Seni Tari Dalam Pertumbuhan Generasi Muda Indonesia Dalam Menyongsong Kebudayaan Global

Penguatan Jatidiri Generasi Muda Indonesia melalui Nilai-Nilai Seni Tari Tradisional)
Robby Hidajat

Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Seni Tari,
Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Tingkat pengangguran nasional secara terbuka pada saat ini lebih dari 5,3 juta. 50 persen tingkat pengangguran terbuka berasal dari lulusan SD dan SMP, 30 persen berasal dari lulusan SMA dan SMK sementara sisanya lulusan perguruan tinggi (antaranews.com, tgl 20 April 2012). Menyimak angka ini tentu akan menggelisahkan banyak pihak, terutama pihal lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan pada dasarnya tidak secara langsung terkait dengan dunia kerja, tetapi hal tersebut tidak dapat dielekan. Semua orang tua yang menyerahkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan tentu berharap dikemudian hari mempunyai peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Gambaran kondisi generasi muda Indonesia dan peluang kerja masih menjadi realitas yang sulit untuk dihindari, oleh karena itu. Dunia pendidikan berusaha keras mengkaitkan proses pendidikan sedekat mungkin dengan dunia kerja.

Kondisi ini memiliki berbagai implikasi, sudah barang tentu akan dikaitkan atau terkait dengan ‘seni tari’. Seni tari yang diajarkan di berbagai jenjang sekolah adalah sebagai kegiatan ekstrakurikler, tujuannya untuk menyalurkan bakat dan pembinaan ketrampilan. Sebagian kecil ada yang disediakan khusus pendidikan setingkat SMA mempelajari seni tari sebagai tenaga oprasional teknis bidang seni tari, setingkat instruktur muda.

Paparan ini dimaksudkan untuk membeirkan gambaran pada generasi muda Indonesia, bahwa konsentrasi dunia kerja sudah merambah pada bidang seni, khususnya seni tari. Artinya seni yang semula menempati posisi sebagai kegiatan yang erat katiannya dengan adat tradisi masyarakat etnik tertentu, kini dapat menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran baru dalam mempersiapkan diri generasi muda mencapai kematangan kepribadian. Sudah barang tentu hal tersebut terkait dengan lembaga yang mengkondisikan, yaitu sekolah. Seni tari telah diimplementasikan dalam berbagai tingkat pendidikan, bahkan pada sisi pendidikan khusus direncanakan mampu menempati posisi profesi sebagai guru dan profesional.

SENI TARI & GENERASI MUDA
Di berbagai komunitas masyarakat etnik dunia menempatkan generasi muda pada posisi transformasi sosial, mereka diharapkan dapat mewarisi berbagai aspek untuk kelangsungan fungsi sosial masyarakatnya. Termasuk didalamnya adalah ‘seni tari’ sebagai salah satu profesi.

Seni Tari yang dipelajari generasi muda diharapkan menyiapkan regenerasi, dengan cara menerampilkan seseorang melalui seniornya. Usaha itu untuk menopang berbagai aspek sosial yang dibutuhkan masyarakat, baik untuk aktifitas ritual hingga aktifitas hiburan (pertunjukan). Pandangan praktis ini tentu akan mengalami pergeseran yang sangat hebat, karena penyangga seni tari dikemudian hari sudah tidak lagi berfungsi.
Seni tari dibelajarkan pada generasi muda untuk menjaga kontinuitas nilai-nilai budaya. Transformasi nilai budaya itu salah satunya disimpan pada tubuh (kecerdasan kinestetik). Karena kecerdasan budaya yang dihasilkan oleh masyarakat tidak hanya dapat didokumentasikan melalui tradisi baca-tulis. Tetapi hanya dapat diabadikan melalui seni, salah satunya adalah seni tari.

a.Generasi Muda Belajar melalui Kecerdasarn Kinetik
Dalam perkembangan sejarah seni tari, berbagai jenis tari yang disajikan sangat beragam, salah satunya disajikan secara Solo (tunggal). Umumnya ekspresi jenis tari yang bersifat dramatis, yaitu menggambarkan tokoh, karakteristik orang yang mempunyai kekhasan. Pribadi yang memiliki keunikan, postur tertentu yang mencapai kualitas edial, posisi sosial yang mampu ditampilakan sebagai profil khusus.
Pada umumnya tari tunggal menampilkan bentuk profil yang wajah yang mirip dengan tokoh yang digambarkan, termasuk tari yang bertopeng. Ini artinya bahwa para pembelajar tari atau penari yang mempresentasikan tari tunggal pada dasarnya adalah belajar tentang personalitas, biografi tokoh, sejarah kepribadian.

Tokoh-tokoh yang digambarkan pada tari tunggal adalah profil raja-raja, satria, atau tokoh masyarakat masa lalu yang mempu mencapai kualitas nilai hidup. Pencapaian kualitas sosialisasi diri, dan kepribadian yang memiliki potensi dalam mencapai drajat sosial, seperti satria, raja-raja, pemimpin dengan berbagai kekhasan, serta pahlawan-pahlawan yang memiliki jiwa heroisme sebagai pejuang membela nusa bangsa, atau pribdi yang memperjuangkan nilai-nilai cinta yang luhur (Rammayana atau Panji Romans) hingga profil yang menegakkan moralitas sebagai penumpas kebatilan dan penegak keadilan.

Gambar 1
Gambaran profil Tokoh Bapang salah satu tokoh pada Wayang Topeng Malang. Kepribadiannya yang unik, bupati Banjarpatoman yang memiliki semangat individu yang senang atas pujian orang lain (Foto Suci Narwati 2011)

Profil individu dalam lakon-lakon wayang seringkali ditransformasi dalam realitas hidup bermasyarakat, bahkan profil itu digunakan untuk memberikan motivasi progresif yang mungkin dapat diserap oleh para pemuda. Karakteristik manusia selalu dibedakan menjadi dua aspek yang bersifat kontradiktif, seperti sifat yang kasar dihadapkan dengan sifat yang halus. Dunia dikonstruksi melalui pilihan, tidak memiliki alternatif. Manusia tidak diberikan kesempatan untuk mengambil realitasnya sendiri. Fenomena itu juga terrefeleksikan pada kondisi generasi muda. Pemuda pada dasarnya dianugrahi kondisi pisik dan sosial yang tidak sama, kecantikan atau ketampanan, kekayaaan atau kepandaian. Perbedaan tersebut seringkali menjadi hambatan sosial, sehingga menimbulkan perasaan rendah diri (minder) atau tidak yakin dengan kondisi pribadinya. Akibatnya pertumbuhan pemuda dalam kontak sosial tidak mampu untuk mengembangkan potensi pribadi.

Hal ini banyak terjadi pada pertumbuhan kepribadian pemuda yang mengalami beban psikis akibat adanya tuntutan dari orang tua, guru, dan lingkungan yang menyebabkan pertumbuhan ketika seimbangan sosial. Seni tari sebagai kegiatan sosial menempatkan individu dalam kerangka kebersamaan, atau dalam kerangka pribadi yang mandiri. Siswa selalu dituntut mampu mengontrol dirinya, tetapi juga mampu bekerja sama sengan orang lain. Maka keyakinan akan kemampuan pribadi, dan ketergantungan pada orang lain dapat dibina secara simultan.

Generasi muda dimungkinkan terus menerus dibelajarkan mencapai tingkat kualitas individu yang maksimal, dalam suksesi raja-raja di Surakarta diceritakan ketika akan menggantikan posisi ayahandanya harus menarikan dulu tari tunggal yang disebut ‘Panji Sepuh’ (tari sakral yang dirahasiakan) dipelajari dan diekspresikan di dalam kamar tertutup. Jika calon raja itu mampu melewati pelajaran itu, maka menjadi salah satu legitimasi atas kekuasan yang diembannya. Pembelajaran seni tari itu adalah metaporis tentang transformasi kepemimpinan melalui kecerdasan kinetik, yaitu pelajaran lewat rasa gerak dan gerak rasa yang diharapkan mampu digunakan untuk mengembangkan pengendalian diri dan mengendalikan orang lain.
Raja Hayamwuruk raja kerajaan Majapahit, diberitakan menari ditengah keluarga dan para pejabat pemerintahnya. Ini tidak dapat dimaknai secara harfiah, tetapi dimungkinkan ini adalah sebuah metaforis, bahwa kecerdasan Hayamwuruk dalam perhelatan kenegaraan itu tidak hanya dikendalikan oleh intelektualitasnya, akan tetapi juga dengan sensitifitas kinetis. Membaca tubuh sangat diyakini mendekati kondisi yang dirasakan oleh orang lain.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai pencipta tari topeng di Jawa, hal ini adalah sebuah metaforis yang memberikan kesadaran masyarakat agar mampu mendalami kepribadiannya lebih mendalam. Topeng adalah sebuah manipulasi kehidupan sosial, setiap hari orang mengenakan dengan berbagai kebutuhan. Artinya manusia hidup dalam kepura-puraan. Maka yang menjadi penting dalam mempelajari tari topeng adalah penguasaan dan pemahaman kepribadian dirinya sendiri, bukan memasuki kepribdian tokoh topeng. Oleh karena itu, penari-penari topeng yang handal selalu digunakan sebagai objek imitasi. Bukan mempelajari biografi tokoh imajiner seperti Klana Sewandana, Panji Asmarabangun, Dewi Sekartaji, atau Bapang. Tetapi mereka yang berhasil mengobjektivitaskan dirinya melalui tokoh tertentu. Mereka yang telah berhasil dalam mencari dirinya melalui topeng, menjadi pribadi yang nyata. Dia tidak lagi berpura-pura, tetapi telah mencapai kemanunggalan. Topeng dan penarinya sudah tidak lagi ada perbedaannya. Cara belajar seperti ini yang dianjurkan oleh para wali, bahwa kepribdian yang sesungguhnya adalah hasil dari pencarian hakekat yang sudah ditakdirkan. Pengenalan atas diri pribadi adalah membimbing pada kesempurnaan hidup.

Generasi muda yang belajar mencapai kedewasaan harus belajar melalui kecedasan kinetik, merasakan berbagai ekspresi yang diekpresikan orang lain dalam kontak sosial. Ini artinya, bahwa seni tari itu sudah lama sebagai media untuk mengembangkan potensi kecerdasan kinetik. Akan tetapi banyak orang lebih terpukau oleh potensi kinetik, sehingga daya tarik pada penyajian penari di atas panggung adalah tubuh yang erotis, dan atau eksotis. Sehingga berbagai pemikiran yang dianggap akomodatif terhadap masa lalu adalah transformasi bentuk.

Kekaguman atas penampilan bentuk adalah ‘tipuan’ tidak nyata, karena yang tampil dihadapkan penonton adalah imaji (bayangan) atau virtualitas yang bersifat fatamorgana. Oleh karena itu mencoba untuk memasuki arena imaji atau virtual itu adalah sebuah pengalaman batin. Belajar menari adalah merupakan sebuah penziarahan ke pribadi yang unik, masa lalu yang mistritus, dan pengalaman batin yang bersifat transformatif.
Seorang guru tari dalam proses pembelajaran tidak semata-mata mentransformasikan materi ketrampilan, tetapi menularkan kepribadian. Pribadi seorang guru sebagai seniman sangat dibutuhkan. Karena pengalaman mistriusnya adalah sebuah cara siswa mampu memasuki dunia yang penuh dengan keunikan.

Gambar 2
Usaha mentrasformasikan materi pada siswa, di balik usaha itu adalah mentransformasikan kepribadian (foto Iip Rudi Rifai, 2012)

b. Generasi Muda Belajar melalui Kontak Sosial

Seni tari diekspresikan secara sosial, berbagai bentuk sajian penyajian yang dirancang secara kelompok. Pola kelompok ini adalah bentuk koreografi yang dianggap sangat tua, utamnya diekpresikan oleh masyarakat primitif.

Kontak sosial antar individu dalam hidup bermasyarakat pada dasarnya adalah penting, oleh karena itu bagi individu dalam masyarakat yang tingkat pendidikan dan pengetahuannya masih terbatas dimungkinkan belajar melalui kontak sosial. Kontak sosial seorang dengan seorang, dibutuhkan sebuah pemahaman pribadi dari keduanya. Kata-kata untuk menjelaskan diri tampaknya tidak sangat cukup, bahkan seringkali kata-kata dalam kontak sosial saling menyembunyikan pribadi yang sesungguhnya. Tari mengajarkan kontak sosial antar individu melakukan toleransi untuk mencapai keselarasan, bahkan hal ini dimungkinkan gerakan bersama membutuhkan kemampuan untuk memahami individu yang lain.

Kontak sosial juga dimungkinkan dilakukan secara berkelompok, berbagai jensi tari yang diikat dalam sebuah cerita menungkinkan seseorang menempati posisi tertentu. Seorang dengan orang lain dimungkinkan mampu bekerja sama. Menari bersama dalam sebuah sajian kelompok membuat individu mendalami pola yang telah ditata, bahkan tatanan seringkali mempunyai metarofis kosmoligis (tiruan dari pola mekanisme dunia). Bentuk formasi yang melingkar dapat dipahami sebagai lambang keutuhan, persatuan, dan juga ikatan konstruktif antara matahari dan pelanet, atau ikatan simbolis dari kekuatan alam yang menimbulkan pola grafitasi alam (orang Jawa memahami dengan istilah ‘keblat papat lima pancer’).


Gambar 3
Tari Srimpi dianggap sebagai metafor dari representasi arah mata angin (google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.blogspot.com)

Berbagai jenis tari yang mengekspresikan pola heroik (kepahlawanan) pada umumnya dinyatakan dengan garis-garis lurus dengan pola gerak yang serempak. Gerakan yang kuat dan bersemangat adalah menyatakan metoafisis dari semangat sosial dari kebersamaan, usaha bersama harus dilakukan secara serempak, bersama, dan menjalin ikatan yang kuat. Gotong royong dalam budaya Indonesia adalah sebuah refeleksi kebersamaan manusia sejak masa primitif, ditransformasikan pada semangat keprajuritan dalam berbagai pola kekuasaan feodalistik. Sementara pada masa kini, aspek sosial yang digalang dari individu itu sudah tidak mampu dikondisikan, hal ini karena tidak ada pola transformasi yang mampu mengkatualisasi nilai-nilai itu dalam masyarakat kita.

c. Generasi Muda Belajar dengan Rasa
Belajar seni tari pada dasarnya adalah belajar menggunakan ‘rasa’ atau dapat dipahami sebagai ‘perasaan’. Rasa di dalam budaya Hindu diartikan sebagai kepekaan batin (ramakertamukti.wordpress.com/2010/01/21/estetika-desain-menurut-hindu), sehingga yang penting dalam belajar seni tari adalah aspek batin. Semakin sering berlatih menari maka akan terkondisikan kekuatan perasaan. Oleh karena itu mempelajari estetika dan juga kebudayaan lebih tepat belajar mengguanakan media seni, salah satunya adalah seni tari. Oleh karena itu salah satu fungsi pendidikan seni tari adalah belajar tentang upaya agar siswa dapat mengenali nilai budaya. Karena belajar tentang budaya tidak cukup hanya dengan membaca atau diberi penjelasan saja, akan tetapi mereka dimungkinkan untuk dapat berpartisipasi dengan cara berperan aktif untuk merasakan secara fisikal atau melalui empatinya. Dengan demikian, gerak sembah yang ada pada tari Jawa, dapat dirasakan atau dihayati maknanya, misalnya sebagai tradisi sungkeman atau ngebekten (menunjukan rasa hormat pada orang tua).

Sudah barang tentu penenalan nilai budaya dalam seni tari juga dimungkinkan dapat mengaplikasikan ke dalam etika yang berkembang dalam masyarakat, seperti cara duduk, cara berdiri, berjalan, menghormati orang lain dan lain sebagainnya.

Belajar tentang budaya menjadi lengkap ketika ditingkatkan pada aspek ‘estetika’, pada dasarnya estetika atau keindahan dalam setiap seni mengomunikasikan rasa. Saat kita bermaksud mengomunikasikan objek topeng, misalnya. Objek profil topeng yang tertuang dalam realitas sebagai penutup muka, hal itu merupakan suatu bentuk komunikasi visual. Sementara itu, objek topeng yang dituangkan pada sebuah koreografi merupakan suatu bentuk komunikasi kinestetik (rasa gerak). Artinya, setiap perubahan gerak akan memberikan sentuhan nilai-nilai yang tidak sekedar figuratif yang dapat ditangkap oleh mata, tetapi juga memberikan pengalaman rasa gerak bagi penari, dan pengalaman imajinatif bagi penontonnya.

PERTUMBUHAN GENERASI MUDA
Generasi muda Indonesia sudah mengalami perubahan yang semakin hari semakin cepat. Pola pikir generasi muda yang mulai dinyatakan pada sumpah pemuda tahun 1928 adalah titik teraktual dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Akan tetapi generasi muda dalam lingkungan etnik di Indonesia kondisinya tidak selalu bergerak secara paralel.

Pemuda pada zaman perjuangan kemerdekaan menjadi lebih nayta ketika memekikan teriakan ‘merdeka!’. Tema-tema kepahlawanan dan perjuangan mempu mengangkat realitas dan juga memperjelas impian. Ir. Sukarno menjadi lebih nayata sebagai manusia yang utuh ketika dia mengikolakan ‘Gatutkaca’. Putra Bima yang dianggap pemuda yang sangat perkasa, otot kawat, balung wesi (otot dari Kawat, tulang dari besi).


Gambar 4
Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno memegang tokoh wayang kulit ‘Gatutkaca’
(google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox)

Transformasi perofil ini semakin nyata ketika penari Wayang Orang dari Sriwedari di Surakarta bernama Rusman. Rusman yang menarikan Gatutkaca di panggung dianggap lebih nyata dan lebih mengispirasi pemuda Indonesia (Jawa) dalam menemukan kejatiidiriannya. Dari pada itu, semangat hidup, bekerja, dan usaha keras menjadi lebih meningkat dengan tereksposnya slogan ‘gotong royong’.

Gotong royong sebagai fenomena sosial adalah kebersamaan, tetapi yang lebih penting dan mendasar dalam kehidupan ini adalah menumbuhkan rasa kebersamaan, kesetiakawanan, kerukunan dan merasakan senasib sepenanggungan. Kondisi ini menjadi semakin sulit untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tari tradisional yang dimodivikasi dalam bentunya yang baru lebih nenampilkan kemolekan, aktraktif, dan lebih menampakan aspek fashion. Guru-guru tidak menyadari, bahwa pola sosial dalam pertumbuhan generasi muda telah memasuki wilayah fasion, kecantikan fisik menjadi dayatarik utama, erotisme penampilan lebih memberikan energi sosial tentang perasan gairah yang nyata. Sehingga hubungan sosial antar pribadi menjadi bersifat alamiah, ketimbang simbolis.

Progresivitas pemuda Indonesia dari waktu ke waktu memiliki kecendrungan semakin individual dan bersifat konsumtif. Wilayah ruang gerak mereka tertarik dalam ranah metropolis, mall dan penempilan yang modis menjadi tolok ukur pemahaman tentang realitas yang bersifat aktual. Oleh karenanya, generasi muda Indonesia lebih cepat menangkap realitas imajiner yang dikomunikasikan media massa, ketimbang realitasnya sendiri.

Alat-alat komunikasi sosial mendorong pemuda lebih cepat mendorong mereka menjadi probadi yang selalu tampil dalam dunia imajiner (maya). Mereka menjadi lebih nyata ketika ada dalam dunia maya. Orentasi seni tari yang mereka rasakan lebih nyata adalah gerakan yang ‘nyata’ seperti apa adanya, tidak ada manipulasi tokoh atau karakteristik, formasi yang bervariasi menunjukan ungkapan yang bersifat dinamis. Kostum yang modis memberikan motivasi generasi muda untuk mampu memasuki dunia metropolis tanpa merasa canggung. Karena kondisi dan realitasnya yang semakin dirasakan tidak nyata.

Berbagai kreasi seni yang terekspos diberbagai media tidak lagi mempunyai orentasi untuk menjelaskan realitas, akan tetapi menampilkan eksotisme masa lalu, atau imajinere historis yang dipersepsi berdasarkan selera masa kini. Hal ini adalah realitas yang berorentasi pada masa lalu, sehingga tidak mampu menjadi motivasi untuk membangun spirit. Karena hal itu tidak lagi bersifat idealistik, tetapi benar-benar nyata hadir dalam kondisi yang sebenarnya. Jika ingin memahami secara lebih nyata, memahami profil, karakteristik, atau berbagai pola tingkah laku yang bersifat imajinere historis adalah ‘Opera van Java’ atau fenomena fashion on the street.

Gambar 5
Fashion on the street menjadi fenomena yang lebih nyata dari pada kenyataan
(google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox-a&sa)

Tokoh-tokoh yang diekspresikan dalam fenomena panggung tidak lagi mengalami penggalian nilai-nilai, akan tetapi lebih berorentasi pada fenomena yang sedang terjadi. Kekinian dijadikan objek yang lebih nyata, sehingga generasi muda hanya dibawa dalam realitas yang disebut estase. Sebuah cara melupakan realitas diri; kondisi sosial, strata, atau aspek sosial yang memiliki implikasi nilai-nilai tertentu dilupakan dengan cara menertawakan secara bersama-sama. Nilai lama dipendam dalam konsisi komikal, dan tidak lagi sempat direnungi untuk membentuk pribadi yang baru. Berbagai ide untuk mendorong pertunjukan atau atraksi panggung ke ranah jalanan (street) adalah realitas yang bersifat imajinere, kondisi yang tidak nyata dipertontonkan ke tidak nyataannya. Akibatnya tidak mampu membentuk sebuah kepribadian yang telah ditemukan (fenomena penari topeng), tetapi hanya mendorong beramai-rama memasuki dunia yang tidak nyata yaitu mengaktualisikan topeng dalam kehidupan yang nyata. Mengaktualisasikan topeng dalam kehidupan yang nyata tidak memberikan kontribusi pada pembentukan kepribadian, tetapi hanya sensasi dan eksotika masa lalu yang digunakan untuk daya tarik issu yang bersifat konsumtif yang di latar belakangi oleh tujuan ekonomis.

Berbagai realitas yang ditransformasi dalam pola pertunjukan itu sebenarnya tidak lengkap sebagaimana nilai yang hidup pada masanya, tetapi sudah bermetamorfosis dalam kondisi dalam kebudayaan global. Generasi muda yang tidak tetarik oleh seni tari tradisi karena tidak ada realitas, mereka tidak mampu hadir dalam kondisi rielnya. Menurut zaman ini yang riel adalah hadirnya pribadi yang terekspos oleh media masa, kata Tukul “masuk TV”. Kata-kata peresenter komedian itu memberikan gambaran yang nyata. TV adalah kotak ajaib yang mampu mentransformasi diri menjadi lebih nyata dari pada mitos-mitos masa lalu. Jika seorang pemuda naik di atas panggung memerankan tokoh Harjuna. Pada saat ini menjadi tidak menjadi nyata, karena dirinya yang memerankan tokoh Harjuna tenggelam dalam keanehan (eksotika dan romantisme) masa lalu, dan tidak dikenali oleh pemainnya sendiri. Hal ini terjadi ketika seseorang mengenakan busana adat, dia meresakan terjadi keanehan dalam dunia yang nyata.

Gambar 6
Tokoh Harjuna yang peragakan oleh wanita, sebuah cara orang Jawa memahami kehalusan dan kelembutan laki-laki (google.co.id /imgres?imgurl= http://www. pasarsolo.com/ kotasolo).

Kebudayaan global adalah membangun nilai-nilai sosial yang secara nyata dihayati secara konsumtif, bahkan bersifat instan. Kesesaatan yang mampu menggerakan massa menjadi tujuan dalam membangun pasar dan sekaligus mengembangkan budaya konsumtif.

Gambar 7
Para penari EKI Dance Company mementaskan komedi musikal “Jakarta Love Riot” di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (23/2). Pertunjukan yang disutradarai Rusdy Rukmarata dan Nanang Hape tersebut bercerita tentang kisah cinta dari kelas sosial yang berbeda dengan balutan komedi. (KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO) (cabiklunik.blogspot.com/2011_02_01_archive.html)

Berbagai nilai-nilai yang pada mulanya dianggap luhur, simbolis, atau artistik akan saling bertukar dengan realitas materialistik. Idiologi pasar menjadi lebih nyata dari pada idialistik, pandangan yang bersifat primodial menjadi tidak penting, kolektivitas hasil propokasi masa menjadi tujuan atas usaha membangun kelipatan perhitungan ekonomis.

Hitung-hitungan angka pengangguran di Indonesia menjadi tidak dapat ditekan atas kesasaran budaya. Karena pola transformasi masa lalu sudah tidak mampu untuk mengubah pola sosial yang telah mendorong generasi muda memasuki realitas kebudayaan global, kebudayaan yang nyata dialami jika kita mampu melakukan perlawanan dengan mereka yang memiliki modal (kapitalis), popularitas (seleberitis), dan dunia fashion.

Daftar Rujukan
antaranews.com / berita / 305795 / bkkbn- pengangguran- ancaman- generasi- muda, diunduh tanggal 20 April 2012
cabiklunik.blogspot.com/2011_02_01_archive.html
google.co.id /imgres?imgurl= http://www. pasarsolo.com/ kotasolo
google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.blogspot.com
google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox, diunduh tanggal 21 April 2012.
google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox-a&sa, diunduh tanggal 21 April 2012.
Liliweri, Alo. 2005, Prasangka & Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural, LKIS, Yogyakarta.
MacCrecken, Grant, 1984, Transformation, identity Construktion in Contremprary Culture, Bloomington and Indianapolis, Indiana University Press.
ramakertamukti.wordpress.com/2010/01/21/estetika-desain-menurut-hindu, diunduh tanggal 21 April 2012
Zimmer, Heinrich. 2003, Sejarah Filsafat India, Pustakat pelajar, Yogyakarta.

 

Sumber: http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=1308

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s