KETOPRAK

Ketika mendengar kata Ketoprak apa yang terpikir langsung di pikiran anda? Ada yang menjawab “kesenian jawa”. Kesenian macam apa itu? ada yang menjawab “wayang orang”. Eh tapi ada yang menjawab “Makanan” hahahaha…😀 ya..ya..ya.. gak salah juga. Karena ada makanan bernama Ketoprak di Jakarta.
Rupa makanannya seperti ini   Makanan ini terdiri dari Mi bihun, lontong, tahu, kentang, tauge yang disiram dengan saus kacang lalu kecap dan terakhir ditaburi dengan bawang goreng dan kerupuk. hhmm… yummy.

Gerobak jualannya seperti ini  Ah jadi pengen nih.

Eits.. tapi bukan KETOPRAK makanan yang akan di bahas di sini. Tetapi adalah Ketoprak yang merupakan kesenian tradisional yang bermula berkembang di masyarakat Solo.

Ada yang bilang Ketoprak merupakan operanya orang Jawa. Tidak heran jika kesenian ini disandingkan dengan opera, karena keduanya memasukkan unsur nyanyian dalam pertunjukan. Dan, nyanyian tersebut dibawakan oleh pemain.

Ketoprak diperkirakan dibuat pada awal abad 19 oleh seorang musisi Keraton Surakarta. Lahirnya kesenian ini terkait dengan perjuangan terhadap para penjajah.

Saat itu, masyarakat tidak diperkenankan berkumpul karena dicurigai akan melakukan makar. Karenanya, dicarilah cara agar dapat berkumpul tanpa harus dibubarkan oleh tentara penjajah. Cara yang dipilih adalah dengan membentuk kelompok kesenian.

Kesenian ini pun tumbuh dengan apa adanya. Cerita yang dibawakan merupakan cerita sehari-hari dengan permasalahan yang sehari-hari dialami masyarakat. Para pemainnya pun tidak memerlukan persyaratan khusus. Mereka hanya diberi tahu garis besar cerita, tanpa naskah. Karenanya, kemampuan berimprovisasi merupakan hal penting yang harus dimiliki seorang pemain ketoprak.

Nama “ketoprak” terkait dengan alat musik kentongan yang digunakan untuk mengumpulkan penonton sebelum pertunjukan dimulai. Dalam bahasa Jawa, memukul kentongan disebut “keprak” dan pertunjukan yang dilakukan setelah kentongan di-keprak disebut “ketoprak”.

Dalam perkembangannya, muncul beberapa istilah yang berkaitan dengan pertunjukan ini. Pertama adalah ketoprak mataram, yang muncul pada era 1950-an. Munculnya istilah ini berkaitan dengan disiarkannya pertunjukan ketoprak oleh RRI Yogyakarta.

Satu dekade berikutnya, merupakan masa keemasan ketoprak. Di setiap kota di Pulau Jawa, terdapat gedung pertunjukan ketoprak. Seiring dengan perkembangan tersebut, dikenal istilah ketoprak tabong. Ketoprak tabong merupakan istilah bagi kelompok ketoprak yang mengadakan pertunjukan dari satu kota ke kota lain.

Namun, perjalanan ketoprak mengalami penurunan drastis pada dekade berikutnya. Masuknya tehnologi hiburan baru berupa film dan maraknya bioskop membuat kelompok ketoprak kehilangan tempat pertunjukan serta penggemar. Masa 1970-1980 merupakan masa suram seni pertunjukan ini.

Di Solo, kesenian ini tertolong dengan hadirnya seorang tokoh, Teguh Srimulat. Pada tahun 1977, Teguh Srimulat berinisiatif merenovasi gedung kesenian ketoprak yang ada di Taman Balekambang. Gedung ini sebelumnya tidak diurus dan dibiarkan begitu saja. Pertunjukan ketoprak pun kembali marak di Kota Solo.

Dari kelompok ketoprak yang berkembang di Taman Balekambang ini, muncul sederet pelawak kenamaan di tanah air. Seperti misalnya Nunung, Mamiek Prakoso, Gepeng, dan lainnya.

Pertunjukan ketoprak akan diiringi kelompok musik gamelan. Dalam kelompok musik ini juga terdapat sinden, meski begitu pemain di panggung juga bernyanyi.

Pembabakan dalam ketoprak mirip dengan seni pertunjukan lain yang juga berasal dari Solo, wayang orang. Di tengah pertunjukan, ada sebuah babak yang tidak berkaitan dengan cerita utama. Babak ini berfungsi sebagai hiburan. Sepanjang babak, penonton akan dihibur dengan guyonan yang ditampilkan para pemain.

Nah… sama seperti nasib Wayang Orang, nasib Ketoprak pun hampir punah digerus oleh Jaman. Orang sudah mulai tidak berminat lagi mengundang seni pertunjukkan wayang orang dan atau ketoprak untuk menghibur massa. Selain karena biaya produksinya yang mahal, para aktris/aktor nya pun sudah langka.

Semoga kesenian ini tidak benar-benar menjadi punah akibat ulah kita semua (pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat) yang malas melestarikannya, mengembangkannya, mendukung dengan mendanainya agar tetap terus berproduksi.

sumber:

http://www.indonesiakaya.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s