SENSUS BUDAYA INDONESIA

Sebagai salah satu negara dengan suku dan etnis terbanyak di dunia, Indonesia kaya akan produk-produk budaya. Sebut saja dua di antaranya seperti kain tenun dan tarian daerah, bisa puluhan hingga ratusan jumlahnya. Produk-produk budaya ini menjadi aset bangsa yang betul-betul tak ternilai harganya. Sayang sejuta sayang, sebab data-data mengenai produk budaya Indonesia tak mudah didapatkan. Beberapa di antaranya bahkan tak ada sama sekali.

Lembaga penelitian kompleksitas yang berada di Kota Kembang, Bandung, Bandung Fe Institute (BFI) menyadari betul akan kebutuhan akan data-data lengkap mengenai produk budaya Indonesia. Sudah menjadi ciri khas dari BFI untuk menggarap penelitian yang berhubungan dengan budaya. Salah satu karya nyatanya adalah buku Fisika Batik yang ditulis oleh dua punggawa BFI, Hokky Situngkir dan Rolan Dahlan, serta disusun oleh tim peneliti BFI. Dalam buku ini pula, Sultan Hamengku Buwono X ikut menulis sisi filosofis batik.

BFI juga memetakan produk budaya Indonesia seperti rumah adat, tarian, dan batik. Bekerja sama dengan Indonesian Archipelago Culture Initiatives (IACI), mereka meluncurkan Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI).

PDBI bertujuan untuk mengumpulkan data budaya Indonesia yang nyatanya tak memadai. Pada awal penelitian batik, Hokky beserta rekan-rekannya mendapati bahwa Departemen Kebudayaan tidak memiliki arsip pola batik. Bahkan data sejarah selama 60 tahun Indonesia merdeka juga tidak tersedia.

Melalui PDBI masyarakat luas bisa menyumbangkan data-data tentang kebudayaan Indonesia mulai dari lagu, ritual, cerita rakyat, pakaian tradisional, motif kain, hingga ornamen! Dari data-data PDBI, Hokky dan rekan BFI memetakan budaya Indonesia. Hasilnya? Mereka menemukan bahwa benar sungguh batik berasal dari Indonesia!

Ingin turut menyumbang data budaya? Silahkan ikuti Twitter mereka di @infobudaya.

http://intisari-online.com/read/ikuti-sensus-budaya-indonesia

Contoh judul tari Jatim berdasarkan jenisnya

Berdasarkan jenis koreografi, tari pada saat ini dapat diklasifikasi menjadi 3, yaitu Tari Klasik, Tari Kreasi, dan Tari kontemporer.

A. Tari klasik adalah tari yang mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak jaman feudal.Tari ini biasanya hidup dilikgkungan keraton.

Ciri-ciri tari klasik adalah :
a. Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
b. Hidup dikalangan raja-raja
c. Adanya standarisasi
d. Diturunkan antar generasi

Contoh tari klasik Jawa Tengah adalah bedaya,srimpi,lawung ageng,lawung alit dan juga karya-karya empu tari baik empu tari gaya Yogyakarta dan empu tari gaya Surakarta seperti S.Mariadi dan S.Ngaliman  yang sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti : Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna Tinanding, Srikandi Bisma, dll

Contoh tari klasik dari Jawa Timur:
1. Tari Tari Remo Bolet/jombangan dari Jombang
2. Tari Tari Remo Munali dari Surabaya
3. Tari Beskalan dari Malang
4. Tari Gandrung dari Banyuwangi
5. Tari Kuda Lumping dari Ponorogo

B. Tari kreasi baru adalah tari-tari klasik yang dikembangkan sesuai dengan  perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi  baru adalah karya-karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar kembang sore dari Yogyakarta.

Contohnya lainnya dari Jawa Tengah adalah :
Tari Kupu-Kupu , Tari Merak, Tari Roro Ngigel, Tari Ongkek Manis, Tari Manipuri, Tari Roro Wilis,dll

Contoh tari kreasi dari Jawa Timur:
1. Tari Banjar Kemuning dari Sidoarjo
2. Tari Kasomber dari Madura
3. Tari Zavin Mandailing dari Bawean, Gresik
4. Tari Lenggang Surabaya dari Surabaya
5. Tari Eblas dari Madura

C. Tari Kontemporer, Istilah ‘kontemporer’ begitu kerap digunakan di perbincangan dunia seni tari Indonesia, sementara makna dan cakupan definisinya tidak pernah didiskusikan secara diskursif. Akibatnya, pengertian ‘tari kontemporer’ cenderung disederhanakan sebagai sebuah istilah yang terlanjur popular, dan berada di antara dua kutub: yaitu semua karya seni tari yang bukan untuk konsumsi hiburan popular, namun secara bentuk juga bukan termasuk seni tari tradisional yang bersandar pada pakem-pakem yang sudah berlaku lama. Tapi, karya tari ‘kontemporer’ adalah yang bukan tari latar di acara seperti Gebyar BCA atau pertunjukan dangdut Inul, tapi juga bukan tari sakral macam Bedaya Ketawang atau tari rakyat ala jogedan ledek Banyuwangi.

Padahal, sebagai sebuah sistem pengetahuan dan wacana (diskursus), tari modern/kontemporer adalah topik yang paling tidak telah berkembang sejak seratus tahun terakhir. Jika bercermin pada diskusi yang berlangsung di tingkat global, sebelum sampai pada istilah ‘kontemporer’, dunia tari (terutama di Eropa dan Amerika) lebih dulu muncul dengan istilah ‘tari modern’ ― yang referensinya mengarah pada sebuah momentum artistik ketika penciptaan tari dimotivasi niat untuk menjadikan tari sebagai bahasa ucap ekpresi seni tari itu sendiri. Yaitu, momentum ketika tari bukan lagi melayani kebutuhan di luar dirinya ― entah itu konteks di dunia ritual, maupun ruang-ruang sosial dan kultural ― melainkan melayani tari itu sendiri (retro.blogspot.com).

Pengertian ‘kontemporer’ yang dapat dipahami selama ini adalah: Seni kontemporer adalah seni yang disemangati oleh kebebasan: Kata “kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu). Sehingga menegaskan bahwa seni kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui (spirit kekinian). [ http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=1255]

Biasanya, tari kontemporer disajikan secara eksklusif, bukan untuk konsumsi hiburan popular/umum. Jenis tari ini biasa diciptakan untuk suatu kepentingan seni khusus seperti festival seni tari nasional dan international. Oleh karena itu orang umum kemungkinan banyak sekali yang tidak tau judul-judul tarinya dan apalagi penampilannya.

Tari kontemporer yang berasal dari Indonesia umumnya tetap mengangkat seni tradisi masing-masing daerah. Minimal koreografer mengangkat budaya lokal yang ada. Seperti budaya tayub, disajikan dengan paduan gerak-gerak lainnya yang non-tradisi. Dan kombinasi musik yang juga berbau tradisi namun tidak pakem, seperti gamelan dikombinasikan dengan biola.

Contoh tari kontemporer tradisi dari Jawa Timur:
1. Tari Ronjengan dari Madura (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)

2. Tari Barong Prejeng dari Banyuwangi (disajikan pada Perhelatan seni budaya dan pariwisata Kemilau Nusantara 2012)

3. Tari Ta’ Andhik Lesso dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2005 di gedung Cak Durasim)

4.Tari Kidung Soren dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2008 di gedung Cak Durasim)

5. Tari Somo Ellah dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)

6. Tari Besut Beset dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)

Ekspresi yang bersifat kekinian tentunya memiliki ciri-ciri yang menonjolkan inovasi (pembaharuan) maka selanjutnya disebut sebagai seni tari “modern”. Varian dari seni tari modern yang seringkali tampil sebagai bentuk “kemasan” atau Kicth, adalah seni tari yang bersifat menghibur, perkembangannya sesaat dan tidak memiliki dasar filosifis yang dalam. Perkembangan seni tari hiburan ini disebut sebagai popular performing art (seni tari populer).

Tari modern adalah sebuah tari yang mengungkapkan emosi manusia secara bebas atau setiap penari bebas dalam mewujudkan ekspresi emosionalnya yang tidak terikat oleh sebuah bentuk yang berstandar. Contoh tari modern adalah : Caca, Break Dance, Penari Latar, Samba, dll

Dirangkum dari berbagai sumber

PERAN SANGGAR TARI & SEKOLAH SENI

Oleh : Risang Anom Pujayanto

Dalam kisaran angka tahun 1990an, geliat sanggar tari seperti tidak terbendung. Di Surabaya, daerah Genteng saja terdapat sanggar tari Solo, sanggar tari PLT Bagong, sanggar tari Sunda, sanggar tari Modern, sanggar tari Bali, Yayasan Bina Tari Jatim. Saat ini, beberapa sanggar masih bertahan dan yang lain telah kehilangan eksistensi. Kematian beberapa sanggar tari tersebut bukan berarti mengurangi rutinitas sanggar tari di Jatim, khususnya Surabaya. Pasalnya, setiap sanggar tari yang mati diganti sanggar-sanggar tari baru. Raff dance, Gita Marron, Studio Tydif, Candi Ayu merupakan di antaranya. Bahkan saat ini di daerah Simo, Kenjeran, Semolowaru, Kebaron, dan hampir di seluruh wilayah kecamatan Surabaya juga terbit sanggar-sanggar baru. Artinya, kondisi saat ini sanggar tari mulai kembali seperti era 1990an.

Patut disayangkan potensi di titik-titik ini kurang mendapat perhatian dari instansi daerah yang menaungi. Akibatnya, pendapat miring pun terdengar nyaring. Bahwasannya, nasib sanggar diperkirakan tidak bakal bertahan lama.

”Sudah beruntung Surabaya masih memiliki puluhan sanggar. Sepatutnya ini terus dijaga dan dioptimalkan potensinya,” pinta Ketua Yayasan Bina tari Jatim, Tri Broto Wibisono. Wisata seni merupakan salah satu proyek yang bisa dibangun ke depannya. Selain akan menambah devisa negara dari pemasukan turis yang berhasrat pada tarian-tarian etnik, juga dapat menelurkan generasi penari, lanjutnya.

Kepedulian akan seni tari memang masih dalam tataran rendah. Dan, ramalan akan sanggar nyaris meraih kenyataan. Di berbagai sanggar mengakui, minat generasi tari dari waktu ke waktu terus mengalami penurunan. Peminat terbanyak masih diikuti oleh anak-anak. Ironisnya, ketika mulai beranjak dewasa, masing-masing peserta didik seni tari memilih tidak melanjutkan tari.

”Karena apresiasi masyarakat metropolik menurun,” sahut pimpinan tunggal Studio Tydif Surabaya, Dra Diaztiarni Azhar. Sehingga menimbulkan kesan kesia-siaan mempelajari tari dalam diri setiap peserta tari. Implikasinya, dari berbagai sanggar yang tersebar dan yang masih tetap menjaga eksistensinya, dikentarai hanya sebagian kecil yang bisa dikatakan produktif. Lainnya hanya syukur bertahan saja, tambahnya.

Secara materi, untuk mengadakan satu pagelaran tari memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi tidak mungkin menyalahkan sanggar tari, jika geliat seni tari tidak populer di daerah sendiri. Sokongan dana dan ruang dari instansi pemerintah dan perusahaan swasta menjadi harapan yang bisa mengubah keadaan tari di daerah sendiri. Apresiasi dari kedua instansi tersebut pernah menjadi primadona seni tari di era 1990an.

Saat ini, beberapa apresiasi formal tersebut masih kerap ditemui. Hanya saja frekuensi ditentukan seiring momentum-momentum tertentu. Fatalnya untuk saat ini, ketika perhatian itu didapat justru menimbulkan kerancuan-kerancuan baru. Ketika ada even kenegaraan, misalnya, pemilihan partisipan sanggar tidak pernah merata. Hanya sanggar-sanggar tertentu yang menjadi pilihan. Sedangkan apabila apresiasi datang dari pihak swasta, keberadaan tari menjelma budak yang wajib menuruti kemauan tuannya. Dan, seni mengalami perombakan total menjadi komoditi belaka.

Dalam sekolah seni pun tidak berbeda. Di Jatim, seni merupakan pendidikan wajib untuk siswa setara tingkat dasar, kecuali di sekolah pendidikan khusus seni. Ini berbeda dengan daerah Jateng. Sebagai pendorong kesenian untuk tetap bersemi, pemerintah memasukkan seni ke dalam kurikulum jalur prestasi untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Dengan begitu, perihal pembinaan seni diakui jauh lebih baik.

”Seni berkaitan dengan aspek moral. Beberapa orang yang berminat dalam bidang ini saja merupakan intan mutiara yang wajib dijaga. Bukan karena secara kuantitas minim, malah justru tidak mendapat dukungan,” jelas Tri Broto. Tak ayal, pendidikan pun menjadi kering makna moral. Selain itu, di pendidikan tinggi seni, mahasiswa seni ditengarai sekadar memenuhi tuntutan pendidikan. Pasca lulus pendidikan, seni tak ubahnya bak barang yang usang dan siap dibuang. Karena itu, kontribusi tari jatim justru dihasilkan dari sanggar ketimbang perguruan tinggi.

Kepala Sendratasik Unesa jurusan Tari, Drs Djoko Tutoko MSn mengatakan, sejatinya pembinaan tari di sekolah seni masih bagus. Pasalnya, terdapat dukungan finansial dan apresiasi dari instansi yang menaungi di atasnya. Kegiatan lomba, pagelaran, diskusi, workshop dan sebagainya bagian yang tidak terputus dalam sekolah seni.

”Bahkan, Sendratasik Unesa berencana akan memfasilitasi pagelaran antarsanggar tari seJatim bulan Oktober nanti,” katanya. Hanya saja mental berkesenian memang masih terus menjadi pekerjaan rumah tersendiri, mengingat lingkungan masyarakat seni Jatim kurang mendukung.

Etnik dan kontemporer. Dua medium material yang menjadi basis eksplorasi sanggar dan sekolah seni. Komoditi dan seni murni. Dua obyek material yang menjadi orientasi pemilihan sanggar dan sekolah seni. Sejauh ini, menurut pimpinan Raff Dance Arif Rofiq, kecenderungan tari sanggar yang tidak lagi pada tataran seni, melainkan komoditi, sejatinya tidak selalu benar. Sebab, tipikal tari tradisi adalah paket tari etnik yang bisa dipelajari sebagai bahan pencetak generasi penari handal. Tidak dipungkiri, pergeseran tujuan sanggar merupakan keniscayaan yang sukar dihindarkan. Namun meski demikian, seharusnya dalam kepentingan ekspresi seni, orang tari serta-merta harus terjebak harus menampilkan seni kontemporer.

”Kontemporer sering dipahami ke balet-baletan. Asal gerak mulet dalam improvisasu,” tutur Arif Rofiq.

Dengan begitu, tubuh penari sebagai media ekspresi seringkali menyajikan tubuh yang kaya nuansa tetapi kering makna. Ikon-ikon tradisi yang ditayangkan seringkali menjadi nuansa dan kilasan kesan, pesan pintas. Dalam konteks yang lebih mendalam idiom dan medium tradisi dikemas untuk menyatakan nilai-nilai baru, gagasan baru yang secara signifikan tidak terkait dengan nilai dan semangat aslinya.

”Obyek material tradisi etnik dipaksa menjelejahi ruang dan makna yang baru. Seringkali terlepas dari budaya dan keutuhan kosmisnya, menjadi simbol yang sama sekali baru,” ucap pengajar STKW dan penari lulusan STSI Surakarta, R Djoko Prakosa SSn.

Kontemporer harus tumbuh dari tari lokal secara mandiri. Dengan mengamati apa saja yang bisa dieksplor sedemikian rupa. Bahkan, menurut Tri Broto, pengurangan durasi waktu yang paten dalam suatu pementasan tari pun bisa dikatakan sebagai kontemporer. Daripada harus mengacu pada asal percampuran tari lokal dan tari dari luar. Sebab, apabila kontemporer yang dimaksud ialah percampuran serampangan tanpa pijakan tari lokal, maka jati diri tari lokal kontemporer akan ditemukan di setiap daerah-daerah lain. Katakanlah, tari kontemporer Jatim akan sama dengan kontemporer tari Solo, karena adanya kesengajaan persinggungan antarkeduanya.

Sanggar tari dan sekolah seni merupakan pusat dari kegemilangan seni dan moral di Jatim, maka seyogyanya diperhatikan dan dimanfaatkan kesempatan segala potensi. Membiarkan perkembangan secara mandiri sama halnya melakukan perjudian. Antara kematian dan perbaikan. Sementara apabila area ini dioptimalkan, dapat dipastikan penari hiburan, penari profesional, dan seniman tari hadir mewarnai dan bakal semakin mengangkat nama besar Jatim. Sebab tanpa diperhatikan saja, tari Jatim sudah disegani di level nasional maupun mancanegara.

Sumber

Menjadi Koreografer yang Baik

Oleh: Ida Bagus Surya Peredantha, SSn., MSn, Alumni ISI Denpasar

Suatu ketika di Surakarta, ketika pertama kali kuliah saya mendapat tugas untuk menyatakan pendapat lewat tulisan tentang koreografer yang baik. Pendapat melalui tulisan tersebut diupayakan agar singkat, tepat dan padat. Tugas yang sangat sederhana namun memiliki interpretasi pemikiran yang luar biasa luas dan sangat subjektif. Wajar, pengajar mata kuliah saya saat itu member tenggat waktu satu minggu untuk mengumpulkan tugas tersebut.

Sebelum terjun menjadi koreografer, menurut saya yang paling penting adalah seorang koreografer seyogyanya memiliki dasar kepenarian yang baik. Memang tidaklah mutlak demikian, namun alangkah lebih baiknya bila seorang koreografer mengenal kemampuan tubuhnya terlebih dahulu dan mengujinya dalam setiap kesempatan pentas sebagai sorang penari. Dengan demikian, ia pun akan mudah mengarahkan dan memaksimalkan potensi ketubuhan yang dimiliki oleh orang lain.

Penari yang baik, dituntut untuk memiliki beragam syarat agar dirinya benar-benar mampu dan siap dalam hal perjalanan menjadi seorang koreografer. Syarat-syarat tersebut antara lain : Kreatif, disiplin, terbuka, peka, dan bertanggung jawab. Sebagai catatan, sukses tidaknya seorang koreografer ditentukan dari proses dan keteguhan seseorang dalam menjalankan kelima syarat tersebut.

Kreatif, merupakan kemampuan pokok yang harus dimiliki oleh seorang koreografer. Kreativitas dalam hal ini adalah kemampuan seorang koreografer untuk menemukan konsep pemikiran, teori, teknik dan atau metode “baru” dalam proses penciptaan karya tari. Daya kreativitas yang tampak dalam proses berkarya menunjukkan sejauh mana seorang koreografer berhasil melakukan riset, pendalaman akan ide dalam merespon sesuatu, sehingga mampu memberikan inovasi dalam karya tarinya. Hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap nilai orisinalitas yang terkandung di dalam karya tari itu sendiri.

Kedisiplinan, merupakan “modal” selanjutnya yang dibutuhkan oleh seseorang untuk menjadi penari yang baik sekaligus koreografer nantinya. Sebagai penjabaran disiplin itu sendiri, penari yang baik akan menerapkan disiplin waktu, pantang menyerah dalam berusaha, teguh menjalankan proses, dan “keras” terhadap dirinya sendiri. Termasuk pula ketika hendak dan sedang tampil di panggung, seorang penari haruslah selalu berkonsentrasi untuk menyajikan sebuah pertunjukan yang baik.

 Sikap terbuka menunjukkan bahwa ia tidak memiliki sebuah ”hambatan” atau “hal yang menutup matanya” terhadap perkembangan zaman dimana ia tumbuh. Seperti yang telah diungkap diatas, kreativitas merupakan sesuatu yang timbul akibat proses imajinasi seorang. Imajinasi ini datangnya dari berbagai stimulant, termasuk pula dari hal-hal yang tengah berkembang di masanya. Untuk dapat menyerap berbagai informasi baru, hal-hal yang sedang trend, atau bahkan isu-isu yang sedang mengemuka, seorang penari aatau koreografer harus mau bersikap terbuka, dalam artian tidak terkungkung oleh doktrin sesuatu. Kebudayaan itu sifatnya selalu berkembang, begitu juga kesenian. Perkembangan tidak akan merusak nilai-nilai yang sudah ada bila dimaknai secara selektif. Justru, melalui keterbukaan ini, seorang koreografer yang baik akan mendapat sebuah pengayaan yang belum pernah didapat sebelumnya.

 Memiliki kepekaan yang kuat, juga merupakan modal yang saya utarakan sebagai seorang koreografer.  Kepekaan bisa terkait dengan banyak aspek, karena tari sebagai cabang kesenian memiliki banyak keterkaitan dengan aspek-aspek lainnya misalnya ruang, musik, warna, cahaya dan beberapa lainnya. Walau bukan berarti kita harus menekuni semuanya, namun setidaknya seseorang mengetahui esensi daripada aspek-aspek terkait tersebut yang mampu menunjang keberhasilan penampilan di atas panggung. Bagai ungkapan seniman besar Bali I Nyoman Pugra (alm.) dari Denpasar, bahwa penari yang baik itu harus mengetahui sastra. Pernyataan beliau tersebut tentu saja sangat dalam maknanya, di mana bila diartikan secara mudah seorang penari (atau bahkan koreografer) haruslah memahami teks sebagai sumber-sumber bacaan untuk memperkaya wawasannya serta konteks dimana, kapan dan dengan siapa karya tari akan dipertunjukkan.

Hal selanjutnya yang sebaiknya dimiliki oleh seorang koreografer yang baik adalah bersikap akademis. Maksudnya adalah bisa dan mampu mempertanggungjawabkan karyanya secara utuh dan professional. Seorang koreografer yang baik tidak cukup hanya mampu menciptakan karya saja tanpa mampu menjelaskan latar belakang penggarapan, sumber inspirasi, makna yang ingin disampaikan, hal baru apa yang ia miliki dan seterusnya. Ada banyak aspek di balik sebuah karya tari yang harus bisa ia jelaskan kepada para penikmat maupun pengamat, untuk menghindari kesan penjiplakan, “pembelian” karya dan pencatutan nama koreografer yang menciptakan tari itu sendiri. Hal ini sekaligus menghindarkan kita dari kemungkinan tindakan plagiatisme yang belakangan mulai marak terungkap. Plagiatisme tidak hanya “menjangkiti” akademisi melalui tulisan, namun “wabah” tesebut telah menjalar pada sisi karya seni khususnya seni pertunjukan meskipun jarang dan sulit untuk diamati. Tiada salahnya mencegah daripada membela diri pada saat sudah terlilit masalah.

Sekali lagi, hal-hal di atas merupakan sumbangsih pemikiran saya yang bercita-cita tinggi sebagai seorang seniman. Tanpa bermaksud menggurui, pendapat tersebut lebih pada “suluh” atau tuntunan terhadap diri saya sendiri, agar saya memiliki pegangan dalam meniti karir di jagat seni. Bilamana pembaca memiliki pandangan lain yang dapat memperkaya wawasan kita para seniman sangat terbuka tangan saya dalam menyambut masukan tersebut karena ini merupakan “yadnya” seseorang kepada khalayak melalui pemikiran. Salam kesenian!

SUMBER