PENTINGNYA OLAH TUBUH BAGI PENARI

Kesiapan tubuh secara fisik bagi seorang penari sangat vital keberadaannya untuk melakukan aktifitas gerak tari. Keterampilan tari yang dimiliki dapat dibentuk melalui kesiapan organ-organ tubuh (fisik) yang akan digunakan untuk melakukan gerak. Untuk melakukan gerak tari dengan terampil perlu adanya kesiapan fisik yang prima. Kondisi ini dapat dicapai apabila seorang penari dengan sadar melakukan kesiapan-kesiapan seluruh organ tubuh dengan rutin (continue). Dengan arti kata lain, bahwa secara sadar seorang penari harus melakukan pengolahan gerak tubuh secara merata dan sempurna.

Pengertian pengolahan tubuh bagi seorang penari atau sering disebut dengan olah tubuh adalah suatu kegiatan manusia mengolah tubuh yang dengan sengaja menjadikan barang mentah menjadi barang jadi, sehingga siap untuk dipergunakan. Kegiatan ini mengandung maksud yaitu usaha mempersiapkan organ tubuh dalam keadaan stabil (tetap/normal) menjadi kondisi yang labil (lentur/mudah bergerak). Perkataan olah tubuh menunjukkan bahwa tekanan aktivitas pada pengolahan tubuh manusia seutuhnya meliputi jiwa dan raga, yang menjadi satu kesatuan (Sumedi, 1:86).

Olah tubuh bagi seorang penari adalah suatu bentuk aktivitas yang dilakukan dengan jalan melakukan susunan latihan yang teratur meliputi otot-otot, persendian, dan seluruh organ tubuh agar selalu siap berfungsi bergerak dengan baik dan optimal serta diharapkan mampu menambah kualitas gerak.

Di dalam menari, gerak-gerak yang dilakukan oleh penari tentunya memiliki tuntutan tertentu walaupun pada prinsipnya adalah menggerakkan sekmen-sekmen tubuh. Melihat kontek gerak dalam tari dengan tuntutan nilai estetik, maka tidaklah sekedar menggerakkan tubuh seperti dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mudah memunculkan nilai estetik (yang abstrak) tanpa didahului dengan proses gerak tubuh (materi) yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Untuk itu bermula dari kemampuan melakukan gerakan-gerakan tubuh, seorang penari mengkomunikasikan perasaannya dengan bahasa gerak. Maka yang terpenting dalam hal ini berpangkal dari tubuh manusia yang menjadi titik tolak sebagai bahasa dalam seni tari.

Seorang penari harus sadar akan kemampuan, kelebihan dan kekurangan dari tubuh yang dimiliki, untuk kemudian melatihnya agar jangkauan geraknya dapat lebih leluasa (Murgiyanto, 1983). Setiap gerakan dalam setiap sekmen tubuh harus dilatih secara bertahap dan kontinu yang meliputi dari tiga aspek, yaitu:

  • Tenaga: berhubungan dengan stamina yang dimiliki untuk melakukan gerak cepat,keras, kencang dan sebagainya.
  • Ruang: yaitu upaya sekmen tubuh dapat digerakkan ke berbagai arah yang memakan/menempati ruang.
  • Waktu: berhubungan dengan durasi yang diperlukan untuk dilakukan dalam melakukan latihan olah tubuh dan idealnya adalah dalam waktu yang stabil, misalnya satu hari satu kali @60 menit.

Olah tubuh dalam seni tari erat kaitannya dengan pelatihan fisik penari. Karena melatih kondisi fisik bagi penari sangat penting untuk mengembangkan kemampuannya dalam menari. Beberapa kondisi fisik yang perlu dilatih antara lain:

  1. Kekuatan (strength)
  2. Kecepatan (speed)
  3. Daya tahan (endurance)
  4. Kelincahan (flexibility)
  5. Koordinasi (coordination)
  6. Ketetapan (accuracy)

Kesiapan tubuh seorang penari akan berdampak pada kualitas gerak tari. Kualitas gerak tari terkait pada unsur-unsur gerak yang meliputi:

  • Bentuk: rumit dan sederhananya gerakan
  • Volume: luas dan sempitnya  gerak
  • Tekanan: keras dan lemahnya gerakan
  • Tempo; cepat dan lambatnya gerakan

Jika kondisi fisik penari prima, baik sebelum menari ataupun setelah menari, akan memberikan keleluasaan bagi penari penari untuk lebih fokus pada imajinasi, ekspresi dan penghayatan tarian. Karena jika salah satu sekmen tubuh tidak dalam kondisi prima maka akan terganggu pula seluruh penampilan yang dibawakan.

METODE LATIHAN OLAH TUBUH

Menggunakan metode latihan olah tubuh diharapkan akan membuat gerakan menjadi teratur dan sistematis sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan dan terkontrol. Adapun susunan pelatihan olah tubuh adalah sebagai berikut:

1. Pemanasan.

Kegunaaan pemanasan dalam latihan olah tubuh adalah:

  • Menyiapkan anatomis, physiologist dan psychologist penari dalam berlatih
  • Sebagai pencegahan terhadap terjadinya cedera selama menjalankan aktivitas.

2. Latihan inti

Secara umum latihan inti terdiri dari:

  • Latihan tubuh

Latihan tubuh pada prinsipnya mempunyai sifat untuk memperbaiki dan membenarkan kesalahan-kesalahan ringan yang terdapat pada tubuh, yang terdiri dari:

  • Latihan pelemasan
  • Latihan peng-uluran
  • Latihan penguatan
  • Latihan pelepasan
  • Latihan Keseimbangan

Tujuan Latihan keseimbangan adalah untuk mempertinggi perasaan keseimbangan dan perasaan kerja otot serta memiliki arti dan fungsi yang besar dalam membentuk sikap gerak.

  • Latihan Kekuatan/ketangkasan

Perlu dibedakan antara latihan penguatan dan latihan kekuatan.

Latihan penguatan adalah untuk menguatkan otot-otot setempat yang lemah, maka tidak menyangkut kualitas kemampuan tubuh.

Latihan kekuatan adalah meningkatkan kualitas kemampuan tubuh secara keseluruhan.

Latihan ketangkasan berhubungan dengan kelincahan dan kecepatan. Cepat dalammengambil tindakan dan selain itu ketangkasan menambah keberanian, ketahanan dan penguasaan diri.

  • Latihan penutup (penenangan)

Tujuan latihan penenangan adalah untuk membawa suhu badan dan kerja organ-organ tubuh kembali dalam keadaan biasa/normal seperti saat sebelum latihan. Sehingga tubuh siap untuk kembali siap melakukan kegiatan lain setelahnya.

Disadur dari HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI, MANFAAT OLAH TUBUH BAGI SEORANG PENARI, Moh. Hasan Bisri (staf pengajar jurusan sendratasik FBS UNNES), 2001

Persyaratan Menjadi Penari Bedhaya Ketawang

TIDAK mudah menjadi seorang penari Bedhaya Ketawang. Ada sederet peraturan yang mengikat, untuk bisa tampil menjadi penari tarian sakral yang sangat fenomenal tersebut.

Tak heran, begitu terpilih menjadi penari Bedhaya Ketawang, maka pamor sang penari itu pun melejit seiring kebanggaannya menjadi penari kerajaan.

Kepada Soloblitz, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, atau biasa disapa Gusti Moeng, menjelaskan untuk menyeleksi penari Bedhaya Ketawang, dibutuhkan waktu tahunan, bahkan belasan tahun.

Jika dulu para penari Bedhaya Ketawang diambil dari putri para Pangeran, dan para Adipati, namun kini tidak lagi demikian. Sekarang, Keraton Surakarta mulai melakukan kaderisasi sejak dini melalui sanggar tari yang ada di Keraton. Pesertanya pun boleh dari kalangan masyarakat biasa.

“Disitu anak-anak kecil, sudah kita latih tari halus gaya Keraton Surakarta. Dan ketika mereka bertahan sampai remaja, serta memenuhi syarat, baru kita ambil sebagai penari Bedhaya Ketawang,” ujar Gusti Moeng.

Syarat sebagai seorang penari Bedhaya Ketawang diantaranya menguasai gerakan dasar beksan Ketawang secara baik, memahami budaya Jawa, beretika, postur dan raut wajah memenuhi syarat, serta mempunyai daya tahan fisik yang bagus. Maklum saja, ketika digelar Bedhaya Ketawang sendiri berdurasi lebih dari dua jam. Selain itu juga ada syarat khusus yaitu masih perawan, atau belum tersentuh pria.

“Ditambah lagi masih harus betah laku prihatin atau tirakat, seperti puasa, mutih, dan lainnya, sehingga selalu beriman kepada Tuhan YME,” beber Gusti Moeng.

Dari sekian banyak yang diseleksi, nantinya hanya 12 orang saja yang akan diambil. Itu pun masih akan diseleksi lagi, hingga tinggal 9 orang saja yang menjadi penari inti Bedhaya Ketawang.

Mereka yang nantinya menempati 9 posisi urutan penari Bedhaya Ketawang dari selatan ke utara, yaitu Batak, Endel Ajeg, Endel Weton, Apit Ngarep, Apit Wingking, Apit Meneng, Gulu, Dada, dan Buncit.

Para penari itulah yang akan digembleng setiap 35 hari sekali, dan sepekan non stop menjelang Tingalan Jumenengan berlangsung.

Dan di hari Senin (3/6/2013) ini, para penari Bedhaya Ketawang sudah dipaes (rias) dan menjalani pingitan di Gedhong Bedhaya selama sehari semalam, hingga Tingalan Jumenengan berlangsung besok Selasa (4/6/2013).

“Tujuannya ya supaya terjaga kondisinya, baik lahir maupun batin karena tugas mereka sangat berat, yaitu membawakan Bedhaya Ketawang,” jelas Gusti Moeng.

Deniawan Tommy Chandra Wijaya |@deniawantommy

Sumber

PENTINGNYA OLAH TUBUH BAGI PENARI

Kesiapan tubuh secara fisik bagi seorang penari sangat vital keberadaannya untuk melakukan aktifitas gerak tari. Keterampilan tari yang dimiliki dapat dibentuk melalui kesiapan organ-organ tubuh (fisik) yang akan digunakan untuk melakukan gerak. Untuk melakukan gerak tari dengan terampil perlu adanya kesiapan fisik yang prima. Kondisi ini dapat dicapai apabila seorang penari dengan sadar melakukan kesiapan-kesiapan seluruh organ tubuh dengan rutin (continue). Dengan arti kata lain, bahwa secara sadar seorang penari harus melakukan pengolahan gerak tubuh secara merata dan sempurna.

Pengertian pengolahan tubuh bagi seorang penari atau sering disebut dengan olah tubuh adalah suatu kegiatan manusia mengolah tubuh yang dengan sengaja menjadikan barang mentah menjadi barang jadi, sehingga siap untuk dipergunakan. Kegiatan ini mengandung maksud yaitu usaha mempersiapkan organ tubuh dalam keadaan stabil (tetap/normal) menjadi kondisi yang labil (lentur/mudah bergerak). Perkataan olah tubuh menunjukkan bahwa tekanan aktivitas pada pengolahan tubuh manusia seutuhnya meliputi jiwa dan raga, yang menjadi satu kesatuan (Sumedi, 1:86).

Olah tubuh bagi seorang penari adalah suatu bentuk aktivitas yang dilakukan dengan jalan melakukan susunan latihan yang teratur meliputi otot-otot, persendian, dan seluruh organ tubuh agar selalu siap berfungsi bergerak dengan baik dan optimal serta diharapkan mampu menambah kualitas gerak.

Di dalam menari, gerak-gerak yang dilakukan oleh penari tentunya memiliki tuntutan tertentu walaupun pada prinsipnya adalah menggerakkan sekmen-sekmen tubuh. Melihat kontek gerak dalam tari dengan tuntutan nilai estetik, maka tidaklah sekedar menggerakkan tubuh seperti dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mudah memunculkan nilai estetik (yang abstrak) tanpa didahului dengan proses gerak tubuh (materi) yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Untuk itu bermula dari kemampuan melakukan gerakan-gerakan tubuh, seorang penari mengkomunikasikan perasaannya dengan bahasa gerak. Maka yang terpenting dalam hal ini berpangkal dari tubuh manusia yang menjadi titik tolak sebagai bahasa dalam seni tari.

Seorang penari harus sadar akan kemampuan, kelebihan dan kekurangan dari tubuh yang dimiliki, untuk kemudian melatihnya agar jangkauan geraknya dapat lebih leluasa (Murgiyanto, 1983). Setiap gerakan dalam setiap sekmen tubuh harus dilatih secara bertahap dan kontinu yang meliputi dari tiga aspek, yaitu:

  • Tenaga: berhubungan dengan stamina yang dimiliki untuk melakukan gerak cepat,keras, kencang dan sebagainya.
  • Ruang: yaitu upaya sekmen tubuh dapat digerakkan ke berbagai arah yang memakan/menempati ruang.
  • Waktu: berhubungan dengan durasi yang diperlukan untuk dilakukan dalam melakukan latihan olah tubuh dan idealnya adalah dalam waktu yang stabil, misalnya satu hari satu kali @60 menit.

Olah tubuh dalam seni tari erat kaitannya dengan pelatihan fisik penari. Karena melatih kondisi fisik bagi penari sangat penting untuk mengembangkan kemampuannya dalam menari. Beberapa kondisi fisik yang perlu dilatih antara lain:

  1. Kekuatan (strength)
  2. Kecepatan (speed)
  3. Daya tahan (endurance)
  4. Kelincahan (flexibility)
  5. Koordinasi (coordination)
  6. Ketetapan (accuracy)

Kesiapan tubuh seorang penari akan berdampak pada kualitas gerak tari. Kualitas gerak tari terkait pada unsur-unsur gerak yang meliputi:

  • Bentuk: rumit dan sederhananya gerakan
  • Volume: luas dan sempitnya  gerak
  • Tekanan: keras dan lemahnya gerakan
  • Tempo; cepat dan lambatnya gerakan

Jika kondisi fisik penari prima, baik sebelum menari ataupun setelah menari, akan memberikan keleluasaan bagi penari penari untuk lebih fokus pada imajinasi, ekspresi dan penghayatan tarian. Karena jika salah satu sekmen tubuh tidak dalam kondisi prima maka akan terganggu pula seluruh penampilan yang dibawakan.

METODE LATIHAN OLAH TUBUH

Menggunakan metode latihan olah tubuh diharapkan akan membuat gerakan menjadi teratur dan sistematis sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan dan terkontrol. Adapun susunan pelatihan olah tubuh adalah sebagai berikut:

1. Pemanasan.

Kegunaaan pemanasan dalam latihan olah tubuh adalah:

  • Menyiapkan anatomis, physiologist dan psychologist penari dalam berlatih
  • Sebagai pencegahan terhadap terjadinya cedera selama menjalankan aktivitas.

2. Latihan inti

Secara umum latihan inti terdiri dari:

  • Latihan tubuh

Latihan tubuh pada prinsipnya mempunyai sifat untuk memperbaiki dan membenarkan kesalahan-kesalahan ringan yang terdapat pada tubuh, yang terdiri dari:

  • Latihan pelemasan
  • Latihan peng-uluran
  • Latihan penguatan
  • Latihan pelepasan
  • Latihan Keseimbangan

Tujuan Latihan keseimbangan adalah untuk mempertinggi perasaan keseimbangan dan perasaan kerja otot serta memiliki arti dan fungsi yang besar dalam membentuk sikap gerak.

  • Latihan Kekuatan/ketangkasan

Perlu dibedakan antara latihan penguatan dan latihan kekuatan.

Latihan penguatan adalah untuk menguatkan otot-otot setempat yang lemah, maka tidak menyangkut kualitas kemampuan tubuh.

Latihan kekuatan adalah meningkatkan kualitas kemampuan tubuh secara keseluruhan.

Latihan ketangkasan berhubungan dengan kelincahan dan kecepatan. Cepat dalammengambil tindakan dan selain itu ketangkasan menambah keberanian, ketahanan dan penguasaan diri.

  • Latihan penutup (penenangan)

Tujuan latihan penenangan adalah untuk membawa suhu badan dan kerja organ-organ tubuh kembali dalam keadaan biasa/normal seperti saat sebelum latihan. Sehingga tubuh siap untuk kembali siap melakukan kegiatan lain setelahnya.

Disadur dari HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI, MANFAAT OLAH TUBUH BAGI SEORANG PENARI, Moh. Hasan Bisri (staf pengajar jurusan sendratasik FBS UNNES), 2001

TARI EBLAS

Versi pertama Eblas

Versi pertama tari Eblas

Tari Eblas Versi kini

 

Tari EBLAS adalah tari kreasi tradisional yang menceritakan tentang gadis-gadis madura yang cantik, feminin, luwes, lincah dan ceria.

Tari Eblas awal diciptakan berangkat dari ide keberadaan Topeng sebagai sebuah karya seni unik di Jawa Timur. Tari ini mengangkat seni Jawa-Madura yang dilahirkan dalam iklim budaya Surabaya.

Arif Rofiq menciptakan tari Eblas sekitar tahun 1990-an dengan konsep koreografi menggunakan topeng. Namun seiring perkembangan jaman, banyak penari yang sangat jarang mengenakan topengnya sehingga menonjolkan wajahnya.

Jadi tari Eblas dengan topeng -red: Topeng Eblas- bukanlah suatu inovasi baru dari tari Eblas tetapi justru adalah asal mula tari Eblas diciptakan.

Kostum tari Eblas sangat bervariasi, namun intinya adalah pakaian khas bernuansa madura. Seperti: kebaya madura, sewek/rok dengan batik madura, cemol madura, dan gelang kaki.

TARI LENGGANG SURABAYA

Tari Lenggang Surabaya adalah sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Dimas Pramuka Admaji untuk mengangkat kesenian tradisi Surabaya. Berangkat dari berbagai jenis kesenian tradisi seperti Tanda’an/Tayub dan Sandur Madura yang berada di Surabaya dan sekitarnya, maka pada tahun 1995, Dimas Pramuka Admaji menciptakan tari Lenggang surabaya atas pesanan dari Walikota Surabaya pada saat itu bahwa Surabaya perlu adanya  tari penyambut tamu. Tanggal 31 Mei 1995 tari Lenggang Surabaya pertama kali di pentaskan/dipergelarkan pada acara resepsi Hari Jadi kota Surabaya di kediaman Walikota Jl. Sedap malam Surabaya.

PROSES PENCIPTAAN TARI LENGGANG SURABAYA.
Dengan latar belakang mengangkat, melestarikan dan mengembangkan seni tari di Surabaya, sebagaimana disesuaikan dengan tuntutan kemajuan kota semakin pesat maka dengan menggarap dan menciptakan tari baru yang masih berpijak pada kesenian daerah setempat ini diharapkan menambah khasanah seni tari di Surabaya.
Inipun tidak lepas dari menumbuhkan rasa cinta kota Surabaya yang mana peran generasi muda peduli budaya kota Surabaya sangatlah perlu demi menepis budaya asing yang semakin rawan di kota metropolis.
Dalam proses penciptaan tari Lenggang Surabaya yang berangkat dan berpijak pada kesenian Tanda’an dan sandur Madura yang berkembang di Surabaya ini melalui tahapan eksplorasi, Improvisasi, komposisi gerak, musik dan busana.

  • Kesenian Tanda’an/Tayub

Kesenian ini sering ditemui di perkampungan kota Surabaya, biasanya pada acara perkawinan, khitanan dan sebagainya yang banyak dilakukan pada malam hari.
Kesenian ini hampir punah keberadaanya di Surabaya. Pada kesenian Tanda’an ini tamu yang hadir mayoritas laki-laki, yang mana hamper semua tamu mendapat giliran nandak atau kesempatan menari bersama tandak ( ledhek tayub ). Dan dengan membayar atau memberikan tip mereka berhak meminta lagu/gending yang disukai untuk menari.
Penari wanita yang disebut Ledhek atau tandak selalu membawa sampur dengan busana angkin melilit dengan rapi di bagian dada yang biasanya selalu diserasikan dengan busana bawah yang disebut jarit atau kain panjang. Sedangkan tat arias yang dipakai adalah tat arias cantik dengan memakai sanggul yang diberi hiasan bunga dan asesoris sebagai pemanis lainya seperti giwang dan kalung. Kesenian ini tergolong tari pergaulan yang mana seorang penari wanita selalu berusaha memikat pasangannya.

  • Kesenian Sandur Madura

Keberadaanya di Surabaya juga hampir punah dan biasanya di jumpai di perkampungan Madura di Surabaya. Penyajian kesenian Sandur ini hampir mirip dengan penyajian kesenian Tanda’an/Tayub. Sang Penari utama sebagai primadona adalah penari wanita selalu berhadapan dengan tamu laki-laki.Gending yang dibawakan biasanya seperti Talang, Rarari, Puspa, Walang kekek dan sebagainya.

SINOPSIS
Tari Lenggang Surabaya merupakan tari garapan baru yang diangkat/bersumber dari kesenian Tanda’an dan Sandur Madura yang ada di Surabaya dan sekitarnya.

Lenggang berarti gerak yang manis dan indah, Surabaya merupakan kota metropolis dimana nama ini mengikat untuk lebih mengidentifikasikan bahwa Lenggang Surabaya tentunya dari Surabaya.
Tari Lenggang Surabaya ditarikan oleh beberapa wanita dan menggambarkan Ning-Ning Surabaya yang kreatif, dinamis dan ekspresif.

 

BENTUK PENYAJIAN

A.  Tata Rias

Tata rias untuk mewujudkan mimik wajah penari dalam tari Lenggang Surabaya yang tergolong tari lepas dan bentuk tari yang di tarikan secara kelompok oleh beberapa wanita ini menggunakan tata rias cantik dengan mempertimbangkan nuansa serta bauran dan style pada warna riasan antara penari satu dan lainya memunculkan satu karakter. Rias cantik pada tari Lenggang Surabaya memberikan kesan dinamis dan ekspresif yang ditimbulkan oleh goresan garis tegas pada Alis dan rias mata.
Pada rias cantik nuansa warna yang dipakai bisa tergantung selera tetapi tetap harus memikirkan keserasian dengan warna yang dikenakan agar harmonisasi tercapai.

Desain rias seperti ini sangatlah perlu karena sangat membantu wajah penari hingga terlihat bersih rapi dan menarik, yang merupakan pertimbangan sesuai dengan karakter tari Lenggang Surabaya yang pada dasarnya menonjolkan pesona yang menawan seperti penari tandha’an atau ledhek yang selalu berusaha memikat tamu.sebagai salah satu sumber garap tari Lengggang Surabaya.

B. Tata Busana

Desain busana sangat penting karena penataan dan garap busana pada sebuah tari sangat membantu secara ekspresifitas garap gerak tari bahkan dalam memunculkan suatu karakter tari yang diharapkan pada koreografi. Tari Lenggang Surabaya yang merupakan tari garapan baru dan menggambarkan Ning- Ning Surabaya yang kreatif, dinamis dan ekspresif ataupun sebuah karya tari yang tergolong intertaimen maka busana yang dikenakan mengarah ke jenis busana abyor atau dengan tatanan pemanis pada aksen-aksen garis dengan harapan penari lebih kelihatan modis, cantik, menawan dan rapi. Tatanan desain busana tari Lenggang Surabaya ini walaupun tatanan menonjolkan banyak pengembangan namun masih berpijak pada sasaran tradisi yang dikembangkan dari penari Tandhak, Penari Sandur dan Ning Surabaya yang menjadi sumber garap.

Desain dan nuansa dalam tatanan busana tari Lenggang Surabaya terdiri dari :

Kain panjang :
Batik pekalongan atau batik yang mengarah ke corak Madura, lasem Sidoarjo dsb. Sebagai aksen pemanis bentuk jarit adalah garis wiron yang diseuaikan dengan paduan jarit dan kebaya.
Kebaya :
Merupakan busana badan yang desainya sengaja dimasukan pada angken atau kemben. Desain ini menunjukan bahwa penari tandak sebagai sumber garap selalu berdandan menonjolkan angkin pada busana badan. Hal ini dirasa juga sangat membantu ekspresi tubuh sebagai media gerak yang dimunculkan oleh sikap tubuh penari Lenggang Surabaya.

Angken/kemben/Mekak :
Busana angken dikenakan diluar kebaya, menggunakan payet atau manik-manik yang sifatnya tidak hanya sebagai pemanis namun juga sebagai sentuhan-sentuhan karakteristik pada busana Ngremo Putri pada kesenian Tandha’an yang identik melakukan upaya menghias diri demi memikat semua yang melihanya.

Busana Lainya :

  • Bokongan ( merupakan ugo rampe yang letaknya di belakang membentuk garis melengkung di pinggang )
  • Sampur ( juga disebut selendang yang berfungsi sebagai busana dan property yang diletakkan pada punggung penari menjurai kebawah.
  • Sabuk atau ebog ( merupakan ikat pinggang yang terletak pada pinggang dan terdiri dari sabuk besar dan kecil yang dikenakan ber sap atau tumpuk.
  • Perhiasan:
  • Giwang ( pemanis pada daun telinga yang tebuat dari permata)
  • Bunga Melati sisir dan pengasih atau sintingan ( sisir adalah rangkaian melati yang letaknya melengkung pada garis atas kode dan pengasih atau sintingan adalah ronce bunga melati dengan bunga kantil yang diletakan di bagian samping konde di belakang telinga.
  • Bunga mawar atau bunga ceplok berbetuk bulat yang biasa juga bisa disebut jebehan
  • Cunduk/ cucuk
  • Konde ( konde yang dipakai adalah jenis konde jawa dan bisa juga jenis konde yang biasa dikenakan ning Surabaya ataupun alternative lain adalah konde modern ukuran sedang.

C. Iringan tari

Tari Lenggang Surabaya menggunakan iringan gamelan Jawa dengan laras Slendro.
Iringan tari Lenggang Surabaya tidak hanya sebuah musik sebagai pengiring namun ditata sedemikian rupa sehingga memunculkan dinamika yang dibawakan secara komposisi gerak dalam mencapai ekspresi penampilan tari secara utuh. Garap iringan tari Lenggang Surabaya merupakan pengembangan dari gending-gending Jawa Timuran seperti : Walang kekek, Jaranan, Jula-juli, Ceko, Blandong, Gedog dsb. Style dan ornament tambahan seperti Vokal madura, lagu Tanjung Perak sebagai kesan emosional pada identitas Surabaya dan juga merupakan pengembangan yang terekplor dari Sandur Madura dan Ngremo Putri yang berkembang di Surabaya sebagai inspirasi ataupun sumber garap tari Lenggang Surabaya yang di harapkan menjadi tari selamat datang serta tari garapan baru sebagai sebuah tari yang dimiliki oleh Surabaya.

Dengan latar belakang mengangkat, melestarikan dan mengembangkan seni tari di Surabaya, sebagaimana disesuaikan dengan tuntutan kemajuan kota semakin pesat maka dengan menggarap dan menciptakan tari baru yang masih berpijak pada kesenian daerah setempat ini diharapkan menambah khasanah seni tari di Surabaya.

Tari Lenggang Surabaya telah sering kali disajikan sebagai penyambutan dalam berbagai acara penting seperti:

  • Menyambut Presiden Megawati di Sangrila hotel th. 2004.
  • Closing ceremony of Surabaya Cross Cuulture Festival 2012 in Surabaya City Hall area, Park Surya, Surabaya.
  • Peresmian kapal perang baru yang diberi nama KRI Surabaya. Peresmian dilakukan di Koarmatim, Ujung, Surabaya, 2008
  • Indonesia Forum International Poet (FPII), 2012.
  • Perjamuan tamu INDIA di grahadi, 2013
  • Perjamuan penandatanganan kesepakatan jatim dan kalsel di grahadi, 2013
  • dan masih banyak lagi

 

Sumber

MAKNA GERAK TARI REMO (NGREMO)

Tari Ngremo sebagai sebuah ikon tari tradisional Jawa Timur telah dikenal luas dan sangat umum dipertunjukkan sebagai tari pembuka atau tari selamat datang dalam berbagai acara.

Tari Ngremo adalah hasil penggabungkan ragam gerak tari Besut dengan ragam gerak tari Klana yang saat itu tari Klana (menggunakan topeng) sedang ngamen di Sidoarjo (Marsudi Utomo, 1977) . Beberapa keragaman gerak tari Ngremo mirip dengan beberapa ragam gerak tari yang ada pada tari Klana Sabrang (tokoh Sewandana ataupun tokoh Basunanda). Beberapa ragam gerak tari hasil dari penggabungan antara ragam gerak tari Besut dan ragam gerak tari Klana dapat disebutkan antara lain sebagai berikut : gedrug, kipatan sampur, gendewa, ngore rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan, tepisan, nglandak, kencak, klepatan, telesik, bumi langit.

GEDRUG
Sebagai symbol manusia mulai mengenal bumi tempat ia dilahirkan dan mengarungi kehidupan. Gedrug adalah gerakan kaki (terpusat pada hentakan tumit kanan) menghentak bumi, sebagai pelambang kesadaran manusia atas daya hidup yang ada di bumi, bahwa bumi sebagai sumber hidup yang perlu dipahami adanya. KIPATAN SAMPUR Merupakan symbol dari perlindungan diri, sampur sebagai alat untuk menjauhkan diri dari segala pengaruh negative atau pengaruh buruk. Adapula yang mengartikan bahwa kipatan sampur sebagai symbol membuang hal yang buruk atau negative.

 

GENDEWA
Sebagai symbol melajunya anak panah yang sedang dilepaskan dari busur. Digambarkan bahwa gerak langkah manusia yang secepat anak panah sedang dilepas dari busurnya. Makna lain yang tersirat dalam ragam gerak gendewa ini adalah bahwa dalam melaksanakan kehidupan ini, manusia berupaya melepaskan pengalamannya untuk diturunkan kepada orang lain. Adapula yang mengartikan tentang symbol kewaspadaan seseorang terhadap zat-zat atau berbagai pengaruh yang ada di sekitarnya.

 

NGORE REKMO
Ngore adalah mengurai, rekmo adalah rambut. Dalam gerak tari ngore rekmo ini dimaksudkan sebagai symbol merias diri, terutama gambaran seseorang sedang menata rambut. NEBAK BUMI Sebagai symbol adanya bumi dan langit yang mengitari kehidupan manusia, keterikatan antara bumi dan langit dan adanya ruang diantara bumi dan langit yang dijadikan tempat untuk machluk hidup. Ruang tersebut sebagai sebuah daya yang saling berhubungan, saling mengisi dan saling mempengaruhi. Bahwa bumi dan langit merupakan dua kondisi alam yang tak dapat dilepaskan dalam kehidupan semua machluk hidup yang ada diantaranya.

 

TATASAN
Diibaratkan sebagai kemampuan seseorang dalam menangkap sesuatu yang sedang membahayakan dirinya.

 

CEKLEKAN 
Diibaratkan sebagai ranting-ranting pohon yang patah. Gerak ceklekan ini terpusat pada kesan patah-patah pada siku.

 

TRANJALAN 
Ada yang menyebutnya dengan nama gobesan. Nama gobesan biasa digunakan dalam wayang topeng malangan. Isi geraknya tidak jauh dari penggamabaran tentang solah busana, adapula yang menyebutnya dengan istilah ngudisarira. Tranjalan mempunyai makna bahwa manusia hidup selalu berupaya memelihara diri sendiri, membersihkan dirinya dari segala kotoran, yaitu kotoran yang berbentuk debu (zat mati) ataupun kotoran yang berupa zat hidup yang negative yang mempengaruhi sifat maupun prilaku manusia.

 

TEPISAN 
Merupakan symbol dari gerakan kecekatan tangan dalam melindungi tubuh dari unsure negative. Munali Fatah mengisinya dengan motif gerak tumpangtali yang tehnik geraknya bersumber dari tumpangtalinya pada tarian klana bagus dan sejenisnya (gaya tari Surakarta). Tepisan ini merupakan symbol menyaturkan daya linuwih (kekuatan lain) yang diberikan alam kepada diri manusia yang dapat terujudkan melalui gesekan kedua telapak tangan. Gerakan ini dilakukan didepan perut, karena dalam perut tersebut pusat lumbung udara yang didapatkan dari pertemuan antara udara yang dihirup dari luar dan udara yang ada dalam tubuh manusia.

 

NGLANDAK 
Merupakan symbol gerak yang menirukan prilaku binatang landak. KENCAK Merupakan symbol gerak yang menirukan prilaku binatang kuda, hal ini mirip dengan kuda kencak, mengapa disebut dengan kuda kencak, karena kuda tersebut dapat menari-nari, gerakannya antara lain diseputar junjungan kaki yang depan dan gerakan bergeser kearah samping (nyelereg). Depakan-depakan kaki kuda yang bergerak kearah samping inilah kemungkinan besar mengilhami gerak kencak pada tari ngremo. Gerakan semacam ini sudah ada pada gerak tariannya ludruk besut atau yang dikenal pula dengan nama seniti. Motif gerakan serupa juga terdapat pada tari jaranan yang berkembang subur di daerah Kediri – Tulungagung – Trenggalek.

 

KLEPATAN 
Diibaratkan sebagai upaya manusia untuk menghindar dari segala bahaya yang mengenai dirinya, untuk itu ia perlu mengetahui dan waspada terhadap segala sesuatu yang berada disekitarnya yang berusaha mendepat pada dirinya. Dijelaskan bahwa segala sesuatu itu bias berupa ujud fisik yang Nampak secara nyata, adapula ujud abstrak yang mengenai dirinya dengan tidak dapat Nampak oleh penglihatan tetapi dapat dirasakan adanya.

 

TELESIK (TELESIKAN) 
Diibaratkan seperti pergeserran benda-benda kecil (pasir, dedaunan, ranting) yang terdorong angin. Dalam hal ini mengisyaratkan bahwa disekitar manusia ini terdapat suatu daya yang mampu membawa perubahan diri manusia. Udara merupakan unsure yang perlu dipahami sebagai sesuatu yang mampu membentuk dan mengubah kehidupan.

 

BUMI LANGIT 
Gerak bumi langit ini mengandung makna kesadaran terhadap daya hidup yang ditimbulkan oleh bumi dan langit. Diantara bumi dan langit itu manusia berada untuk melaksanakan kehidupannya atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

 

 

Sumber