Seni Tradisional Probolinggo Hampir Punah

Apreasi seni tradisi terhambat pula karena mahalnya biaya untuk menampilkan suatu pertunjukan.

Ribuan orang berkumpul di pelataran Candi Jabung di Desa Jabungcandi, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur.

Di Probolinggo, terdapat sejumlah seni tradisi yang patut dijaga kelestariannya. Peminat seni tradisional yang antaranya Ludruk Probolinggo, Seni Glipang, Tari Sapi Pajengan, Tari Topeng Tengger, dan Kemplang Bergending ini semakin surut bahkan terancam punah.

Tutug Edi Utomo, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo mengatakan, saat ini pemerintah setempat mencoba secara rutin menggelar sendratari di halaman Candi Jabung. Saat bulan lagi purnama atau yang dalam bahasa Madura disebut terak bulen.

“Suguhan sendratari diharapkan untuk menggugah semangat berkreasi seniman, juga mengajak warga masyarakat mengapresiasi seni tradisi asal Probolinggo. Serta cagar budaya seindah Candi Jabung di Probolinggo,” ungkapnya.

Selain tidak ada penerus bagi kesenian-kesenian tradisional, apreasi seni tradisi terhambat pula karena mahalnya biaya untuk menampilkan suatu pertunjukan. Misalnya, menurut koordinator dari Seni Kemplang Bergending, Darnianto, seni bernyanyi lagu religi dan tradisional dengan iringan sejumlah alat musik kendang ini memakan biaya Rp7 juta sekali pentas.

“Untuk ludruk, sekali tampil warga harus menyediakan dana sekitar Rp25 juta,” tambah Tutug. Bila dibandingkan dengan organ tunggal yang hanya Rp1 juta, umumnya lebih banyak disewa saat acara seperti pernikahan.
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas Nusantara)

Pencak Macan-Gresik, Tradisi yang Mulai Punah

Liputan6.com, Gresik: Seni tradisi pencak macan sebagai pengiring prosesi adat pernikahan pesisir di Gresik, Jawa Timur, kini keberadaanya terancam punah. Demi menjaga kelestarian tradisi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun itu, masyarakat pecinta seni dan budaya Gresik mengemas tradisi pencak macan menjadi seni pertunjukan dan pengiring rombongan pengantin.

Acara digelar di Wahana Tlogo Dendo, Gresik, baru-baru ini. Pencak macan biasa digunakan rombongan pengantin adat khas Gresik menuju kursi pelaminan. Kesenian rakyat khas warga pesisir utara Gresik ini sebelumnya sempat mati suri dan terancam punah akibat tergerus arus modernisasi.

Seni pencak macan mengandung nila-nilai filosofis ajaran Islam yang bermuara pada upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam pencak macan digambarkan empat karakter yang diwakili oleh seekor macan, monyet, genderuwo, dan seorang pendekar.

Macan melambangkan manusia yang berwatak keras dan emosional. Monyet melambangkan sosok manusia yang jahil, nakal, lucu, dan suka mengganggu. Sedangkan genderuwo atau hantu melambangkan hawa nafsu yang selalu ingin menguasai manusia. Namun semuanya berhasil dikalahkan oleh seorang pendekar berjiwa ksatria.

Upaya melestarikan seni tradisi seperti pencak macan jelas perlu didukung. Dibutuhkan peran aktif pemerintah dan masyarakat agar seni tradisi tidak hilang ditelan zaman.

Dua Kesenian Tradisi Kediri Terancam Punah

KESENIAN TIBAN

KESENIAN JEMBLUNG

KEDIRI, KOMPAS.com–Dua jenis kesenian tradisional di Kota Kediri, Jawa Timur, kini terancam punah, akibat maraknya kesenian modern.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemkot Kediri Hariadi, Kamis menjelaskan, kedua jenis kesenian tradisional itu masing-masing seni Tiban dan seni Jemblung. “Selain karena peminatnya kurang, kedua jenis kesenian tradisional ini juga mulai kehilangan generasi penerus,” kata dia.

Kesenian Tiban, merupakan jenis seni tari yang biasa dipentaskan masyarakat saat hendak memohon hujan.

Masyarakat Kediri biasanya memantaskan seni tari Tiban ini saat musim kemarau panjang, dan jenis tarian ini dianggap sebagai jenis tarian ritual yang dipercaya bisa mendatangkan hujan. “Kesenian ini hanya tersisa satu kelompok saja, yakni di Kelurahan Ngadiluwih,” papar Hariadi, menjelaskan.

Seni tari Tiban sendiri, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tradisi “okol” yang ada di Pamekasan, Madura dari sisi tujuannya, yakni sama-sama kegiatan ritual untuk memohon hujan.

Hanya saja, “okol” lebih bernuansa gulat, tanpa menggunakan cambuk untuk saling melumpuhkan lawan mainnya. Pada seni Tiban, kedua pemain menggunakan cambuk. “Bahkan, terkadang mereka hingga berdarah-darah,” tutur Hariadi.

Demikian juga dengan jenis kesenian jemblung. Kesenian tradisional daerah yang berbentuk teater, kini kurang digemari masyarakat.

Kesenian jemblung ini biasanya dipentaskan oleh tujuh orang, termasuk di dalamnya pemukul alat musik dan seorang dalang sebagai orang yang mengantar bercerita.

Jenis kesenian ini juga dilengkapi alat-alat musik tradisional yang terbuat dari kulit dan kayu yang dipukul secara berirama.

Menurut Hariadi, di Kota Kediri kesenian Jemblung terpusat di Desa Bandar dan Lirboyo. “Cuma permasalahannya seperti yang saya sebutkan tadi, peminat jenis kesenian ini mulai berkurang,” ucapnya.

Pemkot, kata dia, kini tengah berupaya untuk tetap mempertahannya dua jenis kesenian tradisional tersebut dengan cara mementaskan saat hari-hari besar, seperti pada tanggal 17 Agustus dan saat ada kegiatan pagelaran seni budaya.

Kesenian Jelantur-Jawa Tengah Terancam Punah

 

Sejumlah seniman memainkan kesenian tradisional khas Magelang, Tari Jelantur, di Wonolelo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Ahad (27/5). Kesenian Jelantur dibawakan oleh sekelompok penari berseragam prajurit Kraton yang membawa kuda kepang. Seakan kembali ke masa lalu, keindahan kesenian Jelantur mampu memikat perhatian para pengunjung. Namun sayang sekali seni tari ini terancam punah, karena tidak ada regenerasi akibat rendahnya minat generasi muda untuk menggeluti seni tari yang menggambarkan masa perjuangan saat merebut kemerdekaan.

Asal-usul

Pada awalnya, seni Jelantur digunakan sebagai media bagi pemuka agama untuk mengumpulkan masyarakat ketika hendak melakukan syiar agama Islam.  Pada jaman dulu, pemuka agama kesulitan untuk berdakwah karena susah mengumpulkan masyarakat.

Sehingga para pemuka agama membunyikan alat musik  tradisional disertai tari-tarian untuk menarik perhatian masyarakat. Dalam perkembangannya, seni  Jelantur mampu dikemas menjadi pertunjukan seni tradisi yang menarik.

Dari sisi musik, seni Jelantur menampilkan iringan musik seperti iringan kesenian Jathilan. Alat musik tradisional yang dimainkan pada seni Jelantur adalah bendir, beduk  dan rebana. Sedang dari sisi gerakan tari, seni Jelantur sangat berbeda dengan gerakan tari Jathilan yang biasanya menyatukan tari dengan unsur magis.

Seni Jelantur berasal dari kata “jelajah lan tutur”. Para penari Jelantur menarikan beberapa bagian tarian. Misalnya gerakan membuat barisan menutup dan membuka, merapat atau melebar. Mereka menggunakan seragam tari kain celana panjang dibawah lutut, kain jarik batik bermotif serta selendang warna kuning. Setiap akan berganti gerakan tari berbaris atau memulai dan berganti pasangan berperang,  kapten penari akan membunyikan peluit.

 

 

Sumber:

http://www.Republika.co.id

http://www.jogjanews.com

Generasi Terakhir, Kesenian Tradisional Kentrung-Tuban Terancam Punah

seputartuban.com – Salah satu bukti kuatnya pengaruh budaya timur tengah dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bisa kita dapati di Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Tuban, Jawa Timur.

Didesa ini, terdapat sebuah kelompok kesenian Kentrung, yang konon merupakan warisan dari seorang pujangga Persia, yang singgah didesa ini untuk menyebarkan agama islam. Sayangnya seni Kentrung unik ini, dipastikan bakal segera sirna karena tidak ada generasi yang berminat meneruskannya.

Suara parau Mbah Surati melantunkan syair, diiringi oleh alat musik kendang dan rebana, sebentar lagi mungkin sudah tidak bisa lagi terdengar akrab ditelinga kita. Wanita tunanetra warga Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban ini, sudah terlalu renta untuk mampu bertahan bersama kesenian tradisional Kentrungnya.

Tidak ada seorangpun anak yang dimiliki perempuan berusia 92 tahun ini. Ia hidup selama puluhan tahun di rumahnya yang sangat sederhana, hanya ditemani Mbah Samijo, suaminya. Karena kondisi Mbah Surati yang tunanetra, Mbah Samijo-lah yang terpaksa harus mengurus rumah tangga.

Pada masa masa lalu, kehidupan suami istri ini lumayan baik. Kentrungnya masih sering mendapat job. Namun dengan beriringnya waktu dan merangkaknya era modernisasi, seni Kentrung pun semakin terpinggirkan dan semakin jarang masyarakat yang mau mendatangkan satu-satunya grup Kesenian Kentrung yang masih eksis hingga jaman sekarang ini, disetiap ada event hiburan.

Lagu Kentrung Bate pada masanya sangat populer dan termasuk grup kesenian yang digandrungi oleh masyarakat Jawa Timur khususnya masyarakat Kabupaten Tuban, karena musik ini merupakan salah satu hiburan yang akrab didengar telinga warga masyarakat kala itu.

Ditemui seputartuban.com saat pentas di Gedung Tri Dharma beberapa waktu yang lalu, Mbah Rati, mengatakan bahwa Kesenian Kentrung Bathe termasuk kesenian khas dari Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Ketrung Bate adalah satu-satunya kelompok kesenian Kentrung di Kabupaten Tuban yang masih eksis hingga saat ini, namun sayangnya keberadaanya semakin tersingkir oleh kesenian modern dan terkena dampak dari era perkembangan. “sudah lama saya menggeluti kesenian kentrung ini, dari jaman jepang,” ujarnya berbahasa Jawa.

Namun kendati keadaan semakin sulit, Mbah Rati dan Mbah Samijo tetap setia dengan kentrungnya. Dibantu Mbah Setri (70) yang masih kerabat dekatnya, Mbah Rati yang berperan sebagai dalang kentrung, sekaligus penabuh kendang, berkeliling dari desa satu ke desa lainnya, melantunkan bait-bait syair yang kental dengan aroma Timur Tengah itu.

Cerita-cerita Amir Hamzah, Ngali Murtolo dan Dewi Pertimah yang menceritakan situasi dan kondisi Timur Tengah pra-Islam, hingga kekhalifahan Islam berkuasa, menjadi cerita pokok dalam setiap pentas Kentrung Mbah Rati ini. Nahkan diusianya yang sudah renta ini, Mbah Rati, Mbah Samijo dan Mbah Setri, masih sanggup bermain kentrung hingga ke Kabupaten Probolinggo.

Untuk sekali pentas Mbah Rati tidak pernah mematok harga. Namun rata-rata Mbah Rati dan grup kentrungnya, menerima honor Rp. 200 ribu rupiah untuk sekali pentas. Menjalani hidup sebagai pemain Kentrung memang tidak ringan. Menurut Mbah Rati, Dalang Kentrung harus bersih lahir batin, hingga posisi duduknya pun harus menghadap ke timur saat mementaskan kentrung ini.

Menurut Mbah Rati, posisi ini mengandung filosofi bahwa hidup harus selalu optimis, yakni selalu menyongsong terbitnya matahari. Disamping itu, seorang Dalang Kentrung harus rela menderita tunanetra dikala usianya senja, seperti yang Mbah Rati alami kini. Mungkin karena mitos inilah, yang menyebabkan tidak adanya generasi muda yang berm.inat menjadi Dalang Kentrung, karena takut buta saat usianya tua.

“saya dulu sering tampil nyanyi dimana mana, terkadang juga sampai keluar kota, tapi sekarang sudah tua jadi jarang main musik,” ujarnya saat ditemui seusai pentas Kentrungnya.

Asal Usul Kentrung

Kentrung, sebuah kesenian yang mulai berkembang di Jawa Timur sejak 1930-an. Saat itu, kentrung adalah media untuk menyindir penjajahan, dimana masyarakat menciptakan kesenian berupa parikan yang pementasannya diiringi oleh beberapa alat musik, seperti timlung (kentheng) serta terbang besar atau biasa disebut rebana.

Kentrung juga sering disebut seni teater tanpa gerak dan laku. Biasanya, pementasan kentrung berisi parikan muatan lokal yang sarat dengan canda, sehingga kesenian satu ini dulunya sangat diminati warga sebagai salah satu media alternatif untuk mengusir kejenuhan dari penjajahan.

Kentrung adalah kesenian asli Indonesia dari pantai utara Jawa. Kesenian ini menyebar dari wilayah Semarang, Pati, Jepara. hingga Tuban. Di Tuban, kesenian ini bernama Kentrung Bate, karena berasal dari Desa Bate, Bangilan, Tuban. Pertama kali dipopulerkan oleh Kiai Basiman di era zaman penjajahan Belanda tahun 1930-an.

Seni Kentrung diiringi alat musik berupa tabuh timlung (kentheng) dan terbang besar (rebana). Seni Kentrung sendiri syarat muatan ajaran kearifan lokal. Dalam pementasannya. seorang seniman menceritakan urutan pakem dengan rangkaian parikan. Joke-joke segar sering diselipkan di tengah-tengah pakem, tetap dengan parikan yang seolah di luar kepala.

Parikan berirama ini dilantunkan dengan iringan dua buah rebana yang ditabuh sendiri. Sedangkan beberapa lakon yang dipentaskan di antaranya Amat Muhammad, Anglingdarma. Joharmanik. Juharsah, Mursodo Maling dan Jalak Mas.

 

Sumber:

http://www.jawatimuran.wordpress.com

http://www.indonesiakreatif.net

http://www.seputartuban.com

Kekuatan Dahsyat Tersembunyi di Otak Kanan

ADA tiga macam genius di muka bumi ini. Pertama, genius yang biasa lahir dengan otak normal dan melalui pendidikan formal. Genius seperti itu susah dihasilkan di Indonesia, karena kurikulum yang luar biasa padatnya, keseimbangan antara belajar dan bermain sama sekali timpang. Yang pasti, otak kanan anak sulit berkembang. Akibatnya, daya imaginasi, kreativitas, impian-impian dan karakter yang baik menjadi terhalang.

Genius model kedua, yaitu Born to be genius. Ini adalah anak-anak yang memang dilahirkan sudah genius. Salah satu contohnya adalah Marc Yu dari Amerika Setikat. Dalam usia 6 tahun, dia sudah mampu memainkan komposisi-komposisi piano yang sulit, yang biasanya membutuhkan latihan belasan tahun. Dalam penelitian, ketika otak Marc Yu difoto dengan FMRI di Chicago School Of Medicine, lobo temporal otak kanan daerah seninya, ternyata jauh lebih tebal dan warnanya lebih tua daripada otak anak-anak yang normal.

Selain Marc Yu, ada juga Chan Siauw Ming, 9 tahun pianis ajaib dari China, kemudian juga Alexender Prior 16 tahun dari AS, komponis / conductor termuda di dunia. Sejak usia 10 tahun, dia sudah membuat komposisi-komposisi musik untuk orkes simponi. Mozart, Chopin, Tchaikovsky, Michel Angelo diduga termasuk kategori di atas.

Genius yang ketiga yaitu genius among us. Adalah genius yang paling banyak dijumpai di sekitar kita. Genius ini pertama kali ditemukan oleh Dr J Langdon Down pada tahun 1887 dan dikategorikan sebagai savant syndrome. Yakni, suatu kondisi ketidakmampuan mental seseorang, yang diikuti secara kontras oleh kemampuannya yang hebat di bidang-bidang tertentu. Autis Anak-anak yang mempunyai handicap di otak kirinya (Left Brain Injury), kompensasinya otak kanannya akan lepas dan aktif dengan sendirinya. Anak-anak autis, asperger syndrome, down syndrome, cerebal palsy, dyslexia, F.T.D., william syndrome ternyata banyak yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang matematika, seni, astronomi, calender calculating, photograph memory, dan lain-lain. Penelitian dari Dr Darold A Treffet dari Wisconsin University, beserta teman-temannya sejak tahun 1970 menemukan, ribuan kasus mengenai kemampuan hebat anak-anak ini. Sebagai contoh adalah Trevor Tao berasal dari Australia. Dia seorang anak autis. Berkat perjuangan gigih ibunya, dia bisa belajar di sekolah umum. Ibunya berperan sekali dalam mendidik Trevor. Dari anak autis yang tak berdaya, sampai mendapat gelar doktor dalam bidang matematika di usianya yang ke 25 di Adelaide University. Stephen Wiltshire lahir di London 1974. Di usia 3 tahun sudah divonis sebagai anak autis. Ia mengalami kesulitan berbicara sampai usianya menginjak 9 tahun. Pada umur 12 tahun kemampuan photograph memory dan melukisnya ditemukan oleh Prof Margaret Hewson. Ia dididik dan berhasil menyelesaikan studi arsitekturnya. Pada usia 20 tahun ia terbang dengan helikopter di atas kota London selama 15 menit. Ia mulai memotret dengan otaknya, landmark kota London seluas 16 miles persegi. Setelah turun dari helikopter Stephen meminta disediakan kanvas ukuran 4 x 16 meter. Ia mulai melukis selama 1 minggu penuh ribuan gedung bertingkat di London itu dengan ketepatan dan tingkat akurasi yang tinggi. Kemampuan photograph memorynya menghantar Stephen Wiltshire menjadi kaya raya. Kemampuan Banyak sekali penyandang autis mempunyai kemampuan calender calculator, yaitu menebak nama hari. Yang paling fenomenal adalah George Finn, remaja autis asal New York yang dalam hitungan detik dapat menebak dengan tepat, bahwa tanggal 6 Juni tahun 91.360 (abad ke 920) jatuh pada hari Jumat. Thomas Fuller lahir di Afrika Selatan, penyandang autis umur 15 tahun ini bisa menebak dengan tepat dalam waktu 30 detik saja, bahwa 70 tahun, 17 hari dan 12 jam sama dengan 2.210.500.800 detik. Daniel Tammet, lahir 1970 di London. Penyandang Asperger Syndrome sekaligus epilepsi ini, waktu menginjak usia remaja punya kemampuan memori dan menghitung yang luar biasa. Waktu dia diberi soal yang tidak dapat dibagi habis, yaitu 13 : 97, dia langsung menuliskan jawabannya sampai 100 desimal di belakang koma dalam waktu 30 detik saja. Leslie Lemke dari USA, penyandang cerebal palsy yang buta sejak lahir dan baru bisa berjalan pada usia 6 tahun. Ibunya memberikan sebuah piano waktu dia berusia 8 tahun. Tiba-tiba terjadi keajaiban, Leslie langsung bisa memainkan lagu Tchaikovsky’s Piano Concerto no 1 dengan sempurna, walau hanya baru sekali mendengar lagu tersebut lewat radio. Tanpa pernah belajar piano, Leslie Lemke kemudian berhasil menjadi pianis profesional yang hebat di jalur klasik maupun jazz. Zhou-Zhou adalah remaja down syndrome dari China yang IQ nya cuma 30, jadi tergolong idiot. Walaupun tidak pernah belajar musik sepanjang hidupnya, tiba-tiba dia mampu menjadi konduktor hebat pada Orkes Simfoni Nasional China. Zhou-Zhou bersama orkes simfoninya berhasil mengguncang daratan China, Jepang, Amerika Utara dan Benua Eropa. Selama Zhou-Zhou memimpin orkestra, not-notnya betul-betul berterbangan di depan matanya.

Sumber