Kesenian di Sidoarjo

Kesenian tradisional (rakyat) yang banyak berkembang dalam wilayah budaya Arek adalah Ludruk, Wayang Kulit Jawa Timuran (Wayang Jek Dong), Tayub, Jaranan, dan berbagai kesenian bercorak Islam seperti dibaan, terbangan, hadrah, dan sebagainya. Sementara kesenian modern berkembang di pusat kota. Dan meski bukan menjadi ciri kesenian di wilayah budaya Arek, di Sidoarjo juga terdapat wayang Potehi (pengaruh kesenian China).

Dalam perspektif interaksi sosio-ekonomi dan kultural antara Surabaya dan kota sekitarnya inilah maka perkembangan kesenian di Kabupaten Sidoarjo banyak dipengaruhi oleh Surabaya. Unsur budaya Arek, seperti budaya Mataraman dan komunitas Nahdliyin, merupakan 2 unsur terbesar dalam masyarakat Sidoarjo. Pengaruh budaya Islam di Sidoarjo nampak dari banyaknya masyarakat Islam Nahdliyin yang pada akhirnya melahirkan seni Samroh, Dibaan, Terbangan, Yasinan, dan Hadrah. Sedangkan pengaruh Mataraman nampak dari seni wayang kulit. Di Sidoarjo juga terdapat ludruk, seperti di Surabaya, Mojokerto, dan Jombang. Namun Sidoarjo juga dipengaruhi oleh budaya pesisiran, yang memunculkan ekspresi kesenian tersendiri di kawasan timur.

Kesenian tradisional Sidoarjo jenisnya hampir sama dengan kesenian tradisional Surabaya seperti ludruk, ketoprak, hadrah, wayang kulit, dan sebagainya. Hanya saja frekuensi aktivitas dan jenis kesenian tradisional Surabaya lebih banyak daripada Sidoarjo. Banyak kesenian tradisional Sidoarjo dimainkan (ditanggap) di Surabaya. Begitu pula sebaliknya kesenian tradisional Surabaya pernah main di Sidoarjo. Kesenian tradisional itu biasanya main di tempat orang hajatan, bagian dari acara hiburan dalam rangka memperingati hari nasional atau hari kota/kabupaten, untuk kepentingan komersial seperti main di lapangan berhari-hari, main di gedung kesenian seperti THR (Taman Hiburan Rakyat) di Surabaya, dan sangat sedikit frekuensinya yang bermain untuk acara apresiasi seni.

Kesenian tradisional itu biasanya diturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya tanpa perubahan yang berarti. Karena itu jenis dan pola kesenian tradisional dari waktu ke waktu cenderung tidak berubah. Faktor statis inilah yang menyebabkan kesenian tradisional dalam pola perkembangannya sesuai dengan pola budaya kewilayahan. Secara kultural, kewilayahan kesenian tradisional Sidoarjo bagian besar dari budaya Mataraman yang menyebar dari Ngawi, Kediri, Madiun, Nganjuk, Mojokerto, hingga Sidoarjo. Kesenian tradisional Sidoarjo secara kultural banyak dipengaruhi budaya Mataraman sedangkan secara kewilayahan juga dipengaruhi budaya Arek.

Sedangkan kesenian modern Sidoarjo berkembang menyerupai perkembangan kesenian modern Surabaya. Banyak seniman modern yang studi di beberapa perguruan tinggi di Surabaya dan Jogjakarta. Pelukis Hening Purnamawati, Rilantono, Nonot Sukrasmono, Sinarto, Amdo Brada, R. Giryadi, Farid Syamlan, Nasar Bathati dan Chusnul Hadi, adalah sebagian dari seniman-seniman yang berdomisili di Sidoarjo namun lebih banyak aktif di Surabaya. Banyak juga seniman yang berkembang secara otodidak dan memperoleh pengetahuan dari pergaulan dengan seniman senior meskipun sebenarnya lulus dari fakultas bukan kesenian, utamanya para sastrawan. Mereka adalah Suharmono Kasiyun, almarhum Max Arifin pernah tinggal di Sidoarjo yang akhirnya meninggal di Mojokerto.

Seniman modern Sidoarjo juga banyak yang berkembang lewat studi di sanggar atau kelompok seni dari Surabaya. Biasanya model seniman ini berkembang pesat dari pengaruh pergaulan dengan berbagai seniman nasional dan intensif dalam pameran lukisan. Misalnya saja, pelukis seperti Wadji MS, Beni Dewo, dan Bambang Hariadji (alias Bambang Telo). Sementara penulis sastra (puisi) Roesdi Zaki adalah anggota senior Bengkel Muda Surabaya merupakan penulis sastra yang cukup produktif.

Akibat perkembangan kota Sidoarjo yang sedemikian pesat, banyak dibangun kompleks-kompleks perumahan baru. Hal ini banyak mengundang para pendatang dari Surabaya yang yang kemudian menjadi penduduk Sidoarjo namun aktivitasnya tetap di Surabaya. Tidak terkecuali kalangan seniman. Sehingga, banyak seniman Sidoarjo lebih aktif berkesenian di Surabaya daripada di kotanya sendiri. Mereka hanya bertempat tinggal di Sidoarjo. Karena itu aktivitas kesenian modern di Sidoarjo relatif lebih sedikit daripada Surabaya. Bahkan Dewan Kesenian Sidoarjo secara formal baru dibentuk pada tahun 1994, sementara Dewan Kesenian Surabaya telah berdiri sejak tahun 1971.

Tetapi keberadaan seniman-seniman yang hanya “numpang KTP” di Sidoarjo itu tidak perlu disikapi secara sinis. Tuntutan pekerjaan memang mengharuskan mereka lebih banyak aktif di Surabaya, disamping iklim berkesenian di Surabaya memang lebih kondusif dibanding Sidoarjo. Lagi pula, Surabaya tidak bisa semata-mata hanya dipandang sebagai luar kotanya Sidoarjo, tetapi Surabaya adalah ibukota propinsi Jawa Timur. Justru Sidoarjo harus bangga karena banyak senimannya yang berkiprah di tingkat propinsi, termasuk tingkat nasional di Jakarta dan internasional kalau ada, dan bukan malah menjadikan mereka sebagai jago kandang yang hanya sibuk di kotanya sendiri saja.

Dan kalau mau menelusur agak ke belakang, Sidoarjo pernah punya penyanyi terkenal, namanya Arie Kusmiran. Pelawak Doyok Sudarmaji itu juga asalnya dari Porong, juga Basman (alm) dan Agus Kuprit serta Munali Patah (alm).

 

Sumber: http://dekesda.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s