REMO -First Version-

Ngremo

Tari Remo atau juga disebut Ngremo sebagai sebuah tarian tradisional, telah dikenal secara luas sebagai tarian khas Jawa Timur. Tari ini pada masa kini dipertunjukkan sebagai tarian pembuka atau selamat datang pada berbagai acara.

Telah banyak juga yang membahas bahwa tari Ngremo ada 2 gaya yaitu Gaya Suroboyo-an dan gaya Jombang-an. Manakah versi yang paling awal hadir dan menjadi ikon Jawa Timur?

Berikut ini adalah ulasan tentang Ngremo, versi paling awal.

Pendahuluan

Remo (Ngremo) merupakan salah satu bentuk tari tradisional yang sudah cukup dikenal oleh kebanyakan orang di Jawa Timur maupun di wilayah lain. Meskipun tari Ngremo sudah sangat sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan di luar panggung tradisional, sementara ini juga masih banyak pula yang belum faham tentang isi tari Ngremo. Oleh karena itu tafsir tentang tari Ngremo menjadi simpang siur, bahkan ada yang menyebutnya bahwa tari Ngremo adalah tari kepahlawanan, padahal nilai-nilai koreografinya, dari aspek motif gerak tari, struktur koreografi hingga kesan musikalnya sama sekali tidak ada sentuhan tentang kepahlawanan. 

Sentuhan kepahlawanan dalam kesenian Ludruk itu sebenarnya terletak pada kidungan yang digunakan oleh pelawak, yaitu : pegupon omahe dara, melok Nipon awak tambah sengsara, artinya pegupon rumah burung merpati, ikut Nipon badan tambah sengsara. Kidungan ini kali pertama dikumandangkan oleh cak Durasim salah seorang pemain lawak dalam Ludruk di Surabaya, saat itu sekitar tahun 1927 bersamaan dengan adanya upaya penggarapan Ludruk Besut yang dikolaborasi dengan tonil sehingga munculah Sandiwara Ludruk, pada saat bersamaan dengan adanya masa pergerakan, sandiwara ludruk dimanfaatkan sebagai media propaganda untuk menyuarakan hati rakyat dalam spirit pergerakan anti penjajahan.

Oleh karena itu berkembang informasi yang sangat popular di kalangan seniman Ludruk, bahwa pada saat penjajahan Jepang saat itu, cak Durasim sering keluar masuk penjara tahanan Jepang,

Pada tahun 1975 pada saat tari Ngremo sering ditampilkan di Istana Negara untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI ataupun acara penyambutan tamu, petugas dari Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur membuatkan sinopsis dengan acuan tari Ngremo sebagai tari kepahlawanan. Pendekatan ini sangat tidak tepat, bila ditinjau dari fungsi tari Ngremo dalam pertunjukan Ludruk maupun dalam pertunjukan wayang purwa jawa timuran dan dalam kesenian tandhakan sentuhan nilai kepahlawanan itu sama sekali tidak ada, apalagi bila ditinjau dari koreografi dan symbol-simbol gerak tarinya, yang sangat menonjol dalam penyajian adalah kesan gagah untuk ngremo putra dan kesan halus cakrak untuk ngremo putri. Dengan demikian identifikasi tentang tari Ngremo sebagai tari kepahlawanan perlu dipertanyakan keabsahannya, meskipun hal tersebut pernah menjadi isu yang dimunculkan untuk dapatnya menampilkan tari Ngremo dalam acara dimaksud, ini adalah pemaksaan dan sekaligus merusak konsep tari Ngremo itu sendiri.(Tri Broto)

Latar Belakang Penciptaan

Penggambaran tari Ngremo sebagai kehidupan manusia diatas bumi sudah melekat sejak adanya tokoh Besut dalam ludruk Besutan. Beberapa gerak yang sudah digunakan oleh Besut dalam penggambaran kelahiran manusia adalah : gerakan gedrug, gerakan manembah kearah empat keblat, gerakan lampah, gerakan kencak. Pada saat gerak tari Besut tersebut digarap bersamaan dengan kemunsulan Sandiwara Ludruk jaman pergerakan, Pak Winata adalah Guru Pak Munali Fatah menggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana yang saat itu tari Klana (menggunakan topeng) sedang ngamen di Sidoarjo (Marsudi Utomo, 1977) . Pendekatan kolaboratif antara ragam gerak tari besutan dan ragam gerak tari Klana (wayang topeng Malangan) sangat besar kebenarannya, bila dilihat dari perjalanan sejarah zaman Daha-Kediri hingga menelusuri sungai porong dan percikan keberadaan wayang topeng di wilayah Malang. Beberapa keragaman gerak tari Ngremo mirip dengan beberapa ragam gerak tari yang ada pada tari Klana Sabrang (tokoh Sewandana ataupun tokoh Basunanda) Beberapa ragam gerak tari hasil dari penggabungan antara ragam gerak tari Besut dan ragam gerak tari Klana dapat disebutkan antara lain sebagai berikut : gedrug, kipatan sampur, gendewa, ngore rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan, tepisan, nglandak, kencak, klepatan, telesik, bumi langit.(Tri Broto)

Kesimpulan

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Tari Remo BUKAN tari kepahlawanan

2. Tari Remo adalah penggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana, bukan berasal dari tari Beskalan.

3. Tari Remo di awali oleh ide kreatif Pak Winata yang adalah Guru dari Munali Fatah

4. Kemudian tari ini disempurnakan oleh gaya Munali, sehingga hingga saat ini dikenal dengan judul Tari Remo Munali

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s