TARI ZAVIN MANDILINGAN/MANDAILING (Bawean-Gresik, Jatim)

Tari Zapin, jika menyebut nama ini orang mungkin lebih banyak mengarah langsung pada tari melayu. Tari yang umumnya ada dan berasal dari Sumatera, Indonesia yang memang dekat dengan Negara Malaysia yang juga melestarikan Zapin sebagai bagian dari budaya Melayu. Tahukah anda jika ternyata tari Zapin juga merakyat di Gresik, Jawa Timur? Simak ulasan berikut ini.

Latar Belakang Ringkas Tarian Zavin Mandilingan

Salah satu bentuk tarian pergaulan masyarakat Gresik yang masih utuh dan popular dewasa ini ialah tari zavin. Dari perspektif sejarah perkembangannya tarian zavin telah menular luas di kalangan penggemar seni tari di Gresik ini telah mengalami pengubah suaian dari segi bentuk dan ragamnya yang ternyata lebih tradisional sifatnya. Keunikan tradisi zavin terletak bukan saja pada kesatuan musik dan peralatannya yang dipengaruhi oleh keseniaan Arab bahkan juga pada sifat segretasi penari dan penonton. Dalam konteks inilah keunikan tarian javin terutamanya pada ciri penghubungannya dengan keseniaan Islam yang dibawa oleh orang-orang Arab. Di Gresik Tarian zavin yang sudah diterima sebagai seni yang berunsur Islam yang berfungsi sebagai hiburan sama ada pada acara-acara sekular maupun acara sambutan hari-hari kebesaran. Satu hal yang menarik mengenai tarian Zapin ialah keupayaan mewujudkan rasa persaudaraan penari dan pemusik yang dapat dimunculkan di kalangan mereka sekaligus mematahkan rasa malu penari-penari apabila menari di khalayak ramai. Secara simbolik gerak tari javin ini menampakkan kepentingan usaha bersama dan bukannya usaha individu disamping meminggirkan persaingan antara pemain-pemain dalam kumpulan maupun antara kumpulan, Ditinjau dari perspektif inilah, keunikan dan keistimewaan tarian javin terlihat. Zavin merupakan hasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dariArab. Tari zavin pada mulanya merupakan tarian hiburan dikalangan raja-raja di istana setelah dibawa oleh para pedagang-pedagang di awal abad ke-16. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan. Musik pengiringnya terdiri dari dua alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecilyang disebut marwas. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.

Tari Zavin Mandilingan dapat diintepetasikan sebagai satu Refleksi acuan sosial sebagian masyarakat Bawean, Gresik. Pancaran dan ekspresi wajah sang penari yang nampak berbinar dengan sunggingan senyum yang mempercantik wajah sang penari. Karena di Bawean yang dijuluki Pulau Putri, banyak perempuan yang ditinggal suami mencari nafkah di negeri rantau dalam jangkawaktu yang lama. Maka, kala sang suami pulang dari perantauannya, sang istri menyambutnya dengan suka cita. Kerinduan yang bercampur dengan rasa gembira dan haru itu kemudian berubah menjadi suka cita yang terasa bagai seteguk air di gurun yang tandus. Itu pula yang terepresentasi dari tarian tersebut.

 

Tarian ini juga memiliki kekhasan momen tampilannya. Karena tarian yang ditarikan berkelompok ini disajikan pada saat penyambutan kedatangan tamu dalam acara seremonial maupun kasual. Maka ekspresi rasa hormat dan suka cita terpancar dari wajah para penari. Warna baju yang dikenakan para penari pada dasarnya adalah krem. Tapi kini, semakin berkembang dan dapat dimodifikasi sedemikian rupa. Yang jelas warna pakaian yang ditampilkan tidak mengurangi rasa sukacita dari penarinya. Karena pakem dasar tujuan performa tarian ini adalah memunculkan suasana yang ceria dan ”hidup”.

Tentang gerakannya, tarian ini memiliki keistimewaan dengan kerancakan dan kertimikannya. Karena disajikan berkelompok, tentu dibutuhkan kekompakan yang teramat bagus. Gerakan yang dinamis ini yang membedakan dengan gerakan gemulai yang khas tarian Jawa pada umumnya. Sekilas juga nampak tarian ini berbau melayu. Hal ini tak mengherankan karena sebagain lelaki Bawean bekerja di negeri Jiran Malaysia dalam kurun yang lama. Bahkan ada sebagaian yang telah menetap dan menjadi warga negaranya. Namun hubungan mereka dengan sanak keluarga yang ada di pulau yang berjarak 7o mil laut arah utara Gresik ini masih berjalan dengan sangat harmonis dan rukun.

 

 

Asal – Usul dan Pengertian Tari Zapin

Zapin berasal dari bahasa arab yaitu “Zafn” yang mempunyai arti pergerakan kakicepat mengikut rentak pukulan. Zapin merupakan hasanah tarian Melayu yang mendapat pengaruhdari Arab. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur,digunakan sebagai media dakwah pada era penyebaran agama islam. Musik pengiringnya terdiri dari dua alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penaricampuran laki-laki dengan perempuan. Tari Zapin sangat banyak ragam gerak tarinya, walaupun pada dasarnya gerak dasar zapinnya sama.

 

Sejarah Tari Zapin

Zapin dipercayai dibawa oleh mubaligh-mubaligh dari Timur Tengah kira-kira pada abad ke-15. Kebanyakan mubaligh-mubaligh dan pedagang-pedagang ini datang dari TanahArab dan Parsi. Di dalam dialek Yamen ia dikenali sebagai Zaffana. Pada permulaan hanyagolongan lelaki yang menyertai tarian ini. Tapi kini ia telah dimodifikasi dengan penyertaan golongan wanita. Versi paling asas ialah gerakan mengikut alunan musik dan perkiraan 1 2 3 dan 4. Pada kiraan ke-4 kaki dilunjurkan ke belah kiraan terakhir dibuat. Ia boleh dilakukan setempat atau gerakan ke depan atau kebelakang. Semasa melakukan gerakan, kondisi tubuh penari biasanya dalam keadaan tegak dan agak mendada. Zapin biasanya diiringi oleh beberapa instrumen muzik tradisional dan genre lagunya biasanya genre Samrah. Instrumen yang terlibat pula ialah Biola, Marwas dan Gambus. Dalam Zapin tiada peraturan yang tetap dalam menentukan berapa orang penariyang diperlukan untuk membuat persembahan. Namun, oleh kerana penari perlu berinteraksi antara satu sama lain tarian Zapin digalakkan untuk dilakukan secara berpasangan dalam gandaan dua.
Penari-penari kemudian boleh berinteraksi dengan pasangan masing-masing dengan bergurau, mencabar atau menikmati alunan muzik dan lenggok tarian pasangan masing-masing. Terdapat banyak bentuk tarian Zapin dan semuanya telah berevoulusi dari ragam yang asal. Antara variasi tarian yang popular ialah Zapin Tengliu yang berasal dari Mersing. Variasi Tengliu telah diilhamkan dari para nelayan yang sering turun ke laut dan mereka manari diatas kapal dengan mengikut arus ombak laut. Kalau kita melihat variasi ini penari seolah-olah sedang menari sambil badannya terhuyung-hayang kekiri dan kanan sambil tangannya memegang tali kapal. Gerakan variasi Tengliu banyak melakukan gerakan yang tidak disangka-sangka seperti pusingan badan dan pinggang diikuti dengan hentian mengejut dengan kaki, tangan dan bahu. Khazanah tarian yang mendapat pengaruh dari Arab.
Advertisements

DIDIK NINI THOWOK

 

Didik Nini Thowok adalah anak sulung dari lima bersaudara, keempat adiknya. Ia dilahirkan di Temanggung, 13 November 1954 dengan nama Kwee Tjoen Lian. Didik kecil sering sakit-sakitan sehingga orangtuanya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Kwee Tjoen An. Darah Tionghoa diwarisinya dari sang ayah, Kwee Yoe Tiang. Sementara ibunya, Suminah, adalah asli Jawa asal Desa Citayem, Cilacap.

Setelah meletusnya peristiwa G30S/PKI, pemerintah mewajibkan seluruh keturunan Tionghoa untuk mengganti nama Tionghoanya dengan nama pribumi. Sejak saat itu nama Kwee Tjoen An tidak lagi digunakan dan berganti menjadi Didik Hadiprayitno. Ayah Didik, yang kemudian berganti nama menjadi Hadiprayitno, bekerja sebagai penjual kulit sapi dan kambing, sedangkan ibunya membuka warung kelontong di Pasar Kayu. Karena suatu hal, usaha ayahnya mengalami gulung tikar. Agar dapat menafkahi istri serta kelima orang anaknya, Hadiprayitno bekerja sebagai supir truk. Didik sekeluarga tinggal bersama kakek dan neneknya. Hidup mereka sangat sederhana dan pas-pasan.

Dimasa kecil, Didik tidak nakal seperti kebanyakan anak laki-laki seusianya. Ia bahkan cenderung dikucilkan oleh teman-teman lelakinya, karena gerak-geriknya yang lemah gemulai. Permainan masa kecil Didik bukan perang-perangan layaknya seorang anak laki-laki, ia lebih suka main masak-masakan. Oleh sang nenek, Didik juga diajari keterampilan seperti menjahit, menisik, menyulam, dan merenda.

Tak jarang ia pun harus menerima hinaan serta cemoohan dari teman laki-lakinya. Hal itu membuat Didik kecil semakin menarik diri dan lebih nyaman bergaul dengan teman-teman perempuannya. Teman-teman perempuan Didik pun selalu membela dan melindunginya ketika Didik menjadi bahan olok-olokan. Namun, Didik tidak mau membalas kenakalan teman-teman lelakinya. Ia justru terdorong untuk dapat menunjukkan kepada mereka bahwa ia bisa dibanggakan.

Bakat seni Didik sudah terlihat sejak ia masih berseragam sekolah dasar. Hal itu bisa dilihat dari nilai rapornya untuk mata pelajaran kesenian khususnya menggambar dan menyanyi yang di atas rata-rata. Atas prestasinya itu, pujian pun berdatangan. Sejak saat itu, Didik mulai memupuk rasa percaya dirinya. Ia seakan membalas perlakuan buruk teman-temannya dengan membuktikan bahwa ia bisa berprestasi. Impian untuk menjadi seorang seniman besar mulai dirintisnya.

Menurut Didik, dalam perjalanan menemukan jati dirinya sebagai seorang seniman, peran sang kakek amatlah berperan. Engkong Lek, begitu Didik biasa menyapa kakeknya, amat mendukung bakat seni Didik, khususnya di bidang lukis-melukis. Engkong rupanya sangat mendambakan cucu pertamanya itu menjadi seorang pelukis ternama. Sang kakek bahkan membelikan Didik peralatan melukis seperti kertas, konte, cat air, dan pensil warna.

Didik bisa dibilang beruntung, karena walaupun terlahir dalam keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi, ia mendapat dukungan penuh dalam mengembangkan bakat seninya. Selain sang kakek, ibunya, Suminah, juga memiliki andil dalam memupuk bakat seni Didik, bahkan ketika anak pertamanya itu masih di dalam kandungan, Didik merasa telah “diajari” menari. Menurut cerita ibunya, sewaktu mengandung Didik, sambil menggembala kambing ia selalu menari sambil menyanyikan tembang-tembang Jawa. Hal itu dilakukannya secara diam-diam, maklum saja pada masa itu, image masyarakat terhadap perempuan menari itu masih buruk.

Ibunya pun selalu mengajak Didik menyaksikan film India yang diputar di bioskop di Temanggung. Film-film India yang selalu diselilingi dengan adegan menari dan menyanyi para bintangnya membuat Didik terkesima. Seringkali setelah menonton film India, ia bermimpi sedang menari India.

Bahkan saking jatuh cinta pada tarian India, Didik sampai menirukan gaya penari perempuan India lengkap dengan selendang sebagai atribut pelengkap. Karena terlalu semangat, Didik bahkan sempat mengalami kecelakaan kecil. Kala itu ia jatuh terjerembab dan menyebabkan kakinya terluka. Namun rupanya seni tari seakan sudah menjadi nafasnya, kecelakaan kecil itu tidak membuatnya kapok untuk kembali menari.

Suatu hari ada rombongan penari Bali yang akan menggelar pementasan di kampung halamannya. Keinginan Didik untuk menyaksikan aksi para penari Bali harus dibuangnya jauh-jauh karena ia tidak memiliki cukup uang. Ia harus puas dengan mendengarkan suara gamelan khas Pulau Dewata itu dari luar gedung pertunjukan. Meskipun hanya mendengar dari luar, Didik merasakan sensasi tersendiri kala suara gamelan itu mengalun.

Dari pengalaman itu, Didik tergerak untuk mempelajari tari Bali. Sampai suatu ketika ia menanyakan sanggar tari Bali pada Pak Soegiyanto. Tak disangka, pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang cukur itu ternyata bisa mengajarkan tari Bali. Kesempatan emas itu tak disia-siakan Didik. Ketika sedang tak ada pelanggan, Didik dengan tekun belajar menari Legong di kios sempit, tempat Pak Soegiyanto menjual jasanya. Melihat bakat dan kemampuan Didik, Pak Soegiyanto kemudian mengajaknya ke rumah salah seorang sahabatnya bernama Pak Kahari. Di samping tempatnya luas, di sana juga terdapat perangkat gamelan.

Bakat seni yang mengalir deras dalam darahnya membuat Didik cepat menangkap setiap gerakan yang diajarkan Pak Soegiyanto. Dengan diiringi gamelan dari Pak Kahari, Didik terlihat luwes menari. Dalam hitungan hari, ia diajak Pak Kahari untuk ‘mentas’ keliling kampung. Sejak itu Didik banyak menerima tawaran untuk mengisi berbagai acara mulai dari perayaan tujuh belasan, ulang tahun teman hingga perpisahan sekolah. Nama Didik sebagai seorang penari Bali semakin hari semakin dikenal masyarakat Temanggung.

Koreografi tari ciptaannya yang pertama dibuat pada pertengahan 1971. Tarian itu diberi judul “Tari Persembahan”, yang merupakan perpaduan gerak tari Bali dan Jawa. Didik tampil pertama kali sebagai penari  lengkap dengan kebaya dan sanggulnya saat acara kelulusan SMA tahun 1972.

Totalitasnya sebagai penari tak tanggung-tanggung. Karena kerap membawakan tarian perempuan, Didik juga merias wajahnya layaknya seorang perempuan. Keinginan Didik untuk terus mempertajam kemampuan menarinya kian tak terbendung. Setelah lulus SMA, ia ingin melanjutkan pendidikan ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta. Namun karena terbentur masalah biaya, ia harus menunda keinginannya. Ia juga menyadari keterbatasan orangtuanya yang masih harus membiayai keempat adiknya. Oleh karena itu Didik berusaha mencari biaya kuliah dengan bekerja di Kabin Kebudayaan Kabupaten Temanggung sebagai guru tari.

Pada tahun 1974, setelah dua tahun bekerja, berbekal tabungan, Didik berangkat ke Yogyakarta dan mendaftar ke ASTI. Tari Manipuri yang dengan apik dibawakannya berhasil memikat dewan juri sekaligus membuatnya diterima sebagai mahasiswa ASTI.
Hidup sebagai perantau yang jauh dari kampung halaman membuat Didik harus mencari penghasilan untuk menyambung hidup. Keterampilan ‘perempuan’ yang dulu diajarkan neneknya dirasa sangat berguna. Didik menerima pesanan membuat bordir, juga menjual hasil kerajinannya, seperti syal dan taplak meja.

Nama Nini Thowok yang lekat di belakang namanya berawal ketika Didik membantu seniornya di ASTI, Bekti Budi Hastuti (Tuti), dalam pementasan sebuah fragmen tari berjudul Nini Thowok bersama Sunaryo. Kala itu Didik kebagian peran sebagai seorang dukun. Pementasan berlangsung sangat sukses. Debut tari perdananya itu langsung membuat nama Didik meroket di lingkungan kampus. Nini Thowok sendiri berkisah tentang drama pemanggilan arwah semacam permainan jailangkung yang dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa namun dibumbui dengan unsur komedi. Dengan improvisasi, penghayatan dan estetikanya, Didik sukses meramu elemen-elemen komedi dengan gerakan sehingga mampu mengundang tawa. Totalitasnya itu mengundang decak kagum dari para dosen dan seniornya di ASTI.
Didik dan kawan-kawan pun mulai kebanjiran tawaran pementasan. Demi kepuasan penonton, pertunjukan dikemas dengan konsep yang lebih matang. Saat Sunaryo mengundurkan diri, posisinya digantikan Bambang Leksono Setyo Aji, teman sekos Didik. Sejak saat itu kelompok mereka dikenal dengan nama Bengkel Nini Thowok.

Nama Nini Thowok juga melekat di belakang nama setiap personilnya. Sejak saat itulah Didik Hadiprayitno dikenal dengan nama Didik Nini Thowok. Dan sejak itu pula, unsur komedi dan peran dalam tariannya menjadi ciri khas pria yang mengaku cengeng ini. Setelah itu, karier Didik Nini Thowok sebagai penari terus mengalami kemajuan, hingga ia tampil di televisi.

Kesuksesan yang telah diraihnya tak membuat Didik berpuas diri dan merasa paling hebat. “Kakek saya pernah berpesan, kalau maju harus bisa mbodo; jangan merasa sudah pintar dan tak mau belajar atau mendengar dari orang lain. Hati dan pikiran harus selalu terbuka menerima masukan,” kenang Didik. Sepenggal kalimat itu yang membuat Didik tak pernah letih dalam mengejar ilmu. “Sekali kita merasa sudah cukup berhasil, di situlah kita akan berhenti,” lanjutnya. Bagi penerima penghargaan Kick Andy Heroes Award tahun 2009 ini, belajar adalah sebuah proses yang terus menerus dan tak ada akhirnya. Di atas langit masih ada langit.

Didik pun tak segan berguru pada seniman lain. Tercatat sudah puluhan maestro, baik dari dalam maupun luar negeri yang menjadi gurunya. Ia belajar tari Bali pada maestro I Gusti Gde Raka, di Gianyar. Ia juga mempelajari tari klasik Sunda dari Endo Suanda; Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan yang dipelajarinya dari tokoh besar Topeng Cirebon, Ibu Suji. Saat pergi ke Jepang, Didik mempelajari tari klasik Noh (Hagoromo), di Spanyol, ia pun belajar tari Flamenco.

Berkat didikan dari para gurunya, kreativitas Didik dalam mengembangkan tari tradisional semakin tergali. Berkat kemampuannya bereksplorasi, Didik mampu ‘menyegarkan’ tarian tradisional dengan unsur jenaka tanpa mengurangi keindahan di setiap gerakannya.

Setelah menyandang gelar SST (Sarjana Seni Tari), Didik ditawari untuk mengabdi sebagai dosen. Selain itu ia juga diminta mengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK)

Seorang penari, baginya bukan hanya sekadar berlenggak-lenggok, namun juga harus mampu menghancurkan egonya dan menyatu dengan karakter yang sedang dibawakannya. Untuk dapat melakukan hal itu, menurutnya diperlukan kejujuran.

“Seorang penari tak akan bisa menyuguhkan tarian dengan sempurna jika egonya masih ikut menari. Tari meniscayakan kejujuran. Meski menguasai teknik dengan baik, jika egonya belum lebur, penari itu berarti masih menari dengan arogansi, dan itu tak akan berhasil,” kata pria kemayu itu.

“Ketika saya menari, saya mengosongkan diri saya. Apakah saya orang Indonesia, saya keturunan China campur Jawa, saya orang Kristen, atau saya penari dengan bayaran selangit, itu semua sudah tidak ada lagi. Saya masuk dan menjadi karakter yang saya tarikan,” lanjut ayah angkat Aditya Awaras Hadiprayitno itu.

Pepatah “ibarat padi yang semakin berisi semakin merunduk” dirasa tepat untuk menggambarkan kearifan Didik Nini Thowok. Meski telah puluhan tahun menjalani profesi sebagai penari, dengan segudang pengalamannya baik di dalam maupun luar negeri, tak lantas membuat Didik tinggi hati. “Saya ini belum apa-apa. Semakin saya belajar semakin saya sadar bahwa banyak yang belum saya ketahui. Oleh karena itu, saya heran kalau ada penari baru yang baru punya prestasi sedikit saja sudah kemiliti (sombong). Kalau mau sombong-sombongan, saya mungkin bisa saja menyombongkan prestasi saya, dari yang mulai ngamen di pinggir jalan sampai menari di depan pemimpin-pemimpin mancanegara, saya sudah kenyang. Tapi untuk apa kita sombong. Bukan itu tujuan saya. Saya hanya ingin menjalankan peran kesenimanan saya dengan baik, menjadi manusia yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Jika kemudian upaya saya dihargai dan diapresiasi sedemikian rupa, itu merupakan karunia yang harus disyukuri tanpa kita harus menjadi tinggi hati,” kata Didik serius.

Didik memang terlahir sebagai seniman yang hidup dari dan untuk tari. Pada tahun 1980 ia mendirikan Sanggar Tari Natya Lakshita di Yogyakarta. Karena ingin berkonsentrasi pada sanggar maka pada tahun 1985, setelah delapan tahun menjadi dosen di almamaternya, ASTI, Didik memutuskan untuk mengundurkan diri sekaligus melepaskan statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Tekadnya untuk terus berkarya dalam dunia seni tari semakin kuat, bukan hanya sebagai penari tapi juga pencipta, penata dan pengelola sanggar tari. Selama perjalanannya bergelut dengan dunia tari banyak nilai positif yang dirasakan Didik. Semua itu diyakininya dapat ditemukan di mana saja, di agama dan di bidang apa saja.

Pria yang murah senyum ini dikenal sebagai pribadi yang hangat dan ramah. Keramahan dan kehangatannya tak hanya ditunjukkan pada orang-orang dengan jabatan tertentu, tapi juga masyarakat biasa. Keramahan, kelemahlembutan, kerendahan hati, kejujuran, dan keikhlasan didapatkan Didik dari menari. Nilai-nilai tersebut berusaha diterapkan dalam kesehariannya. Walaupun sudah punya ‘nama’, Didik tidak pernah membedakan saat ia harus menari di pinggir jalan atau di istana, semua dijalaninya dengan jujur dan ikhlas. Dengan begitu seseorang dapat terhindar dari sifat sombong. “Saya paling takut dengan kesombongan. Kesombongan itu, selain bisa menyakiti orang lain, juga bisa menghancurkan diri kita,” kata Didik.

Meski disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam mengurus sanggar asuhannya, atau menghadiri undangan ke luar negeri untuk mengisi berbagai event, Didik selalu meluangkan waktunya untuk beribadah. “Buat saya agama itu sangat penting. Ketekunan dalam beribadah berpengaruh besar dalam membimbing seseorang agar tidak terjerumus dalam kecenderungan destruktif,” katanya.

Sebagai penganut Kristen Protestan yang taat, setiap Minggu Didik hampir tak pernah absen menghadiri kebaktian di gereja. Agar khusyuk mendengarkan khotbah pendeta, Didik memilih duduk di bagian paling depan. Tak jarang Didik sampai menitikkan airmata jika mendengar kata-kata yang menyentuh hati. Kalaupun ia tak sempat pergi ke gereja, Didik memanggil pendeta ke rumahnya untuk menggelar kebaktian di rumah.

Dalam perjalanan karirnya, Didik benar-benar merasakan campur tangan Tuhan. Di tengah hambatan dan rintangan yang dihadapinya, Didik yakin segalanya akan baik-baik saja jika Tuhan sudah turun tangan. Meskipun diakuinya tak mudah untuk bisa konsisten menjalankan kehidupan berdasarkan nilai-nilai yang ingin selalu kita anut. Ia mencontohkan, agama mengajarkan kita untuk membalas kejahatan yang dilakukan orang terhadap kita dengan kebaikan. Jika seseorang mampu melakukannya, itu sangat luar biasa, karena hal itu tidak mudah. Tiap kali merasa tersakiti, Didik selalu menangis dan mengadu kepada Tuhan. Meskipun ia masih tetap berusaha menjalankan ajaran mulia itu. Paling tidak ia dapat membalas kebaikan dengan kebaikan.

Karena merasa telah dibesarkan oleh seni tari tradisional, Didik ingin membalas budi dengan berkontribusi demi kemajuan kesenian yang telah puluhan tahun digelutinya itu. Salah satunya dengan membuat VCD Tari Legong Bapang. Meski menelan biaya hingga ratusan juta rupiah, Didik tak mengharapkan keuntungan sedikit pun. Malah banyak pihak yang secara sukarela mendanai proyek itu. “Maka dari itu saya sangat yakin dengan pentingnya keikhlasan,”kata Didik.

Keikhlasan juga membuatnya mensyukuri segala pemberian Tuhan padanya. Di masa lalu, saat sebagian orang melihat sifat feminin yang lekat pada sosok Didik sebagai kekurangan, kini keadaan pun berbalik dengan kesuksesan yang telah digenggamnya. Berkat ketabahan dan ketekunannya, kekurangannya itu malah disyukurinya. Di saat orang hanya bisa menghujaninya dengan cemoohan karena kerap berpenampilan seperti perempuan, Didik terus konsisten hingga akhirnya ia berhasil memetik sukses buah dari kesabarannya itu.

Sebutan sebagai seniman cross gender (sebuah identifikasi terhadap sebuah kemampuan yang melintasi batas-batas seksualitas) baru didengarnya kala ia bepergian ke luar negeri tahun 2000 lalu. Pada Maret 2003, ia tergabung dalam pertunjukan yang berjudul Impersonators, The Female Role Players in Asian Dance and Theater di Tokyo, Jepang. Dalam pertunjukan yang disponsori Japan Foundation ini, Didik bergabung dengan para penari cross gender dari berbagai negara di Asia.

Jauh sebelum istilah itu dikenal, Indonesia sesungguhnya telah lama memiliki seniman cross gender berbakat, dialah Didik Nini Thowok. Mengenai masalah ini, Didik masih prihatin karena masyarakat Indonesia masih belum bisa membedakan antara cross gender dengan seni pertunjukkan waria, gay, dan lesbian.

Dalam mengapresiasi karya seniman cross gender, Didik merasa Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara lain seperti China, Jepang, dan India. Bahkan yang lebih menyedihkan ketidakpahaman itu bukan hanya dialami masyarakat awam namun juga para anggota dewan. Sebagai contoh RUU Penyiaran yang mengatur identifikasi gender sebagai buntut dari maraknya presenter di televisi yang berdandan dan berprilaku ala waria yang kemudian disamaratakan dengan seni pertunjukkan cross gender. Menurut Didik, para pembuat undang-undang itu tidak mengerti sejarah.

Meski dilanda keprihatinan karena minimnya apresiasi masyarakat maupun pemerintah Indonesia, Didik tak berkecil hati. Penggemar film kartun itu tetap mensyukuri semua yang telah diraihnya. Rasa syukur itu juga ia wujudkan dengan mendirikan sebuah yayasan yang menyantuni biaya pendidikan lebih dari 60 anak.

“Bagaimanapun, saya bersyukur dengan apa yang telah saya raih selama ini. Saya merasa ini semua karunia Tuhan. Saya merasa semua doa-doa saya dijawab oleh Tuhan,” kata Didik sambil menitikkan air mata. Didik memang pria melanlokis, hal itu pun diakuinya. Kehalusan hati dan rasa kasih yang melimpah dalam jiwanya membuatnya mudah menangis.

Sumber

sS
–>

Penari Jawa Klasik Keturunan Korea Asli

Di antara rindang pohon Desa Kembaran di pelosok Bantul, DI Yogyakarta, tinggallah Jeannie Park. Ia perempuan berdarah Korea kelahiran Amerika Serikat. Dulu direktur galeri seni rupa ternama di Los Angeles, lalu menjadi penari jawa klasik. Tentu saja ia bukan salinan Elizabeth Gilbert, sang penulis novel Eat, Pray, and Love. Mereka berdua sama sekali berbeda.

Sungguh, berjumpa Jeannie Park seperti berjumpa seorang Jawa tulen. Bahasa tubuh, cara berpikir, dan tampangnya. Ia tertawa ketika ditanya soal wajahnya yang tak menyisakan kesan seorang berdarah Korea. ”O, ya? Bagus, ha-ha-ha,” Jeannie tertawa.

Hampir tak ada kesan ”asing” dalam keseharian Jeannie Park. Penampilannya sederhana, busana berwarna biru bermotif lembut, celana kasual berwarna krem, sepatu sandal merah menyala, macam anak muda. Toh riasan tipisnya gagal menyembunyikan keayuannya.

Dalam obrolan, baru muncul jejak ”asing” Jeannie. Bahasa Indonesianya terkadang sengau, seperti kebanyakan pengucapan seseorang yang berbahasa ibu bahasa Inggris. Kalau sengaunya hilang, pengucapan bahasa Indonesianya medhok Jawa. Seperti saat ia menerima telepon. ”Piye,” Jeannie menyapa si penelepon. ”Injih (iya), injih, jadi,” Jeannie sibuk berbincang.

Proses ”menjadi Jawa” putri dua seniman Korea Selatan, Chong-Gil Park dan Hi-ah Chai Park, itu berawal pada tahun 1979. Saat berumur sepuluh tahun, Jeannie berjumpa maestro tari klasik jawa, Kanjeng Raden Tumenggung Sasminta Mardawa, yang menjadi dosen tamu di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat.

”Saat beliau memasuki panggung, memakai pakaian adat Jawa, saya terpana. Cara beliau masuk, iramanya, tariannya, keseluruhan gerak tubuhnya. Wow, iki opo yo (ini apa ya)? Saya langsung terpikat tarian klasik jawa. Dan saya memutuskan harus mengunjungi daerah asal tarian itu,” kata Jeannie, ibu dua anak itu.

Cita-citanya terkabul ketika ia mengikuti University of California Education Abroad Program pada Juni-Oktober 1991. Dia belajar di Pusat Studi Indonesia Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dia tentu belajar menari lagi. Namun, katanya, tiga setengah bulan belajar itu seperti hanya mencicipi. ”Saya akhirnya mengenal tempat asal tarian jawa, ha-ha-ha,” ujarnya.

”Suwung”-kosong
Setelah kembali ke AS, ia ”putus hubungan” dengan Yogyakarta dan tari klasik jawa. Jeannie meniti kariernya sebagai kurator seni rupa dan Associate Director Jan Turner Gallery, Los Angeles. Tahun 1993 – 1996 ia menjadi Direktur Kohn Turner Gallery, Los Angeles, galeri seni rupa kontemporer papan atas dengan klien para bintang sekelas Robin Williams, Tom Hanks, dan bintang rock Bruce Springsteen.

”Karier saya bagus, saya bahkan sudah ditawari menjadi partner untuk ikut memiliki galeri itu. Secara materi saya berkecukupan. Jalan hidup saya sudah sangat jelas. Namun, di dalam diri saya seperti ada sesuatu yang kosong. Suwung, kata orang Jawa. Semuanya baik-baik saja, tetapi saya selalu bertanya apa yang belum saya temukan di dalam hidup saya.”

Di tengah kegelisahan itu, saat Jeannie tenggelam dalam timbunan pekerjaan, pada akhir Juni 1996 telepon galerinya berdering. Yang menelepon staf Konsulat Jenderal Indonesia di Los Angeles. ”Mereka memberi tahu, saya disetujui mengikuti program Darmasiswa untuk belajar seni budaya di Yogyakarta selama setahun. Padahal, saya sudah lupa kapan saya mendaftarkan diri, ha-ha-ha.”

Maka pada September 1996, ia kembali ke Yogyakarta. Ia kembali belajar tari klasik jawa di Institut Seni Indonesia. Ketika masa studi setahun berakhir, ia meminta perpanjangan. ”Saya mengalami pencerahan karena diberi ruang mengalami, merasakan, dan belajar cara berpikir orang Jawa yang menciptakan kesenian yang saya cintai.”

Dengan segala totalitasnya menjalani laku menjadi penari klasik jawa, Jeannie pun menjadi salah satu yang terbaik. Pada 1997 ia mulai kerap diundang menari di Keraton Yogyakarta. Pada Juli 1998 ia mendapatkan kehormatan membawakan tari Bedhaya Sang Amwarbumi di Kepatihan Yogyakarta.

Pada 1999 ia terlibat pendokumentasian Bedhaya Sinom di Dalem Pujokusuman, Yogyakarta. Itulah untuk pertama kali ia menari bedhaya berdurasi 1,5 jam. Yang paling mengesankan baginya adalah ketika ia mendapat kesempatan menarikan Bedhaya Sang Amwarbumi di Bangsal Kencono pada 2001 bersama dua putri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Pembayun dan Gusti Candra Kirana.

Menemukan cinta
Bukan hanya meraih banyak pencapaian sebagai penari klasik jawa, ia juga menemukan cintanya di Yogyakarta. Jeannie menikah dengan penari klasik jawa, Lantip Kuswala Daya, pada tahun 2000. Itu yang membulatkan tekadnya untuk tinggal di Yogyakarta. Keduanya kini dikarunia dua buah hati, Jivan Aruna (8 tahun) dan Mohan Kalandara (5 tahun).

Tahun 2004 Jeannie sekeluarga pernah tinggal lagi di AS saat Jeannie mendapatkan beasiswa dari John F Kennedy Center for the Performing Arts. Lagi-lagi Jeannie dan keluarga pulang ke Yogyakarta. ”Yogyakarta is my hometown. Saya bahkan sudah bisa mengendarai sepeda motor di Malioboro. Kalau Anda bisa mengendarai motor di Malioboro, Anda siap menyetir di mana pun,” Jeannie tertawa.

Sejak 2007, ia didapuk menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Bagong Kussudiardja, mengurus Padepokan Seni Bagong Kussudiardja di Kasihan, Bantul. Seperti di AS, ia kembali mengurusi rewelnya para seniman dan menikmatinya. Tentu saja, Jeannie tak berhenti menari.

Bulan Mei lalu ia terlibat dalam rekonstruksi tari Srimpi Teja karya Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang didokumentasikan Taman Budaya Yogyakarta dan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. Ia kembali menari selama 1,5 jam.

 

Sumber

TARI INDANG BADINDING

Tari Indang Badindin

Tari Indang merupakan salah satu kesenian tari yang berasal dari minangkabau. Etnik minangkabau menyimpan banyak kekayaan tradisi lisan. Asal usul tari indang adalah dari kata Indang atau disebut juga badindin, salah satunya. Tarian ini sesungguhnya suatu bentuk sastra lisan yang disampaikan secara berkelompok sambil berdendang dan memainkan rebana kecil.

Sejarah Asal usul tari indang :
Kesenian tari indang tadinya bertujuan untuk keperluan dakwah islam. Itu sebabnya, sastra yang dibawakan berasal dari salawat nabi Muhammad atau hal-hal bertema keagamaan. Indang berkembang dalam masyarakat traditional Minangkabau yang menghuni wilayah kabupaten Padang Pariaman. Tari indang selalu dipentaskan setiap kali diadakan upacara tabuik – upacara yang dilakukan masyarakat Minang dalam rangka memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad setiap tanggal 10 Muharam. Tari indang diciptaan oleh Rapa’i. Rapa’i merupakan pengikut setia Syekh Burhanuddin – seorang tokoh terpandang yang selalu memperingati upacara tabuik di Minang.

Nasrul Azwar, aktivis budaya yang tinggal dipadang, menyebutkan secara historis Indang merupakan hasil perkawinan budaya antara Minangkabau dan peradaban Islam abad ke – 14. Peradaban tersebut diperkenalkan pedagang yang masuk ke aceh melalui pesisir barat Pulau Sumatra dan selanjutnya menyebar ke Ulakan-Pariaman.

Di dalam Tari Indang muncul jenis-jenis nyanyian maqam, iqa’at dan avaz serta penggunaan musik gambus. Maqam menggambarkan tangga nada, struktur interval dan ambitus. Iqa’at menyimpan pola ritmik pada musik islam. Adapun avaz ialah melodi yang bergerak bebas tampa irama dan diperkenalkan music islam.

Pentas Tari Indang biasa diramaikan tujuh penari yang semuanya laki-laki. Ketujuh penari itu biasa dinamai ‘anak indang’. Mereka dipimpin seorang guru yang disebut tukang dzikir. Indang merupakan manifestasi budaya mendidik lewat surau dan kentalnya pengaruh budaya Islam di Minangkabau.

Tari indang kini tidak hanya dipentaskan saat upacara tabuik. Tari ini pun sering dipentaskan pada berbagai acara lain, seperti acara penyambutan tamu agung, pengangkatan penghulu di suatu desa, atau acara festival budaya. Tari indang merupakan salah satu kekayaan kebudayaan nusantara. Tari ini merepresentasikan masyarakat Pariaman yang bersahaja, saling menghormati, dan patuh kepada perintah tuhan sesuai dengan budaya Melayu.

Sumber-sumber:

http://www.indonesiakaya.com/

http://ayomenari.com

http://minangkab.blogspot.com

TARI JAIPONG

 

 

Tari Jaipong, namanya sangat terkenal. Hampir semua orang tau bahwa tari Jaipong adalah tari khas Jawa Barat yang gerakannya meliuk-liuk dan mengandalkan egolan pantat yang banyak. Selain karena musiknya, terutama kendang yang juga sering dimasukkan dalam musik dangdut, sedikit gerakan-gerakan jaipong sering dilakukan oleh para penyanyi dangdut dan penari latarnya.

Tari Jaipong adalah sebuah tarian yang lahir dari kreativitas seorang seniman Berasal dari Bandung, yaitu Gugum Gumbira. Antusiasnya pada kesenian rakyat yang seperti Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan. Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.

Tari Jaipongan sebenarnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Asal-Usul

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu / Doger / Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu / Doger / Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

 

 

Sumber

TARI YAPONG

Mungkin masih banyak orangberpikir atau mengira bahwa Tari Yapong adalah tari dari Jawa Barat karena namanya yang terdengar identik dengan Jaipong. Dan ketika ada yang menonton dan mendengar musiknya yang dimainkan, ada yang berpikir tari dari Bali.

Tari Yapong adalah tari Kreasi BETAWI dan menjadi khas tari kreasi DKI Jakarta. Tari ini diciptakan oleh Bagong Kussudiarjo dengan terlebih dahulu melakukan survey terhadap keadaan sosial masyarakat Betawi. Tari Yapong merupakan suatu tari gembira dengan gerakan yang dinamis dan erotis. Dalam adegan tersebut dipertunjukkan suasana gembira menyambut kemenangan Pangeran Jayakarta. Adegan ini dinamai Yapong dan tidak mengandung arti apapun. Namun istilah Yapong ini lahir dari bunyi lagunya ya, ya, ya, ya, yang dinyanyikan artis pengiringnya serta suara musik yang berkesan pong, pong, pong, sehingga lahirlah “ya-pong” dan berkembang menjadi Yapong.

Asal Mula Penciptaan

Asal usul tari yapong pada waktu itu ada acara peringatan HUT Kota Jakarta ke-450 pada tahun 1977. Pada saat itu, Dinas Kebudayaan DKI menyiapkan sebuah pergelaran tari massal yang spektakuler dengan mempergelarkan cerita . perjuangan Pangeran Jayakarta. Pergelaran berbentuk sendratari ini dipercayakan penggarapannya kepada seniman Bagong Kussudiarjo. Untuk mempersiapkan pergelaran itu, Bagong mengadakan penelitian selama beberapa bulan mengenai kehidupan masyarakat Betawi melalui perpustakaan, film, slide maupun langsung pada masyarakat Betawi. Akhirnya pergelaran tari ini berhasil dipentaskan pada tanggal 20 dan 21 Juni 1977 di Balai Sidang Senayan. Pementasannya didukung 300 orang artis dan musikus. Pusat Latihan Tari (PLT) Bagong Kussudiarjo dan Dinas Kebudayaan DKl Jakarta seusai pementasan menggubah tari Yapong dari bentuk sendratari dan mengembangkannya sebagai tarian lepas.

Adapun corak pakaian yang dikenakan para penarinya, merupakan pengembangan pakaian tari Kembang Topeng Betawi. Tampak jelas bentuk serta ragam hias tutup kepala serta selempang dadanya, yang disebut toka-toka. Tari Yapong diwarnai oleh tari rakyat Betawi, kemudian diolah dengan unsur-unsur tari pop, antara lain unsur tari daerah Sumatera. Karena kesenian Betawi dipengaruhi oleh unsur kesenian Tionghoa, maka dalam tari Yapong juga terdapat unsur kesenian Tionghoa, misalnya dalam kain yang dipakai oleh para penari terdapat motif-motif naga dengan warna merah menyala. Alat musik yang digunakan saat tarian ini dipergelarkan adalah campuran antara Betawi, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Setelah menjadi tarian lepas, dalam tarian tersebut. DKl Jakarta memanfaatkan instrumen Rebana Biang, Rebana Hadroh, dan Rebana Ketimpring. Dengan demikian tari Yapong merupakan garapan kreasi baru yang bertolak dari unsur-unsur gerak tradisional Betawi.

Sumber