SPECIAL HOLIDAY CLASS IN JUNE!

Ngapain nih ngisi liburan?

Gimana kalau ikut sesi khusus liburan di studio spectra, tamasa, waru, sidoarjo.

Kelas Special Holiday. Setiap Rabu dan Jumat (@1jam)

Kelas anak: 11.00-12.00 | materi: Tari Tikus Pithi

Kelas remaja/dewasa: jam 12.00-13.00 | materi: Tari Zafin Mandilingan

KELAS START TANGGAL 26 JUN – 12 JUL.
DAFTAR SEKARANG! KELAS DIBUKA MINIMAL 6 org/kelas. HANYA Rp 45.000/orang (utk 6x sesi).

DISKON Biaya Pendaftaran 14%

DAFTAR LANGSUNG KE STUDIO TANGGAL 22 jam 16.00 dan 23 jam 11.00. Atau sms ke 03172508132.

Jangan smpe telat daftar ya. Program tdk dpt dikurangi waktu dan biaya.

HANYA DI STUDIO 1, PERUM TAMASA, WARU, SIDOARJO.

TARI SOLAH KETINGAN

20130324_173019 copy

Tari Solah Ketingan diciptakan oleh Agustinus, S.Sn. Tari ini mengambil inspirasi dari sebuah desa pesisir di Sidoarjo, Jawa Timur yang terpencil namun memiliki sejarah tersendiri, yaitu Desa Kepetingan (Ketingan). Ikon sejarah desa ini yaitu Putri Ketingan alias Dewi Sekardadu yang adalah Ibunda dari Sunan Giri. Nama Putri Ketingan dimasukkan ke dalam lirik tari Solah Ketingan untuk lebih memperkuat isi dari tari ini.
Tari ini di dominasi dengan gerak-gerak riang, lincah, tegas dan ayu yang mungkin tujuannya untuk menunjukkan bahwa warga desa Kepetingan adalah warga yang riang dan kuat meskipun mereka hidup di wilayah pesisir yang terpencil. Terinpirasi dari jiwa Dewi Sekardadu yang pantang menyerah ketika ingin menyelamatkan anaknya yang dibuang di laut.

TARI BANJAR KEMUNING

Tari Banjar Kemuning diciptakan oleh Agustinus,S.Sn. Tari ini mengambil inspirasi dari sebuah desa yang terletak di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur yaitu Desa Banjar Kemuning. Desa ini adalah desa pesisir dimana masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai nelayan. Tarian ini menggambarkan kehidupan para istri nelayan yang tegar, kuat, namun juga luwes menghadapi sulitnya hidup ketika ditinggal para suaminya berlayar. Selalu memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa dalam kesehariannya.

Kostum Tari Banjar Kemuning Terdiri dari rok yang bisa melebar dan atasan tali leher serta cunduk melintang di atas sanggul kepala. Sekilas terlihat seperti tata rambut ala budaya china. Tari ini juga menggunakan gongseng seperti Remo. Warna kostum yang original adalah warna biru-kuning seperti tampak pada foto di atas. Namun kini telah ada modifikasi dengan warna-warna lain seperti Pink dan Ungu.  Dibandingkan dengan tari-tari lainnya, tari Banjar Kemuning tampak minim dengan aksesoris seperti kalung dan gelang, namun mungkin inilah ciri khas untuk menggambarkan kesederhanaan masyarakat Banjar Kemuning dan dengan menambahkan gongseng, menambah kesan kekuatan dalam setiap langkah kaki seperti yang tergambar dalam tari Remo.

Kesenian di Sidoarjo

Kesenian tradisional (rakyat) yang banyak berkembang dalam wilayah budaya Arek adalah Ludruk, Wayang Kulit Jawa Timuran (Wayang Jek Dong), Tayub, Jaranan, dan berbagai kesenian bercorak Islam seperti dibaan, terbangan, hadrah, dan sebagainya. Sementara kesenian modern berkembang di pusat kota. Dan meski bukan menjadi ciri kesenian di wilayah budaya Arek, di Sidoarjo juga terdapat wayang Potehi (pengaruh kesenian China).

Dalam perspektif interaksi sosio-ekonomi dan kultural antara Surabaya dan kota sekitarnya inilah maka perkembangan kesenian di Kabupaten Sidoarjo banyak dipengaruhi oleh Surabaya. Unsur budaya Arek, seperti budaya Mataraman dan komunitas Nahdliyin, merupakan 2 unsur terbesar dalam masyarakat Sidoarjo. Pengaruh budaya Islam di Sidoarjo nampak dari banyaknya masyarakat Islam Nahdliyin yang pada akhirnya melahirkan seni Samroh, Dibaan, Terbangan, Yasinan, dan Hadrah. Sedangkan pengaruh Mataraman nampak dari seni wayang kulit. Di Sidoarjo juga terdapat ludruk, seperti di Surabaya, Mojokerto, dan Jombang. Namun Sidoarjo juga dipengaruhi oleh budaya pesisiran, yang memunculkan ekspresi kesenian tersendiri di kawasan timur.

Kesenian tradisional Sidoarjo jenisnya hampir sama dengan kesenian tradisional Surabaya seperti ludruk, ketoprak, hadrah, wayang kulit, dan sebagainya. Hanya saja frekuensi aktivitas dan jenis kesenian tradisional Surabaya lebih banyak daripada Sidoarjo. Banyak kesenian tradisional Sidoarjo dimainkan (ditanggap) di Surabaya. Begitu pula sebaliknya kesenian tradisional Surabaya pernah main di Sidoarjo. Kesenian tradisional itu biasanya main di tempat orang hajatan, bagian dari acara hiburan dalam rangka memperingati hari nasional atau hari kota/kabupaten, untuk kepentingan komersial seperti main di lapangan berhari-hari, main di gedung kesenian seperti THR (Taman Hiburan Rakyat) di Surabaya, dan sangat sedikit frekuensinya yang bermain untuk acara apresiasi seni.

Kesenian tradisional itu biasanya diturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya tanpa perubahan yang berarti. Karena itu jenis dan pola kesenian tradisional dari waktu ke waktu cenderung tidak berubah. Faktor statis inilah yang menyebabkan kesenian tradisional dalam pola perkembangannya sesuai dengan pola budaya kewilayahan. Secara kultural, kewilayahan kesenian tradisional Sidoarjo bagian besar dari budaya Mataraman yang menyebar dari Ngawi, Kediri, Madiun, Nganjuk, Mojokerto, hingga Sidoarjo. Kesenian tradisional Sidoarjo secara kultural banyak dipengaruhi budaya Mataraman sedangkan secara kewilayahan juga dipengaruhi budaya Arek.

Sedangkan kesenian modern Sidoarjo berkembang menyerupai perkembangan kesenian modern Surabaya. Banyak seniman modern yang studi di beberapa perguruan tinggi di Surabaya dan Jogjakarta. Pelukis Hening Purnamawati, Rilantono, Nonot Sukrasmono, Sinarto, Amdo Brada, R. Giryadi, Farid Syamlan, Nasar Bathati dan Chusnul Hadi, adalah sebagian dari seniman-seniman yang berdomisili di Sidoarjo namun lebih banyak aktif di Surabaya. Banyak juga seniman yang berkembang secara otodidak dan memperoleh pengetahuan dari pergaulan dengan seniman senior meskipun sebenarnya lulus dari fakultas bukan kesenian, utamanya para sastrawan. Mereka adalah Suharmono Kasiyun, almarhum Max Arifin pernah tinggal di Sidoarjo yang akhirnya meninggal di Mojokerto.

Seniman modern Sidoarjo juga banyak yang berkembang lewat studi di sanggar atau kelompok seni dari Surabaya. Biasanya model seniman ini berkembang pesat dari pengaruh pergaulan dengan berbagai seniman nasional dan intensif dalam pameran lukisan. Misalnya saja, pelukis seperti Wadji MS, Beni Dewo, dan Bambang Hariadji (alias Bambang Telo). Sementara penulis sastra (puisi) Roesdi Zaki adalah anggota senior Bengkel Muda Surabaya merupakan penulis sastra yang cukup produktif.

Akibat perkembangan kota Sidoarjo yang sedemikian pesat, banyak dibangun kompleks-kompleks perumahan baru. Hal ini banyak mengundang para pendatang dari Surabaya yang yang kemudian menjadi penduduk Sidoarjo namun aktivitasnya tetap di Surabaya. Tidak terkecuali kalangan seniman. Sehingga, banyak seniman Sidoarjo lebih aktif berkesenian di Surabaya daripada di kotanya sendiri. Mereka hanya bertempat tinggal di Sidoarjo. Karena itu aktivitas kesenian modern di Sidoarjo relatif lebih sedikit daripada Surabaya. Bahkan Dewan Kesenian Sidoarjo secara formal baru dibentuk pada tahun 1994, sementara Dewan Kesenian Surabaya telah berdiri sejak tahun 1971.

Tetapi keberadaan seniman-seniman yang hanya “numpang KTP” di Sidoarjo itu tidak perlu disikapi secara sinis. Tuntutan pekerjaan memang mengharuskan mereka lebih banyak aktif di Surabaya, disamping iklim berkesenian di Surabaya memang lebih kondusif dibanding Sidoarjo. Lagi pula, Surabaya tidak bisa semata-mata hanya dipandang sebagai luar kotanya Sidoarjo, tetapi Surabaya adalah ibukota propinsi Jawa Timur. Justru Sidoarjo harus bangga karena banyak senimannya yang berkiprah di tingkat propinsi, termasuk tingkat nasional di Jakarta dan internasional kalau ada, dan bukan malah menjadikan mereka sebagai jago kandang yang hanya sibuk di kotanya sendiri saja.

Dan kalau mau menelusur agak ke belakang, Sidoarjo pernah punya penyanyi terkenal, namanya Arie Kusmiran. Pelawak Doyok Sudarmaji itu juga asalnya dari Porong, juga Basman (alm) dan Agus Kuprit serta Munali Patah (alm).

 

Sumber: http://dekesda.wordpress.com/

Desa Kepetingan (Ketingan) & Tari Solah Ketingan (putri ketingan)

Sangat dimungkinkan, banyak sekali orang tidak mengetahui Tari Solah Ketingan (putri ketingan). Sebagai tari kreasi tradisi, tari ini sangat minim diketahui dan dipelajari. Apalagi asal muasal judul tari ini yang ternyata bersumber dari sebuah desa bernama Desa Kepetingan di Sidoarjo, Jawa Timur yang memiliki riwayat sejarah yang menarik.

Di desa inilah Ibunda Sunan Giri, Dewi Sekardadu, konon beristirahat sejak abad ke-14. Makamnya cukup megah karena beberapa tahun lalu dipugar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Ada joglo untuk peristirahatan pengunjung. Makam ini sering dikunjungi oleh peminat ziarah wali, peneliti dan peminat supranatural.

Angka kunjungan meningkat menjelang upacara nyadran alias petik laut yang diselenggarakan setahun dua kali. Menjelang Ramadan dan Bulan Maulud. Beberapa penduduk desa ini hafal sejarah makam Dewi Sekardadu, dengan pakem seragam. Bahwa perempuan ini bernasib malang. Dia mencari-cari bayinya di tengah laut namun tidak menemukan. Yang terjadi, dia tewas, lantas digotong ikan-ikan keting untuk didamparkan di tempat ini, yang kini dinamai Desa Ketingan atau Kepetingan.

Putri Blambangan yang Malang

Dewi Sekardadu sesungguhnya adalah putri Prabu Menak Sembuyu, Penguasa Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, pada abad ke-14. Samadi, juru kunci makam menjelaskan, Blambangan suatu ketika didera wabah penyakit. Dewi Sekardadu sendiri sakit. Tabib-tabib terkenal didatangkan namun tak satu pun yang bisa menyembuhkan penyakit, baik penyakit Dewi Sekardadu maupun warga desa.

“Raja pun membuat sayembara, barangsiapa bisa menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu, ia berhak menjadi suami sang dewi jelita itu. Namun lagi-Iagi tidak ada yang bisa menyembuhkan. Hingga akhirnya, Prabu Menak Sembuyu bermimpi bahwa yang bisa menyembuhkan putrinya adalah ulama

Muslim bernama Syeh Maulana Iskak yang berdiam di sekitar Gresik, Jawa Timur,” beber Samadi. Maka diutuslah patih kerajaan untuk menemui Syeh Maulana Iskak. Syeh Maulana Iskak pun berangkat ke Tanah Blambangan. “Singkat cerita, Dewi Sekardadu berhasil disembuhkan. Maka, dinikahkanlah Syeh Maulana Iskak dengan Dewi Sekardadu.

Setelah menikah mereka tinggal di Blambangan. Syeh Maulana Iskak sangat disayangi penduduk Blambangan,” kata Samadi. Orang-orang kepercayaan raja mengail di air keruh. Mereka juga tidak rela rakyat demikian menyayangi Syeh Maulana Iskak. Intrik demi intrik dilakukan, hingga raja semakin membenci Syeh Maulana Iskak. Bahkan Dewi Sekardadupun tidak lagi akur dengan suaminya. Syeh Maulana Iskak akhirnya meninggalkan istana untuk berdakwah di tempat lain. Saat itu Dewi Sekardadu hamil-tua.

Bayi yang dikandung Dewi Sekardadu lahir tahun 1365 M. Namun bayi tersebut tidak diinginkan para petinggi kerajaan yang haus kekuasaan. Bayi tersebut diculik, ditempatkan di sebuah peti yang kemudian dipaku dan dibuang ke laut. Itusebabnya bayi tersebut juga dinamai Raden Paku.

Mengetahui anaknya dibuang ke laut, Dewi Sekardadu menceburkan diri, mengejar-ngejar anaknya di laut. Dewi Sekardadu tak bisa mengejar peti yang terapungapung di laut, lantas meninggal.

Di wilayah Balongdowo Sidoarjo, pada tahun 1365 tersebut, para nelayan sedang mencari ikan dan kerang di laut. Mereka dikejutkan dengan serombongan ikan keting yang ramai-ramai menggotong jasad seorang wanita cantik, yang diyakini Dewi Sekardadu. Jasad yang akhirnya  didamparkan ikan-ikan keting di pantai, lantas dikubur secara terhormat oleh warga. Tempat itu akhirnya dinamakan Ketingan alias Kepetingan.

Bagaimana dengan bayi Dewi Sekardadu yang terapung-apung itu? Selamatkah dia? Ternyata bayi tersebut selamat. Seorang pengusaha kapal ikan perempuan mengambil bayi yang kemudian dinamai Raden Paku dan dikenal dengan sebutan Sunan Giri tersebut.

Namun kisah Dewi Sekardadu ini punya banyak versi. Beberapa tempat seperti Gresik dan Lamongan, konon juga diakui sebagai makam Dewi Sekardadu. Entah versi mana yang benar. Namun nelayan-nelayan di sini sangat yakin, makam Dewi Sekardadu yang asli ya yang di kampong mereka.

Nah, Dewi Sekardadu yang adalah Ibunda dari Sunan Giri ini yang disebutkan di dalam lirik lagu tari Solah Ketingan “putri ketingan”. Sebagai sebuah tari kreasi, tari Solah Ketingan bukan sekedar tari hiburan tapi tari ini jika dicermati dengan menyimak lirik lagu di dalamnya, mengandung makna sosial dan historis. Tari ini sangat penting dilestarikan terutama oleh Dinas Kesenian Sidoarjo untuk mengangkat wilayah Sidoarjo. Semoga di masa depan akan ada tari khas Sidoarjo, seperti Remo yang menjadi khas tari Surabaya.

Disunting dari http://jawatimuran.wordpress.com