Persyaratan Menjadi Penari Bedhaya Ketawang

TIDAK mudah menjadi seorang penari Bedhaya Ketawang. Ada sederet peraturan yang mengikat, untuk bisa tampil menjadi penari tarian sakral yang sangat fenomenal tersebut.

Tak heran, begitu terpilih menjadi penari Bedhaya Ketawang, maka pamor sang penari itu pun melejit seiring kebanggaannya menjadi penari kerajaan.

Kepada Soloblitz, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, atau biasa disapa Gusti Moeng, menjelaskan untuk menyeleksi penari Bedhaya Ketawang, dibutuhkan waktu tahunan, bahkan belasan tahun.

Jika dulu para penari Bedhaya Ketawang diambil dari putri para Pangeran, dan para Adipati, namun kini tidak lagi demikian. Sekarang, Keraton Surakarta mulai melakukan kaderisasi sejak dini melalui sanggar tari yang ada di Keraton. Pesertanya pun boleh dari kalangan masyarakat biasa.

“Disitu anak-anak kecil, sudah kita latih tari halus gaya Keraton Surakarta. Dan ketika mereka bertahan sampai remaja, serta memenuhi syarat, baru kita ambil sebagai penari Bedhaya Ketawang,” ujar Gusti Moeng.

Syarat sebagai seorang penari Bedhaya Ketawang diantaranya menguasai gerakan dasar beksan Ketawang secara baik, memahami budaya Jawa, beretika, postur dan raut wajah memenuhi syarat, serta mempunyai daya tahan fisik yang bagus. Maklum saja, ketika digelar Bedhaya Ketawang sendiri berdurasi lebih dari dua jam. Selain itu juga ada syarat khusus yaitu masih perawan, atau belum tersentuh pria.

“Ditambah lagi masih harus betah laku prihatin atau tirakat, seperti puasa, mutih, dan lainnya, sehingga selalu beriman kepada Tuhan YME,” beber Gusti Moeng.

Dari sekian banyak yang diseleksi, nantinya hanya 12 orang saja yang akan diambil. Itu pun masih akan diseleksi lagi, hingga tinggal 9 orang saja yang menjadi penari inti Bedhaya Ketawang.

Mereka yang nantinya menempati 9 posisi urutan penari Bedhaya Ketawang dari selatan ke utara, yaitu Batak, Endel Ajeg, Endel Weton, Apit Ngarep, Apit Wingking, Apit Meneng, Gulu, Dada, dan Buncit.

Para penari itulah yang akan digembleng setiap 35 hari sekali, dan sepekan non stop menjelang Tingalan Jumenengan berlangsung.

Dan di hari Senin (3/6/2013) ini, para penari Bedhaya Ketawang sudah dipaes (rias) dan menjalani pingitan di Gedhong Bedhaya selama sehari semalam, hingga Tingalan Jumenengan berlangsung besok Selasa (4/6/2013).

“Tujuannya ya supaya terjaga kondisinya, baik lahir maupun batin karena tugas mereka sangat berat, yaitu membawakan Bedhaya Ketawang,” jelas Gusti Moeng.

Deniawan Tommy Chandra Wijaya |@deniawantommy

Sumber

PENTINGNYA OLAH TUBUH BAGI PENARI

Kesiapan tubuh secara fisik bagi seorang penari sangat vital keberadaannya untuk melakukan aktifitas gerak tari. Keterampilan tari yang dimiliki dapat dibentuk melalui kesiapan organ-organ tubuh (fisik) yang akan digunakan untuk melakukan gerak. Untuk melakukan gerak tari dengan terampil perlu adanya kesiapan fisik yang prima. Kondisi ini dapat dicapai apabila seorang penari dengan sadar melakukan kesiapan-kesiapan seluruh organ tubuh dengan rutin (continue). Dengan arti kata lain, bahwa secara sadar seorang penari harus melakukan pengolahan gerak tubuh secara merata dan sempurna.

Pengertian pengolahan tubuh bagi seorang penari atau sering disebut dengan olah tubuh adalah suatu kegiatan manusia mengolah tubuh yang dengan sengaja menjadikan barang mentah menjadi barang jadi, sehingga siap untuk dipergunakan. Kegiatan ini mengandung maksud yaitu usaha mempersiapkan organ tubuh dalam keadaan stabil (tetap/normal) menjadi kondisi yang labil (lentur/mudah bergerak). Perkataan olah tubuh menunjukkan bahwa tekanan aktivitas pada pengolahan tubuh manusia seutuhnya meliputi jiwa dan raga, yang menjadi satu kesatuan (Sumedi, 1:86).

Olah tubuh bagi seorang penari adalah suatu bentuk aktivitas yang dilakukan dengan jalan melakukan susunan latihan yang teratur meliputi otot-otot, persendian, dan seluruh organ tubuh agar selalu siap berfungsi bergerak dengan baik dan optimal serta diharapkan mampu menambah kualitas gerak.

Di dalam menari, gerak-gerak yang dilakukan oleh penari tentunya memiliki tuntutan tertentu walaupun pada prinsipnya adalah menggerakkan sekmen-sekmen tubuh. Melihat kontek gerak dalam tari dengan tuntutan nilai estetik, maka tidaklah sekedar menggerakkan tubuh seperti dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mudah memunculkan nilai estetik (yang abstrak) tanpa didahului dengan proses gerak tubuh (materi) yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Untuk itu bermula dari kemampuan melakukan gerakan-gerakan tubuh, seorang penari mengkomunikasikan perasaannya dengan bahasa gerak. Maka yang terpenting dalam hal ini berpangkal dari tubuh manusia yang menjadi titik tolak sebagai bahasa dalam seni tari.

Seorang penari harus sadar akan kemampuan, kelebihan dan kekurangan dari tubuh yang dimiliki, untuk kemudian melatihnya agar jangkauan geraknya dapat lebih leluasa (Murgiyanto, 1983). Setiap gerakan dalam setiap sekmen tubuh harus dilatih secara bertahap dan kontinu yang meliputi dari tiga aspek, yaitu:

  • Tenaga: berhubungan dengan stamina yang dimiliki untuk melakukan gerak cepat,keras, kencang dan sebagainya.
  • Ruang: yaitu upaya sekmen tubuh dapat digerakkan ke berbagai arah yang memakan/menempati ruang.
  • Waktu: berhubungan dengan durasi yang diperlukan untuk dilakukan dalam melakukan latihan olah tubuh dan idealnya adalah dalam waktu yang stabil, misalnya satu hari satu kali @60 menit.

Olah tubuh dalam seni tari erat kaitannya dengan pelatihan fisik penari. Karena melatih kondisi fisik bagi penari sangat penting untuk mengembangkan kemampuannya dalam menari. Beberapa kondisi fisik yang perlu dilatih antara lain:

  1. Kekuatan (strength)
  2. Kecepatan (speed)
  3. Daya tahan (endurance)
  4. Kelincahan (flexibility)
  5. Koordinasi (coordination)
  6. Ketetapan (accuracy)

Kesiapan tubuh seorang penari akan berdampak pada kualitas gerak tari. Kualitas gerak tari terkait pada unsur-unsur gerak yang meliputi:

  • Bentuk: rumit dan sederhananya gerakan
  • Volume: luas dan sempitnya  gerak
  • Tekanan: keras dan lemahnya gerakan
  • Tempo; cepat dan lambatnya gerakan

Jika kondisi fisik penari prima, baik sebelum menari ataupun setelah menari, akan memberikan keleluasaan bagi penari penari untuk lebih fokus pada imajinasi, ekspresi dan penghayatan tarian. Karena jika salah satu sekmen tubuh tidak dalam kondisi prima maka akan terganggu pula seluruh penampilan yang dibawakan.

METODE LATIHAN OLAH TUBUH

Menggunakan metode latihan olah tubuh diharapkan akan membuat gerakan menjadi teratur dan sistematis sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan dan terkontrol. Adapun susunan pelatihan olah tubuh adalah sebagai berikut:

1. Pemanasan.

Kegunaaan pemanasan dalam latihan olah tubuh adalah:

  • Menyiapkan anatomis, physiologist dan psychologist penari dalam berlatih
  • Sebagai pencegahan terhadap terjadinya cedera selama menjalankan aktivitas.

2. Latihan inti

Secara umum latihan inti terdiri dari:

  • Latihan tubuh

Latihan tubuh pada prinsipnya mempunyai sifat untuk memperbaiki dan membenarkan kesalahan-kesalahan ringan yang terdapat pada tubuh, yang terdiri dari:

  • Latihan pelemasan
  • Latihan peng-uluran
  • Latihan penguatan
  • Latihan pelepasan
  • Latihan Keseimbangan

Tujuan Latihan keseimbangan adalah untuk mempertinggi perasaan keseimbangan dan perasaan kerja otot serta memiliki arti dan fungsi yang besar dalam membentuk sikap gerak.

  • Latihan Kekuatan/ketangkasan

Perlu dibedakan antara latihan penguatan dan latihan kekuatan.

Latihan penguatan adalah untuk menguatkan otot-otot setempat yang lemah, maka tidak menyangkut kualitas kemampuan tubuh.

Latihan kekuatan adalah meningkatkan kualitas kemampuan tubuh secara keseluruhan.

Latihan ketangkasan berhubungan dengan kelincahan dan kecepatan. Cepat dalammengambil tindakan dan selain itu ketangkasan menambah keberanian, ketahanan dan penguasaan diri.

  • Latihan penutup (penenangan)

Tujuan latihan penenangan adalah untuk membawa suhu badan dan kerja organ-organ tubuh kembali dalam keadaan biasa/normal seperti saat sebelum latihan. Sehingga tubuh siap untuk kembali siap melakukan kegiatan lain setelahnya.

Disadur dari HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI, MANFAAT OLAH TUBUH BAGI SEORANG PENARI, Moh. Hasan Bisri (staf pengajar jurusan sendratasik FBS UNNES), 2001

PENGUMUMAN LIBUR IDUL FITRI 2013

PENGUMUMAN

 

Sehubungan dengan perayaan hari Idul Fitri 1434 H

Maka, SPECTRA DANCE STUDIO meliburkan kegiatan sanggar pada tanggal:

3 agustus 2013 hingga 17 agustus 2013

Kegiatan sanggar mulai aktif kembali pada:

Minggu, 18 Agustus 2013

 

Demikian kami sampaikan untuk dicatat.

Terima kasih atas perhatian dan kerjasama seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan Spectra Dance.

 

 

Seni Topeng Madura

Topeng Madura

Kesenian topeng telah ada di Indonesia sejak lama sekali. Banyak daerah yang memiliki ciri khas kesenian topeng masing-masing. Seperti contohnya topeng Cirebon yang sangat umum dikenal. Tetapi di Jawa Timur pun ada seni topengnya. Yaitu Topeng Madura. Dan seperti juga seni topeng lainnya, topeng Madura memiliki keunikan dan filosofi tersendiri.

Topeng Madura, mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan topeng yang lain. Hal ini dapat dilihat pada ekspresi wajah topeng yang mencerminkan perwatakan, sifat perangai setiap tokoh.

Makna simbolik yang terkandung dalam topeng Madura ini diantaranya dapat terlihat dari pemberian warna dasar sebagi berikut.

Warna Dasar Hijau :

Memiliki simbol sebagai bayangan insani yang selalu mencapai tujuan hidup lestari memenuhi norma-norma yang benar, jalan yang lurus, (sesuai dengan kaidah agama Islam). Simbol ini ada pada topeng Arjuna.

Warna Dasar Putih.

Memiliki simbol sebagai tokoh suci dengan watak yang arif, setia dalam mengabdikan diri pada keadilan dan kebenaran. Simbol ini ada pada tokoh semar.

Warna Dasar Merah.

Memiliki simbol yang melambangkan keberanian, ambisius, angkuh, sombong, serakah, dengki, keji dan licik meskipun demikian tidak semua tokoh berwajah merah selalu merupakah tokoh negatif, tetapi ada kalanya menjadi tokoh kesatria, misalnya tokoh dalam topeng Gatotkaca.

Warna Dasar Hitam

Memiliki simbol sebagai pandangan dunia suku Madura mengenai jagat raya yang menempatkan manusia sebagi mahkluk kecil dalam lingkungan alam raya ciptaan Tuhan, dimana kehidupan manusia sangat tergantung kepada kemurahan Tuhan, secara fisik bermakna tergantng kepada kemurahan alam raya hal itu terdiri dari unsur utama yaitu angkasa yang mengatur cuaca, musim dan bumi yang memberikan sumber air, sandang dan pangan. Simbol ini ada pada topeng Kresna.

Selain warna di atas, ada dua warna lainnya yaitu warna dasar coklat, dadu, kelabu, biru muda untuk tokoh satria yang kurang penting.

Mputantular: Seri Mengenal koleksi museum Negeri Propinsi Jawa Timur, Surabaya: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur,1995, hlm.39-40

 

Sumber

 

 

Contoh judul tari Jatim berdasarkan jenisnya

Berdasarkan jenis koreografi, tari pada saat ini dapat diklasifikasi menjadi 3, yaitu Tari Klasik, Tari Kreasi, dan Tari kontemporer.

A. Tari klasik adalah tari yang mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak jaman feudal.Tari ini biasanya hidup dilikgkungan keraton.

Ciri-ciri tari klasik adalah :
a. Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
b. Hidup dikalangan raja-raja
c. Adanya standarisasi
d. Diturunkan antar generasi

Contoh tari klasik Jawa Tengah adalah bedaya,srimpi,lawung ageng,lawung alit dan juga karya-karya empu tari baik empu tari gaya Yogyakarta dan empu tari gaya Surakarta seperti S.Mariadi dan S.Ngaliman  yang sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti : Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna Tinanding, Srikandi Bisma, dll

Contoh tari klasik dari Jawa Timur:
1. Tari Tari Remo Bolet/jombangan dari Jombang
2. Tari Tari Remo Munali dari Surabaya
3. Tari Beskalan dari Malang
4. Tari Gandrung dari Banyuwangi
5. Tari Kuda Lumping dari Ponorogo

B. Tari kreasi baru adalah tari-tari klasik yang dikembangkan sesuai dengan  perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi  baru adalah karya-karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar kembang sore dari Yogyakarta.

Contohnya lainnya dari Jawa Tengah adalah :
Tari Kupu-Kupu , Tari Merak, Tari Roro Ngigel, Tari Ongkek Manis, Tari Manipuri, Tari Roro Wilis,dll

Contoh tari kreasi dari Jawa Timur:
1. Tari Banjar Kemuning dari Sidoarjo
2. Tari Kasomber dari Madura
3. Tari Zavin Mandailing dari Bawean, Gresik
4. Tari Lenggang Surabaya dari Surabaya
5. Tari Eblas dari Madura

C. Tari Kontemporer, Istilah ‘kontemporer’ begitu kerap digunakan di perbincangan dunia seni tari Indonesia, sementara makna dan cakupan definisinya tidak pernah didiskusikan secara diskursif. Akibatnya, pengertian ‘tari kontemporer’ cenderung disederhanakan sebagai sebuah istilah yang terlanjur popular, dan berada di antara dua kutub: yaitu semua karya seni tari yang bukan untuk konsumsi hiburan popular, namun secara bentuk juga bukan termasuk seni tari tradisional yang bersandar pada pakem-pakem yang sudah berlaku lama. Tapi, karya tari ‘kontemporer’ adalah yang bukan tari latar di acara seperti Gebyar BCA atau pertunjukan dangdut Inul, tapi juga bukan tari sakral macam Bedaya Ketawang atau tari rakyat ala jogedan ledek Banyuwangi.

Padahal, sebagai sebuah sistem pengetahuan dan wacana (diskursus), tari modern/kontemporer adalah topik yang paling tidak telah berkembang sejak seratus tahun terakhir. Jika bercermin pada diskusi yang berlangsung di tingkat global, sebelum sampai pada istilah ‘kontemporer’, dunia tari (terutama di Eropa dan Amerika) lebih dulu muncul dengan istilah ‘tari modern’ ― yang referensinya mengarah pada sebuah momentum artistik ketika penciptaan tari dimotivasi niat untuk menjadikan tari sebagai bahasa ucap ekpresi seni tari itu sendiri. Yaitu, momentum ketika tari bukan lagi melayani kebutuhan di luar dirinya ― entah itu konteks di dunia ritual, maupun ruang-ruang sosial dan kultural ― melainkan melayani tari itu sendiri (retro.blogspot.com).

Pengertian ‘kontemporer’ yang dapat dipahami selama ini adalah: Seni kontemporer adalah seni yang disemangati oleh kebebasan: Kata “kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu). Sehingga menegaskan bahwa seni kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui (spirit kekinian). [ http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=1255]

Biasanya, tari kontemporer disajikan secara eksklusif, bukan untuk konsumsi hiburan popular/umum. Jenis tari ini biasa diciptakan untuk suatu kepentingan seni khusus seperti festival seni tari nasional dan international. Oleh karena itu orang umum kemungkinan banyak sekali yang tidak tau judul-judul tarinya dan apalagi penampilannya.

Tari kontemporer yang berasal dari Indonesia umumnya tetap mengangkat seni tradisi masing-masing daerah. Minimal koreografer mengangkat budaya lokal yang ada. Seperti budaya tayub, disajikan dengan paduan gerak-gerak lainnya yang non-tradisi. Dan kombinasi musik yang juga berbau tradisi namun tidak pakem, seperti gamelan dikombinasikan dengan biola.

Contoh tari kontemporer tradisi dari Jawa Timur:
1. Tari Ronjengan dari Madura (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)

2. Tari Barong Prejeng dari Banyuwangi (disajikan pada Perhelatan seni budaya dan pariwisata Kemilau Nusantara 2012)

3. Tari Ta’ Andhik Lesso dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2005 di gedung Cak Durasim)

4.Tari Kidung Soren dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2008 di gedung Cak Durasim)

5. Tari Somo Ellah dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)

6. Tari Besut Beset dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)

Ekspresi yang bersifat kekinian tentunya memiliki ciri-ciri yang menonjolkan inovasi (pembaharuan) maka selanjutnya disebut sebagai seni tari “modern”. Varian dari seni tari modern yang seringkali tampil sebagai bentuk “kemasan” atau Kicth, adalah seni tari yang bersifat menghibur, perkembangannya sesaat dan tidak memiliki dasar filosifis yang dalam. Perkembangan seni tari hiburan ini disebut sebagai popular performing art (seni tari populer).

Tari modern adalah sebuah tari yang mengungkapkan emosi manusia secara bebas atau setiap penari bebas dalam mewujudkan ekspresi emosionalnya yang tidak terikat oleh sebuah bentuk yang berstandar. Contoh tari modern adalah : Caca, Break Dance, Penari Latar, Samba, dll

Dirangkum dari berbagai sumber

Menjadi Koreografer yang Baik

Oleh: Ida Bagus Surya Peredantha, SSn., MSn, Alumni ISI Denpasar

Suatu ketika di Surakarta, ketika pertama kali kuliah saya mendapat tugas untuk menyatakan pendapat lewat tulisan tentang koreografer yang baik. Pendapat melalui tulisan tersebut diupayakan agar singkat, tepat dan padat. Tugas yang sangat sederhana namun memiliki interpretasi pemikiran yang luar biasa luas dan sangat subjektif. Wajar, pengajar mata kuliah saya saat itu member tenggat waktu satu minggu untuk mengumpulkan tugas tersebut.

Sebelum terjun menjadi koreografer, menurut saya yang paling penting adalah seorang koreografer seyogyanya memiliki dasar kepenarian yang baik. Memang tidaklah mutlak demikian, namun alangkah lebih baiknya bila seorang koreografer mengenal kemampuan tubuhnya terlebih dahulu dan mengujinya dalam setiap kesempatan pentas sebagai sorang penari. Dengan demikian, ia pun akan mudah mengarahkan dan memaksimalkan potensi ketubuhan yang dimiliki oleh orang lain.

Penari yang baik, dituntut untuk memiliki beragam syarat agar dirinya benar-benar mampu dan siap dalam hal perjalanan menjadi seorang koreografer. Syarat-syarat tersebut antara lain : Kreatif, disiplin, terbuka, peka, dan bertanggung jawab. Sebagai catatan, sukses tidaknya seorang koreografer ditentukan dari proses dan keteguhan seseorang dalam menjalankan kelima syarat tersebut.

Kreatif, merupakan kemampuan pokok yang harus dimiliki oleh seorang koreografer. Kreativitas dalam hal ini adalah kemampuan seorang koreografer untuk menemukan konsep pemikiran, teori, teknik dan atau metode “baru” dalam proses penciptaan karya tari. Daya kreativitas yang tampak dalam proses berkarya menunjukkan sejauh mana seorang koreografer berhasil melakukan riset, pendalaman akan ide dalam merespon sesuatu, sehingga mampu memberikan inovasi dalam karya tarinya. Hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap nilai orisinalitas yang terkandung di dalam karya tari itu sendiri.

Kedisiplinan, merupakan “modal” selanjutnya yang dibutuhkan oleh seseorang untuk menjadi penari yang baik sekaligus koreografer nantinya. Sebagai penjabaran disiplin itu sendiri, penari yang baik akan menerapkan disiplin waktu, pantang menyerah dalam berusaha, teguh menjalankan proses, dan “keras” terhadap dirinya sendiri. Termasuk pula ketika hendak dan sedang tampil di panggung, seorang penari haruslah selalu berkonsentrasi untuk menyajikan sebuah pertunjukan yang baik.

 Sikap terbuka menunjukkan bahwa ia tidak memiliki sebuah ”hambatan” atau “hal yang menutup matanya” terhadap perkembangan zaman dimana ia tumbuh. Seperti yang telah diungkap diatas, kreativitas merupakan sesuatu yang timbul akibat proses imajinasi seorang. Imajinasi ini datangnya dari berbagai stimulant, termasuk pula dari hal-hal yang tengah berkembang di masanya. Untuk dapat menyerap berbagai informasi baru, hal-hal yang sedang trend, atau bahkan isu-isu yang sedang mengemuka, seorang penari aatau koreografer harus mau bersikap terbuka, dalam artian tidak terkungkung oleh doktrin sesuatu. Kebudayaan itu sifatnya selalu berkembang, begitu juga kesenian. Perkembangan tidak akan merusak nilai-nilai yang sudah ada bila dimaknai secara selektif. Justru, melalui keterbukaan ini, seorang koreografer yang baik akan mendapat sebuah pengayaan yang belum pernah didapat sebelumnya.

 Memiliki kepekaan yang kuat, juga merupakan modal yang saya utarakan sebagai seorang koreografer.  Kepekaan bisa terkait dengan banyak aspek, karena tari sebagai cabang kesenian memiliki banyak keterkaitan dengan aspek-aspek lainnya misalnya ruang, musik, warna, cahaya dan beberapa lainnya. Walau bukan berarti kita harus menekuni semuanya, namun setidaknya seseorang mengetahui esensi daripada aspek-aspek terkait tersebut yang mampu menunjang keberhasilan penampilan di atas panggung. Bagai ungkapan seniman besar Bali I Nyoman Pugra (alm.) dari Denpasar, bahwa penari yang baik itu harus mengetahui sastra. Pernyataan beliau tersebut tentu saja sangat dalam maknanya, di mana bila diartikan secara mudah seorang penari (atau bahkan koreografer) haruslah memahami teks sebagai sumber-sumber bacaan untuk memperkaya wawasannya serta konteks dimana, kapan dan dengan siapa karya tari akan dipertunjukkan.

Hal selanjutnya yang sebaiknya dimiliki oleh seorang koreografer yang baik adalah bersikap akademis. Maksudnya adalah bisa dan mampu mempertanggungjawabkan karyanya secara utuh dan professional. Seorang koreografer yang baik tidak cukup hanya mampu menciptakan karya saja tanpa mampu menjelaskan latar belakang penggarapan, sumber inspirasi, makna yang ingin disampaikan, hal baru apa yang ia miliki dan seterusnya. Ada banyak aspek di balik sebuah karya tari yang harus bisa ia jelaskan kepada para penikmat maupun pengamat, untuk menghindari kesan penjiplakan, “pembelian” karya dan pencatutan nama koreografer yang menciptakan tari itu sendiri. Hal ini sekaligus menghindarkan kita dari kemungkinan tindakan plagiatisme yang belakangan mulai marak terungkap. Plagiatisme tidak hanya “menjangkiti” akademisi melalui tulisan, namun “wabah” tesebut telah menjalar pada sisi karya seni khususnya seni pertunjukan meskipun jarang dan sulit untuk diamati. Tiada salahnya mencegah daripada membela diri pada saat sudah terlilit masalah.

Sekali lagi, hal-hal di atas merupakan sumbangsih pemikiran saya yang bercita-cita tinggi sebagai seorang seniman. Tanpa bermaksud menggurui, pendapat tersebut lebih pada “suluh” atau tuntunan terhadap diri saya sendiri, agar saya memiliki pegangan dalam meniti karir di jagat seni. Bilamana pembaca memiliki pandangan lain yang dapat memperkaya wawasan kita para seniman sangat terbuka tangan saya dalam menyambut masukan tersebut karena ini merupakan “yadnya” seseorang kepada khalayak melalui pemikiran. Salam kesenian!

SUMBER