pementasan untuk umum melayani permintaan orang punya nadhar (duwe ujar, atau duwe uni). Bagi orang yang mengundang tidak dipungut biaya, cukup menyediakan makan minum serta menyiapkan ubarampe sesaji dan bambu. Kalau yang mengundang tempatnya jauh perlu menyediakan transpotasi. Akhir-akhir ini Sandur diundang (ditanggap) dipentaskan di lembaga-lembaga pemerintah dan pada acara-acara tertentu dengan menerima imbalan sebagai jasa. Bila sepi tidak ada yang mengundang biasanya ada saja anggota Sandur sendiri berkeinginan untuk ditempati. Semua keperluan pementasan ditanggung bersama secara kolektif. Sudah menjadi kebiasaan bila ada pementasan Sandur tetangga sekitar tempat pementasan membawa berbagai makanan dan minuman hasil bumi mereka secara suka rela.

4 Tokoh Penari Sandur (Balong, Pethak, Tangsli dan Cawik)

Penari Sandur terdiri dari empat anak gembala laki-laki yang belum akil balik atau belum dikitan. Empat anak tersebut menjadi tokoh Balong, Pethak, Tangsli dan Cawik sebagai tokoh perempuan. Untuk menjadi penari Sandur mereka harus mengikuti proses yang disebut daden yaitu selama satu minggu mereka disatukan di rumah salah satu sesepuh, tidak boleh ke luar rumah dan berpuasa. Pada saat itu disuruh menghafalkan nyanyian-nyanyian dan dialog-dialog sesuai dengan ceritan dalam Sandur. Pada hari ke tuju mereka diajak keliling nyetri ke tempat-tempat keramat untuk mendapatkan kekuatan tertentu. Setelah mereka selesai mengikuti proses daden baru dapat disebut penari Sandur. Dalam nyetri juga membawa semua peralatan yang bisa dibawa seperti pakaian penari, rontek, tali, jaranan, kendang, gong bumbung agar mendapatkan kekuatan tertentu.

Perlengkapan pentas pokok yang dimiliki meliputi, busana penari, gagar mayang atau rontek, gong bumbung, kendang, tali {blabar atau kentheng), dan jaran kepang. Dikatakan pokok karena tidak bisa didapatkan secara mendadak di tempat pertunjukan seperti peralatan lainnya bambu, meja tempat sesaji dan kursi yang bisa meminjam penduduk di tempat pementasan. Untuk uba rampe sesaji dan nasi tumpeng untuk selamatan bisa dipersiapkan dari rumah pimpinan sandur, semua harus baru tidak boleh barang yang sudah dipakai atau barang sisa. Kurang sempurnanya sesaji maupun uba rampe dianggap akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Cerita yang disajikan tetap saja yaitu tentang perjalanan seorang anak yang bernama Pethak mencari ngengeran kepada seorang juragan Germo. Jalannya cerita menggambarkan bagai mana proses menggarap ladang mulai dari buka ladang (babad alas), membajak (ngrakal), menanam (icir), menyemai (besik), memberi rujak (ngrujaki) hingga menuai (undoh-undoh). Di tengah jalannya cerita terdapat seling cerita fragmen adegan yang bersifat humor dan edukatif, seperti Jaranan, Cina dingklang, Kaki-nini, Polisi Hutan. Adegan selingan yang bersifat simbolik adalah sindhiran yaitu bancik endog, bancik kendi, bancik dengkul, bancik pundak dan kalongking sebagai adegan penutup.

Musik Sandur oleh masyarakat setempat disebut panjak hore, terdiri dari 25 hingga 30 orang semua laki-laki. Kalau dulu sekiatr tahun 70-an jumlah panjak hore bisa mencapai 50 orang. Mereka melantun lagu-lagu vokal dari awal hingga akhir pementasan. Peralatannya atau instrumennya hanya sebuah kendang dan satu bumbung yang berfungsi sebagai kempol dan gong. Karena suara yang dominan adalah vokal ada yang menyebutnya musik mulut dan karena suaranya terrdengar hore-hore maka disebut panjak hore. Musik mulut dari 30 orang yang menggema sepanjang malam dengan karakteristik yang khas. Dari segi musikal pertunjukan sandur mempunyai kesan yang unik dan menarik. Syairnya merupakan deskripsi (nyandra) masing-masing adegan serta apa yang dilakukan oleh penari.

Penonton merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan. Keterlibatan penonton dalam pertunjukan mulai dari menyediakan makan dan minum bagi para pemain juga komunikasi pada dengan pemain saat pertunjukan serta ikut menyanyi bersama panjak hore. Selain itu tentang keterlibatan penonton dalam pertunjukan juga disebut di dalam resitasi tandhuk sebagai berikut:

.. derek-derek jajar pinarak wonten ngriki sedaya, derek kula sak lebeting kentheng, sakjawining kentheng mboten wonten kula wastani. Sedaya ugi kula wastani. Gending suling, kenthung liwung kembange sukun, sintena kemawon ingkang ningali Sandur kula sageta rukun pirukun. Gending suling kenthung liwung kembange klerak, sintena kemawon ingkang ningali Sandur kula kedhah mbeta gelar piyambak-piyambak…

(“”…saudara-saudara yang duduk berjajar di sini semuanya, saudaraku yang di dalam kentheng maupun di luar kentheng, tidak ada yang saya sebut, semua juga saya sebut. Gending suling kenthung liwung bunganya sukun, semua yang menonton Sandur saya sermua bisa rukun. Gending suling kenthung liwung bunganya klerak, semua yang menonton Sandur saya harus membawa tikar sendiri-sendiri…”).

Yang dimaksud saudaraku di dalam kentheng adalah pemain Sandur dan di luar kentheng adalah penonton. Pada kalimat “semuanya disebut” berarti tidak dibeda-bedakan. Semua penonton supaya rukun dan membawa “gelar” sendiri-sendiri. Kata “gelar” selain berarti tikar juga keperluan atau keyakinan, meskipun keperluan dan keyakinannya berbeda-beda semua dihormati.

 

Jalannya Pertunjukan

Pertunjukan Sandur yang dilakukan semalam suntuk dari pukul 20.00 hingga pukul 04.00 tetap menarik penonton dari awal hingga akhir. Ada penonton yang datang

justru menjelang pagi hari, karena ingin menonton adegan kalongan yang bersifat akrobatik magis. Sekitar pukul 20.00 panjak hore sekitar 20 orang masuk kalangan, mereka duduk melingkar menghadap rontek di pusat arena membelakangi penonton. Pra pertunjukan diawali dengan penyajian lagu-lagu panjak hore yang melantunkan lagu-lagu gambuh kalangan dilanjutkan gambuh pedanyangan.. Lagu gambuh kalangan syairnya berisi deskripsi (nyandra) tentang pembuatan kalangan atau arena dari awal hingga selesai. Lagu gambuh pedanyangan syirnya berisi permohonan ijin ke pada pedanyangan tempat pertunjukan dilaksanakan. Pada saat ini penonton sudah mulai berdatangan duduk di sekiling kalangan.

Pada akhir dilantunkannya lagu gambuh pedanyangan, muncul prosesi yang terdiri dari yang terdepan tukang obor, diikuti berturut-turut tukang upet (pembawa perapian untuk dupa), tukang kandhut (pembawa pakaian penari), empat penari Sandur, dan paling belakang tukang obor. Prosesi masuk kalangan berjalan sambil menari mengelilingi panjak hore dan rontek tiga kali terus keluar lagi untuk paes (rias busana). Adegan ini disebut Bendrong lugasan karena para penari masih lugasan belum rias busana penari. Pada saat menunggu penari sedang rias busana ditempat yang lain, panjak hore melantunkan lagu gambuh paras yang syairnya nyandra baagai mana penari sedang rias busana.

Setelah penari selasai rias busana keluar seperti pada prosesi pertama, meskipun penari sudah rias busana namun masih menggunakan kerudung sehingga wajahnya tidak tampak. Prosesi masuk kalangan dan berjalan sambil menari keliling tiga kali terus penari duduk bersila disebelah sesaji yang telah disiapkan, yang lain bergabung dengan panjak hore. Adegan ini disebut Bendrongan dan terus diiringi oleh lagu-lagu panjak hore. Setelah penari duduk panjak hore menghentikan lagu-lagunya, dilaksanakan selamatan dibacakannya do’a dan tandhuk oleh juru kunci Sandur. Pada saat dibacakan tandhuk dan do’a Islam semua termasuk penonton menyahut dengan kata-kata “enggih” dan “amin”.

Bacaan doa berisi permohonan keselamatan dan resitasi bacaan tandhuk yang cukup panjang menceritakan jalannya asap (kukus) menyan madhu membubung tinggi hingga langit sap ke tujuh tempat bersemayam para bidadari. Setelah mencium harumnya menyan madhu 44 bidadari turun ke tempat pertunjukan, 4 bidadari masuk kepada penari dan 40 lainnya masuk ke panjak hore. Pada saat-saat tertentu diselingi lagu-lagu panjak hore yang syairnya juga menceritakan perjalanan turunnya bidadari tersebut.

Pertunjukan utama dimulai setelah selamatan dan pembacaan tandhuk selesai. Adegan pertama yaitu adegan simbolik bancik endog yang disebut sindhiran. Selanjutnya berturut-turut adegan babad alas (buka ladang), ngrakal (membajak), /c/r (bertanam), besik (menyemai), sambang tegai (menjenguk ladang) atau ngrujaki (memberi rujak), dan undoh-undoh (menuai). Di sela-sela tiap adegan diselingi adegan sindhiran bancik kendi, bancik dengkul dan bancik pundak. Adegan terakhir sebagai penutup yaitu bandhan diterus bandhulan atau kalongan yang bersifat magis akrobatik.

Menjelang adegan terakhir salah seorang penari laki-laki jatuh pingsan. Pada saat itu pula para penonton seolah tersentak langsung berdiri dan mendekat kalangan. Penari yang pingsan busana tarinya ditanggalkan dan diikat dengan tali, dimasukkan ke dalam kotak. Setelah beberapa saat dibuka, sudah terlepas dari ikatan, adegan ini disebut bandhan. Masih dalam keadaan tak sadar penari dibawa ke tempat tali yang menjulur di tengah arena. Penari naik ke atas dengan memanjat tali. Sampai di atas menari-nari sambil tiduran diatas tali, kadang menggelantong dengan kepala menjulur ke bawah.

Kerasukan Kalong

Panjak hore dan para penonton dengan serentak dan semangat melantunkan lagu kalongking seolah memberi semangat. Teriakan penonton terutama anak-anak dari berbagai arah “…mudun cung – mudun cung…” (turun cung) berulang-ulang, yang lain tetap melantunkan lagu kalongking.Penari kalongking mengambil ketupat dan lepet yang banyak bergelantong di tali atas dan dilemparkan ke pada penonton. Penonton berebut kupat dan lepet, bagi mereka yang mendapatkan dipercaya mendapat keberuntungan. Setelah beberapa saat penari turun dan disambut oleh juru kunci dibawa berputar-putar kalangan hingga sadarkan diri. Penari sadar memakai pakaian sehari-hari, panjak hore melantunkan lagu gambuh uleh-uleh sebagai pertanda dan pengantar para bidadari pulang ke asalnya dan pertunjukan selesai.

Penari yang pingsan kerasukan

Pertunjukan Sandur Dalam Konteks Sistem Religi Masyarakat Desa Bektiharjo. Secara umum orang menyebut pertunjukan Sandur Ronggo Budoyo desa Bektiharjo merupakan seni pertunjukan. Anggapan tersebut tidaklah salah, karena penonton bisa mendapatkan apresiasi estetik dari dari pertunjukan tersebut. Tidak hanya apresiasi estetik, tetapi juga hiburan karena banyak adegan, dialog, tingkah laku pemain yang bersifat humor dalam pertunjukan tersebut. Namun setelah dikaji dari sudut pandang religi, menunjukan bahwa pertunjukan Sandur tersebut dapat dikategorikan sebagai pertunjukan ritual. Hal tersebut tampak dari semua unsur pertunjukan, peralatan, tempat dan waktu mangalami proses sakralisasi. Struktur jalannya pertunjukan identik dengan proses ritual. Pemain dan penonton merupakan pelaku ritual. Pertunjukan ritual atau ritual pertunjukan dapat digolongkan sebagai ostensión ritual. Kegiatan ritual yang demikian, para pelaku ritus tidak saja mendapatkan pengalaman spiritual transendental tetapi juga mendapatkan kekayaan emajinasi sentuhan estetik.

Pertunjukan Sandur merupakan kegiatan ritus masyarakat desa Bektiharjo atau ungkapan emosional religius mereka yang bersifat sinkretik. Dalam proses sakralisasi peralatan Sandur, mereka menuju ke tempat-tempat keramat, pedanyangan dan cikal bakal desa. Dalam pertunjukan menggunakan sesaji yang ditujukan kepada roh-roh halus dan para leluhur. Para pelaku pertunjukan penari sandur dan panjak hore melakukan pementasan setelah mendapat kekuatan dari bidadari. Dalam selamatan Sandur dibacakan tandhuk memetri dan mohon keselamatan kepada pedanyangan, cikal-bakal, para wali, para nabi, dan dilanjutkan do’a Islam (bahasa Arab). Di sini roh halus, pedanyangan, cikal-bakal, wali, nabi, bidadari semuanya mendapatkan penghormatan dan tempat yang layak. Hal tersebut sesuai dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat desa Bektiharjo, meskipun malakukan syari’at Islam tetapi tidak meninggalkan adat-istiadat warisan leluhurnya yang dirasakan masih relevan dengan kondisi sekarang.

Adegan menari di atas paha

Adegan menari di atas pundak

 

 

 

Sumber:

http://jawatimuran.wordpress.com/2013/03/14/sandur-ronggo-budoyo-kabupaten-tuban/#comment-4820

http://tugassuparman.blogspot.com/2014/01/sandur-kesenian-tradisional-yang.html

http://jelajah-nesia2.blogspot.com/2013/09/nuansa-mistis-dan-magis-dalam-sandur.html

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s